Suami SHOLEH Untuk ANDINI

Suami SHOLEH Untuk ANDINI
Alesha vs Allana


__ADS_3

"Sayang." Panggil Jena.


"Iya sayang." Jawab Kevin lansung menghampiri Jena istrinya.


"Aku mau minta pendapatmu boleh?" Tanya Jena.


"Nggak." Jawab Kevin padat jelas tapi bohong.


Namun berhasil membuat Jena ternganga kaget mendengar ucapan suaminya itu.


"Ya boleh lah. Masa istri ku tanya nggak boleh." Lanjut Kevin.


"Aduh kamu ini." Timpal Jena.


"Aku mau tanya menurut kamu apa bagusnya kita belikan anak Andini hadiah?" Lansung Jena ke intinya untuk bertanya.


"Hmmm apa ya?" Kevin seperti seolah berpikir sesuatu.


"Baju aja deh sayang. Kayaknya bagus." Jawab Kevin.


"Tapi masak iya baju sayang. Pampers aja gimana?" Tanya Jena.


Kevin hanya menggelengkan kepalanya yang tak sakit.


Karena selalu heran melihat Jena istrinya.


Katanya ingin pendapat, namun akhirnya tetaplah pendapatnya sendiri yang akan berlaku.


Lalu untuk apa menanyakan jika kita sendiri sudah tau akan jawabannya.


Ya itulah Jena, istri dari seorang pengusaha di PT ternama yang bergerak dalam jabatan CEO nya yang sudah memasuki tahun kedelapan.


Ekonomi Kevin dan Jena kian pesat mengalami penaikan yang pesat.


Sama halnya dengan Rasya Andini.


Dulu Rasya adalah bisa dikatakan sebagai pengangguran, namun seiring berjalannya zaman dan perkembangan teknologi Rasya bangkit menjadi seorang bos besar di sebuah perusahaan yang sudah membuka beberapa cabang.


Memang besar untuk sebuah hasil yang besar harus disertai dulu dengan lika liku kehidupan yang begitu rumit. Namun jika sudah waktunya kita akan menikmatinya saja lagi.


Bersabarlah!


***


"Mas siapa kita kasih nama putri kita?" Tanya Andini kepada Rasya suaminya itu.

__ADS_1


"Menurut kamu siapa yang bagusnya dari sekian yang kita cari waktu itu sayang?" Rasya pun menanyakan balik.


"Aku ada nama yang cocok Mas. Yang satu *Alesha Anindya Randhini* dan satunya lagi *Allana Anindya Randhini*." Ucap Andini sebab dari sekian banyak nama - nama masukan untuk putri kembarnya itu hanya itu yang menurutnya bagus dan cocok buat putrinya.


"Masya Allah. Itu bagus sayang. Ya sudah kita kasih nama putri - putri kita dengan panggilan Alesha sama Allana." lanjut Rasya.


"Iya Mas." Jawab Andini.


Setelah banyaknya persiapan untuk acara tasyakuran akikah Alesha dan Allana kini tiba waktunya hari pembantaian kambingnya sebanyak dua ekor kambing.


Sebab jika di melahirkan anak perempuan kambingnya berjumlah satu ekor, dan laki - laki dua ekor kambing dengan kriteria sah untuk dijadikan kurban akikah.


Setiap tamu berdatangan mencicipi makanan dan hidangan yang telah disediakan hingga ucapan selamat atas kelahiran Alesha dan Allana.


Andini dan Rasya begitu sangat bahagia tak kalah dengan Rina ibunya Rasya yang masih ada di dunia dan Arumi putri angkat Andini dan Rasya yang sudah seperti putri kandung sendiri. Namun masih akan tetap ada perlakuan berbeda antara Arumi dan Alesha dan juga Allana. Sebab mereka bertiga tidaklah sama sama kandung.


Sesekali Andini termenung meratapi nasibnya yang sekarang anak yatim piatu dan berandai andai jika saja Mama dan Papa nya masih hidup alangkah bahagianya mereka atas kehadiran cucu kembar mereka yang pernah sangat mereka idamkan.


Arumi yang terus saja bersama Andini, mengerti tentang perasaan Andini Ibunya itu.


"Ibu, sudahlah jangan bersedih. Di surga saja Nenek sama Kakek pasti juga sangat bahagianya melihat adik Alesha dan adik Allana." Timpal Arumi.


"Iya Nak. Sudah pasti itu. Ibu kangen sekali dengan Nenek sama Kakek." Ucap Andini memeluk Arumi karena Alesha dan Allana sekarang sudah terlepas dari pangkuannya Andini.


"Terima kasih Nak. Ibu sayang Arumi." Lanjut Andini.


"Arumi juga sangat menyayangi Ibu." Jawab Arumi penuh haru.


Selesainya acara tasyakuran akikah Alesha dan Allana semua tamu mulai hilang satu persatu.


Kini jam dinding menunjukkan pukul sebelas malam.


Sudah sangat tengah malamnya namun Alesha menunjukkan sikap yang berbeda di banding adik kembarnya.


Allana yang mudah di tidurkan, beda halnya dengan Alesha yang mempunyai karakter berbeda.


Baru hitungan hari saja kembar pun bisa terlihat jelas perbedaannya.


Tidak semua hal akan sama jika pun mereka kembar satu ayah satu ibu.


***


"Cantik sekali anaknya Ndin." Ucap Kevin membuka suara setelah hidangan teh panas pun di sediakan oleh pembantu rumah tangga mereka.


"Alhamdulillah Kevin." Jawab Andini.

__ADS_1


"Iya Andini. Cantik sekali persis seperti Ibunya." Lanjut Jena istri Kevin.


"Oh ya Jena. Bagaimana kabarnya anak kalian Kaisar ya namanya." Tanya Andini.


"Iya Andini. Kaisar, dia sedang menyelesaikan S 2 nya di Kairo." Jawab Jena.


"Udah mau semester berapa sekarang?" Tanya Rasya menimpali.


"Udah mau masuk semester delapan Mas." Jawab Jena.


"Nggak bakal lama lagi Kaisar dapat gelar S 2 itu Jena. Habis kuliah rencananya apa Jena?" Tanya Andini lagi penasaran.


"Rencananya sih mau ngambil jadi dosen sih Andini. Tapi entahlah bagaimana nanti takdirnya aja." Jawabnya.


"Oh iya namanya siapa Andini? Maaf ya kami baru sempat datang sekarang. Mas Kevin kemarin lembur sampai tengah malam di proyek." Ucap Jena.


"Iya nggak kenapa kok Jena. Namanya yang tua Alesha dan yang kecil Allana." Lanjut Andini.


"Bagus sekali namanya Andini. Sebagus wajahnya. Jadi anak yang sholehah ya Nak." Ucap Jena sembari mengelus-elus kepala keduanya bergantian.


"Aamiin." Ucap Andini dan di sambung oleh Rasya.


Melihat keduanya Jena dan Andini semakin asyik bercerita Kevin dan Rasya memilih tempat lain untuk bercerita juga dan keluar dari dalam rumah menepi di tempat duduk di taman halaman rumah Rasya dan Andini.


"Oh iya Andini gimana sekarang perasaannya setelah melahirkan anak kembar?" Tanya Jena mengawali pembicaraan lagi setelah beberapa detik terhenti dan terputus.


"Masya Allah Jena. Rasanya tidak bisa aku jelaskan. Yang pastinya sangat sangat bahagia. Sungguh bahagia sekali. Bisa merasakan jadi ibu yang sesungguhnya." Lanjut Andini.


"Terus sekarang bagaimana dengan anak kamu siapa namanya Andini. Arumi ya?" Ucap Jena lagi.


"Alhamdulillah Jena. Arumi sangat sayang dengan adik tirinya. Aku awalnya sudah kepikiran. Tapi sudah ku jelaskan untuk tidak iri hati kepada adiknya. Meskipun Arumi tak terlahir dari rahimku sendiri namun kasih sayang yang aku punya ke Arumi cukup besar sama halnya dengan Alesha dan Allana." Jawab Andini seolah sangat nyaman untuk bercerita dengan Jena.


Asyik nyaman dan tenang.


Jena cukup pintar jika diajak untuk cerita dan curhat.


Seorang pendengar dan penasehat yang handal bagi Andini.


..."Meskipun di dalam keluarga kecilmu itu ada tiri dan kandung....


...Jangan pernah membandingkan keduanya. Sebab itu akan menjadi pemicu kegagalan utama di dalam hatinya....


...Sayangi mereka seperti anak kandungmu, terlebih ketika anak kandungmu sudah terlahir ke dunia....


...Jangan pernah patah kan hatinya hingga akhirnya dia akan membawamu ke Surga Allah atas didikan mu." ...

__ADS_1


__ADS_2