
"Sudah selesai kah sayang?" Panggil Rasya menghampiri Andini.
Andini juga Kevin melihat ke belakang.
"Eh ada Kevin juga." Panggil Rasya.
"Iya Mas. Tadi tak sengaja ketemu disini. Kevin minta bantuan aku juga buat pilihkan heels untuk Jena." Lanjut Andini.
"Oh baguslah. Sudah dapat?" Tanya Rasya lagi berikutnya.
"Sudah Bro. Kalian abis ini mau kemana? Mampir dulu lah dirumah ada Jena yang lagi masak. Sekalian bisa cicip." Ajak Kevin.
"Terima kasih sebelumnya Bro. Kami masih ada kegiatan lain habis ini. Takutnya nanti nggak keburu. Ya kan Ndin." Ucap Rasya.
"Iya Mas. Maaf ya Kev." Ucap Andini.
"Oh baiklah. Hati hati ya kalian." Ucap Kevin kemudian.
"Iya. Lu juga Bro." Ucap Rasya membalas.
Andini dan Rasya kembali menuju parkiran motor mereka. Dan lansung berangkat meninggalkan toko tersebut.
"Mas kita berhenti dulu sayang. Tuh diseberang ada jualan makanan. Sepertinya nanti Arumi akan suka." Jelas Andini.
"Baiklah sayang." Ucap Rasya mengiyakan ucapan Andini istrinya itu.
"Berapa harganya ini Mbak?" Tanya Andini.
"15 ribu Mbak." Jawab penjual martabak mesir nya.
"Kita bungkus dua ya Mbak." Ucap Andini lagi.
"Baik Mbak tunggu sebentar ya." Lanjut si penjual dan membuatkan pesanan yang dipesan Andini. Tak lama berikutnya si penjual memberikan martabak mesir pesanan Andini itu.
"Terima kasih Mbak." Ucap Andini yang memberikan beberapa lembar uang sepuluh ribu rupiah kemudian Andini pamit meninggalkan tempat itu selesai berterima kasih kepala si penjual.
***
"Assalamualaikum Arumi." Panggil Andini masuk ke dalam asrama milik Arumi.
__ADS_1
"Waalaikumussalam Ibu, Bapak." Jawab Arumi sembari memakai kan cadarnya dan menyalami Andini juga Rasya.
"Ibu ada apa kesini. Tumben tidak mengabari aku lebih dulu." Ucap Arumi.
"Iya Nak. Maaf kan Ibu dan Bapak. Ini tadi ketemu di jalan. Makan lah Nak!" Ucap Andini menyodorkan jajanan nya tadi.
"Ibu dan Bapak repot repot bawain ini lagi kesini Bu." Jelas Arumi.
"Tidak lah Nak. Buat Anak sendiri kenapa repot lah sayang." Jawab Andini.
Rasya hanya tersenyum dan menggelengkan sedikit kepalanya melihat tingkah istri dan anak angkatnya itu.
"Arumi." Panggil Rasya kemudian.
"Iya Pak." Jawab Arumi.
"Bapak dan Ibu kesini bermaksud untuk menjemput kamu pulang." Rasya berbicara kemudian.
"Benar Nak. Oom kamu akan menikah minggu depan. Bapak juga akan bicara kepada kepala pihak Pesantren." Jelas Andini.
"Ha Oom Rafki akan menikah Pak, Bu?" Arumi sedikit kaget.
"Iya Nak." Jawab Rasya.
Andini dan Rasya tertawa kecil dan begitu pula dengan Arumi.
Selesai membicarakannya kepada Pihak Pesantren dan Arumi diizinkan mengambil cuti mingguan. Namun karena Rasya cuma membawa motor hari ini, Andini meminta Arumi kembali kerumah besok dan akan dijemput Bapaknya.
Arumi menurut saja. Sebab iya akan packing beberapa jenis pakaian keperluannya dan tidak memakan waktu yang sebentar.
Andini dan Rasya pamit pulang kerumah di antar oleh Arumi sampai ke gerbang pintu keluar.
Berpamitan dan bersalaman tangan seperti biasanya.
Motor Rasya kian melaju jauh dan semakin menjauh.
Arumi pun masuk ke dalam Pesantren dengan wajah penuh sinar, menampakkan sekali raut yang begitu bahagia kian menyapa gadis kecil itu. Kebahagiaan yang begitu asri terpancar dari Arumi putri kecil dan sangat manis dan lugu.
***
__ADS_1
'Terima kasih Tuhan. Kekuatan yang Engkau anugerah kan kepada ku telah mampu membuat hati ini ikhlas dan lapang menerima semua ini.'
Ucap Wilona dalam doa detik detik akhir sholatnya.
Memang masih terasa rasa sakit yang begitu dalam. Mengingat kejadian kejadian dan kenangan manis yang lalu. Meskipun tak berlansung lama namun sangat membekas bagi Wilona maupun Rafki dan mereka pun juga sudah pernah sama sama mengatakan perasaannya masing masing. Namun karena sebuah ucapan dan tanggung jawab benteng yang menghalangi kisah cinta mereka begitu tinggi dan besar. Hingga mereka tak mampu menghancurkan benteng tersebut.
"Toh jika jodoh Rafki akan kembali ke dalam kehidupanku. Namun Rafki bukanlah jodoh untuk ku. Dan akan Allah gantikan jodoh yang lebih baik untukku." Ucap Wilona bicara lagi dalam hatinya.
Keheningan itu berhenti seketika terdengar suara ketokan pintu dari luar kamar Wilona.
"Non, makan malam nya sudah selesai Non. Makanlah dulu! Keburu dingin nanti tidak enak lagi." Panggil Bibi.
"Iya Bi. Makasih." Jawab Wilona.
Wilona membuka mukena yang masih ia pakai dan melipatnya kemudian menaruhnya di tempat biasa ia menaruh mukenanya.
Ia kuatkan langkah kakinya keluar menuju ruang makan.
"Sendiri begini juga tidak enak ya. Andai Kak Kevin dan Kak Jena disini. Pasti tak akan se sepi ini. Ini udah rumah besar. Manusianya yang tidak ada. Kaisar ponakan ku yang tidak mau diajak tinggal disini. Bagaimana ya sekarang keadaan Ayah Kak Jena?" Ucap Wilona sendirian kemudian belum lagi selesai mengambil makanan Wilona lansung menuju telepon rumah. Mengetikkan beberapa angka kemudian menyambungkannya dan tak lama berikutnya seseorang mengangkatnya.
"Hallo Assalamualaikum." Ucap Kaisar.
"Waalaikumussalam Kaisar." Jawab Wilona.
"Tante Wilona. Bagaimana kabarnya Tan?" Tanya Kaisar.
"Alhamdulillah Baik Kai. Ayah sama Ibu mana? Kakek bagaimana keadaannya sekarang? Sudah lebih baik kah? Maafkan Tante nggak bisa ikut kesana. Disini jadwal praktek Tante padat Kai?" Celetuk Wilona.
"Tak mengapa lah Tan. Ayah dan Ibu ada. Kakek juga lebih baik sekarang Tan. Besok mungkin Ayah dan Ibu balik ke Jakarta. Kakek dan Nenek sekarang sudah baikan Tan." Jelas Kaisar.
"Alhamdulillah. Sudah ya Kai teleponnya. Sampaikan salam Tante buat semuanya disana." Ucap Wilona.
"Baik Tan. Assalamualaikum." Kaisar.
"Waalaikumussalam." Wilona memutuskan panggilan tersebut.
Perasaan Wilona sudah sedikit tenang mendengar Kaisar membicarakan Kak Kevin dan Kak Jena akan pulang ke Jakarta besok hari. Wilona kembali ke meja makan mengambil makanan sang sudah disiapkan oleh si Bibi pembantu ART nya itu.
Menyantapnya satu suapan demi satu suapan hingga makanan yang ada di atas piringnya itu pun habis tak tersisa. Meskipun dengan perasaan yang begitu campur aduk namun bagi Wilona makanan bukanlah suatu hal penghambat ia untuk menyantapnya. Karena Wilona termasuk wanita doyan makan namun tak pernah merasakan gemuk dan gendut. Hebat bukan. Banyak wanita iri dengan postur tubuh yang dimiliki oleh Wilona.
__ADS_1
Namun meskipun begitu Wilona selalu menjaga baik baik tubuhnya yang indah dan seksi itu dari mata mata jahanam yang akan membuatnya berdosa. Pakaiannya yang begitu amat sopan menutupi tubuh indahnya membuat semua orang tak mengenal tubuh seksinya tersebut. Ia menutupnya rapat karena selain wajib, suaminya lah kelak yang boleh menikmati tubuhnya itu.
Meskipun begitu dibalik pakaian syari nya itu masih terlihat jelas jika Wilona memiliki tubuh yang ideal.