
“Kalian saja yang pergi. Ibu jaga rumah saja. Jangan lupa bawakan Ibu oleh-oleh dari sana.” Goda Rina.
“Ibu mau oleh-oleh apa?” Tanya Rafki.
“Cucu misalkan.” Goda Rina lagi sambil tersenyum sumringah kepada keduanya.
Lina yang diam dari tadi tiba – tiba tersedak saat minum segelas air putih mendengar ucapan mertuanya itu.
“Kenapa Lin?” Tanya Rafki khawatir.
“Nggak kenapa kok Ki. Aman.” Jawab Lina.
“Aku ke kamar dulu ya ki, Bu.” Ucap Lina tak tahan mendengar apalagi yang selanjutnya akan mereka bicarakan di luar ini.
“Ibu aku susul Lina bentar ya. Takut dia kenapa-kenapa.”
“Baiklah Nak.”
Rina tersenyum sambil menggelengkan kepalanya melihat tingkah menantu dan anaknya itu.
Rafki yang telah jauh meninggalkan Rina di ruangan tamu.
Dan telah tiba dikamar nya dengan Lina.
"Permisi Lin." Sapa Rafki membuka pintu kamar itu.
"Iya Ki." Jawabnya singkat.
“Lina kamu kenapa tadi? Apa ada yang salah dengan ucapan aku ataupun Ibu? Kalau iya aku minta maaf sekalian mewakilkan ibu minta maaf.” Ucap Rafki panjang lebar lansung ke intinya tidak ingin berbelit-belit.
“Nggak ada yang salah kok Ki. Semuanya wajar. Aku aja yang sedikit agak kaget.” Jelasnya.
“Apa kamu masih belum siap memiliki anak lagi?” Tanya Rafki lagi.
Lina hanya diam.
“Maaf. Bukan maksud aku menyinggung itu semua. Maaf, lain kali aku tidak akan menanyakan itu lagi.”
Lina lagi-lagi diam.
“Tentang liburan. Apa benar kamu mau liburan dengan aku berdua saja Ki?”
“Tentu. Apa salahnya? Kamu udah sah jadi istriku Lin. Dan kita sudah dua kali menikah. Memang diawal bukan muhrim diantara kita karena adanya insiden dan benteng tinggi di antara kita. Namun saat ini tiada dosa lagi Lin. Benar kan?”
“Iya Ki. Liburannya kemana?”
“Kamu ingin kemana?”
__ADS_1
“Aku ikut aja. Kemana kamu, terselah.”
“Apa kamu nggak mau gitu ke suatu tempat?”
“Untuk saat ini buram Ki.”
“Artinya kamu nggak mau liburan?”
“Mau.”
“Ya sudah. Kita ke Bogor aja. Karena aku hanya dapat cuti kerja dua hari. Ke Bogor rasanya tidak memakan waktu yang terlalu banyak.”
“Oke. Kesana juga baik.” Jawab Lina.
***
"Ibu kami lansung berangkat ya." Teriak Rafki.
"Apa sih Ki. Teriak teriak gitu ke Ibu. Hampiri Ibu, dan bicara baik baik." Ucap Lina mengekor dibelakang Rafki.
"Hehe iya Lin. Aku khilaf."
Rafki yang telah tiba di depan kamar Rina. Dan Rina yang lansung mengerti Rafki akan meminta izin untuk berangkat padanya.
"Iya Nak. Ibu mendengar teriakan kamu. Ada apa sayang?"
"Iya Bu. Lina izin pergi sama Rafki ya Bu." Lina menyalami tangan mertuanya.
"Hati hati Nak. Kalian jaga diri dengan baik. Rafki jangan biarkan sesuatu terjadi pada Lina." Ucap Rina menatap lekat wajah putranya itu.
"Tentu Bu. Tenanglah. Assalamualaikum Bu." Ucap Rafki yang disusul dengan Lina di belakang yang tengah sedang berusaha membawa koper berisi pakaian mereka.
"Biar aku yang bawa." Ucap Rafki.
"Terima kasih." Lina tersenyum manis.
"Ini akan berat buatmu." Ucapnya lagi.
Dibalas hanya gelengan kepala oleh Lina melihat tingkah manis suaminya itu. Meskipun sebaya namun keduanya saling menghormati satu sama lain.
Keutuhan rumah tangga mereka bagaikan mutiara dilautan. Meskipun kumuh karena kotoran sekalipun tetap akan utuh tiada berubah ia akan tetap menjadi sebuah berlian.
"Lina." Panggilnya.
"Iya."
"Kamu tidak menyesalkan menikah denganku?" Tanyanya.
__ADS_1
"Kamu adalah suatu anugerah untukku Ki. Matahariku, yang datang menyinari hidupku yang kelam. Kenapa aku harus menyesal akan sebuah kenikmatan yang tiada tandingannya itu. Kamu juga sebab ku, bangkit yang berlari menuju ridho Allah. Apalagi sekarang yang lebih membuatnya bahagia dibanding semua yang telah kamu berikan untukku Ki. Bahkan disaat kamu mencintai wanita lain pun diawal hubungan kita, pengorbanan mu yang terus berusaha menjagaku, memberikan aku keutuhan sebagai seorang istri. Dan usahamu dalam melupakan rasa itu. Itu tidak mudah Ki. Aku paham perasaanmu. Aku hanya berharap kelak perasaanmu hanya akan ada untukku. Itu saja." Ucap Lina panjang lebar dan tanpa sadar meneteskan satu buah bulir air matanya.
Mobil yang di kendarai oleh Rafki kemudian berhenti seketika mendengar panutan Lina panjang lebar.
"Lina. Aku akan mencintaimu seperti selayaknya Lin. Maafkan aku yang sempat meragukan segalanya tentangmu. Maafkan aku karena dasar atas pernikahan kita diawalnya adalah hanya ingin menyelamatkanmu saja. Aku akan berusaha menjadi suami terbaik untukmu." Balas Rafki kemudian memeluk tubuh Lina.
"Terima kasih Ki. Aku percaya padamu. Tiada keraguan atas dirimu untukku Ki. Semua yang terjadi adalah hidayah yang sungguh berarti dalam hidupku Ki.
Meskipun aku harus kehilangan calon anakku, aku akan selalu berusaha untuk ikhlas akan semuanya Ki."
"Aku tak sangka, kamu se penyabar ini ternyata. Aku beruntung menjadi lelaki yang lansung ambil tindakan saat itu. Kalau saja bukan aku, sungguh sesuatu yang merugi untukku Lin." Jelas Rafki.
"Kamu bisa aja Ki. Semoga rumah tangga kita kedepannya menjadi jauh lebih baik lagi." Jelas Lina.
"Aamiin." Keduanya sama sama mengaminkan.
Mobil itu kian melanjutkan tujuannya.
Hingga tiada sangka kini telah tiba di tempat yang dimaksud.
Sebelumnya Rafki yang telah membooking sebuah kamar hotel yang begitu indah lokasinya.
Penuh dengan pemandangan yang indah dan masih sangat asri.
Bogor termasuk salah satu tempat favorit untuk liburan apalagi di saat yang tepat. Misalkan cuti ramadhan ataupun lebaran juga tahun baru dan yang lainnya.
Banyak tempat disana yang akan dikunjungi, yang pastinya akan menambah rasa syukur bagi Hamba yang bersyukur.
"Lin. Ini kamar kita." Ucap Rafki memberikan Lina kunci kamar yang tadinya diberikan oleh pelayan hotel.
"Ini Ki. Bagus sekali. Benar yang ini?" Tanya Lina kian meragu akan segalanya.
"Benar istriku." Ucapnya sambil tersenyum manis.
Lina merasakan grogi mengguncang tubuhnya.
"Kenapa pipimu jadi memerah?" Tanya Rafki terus menggoda Lina.
"Apa an sih Ki. Udah ah. Aku mau masuk dulu." Ucapnya mengalihkan situasi yang kian memanas itu.
"Udah jangan malu malu lagi Lin. Aku ini kan suami sah lu. Lahir dan batin." Jelas Rafki kemudian.
"Iya aki tau pak suami. Tak perlu menjelaskannya berulang kali. Aku sudah hapal segalanya tentang seorang bernama Rafki suaminya Lina Margaretha." Tuturnya sembari tangannya sibuk mengemaskan pakaian isi koper mereka itu menata pakaiannya di dalam lemari yang sudah disediakan oleh hotel itu.
Lina yang merebahkan tubuhnya diatas kasur itu, namun tiba-tiba Rafki juga menindih tubuh Lina. Berbaring diatas tubuh Lina, menguncinya dengan penuh kasih sambil sedikit memajukan bibirnya ke bibir seksi milik Lina.
"Rafki." Teriaknya.
__ADS_1