
"Sayang." Panggil Rasya.
"Iya sayang." Jawab Andini.
"Tadi Kevin telepon aku. Dia mau ngajak kita makan malam bareng. Kamu mau?" Tanyanya.
"Oke sayang." Jawab Andini lemas.
"Tapi kayaknya jangan deh. Kamu lemas sekali kondisinya sayang. Lebih baik kita dirumah saja. Lagian nanti sore Arumi mau pulang. Dia juga menelepon aku tadi." Jelas Rasya lagi.
"Aku baik baik saja kok. Alhamdulillah. Aku juga rindu sekali dengan Arumi." Ucap Andini.
Andini yang lagi dan lagi bolak balik ke kamar mandi mengalami mual dan muntah. Membuat tubuhnya kian semakin lemas tak berdaya.
"Sayang. Bagaimana kalau kita kerumah sakit saja." Ajak Rasya.
"Nggak perlu sayang. Aku akan baik baik saja." Jawabnya.
"Tapi sayang. Kamu sangat lemas jadinya." Rasya memegang tubuh Andini menggendongnya menuju tempat tidur lagi.
"Kamu istirahat yang banyak sayang. Tapi sebelumnya kamu harus minum obat yang diberikan Dokter." Ucap Rasya mengambilkan obat tersebut dan meminumkannya kepada Andini.
"Terima kasih banyak sayang." Ucap Andini dan disusul pelukan hangat dari Rasya untuk Andini.
... “ Dan diantara tanda-tanda Kekuasaan Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan Nya di antara mu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi Kaum yang berpikir.” (QS. Ar Rum: 21)...
"Kehidupan memang tidak selalu mulus adanya. Kadang kita merasakan bahagia yang dalam namun juga kadang kita akan merasakan pedih yang begitu menyakitkan.
Semua itu tergantung bagaimana cara kita memandang tentang kehidupan.
Karena sesungguhnya kehidupan itu ialah tempat beribadah dan berserah diri kepada Allah.
Apapun yang terjadi kepada insan Nya melainkan itu atas kehendak Nya.
Diuji bukan berarti membenci.
Melainkan Allah sedang merindukan hamba Nya.
Bersyukur ketika senang.
Bersabar ketika diuji.
Dan selalu beristigfar ketika maksiat.
__ADS_1
Sesungguhnya sekecil apapun perbuatan kita akan tetap diperhitungkan di akhirat kelak.
Semoga kita selalu menjadi insan yang bertaubat." Ucap Rasya di dalam pangkuan Andini hingga akhirnya Andini pun merasakan nyaman yang dahsyat dan akhirnya ia tertidur dalam pangkuan suaminya itu.
Selesai memperbaiki tidur Andini kemudian Rasya pergi keluar meninggalkan istrinya itu.
***
"Mas. Ini Kaisar telepon dan ingin bicara dengan Mas." Panggil Jena membawakan telepon di tangannya kemudian memberikannya kepada Kevin.
"Hallo assalamualaikum Nak." Sapa Kevin.
"Waalaikumussalam Yah. Bagaimana kabar Ayah disana?" Panggil Kaisar.
"Alhamdulillah Ayah dan Ibu baik baik saja Nak. Kamu disana bagaimana?" Tanya Kevin.
"Baik juga Yah. Alhamdulillah." Jawab Kaisar.
"Bagaimana disana Nak? Kamu senang. Bagaimana kabar Nenek dan Kakek?" Tanya Kevin lagi.
Kaisar yang saat ini berada di Aceh tempat tinggal dan kampung halamannya Jena.
Kaisar yang tinggal bersama Mama dan Papa Jena.
Kaisar lahir di Aceh dibesarkan disana. Semenjak Kaisar sudah sekolah SD di Aceh Jena dan Kevin pindah menetap ke Jakarta karena Kevin di pindah tugaskan disini. Kaisar yang sudah memasuki bangku SD memilih untuk tetap tinggal di Aceh bersama Kakek dan Neneknya.
Meskipun kaisar hidup sangatlah kasar bahkan ingin menang sendiri. Namun Kakek dan Neneknya itu adalah prioritas utamanya. Rasa kasih dan sayangnya berlebihan bahkan melebihi kepada ayah dan ibunya sekalipun.
"Baiklah Nak. Kami akan segera kesana." Ucap Kevin kemudian beberapa saat setelah itu telepon itupun terputus.
Kevin dan Jena yang bersiap siap untuk berangkat ke Aceh. Kemudian berpamitan dengan Wilona untuk pergi. Cuti tiga hari dari jadwal mengajar Kevin sudah ia bereskan. Tinggallah Wilona yang tidak dapat izin cuti dari pihak Rumah Sakit. Berhubung karena di saat itu kondisinya ada banyak pasien dan fasilitas Dokter hanya sedikit. Tenaga Wilona sangatlah dibutuhkan oleh pihak Rumah Sakit.
"Kamu jaga diri baik baik Dek." Ucap Jena.
"Tentu Kak. Kak Jena dan Kak Kevin hati hati berangkatnya. Selamat pulang pergi Kak." Ucap Wilona kemudian memeluk Jena dan Kevin secara bergantian.
Travel yang iya pesan sudah sampai dan Jena juga Kevin menaikinya kemudian tak berapa saat diperjalanan mereka sampailah di Bandara. Dan jadwal keberangkatan pun tidak lama lagi. Kevin sedikit haus dan membeli air putih di Bandara tersebut.
"Ini sayang." Kevin memberikan sebotol air minum air mineral kepada Jena.
"Terima kasih Mas." Ucap Jena mengambil air mineral tersebut dan lansung meminumnya.
"Aku khawatir kondisi Papa Mas." Ucap Jena lagi.
__ADS_1
"Tenanglah Dek! Ada Allah yang akan selalu menjaganya." Jawab Kevin menenangkan Jena.
Kevin memeluk tubuh Jena karena sekarang Jena sudah dalam keadaan menangis. Dengan begitu khawatirnya ia akan kondisi ayahnya.
Kesedihan itu terpecah ketika suara mikrofon berbunyi mengarahkan untuk penumpang memasuki ruangan pesawat terbang. Kevin yang mendorong koper berisi pakaian mereka untuk beberapa hari kemudian Jena mengikutinya dari belakang.
***
"Mas Rasya." Panggil Andini.
Rasya yang lansung berlari mendengar teriakan Andini.
Kemudian setelah membuka pintu kamar Rasya mendapati Andini sudah berkeringat deras nan memegang kasur begitu eratnya. Ia menangis tak sadar ketika rasa sakit itu begitu amat sakit ia rasakan.
"Sayang. Kamu kenapa?" Tanya Rasya kemudian mendekati Andini dan memeluknya dalam kondisi yang masih tegang.
"Sakit sayang. Sakit." Pekiknya.
"Perut kamu sakit lagi sayang?" Ucap Rasya lansung menggendong Andini keluar menuju dan setelah taksi yang ia pesan telah datang. Rasya lansung membawanya kedalam. Menuju rumah sakit.
Andini yang meringis kesakitan dan Rasya yang penuh dengan rasa panik namun alhamdulillah nya tidak hilang akalnya.
Rasya menelepon Sinta dan Rina dan mereka pun lansung menuju Rumah Sakit.
"Dokter tolong istri saya." Panggil Rasya ketika Andini sudah dibaringkan diatas kasur jalan tempat pasien biasanya.
Sesampainya di ruangan ICU.
"Bapak tunggu diluar dulu." Cegah salah seorang perawat. Kemudian seorang Dokter lansung menuju keruangan tersebut. Dokternya adalah Wilona. Dokter yang biasanya menangani Andini ketika mengalami keluhan tentang kehamilannya.
Usia kehamilannya pun sudah memasuki usia tiga setengah bulan.
"Pastikan Istri dan calon Anak saya baik baik saja Dok." Ucap Rasya memohon.
"Saya akan berusaha semaksimal mungkin Pak. Tenanglah! Doakan Istri Bapak!" Ucap Wilona kemudian lansung masuk kedalam ruangan tersebut dengan persiapan yang sudah disiapkan oleh para perawatnya.
Andini yang sudah dibius kemudian pingsan tak sadar diri. Melepaskan rasa sakitnya yang sangat.
"Ini Dok." Perawatnya memberikan alat pemeriksaan yang dibutuhkan Wilona dan memeriksanya.
Memeriksa keseluruhan kondisi Andini.
"Nak. Mana Andini?" Tanya Sinta cemas dan sudah berada di depan Rasya.
__ADS_1
"Di dalam Ma. Masih dalam penanganan Dokter." Jawab Rasya.
Rina memeluk Sinta hangat memberikan sedikit kekuatan kepada Sinta.