
"Iya Ustazah. Maafkan aku. Lain kali tidak lagi seperti ini." Ucap Aina seperti benar adanya.
"Berjanjilah kepada Allah. Sebab jika ke Ustazah maka masih bisa di ingkari, sebab Ustazah tidak akan bisa melihatmu 24 jam. Jika berjanji kepada Allah, maka Allah tidak pernah tidur dan akan mengawasi kita setiap saat." Lanjut Arumi.
"In syaa Allah Ustazah. Terima kasih, aku akan buat kuisnya sekarang." Lanjut Aina.
Aina yang pergi meninggalkan Arumi yang masih duduk termangu di ruangan itu.
Aina yang sudah menyelesaikan kuis permintaan Arumi, Ustazah yang membinanya.
"Permisi Ustazah Arumi. Assalamualaikum." Sapa nya Aina berusaha sopan dan santun semaksimal mungkin.
"Waalaikumussalam. Masuklah!" Ucap Arumi bijaksana.
"Ini kuis Aina Ustazah. Silakan diperiksa dulu Ustazah. Apa ada yang kurang?" Tanyanya mulai dengan sikap menyombongkan dirinya.
Arumi yang tidak membantah apapun mulai memeriksa kuis yang diserahkan didikannya Aina itu.
Arumi tidak heran lagi, Aina murid yang pintar dari segala sisi pelajaran.
Jawaban hasil kuis nya kali ini sama seperti biasanya, mendapatkan nilai yang sempurna.
Bahkan melebihi didikannya yang lainnya.
Aina mencapai nilai maksimal pada kuisnya, meskipun harus dibentak dan dimarahi terlebih dahulu, namun perjuangan seorang guru kepada murid didikannya tidak sia-sia.
Minimnya tinggal pada ketertiban dan kesigapannya dalam belajar.
Murid yang suka bolos dan menunda-nunda pekerjaannya.
"Baiklah Aina. Untuk kali ini kamu Ustazah maafkan karena sudah bolos di jam pelajaran Ustazah. Lain kali meskipun nilainya bagus akan Ustazah hanguskan. Agar kamu tidak naik kelas dalam pelajaran Ustazah. Kamu mengerti?" Tanya Arumi.
"Baik Ustazah." Jawabnya menunduk berusaha menahan emosinya yang meronta karena dongkol dengan sikap Arumi.
***
"Masya Allah Mas. Anaknya Lina dan Rafki ganteng sekali Mas." Ucap Andini kepada Rasya.
"Iya sayang." Balas Rasya terus memperhatikan bayi mungil itu di gendongan istrinya Andini.
Penuh kagum dan kebahagiaan luar biasanya, menjadi Om dari Ponakannya ini.
"Ki, Kakak pamit pulang dulu ya sama Andini. Nanti kami kesini lagi. In syaa Allah." Izin Rasya mendekati Rafki yang sibuk menyuapkan istrinya.
"Baiklah Kak. Terima kasih ya Kak. Kakak pulangnya hati-hati." Tutur Rafki.
"Oke Ki..Udah Lin, kami pamit dulu." Izin Andini kemudian menghampiri mereka.
"Iya Mbak." Jawab Lina.
"Jaga kesehatanmu ya Lin. Sekarang kan akan menyusui kamu harus memiliki nutrisi yang banyak." Lanjut Andini memperingatkan.
__ADS_1
"Makasih Mbak." Jawab Lina sambil mengunyah makanannya.
Sesampainya dirumah.
"Mas aku capek sekali." Keluh Andini.
Rasya yang mengerti kemudian menggendong tubuh istrinya ke dalam kamar.
"Ada apa sayang? Apa ada yang sakit?" Tanya Rasya penuh khawatir dengan istrinya.
"Nggak Mas. Cuman capek aja." Jawab Andini lembut dan menggenggam tangan suaminya itu.
"Assalamualaikum calon buah hati Bapak dan Ibu. Bagaimana kabarnya sekarang? Kamu baik-baik disana ya Nak! Jaga Ibu, jangan beri Ibu kesakitan. Semangat untuk berjuang bersama Nak!" Usap-usap tangan Rasya di perut Andini yang kian semakin besar.
Tinggal menunggu kelahirannya saja lagi.
***
Pagi ini suasana yang sangat indah masuk ke dalam jendela kamar Andini dan Rasya.
Andini yang kian membuka matanya,
Yang dimana saat sekarang ini mendapati tubuh suaminya yang berada di depan matanya.
Mengecup singkat kening mulus Andini, meluapkan rasa kasih dan sayang yang nyata.
"Selamat pagi istriku sayang." Sapa Rasya.
"Pagi suamiku." Jawabnya.
"Pulas kan tidurnya sayang? Ini Mas bikinin susu panas untuk kamu sayang. Biar harinya tambah manis seperti kamu." Goda Rasya.
"Aduh Mas deh. Berlebihan gini. Seharusnya kan aku yang nyiapin minum untuk suaminya." Ucap Andini.
"Sesekali nggak kenapa lah sayang, Mas yang buatin kamu minum. Masak istri mulu yang manjain suaminya, terus suaminya nerima aja tanpa pernah memperlakukan hal yang sama." Lanjut Rasya.
Yang berhasil membuat pipi Andini merona merah.
"Itu kenapa pipinya jadi merah gitu sayang?" Goda Rasya lagi.
"Mana Mas? Nggak kok." Balas Andini malu-malu dan berusaha menyembunyikan wajahnya yang merona.
"Udah sayang. Mas mau bicara serius nih. Dengerin ya."
"Apa Mas?"
"Sayang, Mas dapat panggilan untuk mengisi khutbah di masjid Iman. Nggak kenapa kan jika Mas pergi?" Tanya Rasya ragu - ragu.
"Ya nggak kenapa lah sayang. Emang kenapa kalau Mas pergi?" Tanya Andini.
"Ya nggak sih. Biasanya kan apa-apa kamu larang sayang. Mas takut jika kali ini begitu juga." Jawab Rasya.
__ADS_1
"Nggak Mas. Aku usahain jika berurusan dengan jihad kepada Allah akan seratus persen mendukung sayang. Sebab nanti juga akan menjadi ladang pahala untuk istrimu yang sabar membekali dan menantikan suaminya pulang." Jelas Andini.
Kemudian di balas pelukan sayang dari Rasya suaminya.
Pelukan yang masih sama hangatnya dengan pertama kali menikah. Belasan tahun yang lalu.
Suasana ini yang benar-benar membuat Rasya semakin hari dan makin mencintai Andini penuh keyakinan.
"Ana uhibbuki fillah zawjat."
"Ana uhibbuka fillah zauji." Balas Andini.
***
"Jagoan Papa udah ganteng nih. Ayo kita main." Ajak Rafki bicara dengan bayinya.
Lina yang memperhatikannya dari jauh terlihat sangat senang karena menikmati pemandangan sayang dari seorang Papa kepada Anaknya.
Kebahagian Lina kian sempurna.
Jika melihat lagi ke masa yang kelam, sungguh rasanya sangat bahagia Lina berada di posisi saat ini.
Masa lalunya yang begitu suram dan kelam penuh luka dan duka.
Menjadi wanita yang seburuk - buruknya wanita.
Hingga dipertemukan dengan sosok malaikat seperti Rafki yang saat ini menjadi suaminya, imamnya dan yang sudah bersusah payah menuntunku kepada kebenaran dan kebaikan lillahi ta'ala.
***
"Jena, sayang." Teriak Kevin memanggil istrinya.
"Kenapa masih belum siap-siap?" Tanya Kevin yang mendapati istrinya yang masih memakai daster piyamanya, dan masih terbaring di kasur sambil memainkan ponselnya.
"Iya sayang. Ada apa teriak - teriak?" Tanya Jena yang duduk dari baringan nya.
"Kok apa ada sih sayang. Katanya sekarang kita bakal jenguk anaknya Rafki, adik Rasya suaminya Andini. Udah hampir sore banget nih sayang. Nggak jadi?" Celetuk Kevin memperingatkan.
Sebab sebelumnya memang Jena yang ingin menjenguk.
Namun entah angin apa yang kini membuatnya lupa ingatan.
"Astagfirullah sayang. Aku benar-benar lupa Mas. Sekarang aku lansung mandi, siap-siap terus lansung berangkat." Jawab Jena yang kocar-kacer dari kasurnya.
Kevin yang memperhatikan istrinya itu hanya tersenyum dingin sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Ya udah sayang. Aku tunggu diluar ya. Dandannya jangan pakai lama, nanti keburu gelap harinya." Lanjut Kevin mengetok kamar mandi yang disana ana Jena yang sedang mandi membersihkan tubuhnya.
"Oke Mas." Jawab Jena parau dari dalam kamar mandi sebab di dalam mulutnya yang penuh dengan busa odol karena menyikat giginya.
Jena yang masih tidak bisa berubah, di kamar mandi yang selalu ada saja yang membuatnya lama.
__ADS_1