Suami SHOLEH Untuk ANDINI

Suami SHOLEH Untuk ANDINI
Nasib yang Malang


__ADS_3

Setelah beberapa hari dalam kondisi koma akhirnya Lina pun membuka matanya.


"Anakku." Ucap Lina parau dan memegang perutnya yang kian tiada membengkak lagi.


"Lina." Panggil Rafki.


"Ki, anakku mana?" Tanya Lina memaksakan membuka alat medis yang menutupi mulut dan hidungnya.


"Lina jangan di buka. Biar Dokter memeriksa mu dulu." Ucap Rafki kemudian.


"Ki jawab aku. Anakku mana?" Tanya Lina lagi yang kini tengah sedang menangis.


"Ibu Lina biar saya periksa dulu. Yang lain tolong keluar." Ucap si Dokter kemudian menghampiri Lina.


"Dokter mana anak saya?" Tanyanya lagi kini kepada Dokter yang sudah sedang menjangkau tangan kiri Lina yang terpasang infus kemudian menyuntikkan bius obat penenang kepada Lina yang terlihat sudah frustasi akan anaknya. Semuanya yang masih bingung akan membicarakan apa dan menjelaskannya bagaimana terhadap Lina.


Begitu pula dengan Dokter yang merawat Lina pun sudah melarang sementara waktu untuk membicarakan tentang bayinya yang sudah meninggal itu.


***


"Malang nian nasibmu nak, belum saja sempat menyaksikan dan bersenang senang di dunia ini kamu malah pergi sebelum di lahir kan ke dunia ini. Nenek sangat sedih karena nasib mu dan ibumu nak. Tenang lah disana dan tunggulah kami di surganya Allah." Ucap Rina setelah selesai proses pemakaman. Rina yang masih saja terus menangis dan menangis begitu pula dengan Andini yang selalu berdiri kuat di samping Rina.


"Berbahagialah disana nak. Semoga ibumu dan seluruh yang di tinggalkan bisa ikhlas akan kepergian mu nak. Kami semuanya menyayangimu. Tenanglah disana, dan semoga kelak Allah pertemukan kita di surga Nya." Andini berbicara dalam hatinya mengatakan harapannya kepada sang Khalik.


"Cucuku, maafkan aku yang belum saja bisa melihatmu harus melihat pemakaman mu. Andai engkau masih dan lahir ke dunia ini dengan selamat, kakek lah orang pertama yang akan bermain denganmu. Namun Allah ternyata lebih menyayangimu. Kakek sangat sayang padamu nak." Kini Nazar yang masih terpukul akan kenyataan pahit yang harus ia lalui ini pun menjepit luka begitu dalam hingga air mata pun tak mampu ia bendung lagi. Dan keluar begitu derasnya meskipun ia tidak ingin mengeluarkan air matanya itu.


"Sudah Bu, Pak. Mari kita lihat kondisi Lina saat ini." Ucap Rasya.


"Kamu juga Andini. Ayo kita pergi. Lina hanya dengan Rafki saja saat ini." Lanjut Rasya kemudian.


"Baiklah. Ayo Bu, Pak." Ajak Andini kemudian merangkul Rina bangkit dari duduknya di pusara itu.


Langkah kaki yang begitu sangat berat, ingin rasanya menjemput si bayi kedalam pemakaman dan memeluknya erat berbisik agar ia kembali ke dunia ini.


Namun itu hal mustahil.


Tiada cara selain berusaha ikhlas untuk saat ini.

__ADS_1


Berpegang teguh kepada yang seharusnya, siapa yang bernyawa pasti akan mati. Meskipun dengan cobaan dan situasi yang berbeda. Namun semua makhluk ciptaan Allah pasti akan kembali kepada Allah.


***


"Assalamualaikum." Salam Andini masuk kedalam ruangan Lina.


"Waalaikumussalam Kak." Jawab Rafki.


"Bagaimana Lina?" Tanya Rasya.


"Sempat sadar dan syok Kak. Akhirnya Dokter memberi obat penenang untuk sementara. Lina sungguh tak bisa menahan diri." Jawab Rafki murung, sedih dengan nasib istrinya itu.


"Sabarlah. Dan terus berada disamping Lina. Dia membutuhkan kamu saat ini. Berilah selalu semangat dan kekuatan." Rasya melanjutkan ucapannya.


"Baik Kak. Itu pasti." Jawab Rafki mengiyakan.


"Bagaimana proses pemakaman tadi Bu?" Tanya Rafki kepada Rina ibunya.


"Sudah selesai Nak. Kamu yang kuat sayang." Peluk Rina kemudian.


"Kita harus sama sama kuat Bu. Jangan seperti ini." Ucap Rafki yang sudah merasa lebih ikhlas dan sabar menghadapi semua ini.


"Pak." Panggil Rasya menghampiri Nazar.


"Iya Nak Rasya." Jawabnya.


"Bapak yang ikhlas. Ini semua sudah ketetapan yang Kuasa Pak. Lina butuh semangat dari Ayahnya." Jelas Rasya.


"Saya tak sanggup memikirkan perasaan Lina." Lanjut Nazar.


"Benar ini adalah cobaan yang amat berat Pak. Namun tiada cobaan di batas kesanggupan hamba Nya Pak." Jelas Rasya lagi.


"Betapa malang nian nasib putriku. Belum lagi tidak pernah melihat ibunya. Sekarang harus mengalami kehilangan anaknya bahkan sebelum dilahirkan." Lanjut Nazar lagi kali ini mengeluarkan air matanya.


"Tenanglah Pak. Mari kita sholat sunnah sekarang dulu Pak. Biar hati lebih tenang dan kuat Pak." Ajak Rasya.


Karena memang benar sholat adalah suatu rutinitas yang akan selalu menjadi obat bagi penganutnya. Selain kewajiban adalah suatu terapi yang baik untuk setiap Hamba Allah.

__ADS_1


..."Ingatlah bahwa sebuah musibah yang membawamu semakin dekat kepada Allah itu lebih baik daripada nikmat yang membuatmu semakin menjauh dari Allah. " – Dr. Bilal Philips....


..."Kesabaran adalah ketika hati tidak merasa marah terhadap apa yang sudah ditakdirkan, dan mulut tidak mengeluh." - Ibnu Qayyim....


..."Hai anak Adam, jika kamu mampu bersabar dan ikhlas saat tertimpa masalah, maka Aku tidak akan merida'i bagimu sebuah pahala kecuali surga." - HR. Ibnu Majah....


...Ingatlah wahai saudara se mukmin, tiada musibah atau cobaan melainkan ada ganjaran yang setimpal yang akan menanti kita. Jika kita mampu bersabar dan ikhlas, dan jika Allah pun merida'i maka itupun akan Allah hadiah kan surga. Yang mana tiada tempat lebih baik dari pada itu. Yang di bawahnya mengalir sungai - sungai yang indah. Yang apapun hanya lah ada kebahagiaan dan ketentraman disana. Semoga kita semua di tempatkan di tempat yang yang mulia di sisi Allah SWT....


***


"Bagaimana kondisi anak saya Dok?" Tanya Ibu dari pasiennya Wilona itu.


"Hanya demam biasa Bu. Nanti Ibu minum kan obat yang saya berikan In Syaa Allah demamnya akan turun." Jawab Wilona dengan sopan.


"Terima kasih Dok." Ucap Ibu tadi.


"Sama sama Bu." Jawab Wilona menyunggingkan senyuman manisnya itu.


Sesuatu yang menjadi nilai lebih dari Dokter Wilona itu. Perlakuan yang selalu manis, dan sikap sopan dalam pelayanan kepada pasien pasiennya tanpa memandang status ataupun genre dari pasiennya.


Tiada perbedaan dari kaya maupun miskin, atau tua muda sama saja. Perlakuan yang begitu amat mencerminkan norma yang baik itu menjadi daya tarik pemuka umum untuk berobat kesana. Bahkan dari tempat jauh sekalipun mereka hadang demi perawatan dari pada Dokter Wilona.


Tak disangka hari pun terus berlanjut kian larut. Wilona berkemas dan hendak pulang kerumah.


Tiba tiba diperjalanan mobil yang Wilona kemudikan hendak menabrak seekor kucing yang menyeberang sembarangan.


Mobil itu di rem dadakan oleh Wilona, dan berhenti seolah jantungnya akan copot kalau saja sampai menabrak kucing itu. Wilona sangat menyukai kucing, binatang favoritnya pun adalah kucing. Terlebih kucing anggora.


Wilona yang masih belum stabil kondisinya. Tiba tiba seseorang mengetok pintu jendela mobil Wilona.


"Permisi Mba." Sapa orang tersebut.


Pria yang berbodi maco, tampan dan juga berkulit kuning langsat dan lebih sedikit putih.


"Siapa?" Tanya Wilona membukakan pintu mobilnya.


"Maaf kalau Mba sangat kaget dengan kucing saya yang tiba tiba menyeberang sembarang di jalanan." Jelas pria tersebut.

__ADS_1


"Oo jadi kucing itu miliknya Mas. Lain kali tolong di jaga baik baik. Jika tertabrak bagaimana?" Ucap Wilona kemudian dan masuk kesal ke dalam mobilnya dan menutup pintu mobilnya kemudian melajukan mobilnya kembali.


__ADS_2