Suami SHOLEH Untuk ANDINI

Suami SHOLEH Untuk ANDINI
Datang Kembali


__ADS_3

"Assalamualaikum Ustazah." Sapa Andini memasuki ruangan para ustazah pondok pesantren tempat almarhum Zidan kembangkan bertahun tahun lamanya.


"Waalaikumussalam. Eh Andini. Mari masuk!" Pinta si ustazah. Sebut saja namanya Bunga. Bunga seorang ustazah yang umurnya sebaya dengan Andini. Namun perbedaan di antara keduanya itu adalah sikap dan prilakunya masing masing. Di samping Andini sebelumnya yang cuek dan berwatak keras Bunga adalah perempuan Sholehah yang baik budi pekerti nya dan selalu mempunyai sikap yang rendah hati.


"Panggil saja Bunga. Jangan ustazah. Rasanya itu belum pantas untuk saya yang jauh dari kata tersebut."


"Baiklah Bunga." Lanjut Andini menjawab.


"Bagaimana kabar pondok selama Ayah telah tiada?"


"Alhamdulillah baik Andini. Meskipun masih banyak diantara kami disini yang merasa sangat kehilangan. Kehilangan sosok guru dan pengajar yang sangat baik seperti Ustad Zidan." Jawab Bunga.


"Ayah memang lah yang terbaik." Lanjutnya lemas teringat Ayahnya.


"Maafkan saya Andini sudah mengingatkanmu dengan Ustad Zidan." Lanjut Bunga merasa menyesal dengan ucapannya.


"Tidak mengapa. Lagian kamu benar. Aku yang buta akan semuanya."


Bunga memeluk Andini.


"Tidak. Masih banyak masa bagimu untuk merubah segalanya Andini. Teruskan lah langkahmu!"


"Iya kamu benar. Terima Kasih Bunga."


"Sama sama Andini."


***


Di dalam rumah tangga Andini dan Rasya tidak pernah ada kekurangan apapun juga. Termasuk dari segi ekonomi. Rasya yang memang tidak memiliki jabatan terpandang tetapi dia giat bekerja, apapun itu asalkan halal. Menimba ilmu sebanyak banyaknya dari setiap apa yang ia lakukan.


"Sayang aku berangkat dulu ya." Ucap Rasya ke Andini. Rasya yang akan berangkat kerja diperintahkan membawakan ceramah agama di Mesjid seberang kampung.


"Baiklah sayang. Ini bekalnya sudah aku siapkan." Jawabnya memberikan rantang berisi bekal makan siangnya nanti untuk Rasya.


Rasya yang mengambil bekal tersebut selesai berpamitan bersalaman dan lansung pergi meninggalkan istrinya.


"Assalamualaikum Andini. Sebelumnya saya minta maaf kalau saya mengganggu. Saya mau memberitahukan bahwasanya nanti jam 2 siang ada tamu yang mau bertemu dengan mbak Andini." Pesan singkat dari Bunga.


"Waalaikumussalam Bunga. Baiklah. Saya usahakan datang." Ucap Andini.


***


'Ini baru setengah jam aku pergi. Tiba tiba Andini telepon lagi. Segitu rindu kah dirinya.' Ucap Rasya dalam hatinya.


"Assalamualaikum sayang. Ia aku juga rindu." Ucap Rasya mengangkat panggilan masuk dari Andini.


"Waalaikumussalam. Kamu bisa saja."


"Aku benar kan?" Tanyanya kemudian.

__ADS_1


"Salah."


"Lalu apa yang benar."


"Aku mau minta izin sama kamu. Nanti siang jam 2 aku mau ke Pondok. Bunga messenger aku katanya ada yang ingin menemui ku."


"Baiklah. Kamu berangkat sama siapa?"


"Nanti biar kang ujang yang nganterin."


"Oke. Hati hati ya istriku."


"Iya suamiku."


Teleponan mereka terputus ketika kedua nya sama sama sudah berucap salam.


Andini yang tengah bersiap siap kemudian datanglah salah seorang yang mengetuk pintu rumahnya. Dan kebetulan hari ini Andini hanya seorang diri. Dihatinya begitu banyak rasa cemas entah siapa yang datang menemuinya sepagi ini. Disaat jam masih menunjukkan jam setengah sembilan pagi.


Perlahan ia turun dari kamarnya menuju pintu utama. Kebetulan sebelum lansung membuka pintu Andini memilih mengintip dahulu melihat siapakah yang datang.


Ya untung saja Andini tidak lansung membukanya. Ternyata diluar ada Kevin yang sedang mabuk dan amburadul terus mengetuk pintu rumahnya.


Andini yang sangat kaget melihat kini Kevin membawa pisau berusaha mengungkit pintu agar terbuka.


Andini berlari ke kamar kemudian lansung mengambil telepon di atas meja riasnya.


"Hallo Assalamualaikum Rasya. Diluar ada Kevin dalam keadaan mabuk terus berusaha membuka pintu. Aku takut. Kamu pulanglah!" Ucap Andini menangis.


"Tenanglah sayang. Aku akan pulang. Kunci pintu kamarmu!" Ucapnya kemudian.


Rasya yang bergegas meninggalkan ruangan mesjid berpamitan dengan salah seorang jamaah disana.


"Budi saya akan pulang. Sampaikan maaf saya ke jamaah karena tidak bisa berlama lama. Istri saya ada masalah dirumah." Pamitnya ke Budi yang berada di depannya.


"Baiklah Ustad." Ucap Budi menuruti perintah Rasya.


***


"Apa tujuan anda kesini?" Ucap Rasya yang kini tengah berada diruang tamu bersama dengan Kevin yang tidak sadarkan diri setelah mungkin saja sudah meminum minuman keras terlalu banyak.


Rasya yang sudah menaiki tangga pertama dirumah itu menuju ke kamar atas karena memang ia sebelumnya tau kamar Andini itu berada di tingkat kedua.


"Apa mau anda. Ini rumah kekasihku." Ucapnya kemudian.


"Pergilah atau saya akan panggil orang sekampung mengusir mu?"


"Silakan. Anda yang seharusnya pergi dari sini." Ucap Kevin mendekat ke Rasya kemudian membelai baju kemeja berwarna abu muda milik Rasya yang menutupi badannya kekar.


Rasya yang terlihat begitu tenang kemudian tidak diketahui Kevin kini Rasya telah menghubungi pihak yang berwajib.

__ADS_1


Setelah pihak yang berwajib datang kerumah Andini dan Rasya dan lansung mengambil sikap untuk mengusir Kevin dari sana.


Rasya yang lansung menuju kamarnya. Memanggil Andini dan Andini lansung membuka pintu ketika disadari itulah suara suaminya.


"Rasya. Aku takut." Ucap Andini lansung memeluk suaminya itu.


"Tenanglah. Semuanya sudah aman. Kamu tidak kenapa kenapa kan?"


"Tidak."


"Kenapa dia tadi kesini?"


"Aku juga tidak tahu. Ketika aku sedang berkemas untuk nanti siang. Ada yang mengetok pintu. Aku coba liat sebentar siapa yang datang di jendela. Kemudian aku melihat Kevin memegang sebuah pisau berukuran kecil mengungkit pintu untuk membukanya. Aku lansung panik dan menelpon mu." Ucap Andini menjelaskan.


"Syukurlah kalau kamu tidak lansung membukakan pintu. Nanti kalau ada yang sejenis itu kamu harus lebih berhati hati. Inilah resiko punya istri cantik sepertimu." Ucap Rasya menggoda.


"Apa an sih. Kamu bisa saja menggodaku."


"Serius. Kamu sangat cantik." Ucapnya mengecup singkat kening Andini.


"Nanti aku saja yang antar kamu ke Pondok." Ucap Rasya lagi.


"Tapi kamu kan kerja?"


"Aku sudah izin. Aku tidak kan tenang kalau kamu pergi tanpaku."


"Baiklah. Aku akan menurut apa ingin suamiku." Ucapnya lagi.


"Sepertinya Kevin tidak akan pernah berhenti mengusikku Rasya."


"Jangan khawatir. Ada Allah bersamamu. Ketika hambanya mengingatnya maka iapun akan ingat dengan hambanya. Serahin semuanya hanya kepada Allah. Doakan semoga Kevin segera Allah beri petunjuk dan hidayahnya." Jawab Rasya yakin.


"Ia kamu benar."


***


Andini yang sudah memakai gamis berwarna merah jambu dengan jilbab panjangnya membuat Andini terlihat sangat sempurna.


"Masya allah. Begini kan cantik." Ucap Rasya.


"Terima kasih. Aku akan memakai pakaian serba syari seperti ini kedepannya. Aku sudah tahu bahwasanya wanita muslimah diwajibkan memakai baju syari yang longgar menutupi seluruh auratnya. Memakai jilbab dan mengulurkannya. Karena dengan itu wanita akan terjaga dari mata mata yang tidak terdidik."


"Ia. Selain mendapatkan pahala kita mendapatkan kehormatan dimata Allah."


"Aku sangat senang melihatmu di masa ini. Tetaplah istiqomah yang hijrah mu sayang. Berlari lah mengejar ridho Nya. Jika tidak sanggup berlari berjalan kencang lah. Jika tidak sanggup maka berjalan pelan lah. Jika masih tidak sanggup merangkak lah! Asal jangan berhenti apalagi menoleh kebelakang." Lanjutnya.


"In syaa allah. Teruslah pegang erat tanganku dan arahkan aku ke jalan yang baik dan diridhoi oleh Allah SWT suamiku."


"Tentu sayang. Bersama kita menggapai surganya. Karena itulah sebaik baiknya tempat. Dan memasukinya tidaklah mudah. Sesungguhnya tempat itu sangat mahal. Kita perlu keimanan dan ketakwaan yang berlebih menujunya."

__ADS_1


__ADS_2