
...setiap kesusahan pasti ada kemudahan, dan setiap kesedihan pasti ada kabar gembira setelahnya. Begitu juga setiap tangisan akan selalu ada senyuman setelah itu....
"Ini mbak." Andini memberikan kertas berwarna pink muda bergambar pahlawan kemerdekaan.
Membeli tahu tempe dan sayur mayur yang sudah ia pilih. Selesai mengembalikan kembalian uang belanja.
"Ini kembalinya nona. Terima kasih nona." ucap penjual memberikan kembaliannya kepada Andini.
"Sama sama mbak. Saya permisi." Andini undur diri selesai transaksi dengan penjual dan melanjutkan langkahnya membeli yang memang rasanya perlu.
Di pasar senen ini memang kondisi tempatnya yang kurang bagus.
Selain penjual pembelinya begitu ramai berbelanja kesini. Itu menyebabkan banyaknya polusi dan bahkan sampah berserakan.
Kebersihannya ketika pasar sudah tutup.
Selama transaksi jual beli terjadi tukang kebersihan pun tidak bisa mengerjakan tugasnya.
Terpaksalah masyarakat menikmati kondisinya seperti ini dengan mau atau tidaknya.
Sudah menjadi rutinitas Andini kesini. Setiap seninnya, kali ini pun sama.
Berbedanya karena hari ini ditemani oleh Arumi putri nya. Arumi yang membeli lauk pauk lain untuk bahan baku di tempat yang lain agar belanjanya cepat kelar.
Ketika bertemu di tempat janjian pertemuan selesai belanja
"Selesai Bu?. Ini sebagian belanjanya Bu." Arumi memberikan kresek berisi belanjaannya. Membantu Ibunya membelikan bahan baku untuk masak yang tadi Ibunya sudah bicarakan. Andini menghampiri Arumi.
"Sudah semuanya nak. Kita lansung pulang." Andini mengangkat belanjaannya.
"Baiklah Bu. Yang ini biar aku saja Bu." Arumi mengambil satu buah kantong besar di tangan kiri Andini.
"Berat nak."
"Tidak Bu."
Andini hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah anaknya yang selalu tidak bisa melihatnya sedikit capek atau pun keberatannya.
mereka keluar pasar dan menuju parkiran angkot umum. Dikarenakan Andini dan juga Arumi kesini menaiki angkot perginya pulangnya pun dengan yang sama.
***
Di suatu halaman rumah Rasya menghentikan motor ojek yang ia bawa saat ini. Setelah mengalami banyak kejadian Rasya memilih menjadi ojek online pemesanan melalui aplikasi.
Pekerjaan ini sudah dua minggu lamanya ia tekuni.
"Disini Mbak?" tanya Rasya kepada penumpangnya di belakang.
__ADS_1
"Iya mas. Terima kasih." ucap Lina turun dari atas motor ojek online.
Panggil saja Lina namanya. Lina Margaretha itulah nama panjangnya.
"Sesuai aplikasi ya mas." lanjutnya memberikan uang sejumlah lima puluh ribu rupiah.
"Terima kasih mbak. Saya pamit." Rasya undur diri dari penumpangnya yang sudah ia pastikan sampai di tempat tujuan.
"Sama sama mas." ucapnya kemudian pergi berbalik arah memasuki halaman rumahnya. Sambil tersenyum senyum.
Lina menoleh ke belakang kembali berusaha melihat sosok pria yang menjadi favoritnya saat ini.
Namun Rasya yang telah pergi meninggalkan tempat itu Lina akhirnya masuk ke dalam rumahnya.
"Ganteng banget itu mas mas ojek. Pengen deh gue bisa lebih dekat dengannya." ucap Lina dalam hatinya.
"Rasya. nama yang bagus sesuai parasnya." ucapnya lagi tersenyum senyum.
Lina yang terus memikirkan sosok Rasya yang baru sekali ia temui dengan penuh kekaguman Lina tidak bisa tidur.
Mencoba mencari tau informasi mengenai Rasya dari sosial media.
Namun gagal yang ia dapat. Lina hanya bisa berharap cepat besok pagi dan ia akan order ojek online atas pengemudinya wajib Rasya.
Gadis itu masih muda. Usianya berkisar 24 tahun. Gadis yang memiliki tubuh seksi dan bibir yang menggoda. Rambut panjang yang selalu ia biarkan tergerai dengan memakai polesan wajah menawan membuat semua orang terpukau.
Setelah Rasya sampai di depan halaman membunyikan klakson Lina datang menghampiri Rasya.
"Berangkat sekarang ya mas ganteng." ucap Lina
Tanpa jawaban Rasya hanya mengangguk kecil dengan sopan nya.
Ia mulai merasa tidak nyaman melihat sikap dan tingkah Lina yang sudah aneh.
Seharusnya biasa namun ia bertingkah lebih membuat Rasya tidak nyaman di dekatnya.
Selain penampilannya yang membuat Rasya tidak enak melihatnya cara bisa seolah olah mempunyai maksud lain.
"Bisa jadi pacar saya mas." ucap Lina tiba tiba melingkarkan tangannya di pinggang Rasya.
Rasya terhenyak dan ia lansung rem motor tersebut.
"Maaf mbak. Kita bukan muhrim jangan seperti ini. Saya tidak nyaman." jelasnya dan motornya pun kian berhenti seketika.
Membuat Lina spontan menarik tangannya menunjukkan raut wajah kesal dan kecewa.
"Lagi pula mbak. Saya sudah punya istri dan anak." lanjut Rasya.
__ADS_1
Lina kaget tidak menerima ucapan itu berharap Rasya masih singgel dan bisa ia miliki seutuhnya.
Namun Lina yang sudah suka dan tertarik pada pandangan pertama, usahanya tidak hanya sampai di batas sana.
Ia selalu mencoba dan mencoba lagi mendekati Rasya merebut hatinya. Gagal dan masih selalu gagal Lina pantang menyerah. Ia tak peduli jika Rasya beristri dan beranak. Yang ia pedulikan ia sudah jatuh cinta dengan Rasya.
***
tok tok tok
"Siapa?" Andini membuka pintu dan melihat sosok perempuan yang baru hari ini ia lihat.
"Assalamualaikum mbak. Mau cari siapa?" Tanya Andini
"Ini benar rumah Rasya?" tanya perempuan itu
Batin Andini kaget, tapi ia hilangkan pikiran buruknya tentang suaminya itu. Karena mustahil rasanya suaminya dekat dengan wanita seperti yang datang saat ini di hadapannya. Memakai heels kira kira panjangnya 7 cm dan memakai rok mini setelah kemeja lengan panjang rambut yang tergerai polesan wajah yang bagi Andini terlihat sangat berlebihan.
"Pakaian macam apa ini? apakah saya bau sampai ia tidak mau buka wajah dan mulut." Lina ngoceh di hatinya melihat Andini memakai cadar menghiasi wajahnya dengan gamis panjang berwarna biru muda.
"Masuklah dulu!" Andini mempersilakan masuk. Dan perempuan tersebut lansung masuk kedalam. Melihat seisi rumah. Kecil namun penuh dekorasi yang mewah membuat suasananya pun terlihat megah.
"Minumlah! Maaf sebelumnya Mbak siapa?" Andini
"Lina. Terima kasih minumnya." Lina meminum teh hangat di hadapannya.
"Suami saya sedang keluar sebentar. Ada apa mencarinya?" tanya Andini pelan
"Saya hanya ingin bertemu dan bicara dengannya." ucap Lina lagi.
Membuat Andini kesal dengan jawaban perempuan itu. Kenapa perempuan itu mencari suaminya.
Nada bicara dan cara bicaranya pun seperti wanita yang tidak baik baik. Namun penuh sopan Andini melayaninya dengan baik.
"Tunggulah sebentar. Suami saya akan pulang." Andini berucap kemudian setelah menghilangkan pikiran kotornya terhadap wanita ini.
Dia hanya mengangguk kecil kemudian berdiri melihat sekeliling rumah Andini mencari sesuatu yang entah apa. Kemudian beranjak ke dapur.
Sungguh tiada kesopanan.
Andini yang merasa kacau gelisah melihat tingkah memalukan wanita itu.
Dia ikut berdiri dan mengikuti
"Maaf mbak mencari apa?"
"Tidak ada." ucap gadis itu kemudian berbalik menuju kursi tamu kembali dan tiba tiba Rasya sudah pulang dari pekerjaannya melihat sosok wanita yang tengah duduk di kursi tamu.
__ADS_1