
"Assalamualaikum sayang." Rasya mendekati Andini.
"Waalaikumussalam sayang." kemudian Andini menciumi punggung tangan suaminya itu disambut dengan kecupan singkat di kening Andini.
Suasana dan pemandangan yang sangat amat panas sekaligus menyakitkan oleh Lina. Melihat kemesraan antara pasangan suami istri ini.
"Mbak Lina ya." sapa Rasya kemudian
"Iya mas." Lina tersenyum genit melihatnya.
Andini geli melihat tingkah dan cara bicara Lina seperti itu kepada Rasya.
Lina lansung berdiri mendekati Rasya. Berusaha meraih tangannya mendekati dan sedikit menggoyangkan bagian pinggang kebawah untuk mengekspos bagian tubuh nya yang terbuka.
Namun ternyata Andini sudah sigap mengambil tangan Rasya. Andini yang memperhatikan Lina sedari tadi merasakan tidak enak hati.
"Sayang. Pasti kamu capek. Air panas udah ada. Mandi dulu sayang!" jelas Andini.
"Makasih sayang." jawab Rasya.
"Iya sayang." lanjut Andini kemudian mencium pipi Rasya dengan sengaja untuk semakin membakar perasaan Lina.
Andini mengetahui dari gerak gerik Lina bahwa ia menyukai suaminya itu. Jelas saja Rasya mempunyai keunggulan dalam segi wajahnya.
"Mas Rasya besok sibuk nggak? aku mau pergi naik ojek mas lagi ya." pinta Lina kemudian tanpa memperdulikan Andini.
Rasya kaget melihat Lina yang sekarang sudah semakin mendekatinya. Menghentikan langkahnya menuju kamar dan seolah mengikuti Rasya ke dalam kamarnya.
Namun dengan tegas Andini menarik tangan Lina kembali.
"Maaf. Mbak Lina mohon sopan dengan suami saya. Lihatlah suami saya tidak nyaman dengan sikap mbak seperti ini. Jika tidak ada keperluan maka pergilah!" Andini sedikit meninggikan suaranya sedikit membentak Lina.
Lina merasa tersinggung dengan sikap Andini. Sambil mengedipkan mata kirinya kepada Rasya Lina pergi meninggalkan rumah itu tanpa ucapan salam atau lainnya.
Rasya risih dan semakin tidak nyaman.
Rasya meminta izin untuk pergi mandi membersihkan tubuhnya yang begitu bau keringat dan sebagainya.
Selesai mandi Rasya masuk ke kamar di dalam kamar Andini telah siap menanti Rasya penuh tanda tanya dan perasaan seolah menunggu jatah ingin menerkam.
Rasya duduk disamping Andini dan tiba saja Andini ngoceh.
"Sayang. Kenapa bisa ada orang seperti itu yang kamu kenali di dunia ini? Aku jijik liat caranya." Andini bicara dengan nada kesalnya.
"Aku juga nggak paham sayang. Dia pelanggan ojek online aku. Udah dua kali kalau tidak salah dia order atas nama aku." jelasnya
"Besok jangan terima orderan lagi dari dia sayang." pinta Andini
"Baiklah sayang. Tentu." jawab Rasya lagi.
__ADS_1
"Kamu cemburu?" tanya Rasya menggoda
"Mungkinkah aku cemburu dengan gadis seperti itu. Gadis bermoral minim tidak ada baiklah dalam bersikap dengan lawan jenis." jawab Andini lagi.
"Kamu suka dengannya sayang?" tanya Andini lagi.
"Bagaimana mungkin aku bisa tertarik dengan gadis luar sana sedangkan Allah sudah menghadiahkan gadis paling cantik yang pernah aku temui seperti dirimu ini istriku sayang." ucap Rasya kemudian membelai wajah Andini kemudian sesekali tangan nakalnya itu membuka perlahan jilbab yang Andini kenakan.
"Sayang." panggil Andini
"Aku suamimu sayang. Tidak pantaskah bagiku melihatmu dengan rambut tergerai mu yang selalu aku rindukan." Rasya menimpali
"Iya sayang. Perlu sekalian baju bahkan pakaian dalam ku aku lepas di hadapanmu." goda Andini tidak mau kalah.
"Benar nih sayang. Oke." Rasya kemudian mendorong kecil tubuh Andini ke atas kasur mereka.
Kemudian ia mengunci tangan Andini keduanya.
Rasya mendekat dan terus mendekat sampai sedekat tidak bisa menghembus nafas. Bibirnya akan beradu pada bibir milik Andini. Dan tanpa bicara Andini perlahan memejamkan matanya.
Memasrahkan seluruh hak Rasya pada tubuh mungilnya itu.
Andini yang masih memakai gamis longgarnya itu di dalamnya terbungkus baju kaus putih dan celana kulot putih membungkus tubuhnya.
Kemudian Rasya membuka kancing demi kancing gamis bagian depannya.
Ketika Andini masih memejamkan matanya. Namun sudah menunggu bibir itu tak kunjung menangkap bibirnya.
"Aa geli sayang." pekik Andini karena jangankan menciumi dengan mesra Rasya malah menggelitik pinggang dan ketiak bagian bawah milik Andini.
"Ketahuan kalau nungguin kan." Rasya tertawa menggoda istrinya.
"Ih kamu lagi. Selalu senang buat aku kesal." Andini sangat kesal dengan tingkah Rasya.
"Iya dong. Kamu cantik banget kalau lagi ngambek gini." jelas Rasya menyenggol dagu Andini dengan godaannya kemudian menciumi kening Andini.
"Ya sudah kita istirahat lagi bagaimana sayang. Aku lumayan capek." lanjut Rasya.
"Baiklah sayang. Apa mau aku pijitin dulu." Tanya Andini
"Jangan sayang. Nanti kamu kecapekan." Elak Rasya
"Nggak capek kok sayang." jawabnya
"Jangan. Lagian aku juga tidak kenapa." Jawab Rasya kini tengah memeluk Andini.
"Ya sudah. Jika kamu tidak mau aku bisa apa sayang."
"Bisa cium aku." goda nya Rasya
__ADS_1
"Nih." jawab Andini menyentuh bibirnya kemudian menempelkan tangannya kepada bibir Rasya.
"Lah kamu." Rasya tanpa mau kalah nyosor lansung bibir indah manis bak permadani milik Andini itu. Melahapnya dengan penuh kenikmatan. Tanpa bisa Andini hindari bahkan tolak.
Hanya bisa di nikmati dengan penuh perasaan.
***
"Jika sudah selesai kumpulkan ke depan ya anak anak." pinta Kevin
"Baik Pak." jawab murid bersamaan.
Kevin terpilih menjadi guru agama di sekolah dasar nurul jamak. Dua tahun ini ia sudah menjabat sebagai guru agama disini.
Begitu juga dengan istrinya yang sudah tiga tahun menjadi guru agama disini.
Kevin mengajarkan banyak ilmu tentang agama islam kepada muridnya. Pembawaannya pun selalu disukai oleh mereka.
Muridnya yang semuanya patuh kepadanya. Tiada membangkang bahkan akrab dengannya seolah seperti teman.
Selesai pelajaran hari ini dan bel pulang pun berdering. Semua murid berhamburan kegirangan dan antri bersalaman dengan Kevin gurunya.
Kevin merasa sangat beruntung bekerja seperti saat sekarang ini.
Keteguhannya rasa sosialnya pun menjadi sudut pandang dimata guru yang lainnya.
Meskipun diawali dengan beberapa ujian yang pahit namun tidak disadari Kevin mampu dihadapkan dengan masalah dan ujian selama ini hingga berhasil membuatnya kebal seperti saat sekarang ini.
Kehidupan Kevin jauh berubah setelah mengenal istrinya.
Pernikahannya yang juga sudah dikaruniai seorang anak bernama Abdurrahman Kaisar.
Namun apa boleh buat Kaisar hidup dengan pikirannya sendiri. Keras kepala dan mempunyai watak seperti ada Kevin dimasa mudanya.
"Kaisar."panggil Kevin berulang kali
"Iya Pah. Kenapa teriak teriak?" jawab Kaisar
"Dari tadi Papa manggil kenapa tidak menyahut?" tanyanya
"Aku lagi seru mein game Pah. Kenapa ganggu sih?" Jawab Kaisar ketus
"Nak jangan hanya main game. Ayok kita sholat berjamaah. Zuhur sudah masuk." ajaknya
"Nanggung Pah bentar lagi." ucap Kaisar dengan berteriak memainkan gamenya. Entah lah entah game apa yang sedang ia permainkan.
Selalu, ya selalu seperti itu. Kaisar selalu memberi alasan untuk tidak sholat tepat waktu seperti biasanya. Kadang memang sholat tapi selalu di penghujung waktu.
Beberapa kali Kevin ingatkan namun hanya angin lalu baginya.
__ADS_1