
"Mas tadi Arumi televon katanya akan wisuda hapalan. Nanti kita ke Pondok sama sama ya Mas. Juga yang lainnya." Ucap Andini kepada Rasya suaminya itu yang sedang duduk sambil menikmati teh hangat di pagi hari itu.
"Tentu Ndin." Jawab Rasya kemudian mengecup singkat kening mulus milik Andini tersebut.
"Semoga lancar saja ya Mas. Kita beruntung memiliki putri angkat yang hafizah lagi. Masya Allah." Ucap Andini lagi.
"Iya sayang. Masya Allah wa Alhamdulillah." Balas Rasya bersyukur atas nikmat yang sudah ia terima dari Maha Kuasa.
"Ya sudah sayang. Kita turun yok! Sarapan paginya sudah selesai. Mari kita makan dulu." Ajak Andini.
"Ayo sayang." Balas Rasya sambil mengandeng tangan milik Andini.
Meskipun kehidupan rumah tangga mereka sudah berjalan sekian tahun. Sudah bertahun tahun lamanya. Namun suasana dan juga perlakuan romantis harmonis nya masih sama seperti pertama kali disaat mereka saling jatuh cinta untuk pertama kalinya satu sama lain. Rasa yang abadi mereka rasakan hingga detik ini dan semoga akan selalu sama sampai masa masa berikutnya.
"Assalamualaikum Ibu." Panggil Rasya disaat sambungan telepon terhubung kepada Rina.
"Waalaikumussalam Nak. Ada apa telepon? Bagaimana kabarmu Nak dan juga menantu Ibu." Tanya Rina di dalam telepon.
"Alhamdulillah kami baik Bu. Dan semoga Ibu juga dalam keadaan selalu baik baik saja." Tutur Rasya berikutnya.
"Alhamdulillah Ibu juga baik Nak. Mana menantu kesayangan Ibu?" Tanya Rina lagi.
"Assalamualaikum Ibu." Panggil Andini setelah menerima telepon yang Rasya berikan dengan raut wajah sedikit kesal, sebab setiap kali menelepon selalu saja Andini yang menjadi topik utama pembicaraan.
Meskipun banyak kekurangan dari Andini, tidak mengubah rasa kasih dan sayang Rina terhadap menantu pertamanya itu.
"Waalaikumussalam Nak." Jawab Rina.
"Aku mau beritahu Ibu kabar baik Bu. Lusa Arumi akan wisuda hapalan al qur'an Ibu. Bagaimana kalau kita sama sama kesana melihat sekaligus menyemangatinya Bu." Pinta Andini.
"Tentu Ibu mau Nak. Namun dengan kondisi saat ini keadaan Lina yang masih belum sembuh total dan belum stabil sempurna. Ibu tidak bisa datang Nak. Bagaimana kalau Sinta saja sayang? Maafkan Ibu untuk saat ini." Jawab Rina dengan wajah yang begitu sedihnya.
"Aku mengerti Bu. Semoga Lina segera membaik ya Bu. Aku juga minta maaf." Jelas Andini kemudian.
Teleponan itupun tak lama berikutnya pun kemudian berakhir setelah pembicaraan mereka selesai dibicarakan.
"Hallo Assalamualaikum." Panggil Sinta setelah mengangkat telepon dari Andini.
__ADS_1
"Waalaikumussalam Ma. Bagaimana kabar Mama disana? Aku rindu?" Panggil Andini kemudian mengemukakan kerinduannya terhadap Mama nya itu. Sinta yang sudah beberapa tidak mampir kerumah kediaman Andini dikarenakan adanya keperluan di berbagai bisnis yang sedang ia kelola saat ini. Bisnis yang sedang laris larisnya saat ini yang di kelola Sinta ialah bisnis Ganepo. Sejenis keripik atau kerupuk kering dan sejenisnya.
"Ibu juga merindukan mu Nak." Jawab Sinta lagi.
"Bagaimana bisnis Mama disana. Lancar kan Ma?" Tanya Andini.
"Alhamdulillah Nak. Berkat doa Anak sholehah nya Mama semuanya lancar sayang." Jawab Sinta lagi.
"Mama bisa saja. Tapi alhamdulillah ya Ma." Jawab Andini.
"Oh iya Ma. Cucu kesayangannya Mama lusa akan wisuda hapalan al qur'an nya Ma. Pasti akan lebih menyenangkan kalau kita sama sama kesana. Apakah Mama bisa ikut?" Tanya Andini lansung ke intinya.
"Masya Allah. Cucunya Mama. Tentu sayang. Mama akan kesana. Itu pasti. Insyaa Allah sayang." Jawab Sinta lagi kemudian.
"Terima kasih Ma." Lanjut Andini.
"Jangan berterima kasih segala Nak. Seperti sama siapa saja." Balas Sinta lagi.
Pembicaraan mereka berlanjut hingga sampai pembahasan yang bahkan tidak perlu dibicarakan mereka bicarakan. Tawa mereka Andini maupun Sinta terbahak keluar sesekali menjadi jeda pembicaraannya.
***
Yaitunya Wilona.
Klinik yang ia bangun susah payah penuh jerih dan keringat juga pengorbanan yang ia lalui hingga sampai di titik inipun. Adalah suatu mukjizat bagi Wilona sendiri.
Kehidupan kian pesat mengubahnya. Gadis cantik ini yang biasanya di biayai oleh Kakaknya Kevin, sekarang sudah bisa hidup mandiri. Hingga kini Wilona membeli rumah milik pribadinya tak jauh dari klinik tempatnya bertugas.
Dirumah mewah besar namun elegan itu Wilona tinggal bersama seorang pembantu atau asisten rumah tangga. Yang jika Wilona sedang bertugas si pembantu itulah yang mengurus juga merawat rumah Wilona.
Panggil saja Mbak Lala, si pembantu itu.
Mbak Lala berusia lebih tua dari Wilona beberapa tahun saja. Namun karena menghormati yang lebih tua Wilona pun terbiasa sudah memanggil pembantu nya itu dengan sebutan Mbak.
"Mbak saya mau berangkat kerja. Pekerjaan rumah hendel semuanya ya Mbak. Jaga rumah baik baik. Kalau ada apa apa segera hubungi saya." Jelas Wilona sebelum berangkat kerja pagi ini.
"Iya Non. Non Wilona hati hati. Selamat bertugas semoga selalu berkah." Jawab Mbak Lala.
__ADS_1
"Terima kasih Mbak." Jawab Wilona.
Wilona juga Lala, meskipun jauh beda derajat namun keduanya seolah benar akrab seperti teman sendirinya. Wilona pun juga sudah keseringan untuk cerita cerita bahkan curhat kepada Lala.
Wilona yang kini tengah melajukan mobil pribadinya. Pergi meninggalkan rumah itu.
Setibanya di klinik dan para Suster yang lainnya juga sudah pada datang lebih awal.
"Pagi Dok." Begitulah sambutan hangat dari Suster Suster tempat klinik Wilona.
Mereka bergantian menyapa Wilona dengan sopan dan hormatnya.
Meskipun tak beberapa Suster. Namun mereka selalu kompak untuk mewujudkan visi dan misi mereka berada di klinik tersebut.
"Permisi Sus. Saya bisa berkonsultasi mengenai penyakit saya disini." Ucap seorang pemuda itu.
"Bisa Mas. Tunggu sebentar. Dokter Wilona sedang ada pasien." Jelas Suster tersebut.
Dan mengarahkan untuk pasien itu duduk di kursi tunggu. Lansung saya pria itu duduk dengan santainya.
Beberapa waktu kemudian pria itu dipanggil gilirannya untuk diperiksa.
"Galfin Anjasmana." Panggil Wilona setelah melihat berkas yang sudah dipersiapkan Susternya itu yang terletak di atas mejanya.
Kemudian Wilona melirik pasiennya itu.
"Kamu." Ucap Wilona kemudian.
"Kamu." Balasnya.
"Kamu yang waktu itu kan. Pria nyebelin yang bersama kucingnya itu." Ucap Wilona sambil mengingat kejadian beberapa hari yang lalu ketika Wilona hampir saja menabrak kucing peliharaan pria tersebut. Yang punya kucingnya pun tidak hati hati menjaga peliharaannya sendiri hingga membuat orang lain hampir saja celaka.
"Nyebelin apanya. Mbak yang nyebelin. Udah salah main menyalah orang lain." Jelasnya.
"Apa apa n kamu." Ucap Wilona.
"Oo jadi begini pelayanan di klinik ini. Mana pimpinannya biar saya aduin." Greget pria itu.
__ADS_1
"Silakan cari saja." Jawab Wilona dengan ketusnya.
Lansung saja Galfin keluar dari ruangan Wilona. Seolah seluruh penyakit yang ia tanggung saat ini pun rasanya sudah sembuh dan digantikan dengan saja kesal.