
"Sayang. Bagaimana tadi disana sayang?" Tanya Andini kepada Rasya.
"Alhamdulillah semua jamaahnya suka dan bersemangat sayang. Semoga Allah memberikan hidayah untuk semua yang hadir tadi." Jawab Rasya.
Rasya yang baru pulang dari acara pengajian di salah satu mushola tidak jauh dari kediaman mereka.
"Alhamdulillah sayang." Lanjut Andini.
"Sayang aku mau cerita ke kamu."
"Iya kenapa sayang?" Tanya Andini.
"Aku mau pergi ke Cimahi untuk dua hari mulai besok sayang. Perintah untuk mengisi acara disana sayang." Jawabnya.
"Dua hari sayang?" Tanya Andini ragu ragu.
"Benar sayang. Berangkatnya besok jam 7 pagi."
"Baiklah sayang. Aku akan bantu bersiap dan berkemas keperluannya sayang." Ucap Andini yang dibalas kecupan hangat di kening Andini.
"Terima kasih istriku tercinta." Jawab Rasya kemudian.
Dibalas hanya pelukan hangat dari Andini.
***
"Ibu. Aku berangkat ke Cimahi dua hari lamanya Bu. Titip Andini kalau ada perlu Ibu tolong kabari aku." Ucap Rasya berpamitan kepada Rina.
"Baiklah nak. Kamu hati hati berangkatnya nak." Jawab Rina.
Selesai berpamitan dengan Rina juga disusul menghubungi Sinta melalui via telepon. Kemudian lagi dan lagi berpamitan penuh mesra dengan Andini istrinya tersayang.
Rasya berangkat karena jemputan mobil nya sudah datang.
Suasana sedih bercampur resah tidak tahu kenapa seperti ini. Dua hari memanglah tidak lama. Namun sangat lama dirasakan oleh hari seorang istri.
Angin sepoi sepoi daun berjatuhan seperti lambaian tangan Andini yang terus bergerak melihat bus yang dinaiki suaminya itu hilang tak tampak mata.
Andini masuk ke dalam rumah.
"Kenapa nak?" Tanya Rina.
"Entahlah Bu. Rasanya aku berat melepas Mas Rasya pergi." Jawabnya pasti.
"Kenapa berat nak. Hanya dua hari saja. Lepas itu ia akan pulang untukmu nak. Bersabarlah dan terus doakan keselamatan suamimu nak." Jawab Rina lagi.
"Iya Bu." Andini meninggalkan Rina di ruang tamu kemudian lansung naik ke tingkat atas menuju kamarnya.
Perasaannya gundah entah apa yang akan terjadi.
Seolah ingin menangis dan entah apa yang akan ia tangisan.
__ADS_1
**
Selesai membersihkan dirinya. Andini kebawah menuju dapur. Jam dinding yang masih menunjukkan pukul 6.30 pagi namun Andini sudah dengan sigap ingin mempersiapkan sarapan pagi untuk Ibu Rina dan Rafki iparnya.
"Jangan nak. Biar Bibi saja nanti." Jawab Rina.
"Tak mengapa Bu. Aku bingung tidak ada kegiatan." Jawab Rina.
"Tidak baik bagi kandungan mu nak. Nanti kamu kelelahan." Jelas Rina lagi.
"Tidak Bu. Hanya memasak saja." Jawab Andini lagi.
"Kita pergi belanja yok nak. Bagaimana?" Tanya Rina.
"Kemana Bu?" Tanya Andini.
"Sudahlah. Kamu siap siap saja. Nanti jam 8.00 kita berangkat." Jelas Rina kemudian sedikit memapah Andini menuju ke depan.
Andini hanya menurut mengikuti permintaan Rina.
Ketika Andini berniat melangkahkan kaki menuju kamarnya untuk bersiap pergi bersama Rina. Tiba tiba telepon genggam rumah berdering. Dan lansung saja Rina mengangkatnya.
"Benar ini dengan rumah kediaman Bapak Rasya?" Tanya seseorang di ujung telepon.
"Benar. Ini Ibunya. Ada apa?" Tanya Rina penasaran.
"Bapak Rasya mengalami kecelakaan. Tertimpa beberapa barang bangunan ketika sedang pengajian. Ada Gempa Bumi dahsyat. Sekarang Bapak Rasya sedang dibawah ke Rumah Sakit Annisa." Jawabnya.
"Ibu kenapa? Ada apa Bu? Siapa yang telepon?" Tanya Andini bertubi tubi.
Air mata yang mengalir begitu juga dengan Andini sudah tak sadarkan diri mengeluarkan air matanya.
"Ibu kenapa? Ada apa dengan Mas Rasya Bu?" Tanya Andini lagi dan lagi sambil menggoyang goyangkan tubuh Rina melepaskan rasa syok nya.
"Rasya nak. Rasya." Rina terus menangis.
"Iya Bu. Kenapa?" Tanya Andini lagi.
"Rasya kecelakaan tertimpa bangunan karena terjadi Gempa Bumi nak. Rasya nak." Lanjut Rina terbata menjawab pertanyaan Andini.
Andini tidak kalah syok nya. Ia pingsan seketika mendengar kabar duka ini.
Rafki yang baru pulang juga terlihat panik melihat situasi dan berusaha bertanya kepada Rina. Rina menjawabnya kemudian Rafki berusaha menyadarkan Andini dari pingsan dan syok nya.
Setelah Andini sadar ia lansung memeluk Rina.
"Bagaimana keadaan Mas Rasya Bu. Ayo kita kesana!" Ajak Andini.
"Tapi nak. Keadaan kamu sayang. Biar Ibu dan Rafki saja." Jelas Rina.
"Tidak mengapa Bu. Aku juga tidak akan bisa tenang hanya berdiam dirumah menunggu kabarnya Bu." Jelas Andini.
__ADS_1
"Baiklah nak." Rina menyerah dan mereka mengambil tas dan keperluan kemudian lansung berangkat.
Setiba di Rumah Sakit.
"Mas Rasya." Panggil Andini ketika sudah memasuki ruang rawat Rasya.
Rasya yang masih tak sadarkan diri. Tubuhnya penuh dengan selang selang infus dan lain sebagainya.
Andini benar benar terpuruk melihat kondisi Rasya saat ini. Sangat memprihatinkan.
Sinta yang baru saja datang menyusul Andini Rina dan Rafki ke Rumah Sakit lansung memeluk putrinya itu.
"Tenanglah nak. Bersabarlah. Ini ujian dari Allah." Ucap Sinta memeluk Andini. Kemudian mendekati Rina.
"Kita sama sama berdoa untuk keselamatan Rasya Rin. Jangan seperti ini. Doa orang tua dan istrinya saat ini sangatlah ia butuhkan." Ucap Sinta memperingatinya.
"Benar Mama Sinta." Jawab Rafki.
"Ayok kita sholat sunah Bu, Kak." Ajak Rafki kemudian mereka semua mengambil air wudu dan melaksanakan sholat sunah bersama.
'Ya Allah, hamba mohon keselamatan untuk suami hamba ya Allah. Ampuni hamba ya Allah. Jangan biarkan suami hamba merasakan sakit terlalu dalam seperti ini. Hamba sungguh tak sanggup melihatnya seperti ini. Hamba mohon berilah kesembuhannya ya Allah. Hamba butuh suami hamba ya Allah.' Rintihan Andini di dalam hatinya melepas rasa sakit yang saat ini ia rasakan dengan keadaan suaminya saat ini.
Belum saja melepas mukena yang ia pakaikan Andini bergegas menuju Dokter yang masuk keruangan suaminya itu.
"Dok. Bagaimana dengan suami saya?" Tanya Andini.
"Untuk sekarang kita belum bisa memastikan keadaan suami Ibu. Nanti kalau suami Ibu sudah bangun maka kita akan lihat perkembangannya. Karena Suami Ibu tertimpa bagian kepala dan mata. Kemudian di bagian punggungnya. Hasil ronsen pun tidak menjamin kenyataannya." Jelas Dokter tersebut.
"Saya mohon Dok. Selamat kan suami saya Dok." Ucap Andini memohon kemudian Rina juga Sinta memeluk Andini dari belakang.
"Ibu."
"Mama."
"Mas Rasya."
Keluh Andini disela sela tangisannya yang sudah memuncak.
Andini pingsan lagi dan lagi ia tidak sadarkan diri.
Berhubung masih di Rumah Sakit lansung saja perawat wanita membawakan tandu jalan untuk Andini agar bisa dibawa ke ruang periksa.
"Dokter Wilona ya." Tanya seorang Dokter bernama Tengku.
"Iya Dok." Jawab Wilona.
"Maaf Dok. Diruang kandungan ada pasien yang sedang hamil kemudian depresi berat saat ini. Orang itu membutuhkan penanganan segera Dokter. Mohon dibantu Dok." Jelasnya.
"Tentu Dok. Terima Kasih." Jelas Wilona.
Wilona lansung sedikit berlari menuju ruangan yang sudah diberi tahu Dokter Tengku barusan.
__ADS_1