
"Permisi Sus. Saya mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan dari pelayanan Dokter disini. Dimana pimpinan klinik ini." Jelas Galfin kemudian.
"Pimpinan kami disini sekaligus Dokter yang bertugas disini Mas. Itu ruangannya." Tunjuk seorang Suster tersebut.
Galfin menoleh kearah telunjuk Suster tersebut, dan membaca label ruangan itu. Yang bertulisan *"Dr.Wilona"*.
Galfin sangat kagetnya sehingga ia tak menyadari Suster yang tadi bersamanya pamit undur diri.
Galfin merasa malu sekali, bahkan tidak enak muka untuk masuk lagi.
Dirinya yang masih terdiam terpaku dalam berdirinya.
Tiba tiba Wilona keluar kemudian mendekati pria itu.
"Bagaimana hasil pengaduannya Mas yang terhormat?" Tanya Wilona.
"Oo. Jadi kamu pimpinannya. Sungguh tak bermoral dan beretika sangat buruk dalam pelayanannya." Celetuk Galfin kemudian meninggalkan klinik itu.
"Angkuh sekali. Dasar pria yang buruk." Ejek Wilona sedikit berteriak agar Galfin mendengarnya meskipun sudah pergi dari ruangan itu.
Galfin yang terus melanjutkan langkahnya hanya menggeleng geleng kan kepalanya puyeng melihat ekspresi Wilona yang membuatnya menggemaskan.
"Wilona. Nama yang cantik. Namun sayang orangnya jutek dan judes." Ucap Galfin bicara dalam hatinya.
"Apaan sih lu Gal. Kenapa jadi mikirin Dokter judes." Lanjutnya kemudian menggelengkan kepalanya.
***
"Sayang." Panggil Rasya.
"Iya sayang. Kamu sudah siap?" Tanya Andini.
"Sudah. Ayo kita berangkat. Nanti Arumi kelamaan menunggu kita." Ucap Rasya lagi.
"Bentar lagi Mas. Ini aku baru mau makai jilbab. Sebentar Mas." Jawab Andini.
"Sayang. Kamu selalu deh kalo dandan pasti lama." Goda Rasya kemudian mendekati Andini dan memeluknya dari belakang.
"Aa sayang, aku kaget." Andini.
"Begini saja kenapa kaget sayang. Ini peluk kasih namanya." Goda Rasya menciumi singkat di pipi mulus milik Andini.
"Kamu ini sayang. Kalau begini terus nanti nggak kelar kelar dong dandanan aku." Jelas Andini.
"Ya sudah. Buruan sayang." Ucap Rasya melepas pelukannya dari Andini.
__ADS_1
"Aku tunggu di parkir ya istriku sayang." Rasya melanjutkan langkahnya pergi dari kamar mereka berdua.
"Oke suamiku sayang." Jawab Andini.
Andini pun melanjutkan aktifitasnya dan tak lama kemudian turun kebawah dengan pakaian yang sopan dan elegan. Membuat Andini terlihat lebih anggun dan menawan. Dengan setelan gamis syari berwarna biru wardah itu membuat Rasya semakin jatuh cinta kepadanya.
"Masya Allah sayang." Rasya kagum dengan penampilan istrinya itu.
"Kenapa sayang?" Tanya Andini.
"Kamu semakin membuatku jatuh cinta." Jawab Rasya jujur dan membuat Andini tersipu malu.
"Bisa aja Mas."
"Benar sayang."
"Sudah menggodanya sayang. Nanti kita telat sampai pondoknya." Ucap Andini mengalihkan pembicaraan mereka itu.
"Oh baiklah tuan putri. Mari kita berangkat." Rasya mengangkat bagian bahu kanannya mempersilakan untuk mempersilakan Andini menggandeng tangannya.
"Tunggu sayang. Kita kerumah Mama dulu. Mama ikut kita ya sayang." Ucap Andini.
"Baiklah sayang." Jawab Rasya.
Setibanya dirumah Sinta dan Sinta pun sudah selesai berkemas dan menunggu jemputan putri dan menantunya itu.
"Oke sayang." Sinta mengambil tas jinjing miliknya kemudian lansung menuju Andini dan Rasya menaiki mobil itu.
"Siap Ma?" Tanya Rasya.
"Siap Nak." Jawab Sinta.
Rasya yang lansung melajukan mobil miliknya itu secara normal dan tidak terlalu kencang.
Hingga tiba di depan pondok pesantren Arumi.
"Arumi." Panggil Andini.
"Ibu." Teriak Arumi kemudian berlari menuju Andini.
"Jangan lari lari Nak. Nanti kamu jatuh." Jelas Rasya.
"Tidak Bapak." Jawab Arumi setiba di depan Andini dan lansung memeluk tubuh mungil milik Andini.
"Bagaimana kabarmu Nak? Kami tidak terlambat kan?" Tanya Sinta lagi.
__ADS_1
"Nenek." Peluk Arumi.
"Tidak Nek. Masih belum terlambat. Giliran aku masih dua lagi Nek." Jawab Arumi.
"Syukurlah Nak. Kami cemas akan terlambat datang." Jawab Andini.
"Tidak Bu. Ibu, Bapak, Nenek mari kedalam. Disana ruangan keluarga yang sudah disediakan panitia." Ucap Arumi menunjuk kepada sebuah pojok kiri tempat ruangan acara itu digelar.
"Baiklah Nak." Kini Rasya bersuara.
Sesampainya di ruangan yang di maksud Arumi. Andini juga Sinta meletakkan barang bawaannya di tempat yang sudah disediakan. Duduk di tempat duduk melepas lelah di perjalanan.
Mereka bersenda gurau hingga tiada sangka tiba tiba nama Arumi kemudian dipanggil untuk gilirannya menampilkan hapalan dan keahlian hafis nya yang selama ini sudah ia perjuangan.
"Bismillah Nak. Semoga berkah dan sukses." Ucap Andini dan mengecup kening Arumi.
"Iya Bu. Doakan aku." Jawab Arumi kemudian melangkah maju menuju mimbar penilaian dan seleksi pengujiannya.
Arumi yang tampak sigap dan cekatan sekaligus yang ia jawab adalah semuanya benar. Arumi mendapatkan nilai terbaik dari kalangannya.
Hingga sorak suara berucap syukur pun melontar karenanya.
Andini sangat senang dan bersyukur memiliki seorang anak hafizah. Penghafal al quran terbaik di masa ini.
Hingga para juri memilih dan mengutus Arumi untuk mengikuti ajang perlombaan tingkat nasional.
"Masya Allah. Lanjutkan perjuanganmu Nak. Dan semoga ilmu dan telah engkau pelajari bermanfaat dan berguna untuk dunia maupun akhiratmu Nak. Ibu bangga denganmu." Ucap Andini benar terharu dengan anaknya itu.
Rasya yang tak kalah merasakan senang yang begitu dalam dan indahnya begitu pula Sinta, Nenek dari Arumi.
Semuanya menangis terharu melihat Arumi mendapatkan peringkat terbaik ketika wisudanya itu.
"Silakan Arumi. Sampaikan lah apa yang ingin kamu sampaikan." Ucap pembawa acara itu.
"Terima kasih Ustad. Bismillah hirrohmanirrahim. Assalamualaikum wr wb. Disini Arumi akan menyampaikan rasa syukur dan terima kasih yang banyak untuk semua yang sudah memberikan semangat juga doa restu hingga Arumi bisa berdiri disini saat ini. Terutama kepada Ibu dan Bapak yang selalu sayang dan memberikan dukungan terbaik sekaligus doa yang mustajab untuk Arumi. Maafkan Arumi Ibu, Bapak yang belum bisa membahagiakan kalian.
Kembali kepada tujuan awal ku berdiri disini dan dari perjuangan pertama ku kesini itu adalah sebagai bakti kepada Ibu dan Bapak. Agar nanti aku bisa memberikan mahkota terbaik di kepala Ibu dan hadiah terindah kepada Bapak. Meskipun aku bukanlah anak kandung kalian aku sangat menyayangi kalian lebih dari apapun didunia ini." Ucap Arumi sembari meneteskan air matanya. Hingga juri meminta Ibu Arumi naik ke panggung. Benar saja Andini lansung memeluk Arumi dengan bangga dan penuh rasa kasih sayang.
Pelukan hangat yang dibalas rasa sayang dari Arumi.
Andini merasakan kebahagian yang sangatlah sempurna saat ini.
Kebanggaannya terus menggebu terhadap Arumi anaknya itu. Ia bersyukur meskipun tidak memiliki anak kandung namun Allah berikan suatu anugerah yang selama ini pun tiada pernah ia bayangkan akan membuahkan kebahagiaan yang seperti saat ini ia rasakan.
..."Percayalah wahai saudariku. Meskipun terkadang ada hati yang mengelak atas takdir yang Allah berikan namun percayalah disetiap takdir Allah akan selalu ada matahari penerang untuk kita....
__ADS_1
...Tetap lah berbuat baik kepada siapa saja. Karena kita tidak akan pernah tau kebaikan mana yang akan memberikan kebahagiaan abadi kepada kita."...