Suami SHOLEH Untuk ANDINI

Suami SHOLEH Untuk ANDINI
Pesan Terakhir


__ADS_3

Sudah seminggu setelah pernikahan Andini dan Rasya. Namun Zidan tak juga ada perubahan dengan kesehatannya. Dan akhirnya Sinta Andini maupun Rasya membawanya kembali ke rumah sakit.


Setelah sampai dirumah sakit. Dokter lansung mengambil tindakan buat Zidan dan memberikan Zidan obat bius dan penenang juga kamar rawat rumah sakit.


Setelah tiba di ruang rawat selesai perpindahan Zidan dan situasi sudah kembali tenang lagi.


"Ini pesan dari ayahmu nak." Ucap Sinta memberikan secarik kertas kepada Andini.


"Apa ini ma?" Tanya Andini mengambil kertas tersebut.


"mama juga tidak tahu nak. mama menemukan ini di dalam genggaman tangan ayah sebelum kita berangkat ke rumah sakit. Mama lihat ada namamu diluar kertasnya." Jelas Sinta.


Andini lansung saja membuka kertas yang Sinta maksud dan membacanya.


.../Untuk Andini putriku...


...Maafkan ayah nak...


...Ayah terpaksa memaksakan kehendak ayah...


...Semuanya demi kamu nak...


...Ayah sayang padamu nak...


...Ayah mau yang terbaik untukmu nak...


...Ayah ingin mempunyai menantu sholeh seperti nak Rasya suamimu...


...Maafkan ayah sudah membuatku bersedih bahkan kecewa yang sangat dalam...


...Maafkan ayah yang tidak bisa membahagiakanmu nak...


...Maafkan ayah karena tidak bisa menjadi ayah terhebat buat kamu putri ayah...


...Maafkan ayah karena terlalu mengekang kamu nak...


...Maafkan ayah karena ayah selalu melukai perasaanmu dengan sikap ayah nak....


...Semua itu karena ayah sangat menyayangimu nak...


...Andini sayang....


...Jika nanti ayah tiada...


...Teruskan lah pondok kita nak...


...Jadilah penerus ayah nak...

__ADS_1


...Kamulah satu - satunya harapan ayah nak...


...Belajarlah menjadi istri yang sholehah untuk suamimu nak...


...Jagalah mamamu dengan baik...


...Ayah sayang padamu nak...


...Salam sayang dari ayahmu...


...Zidan/...


Andini memeluk erat ayahnya itu meskipun dalam keadaan tidak sadarkan diri.


"Ayah pasti akan sembuh. Jangan menyerah yah. Aku mohon." Lagi dan lagi air mata itu tidak mau berhenti keluar.


"Bangunlah yah. Aku rindu dengan ayah." Lanjutnya


Namun tiada respon sedikitpun dari sang ayah.


***


Seminggu koma lagi setelah bangunnya beberapa hari ketika pernikahan anaknya Zidan yang semakin dan semakin parah. Karena Zidan telah selesai melakukan operasi otak namun tetap masih belum ada perubahan kesehatannya. Tiba tiba Zidan kejang kejang dengan hebat membuat Andini terbangun dari rebahan kepalanya ke atas kasur ayahnya tidur.


"Ma. Ayah kenapa?" Tanya Andini panik ketika melihat ayahnya kejang serius


Sinta yang lansung memanggil dokter kemudian lansung diperiksa.


Setelah di tangani Dokter dan Dokter kembali keluar.


"Bagaimana ayah Dok?" Tanya Andini


"Kami sudah berusaha semaksimal mungkin dek. Ayah adek sudah tiada." Ucap Dokter tiba tiba membuat seluruh cahaya gelap rasanya.


Andini lansung menangis dengan sejadi jadinya. Rasya yang tidak tega melihat istrinya kemudian berniat untuk merangkul istrinya dan memberikan selembar tisu namun dengan cepat


"Tidak perlu." Tangkis Andini.


"Maaf." Ucap Rasya menjauhkan tangannya dari dekat Andini.


"Ikhlaskan kepergian ayah. Sekarang ayah sudah tenang. Jangan memberatkannya dengan tangisan ini. Jika ayah tau ia pasti akan bersedih." Ucap Rasya berdiri di dekat Andini. Dengan penuh kelembutan yang Andini belum rasakan lembutnya karena hatinya yang terlalu keras kepada Rasya dia sangat tidak menyadari bagaimana sesungguhnya kepribadian suaminya itu.


"Tau apa anda tentang ikhlas?" Tanya Andini dengan ketusnya.


"Semuanya pasti akan mati. Tinggal menunggu giliran kita masing-masing. Berdoalah agar ayah diberi syafaat disisi Nya." Ucap Rasya yakin.


"Tidak usah menceramahi saya dengan pidato anda yang tidak masuk akal itu." Ucap Andini dan menutup seluruh telinganya agar dia tidak mendengar lagi ocehan Rasya meskipun itu benar sekalipun.

__ADS_1


"Wahai Andini istriku. Jangan lagi mencela seperti ini. Tenangkan hatimu dan mari duduk disini dengan ku."


Tanpa jawaban dan respon sedikitpun Andini yang duduk diam terpaku dan terus menangis. Ia tetap mendengar suara Rasya meskipun sedikit samar.


Kemudian Rasya mendekat dan mengusap pundak Andini berharap dengan ini Andini bisa lebih sedikit tenang. Tapi wajar saja jika Andini terlihat sangat bersedih kehilangan sosok Ayah nya yang tidak akan bisa ia lihat lagi di dunia ini.


2 jam setengah Ayah dinyatakan meninggal dunia. Akhirnya Sinta yang sudah sedikit agak tenang dan ikhlas dengan kepergian suaminya kemudian mengurus administrasi kepulangan jenazah.


"Sin. Biar aku saja yang mengurus administrasinya." Basi Rina kepada Sinta sahabatnya.


"Biar aku saja Rin. Terima kasih." Ucap Sinta dengan lesu dan tidak lupa sesekali air matanya juga masih terjatuh di pipinya.


namun Rina yang terlihat sedikit khawatir kemudian memutuskan untuk mengikuti Sinta untuk mengurus administrasi kepulangan jenazah Zidan ke pemakaman tempat peristirahatan terakhirnya.


"Sabar ya nak. Kita harus ikhlaskan Ayah." Ucap Sinta memeluk Andini.


"Aku belum siap kehilangan Ayah ma. Masih belum ada bahagia untuk ayah dari anaknya ma. Aku menyesal telah menyakiti perasaan Ayah selama ini." Ucap Andini penuh tangisan.


"Berdoalah semoga Ayah selalu dalam lindungan Allah nak. Tidak perlu lagi kamu menyesali apa yang sudah terjadi dan itu tidak akan kembali lagi nak."


"Aku sayang pada Ayah ma."


"Ayah sangat menyayangimu nak. Percayalah. Ayah sayang sekali dengan putri kecilnya ini. Se dewasa apapun kamu tetaplah akan menjadi putri kecil ratunya Ayah nak." Ucap Sinta terus dalam pelukan putrinya.


Rina yang berusaha menenangkan Sinta dan Menantunya itu dan kemudian ambulance sudah berada di depan rumah Sinta dan semua orang juga sudah membuat tempat untuk Ayah.


Setelah sampai dirumah Zidan yang di bujur kan sebentar kemudian yang selayaknya akan memandikan Zidan. Sinta menggenggam tangan putrinya untuk ikut memandikan Ayahnya untuk terakhir kalinya.


"Sini nak. Kita mandikan Ayah." Ajak Sinta dalam tangisannya.


"Iya ma. Aku harus kuat demi Ayah."


"Benar itu nak."


Setelah selesai memandikan dan mengkafani sekarang akan menyolatkan.


Di takbir terakhir tangis Andini kembali pecah dan iya dengan pikiran yang kosong kemudian tumbang dari tegaknya. Andini pingsan dan Rasya yang selesai salam lansung menggendong istrinya itu membawanya ke dalam kamar.


Menyadarkan memberikan minyak angin bawang putih dan segala macam lainnya.


Hingga kini Andini pun sadar dan kembali duduk sambil kembali menangis.


"Tenangkan hati dan pikiranmu Andini. Marilah. Sekarang ikut denganku ke pemakaman."


"Aku nggak kuat."


"Istighfar dan kuatlah demi ayahmu Andini."

__ADS_1


kemudian Andini duduk dari baringan nya menuju Rasya dan mendekat lalu kemudian ia menyentuk tangan Rasya seolah memberi isyarat untuk merangkulnya ke pemakaman. Memberi kekuatan untuk Andini.


Dan Rasya pun mengikuti merangkul Andini menuju pemakaman ayahnya dan setibanya di pemakaman jenazah ayah sudah di tempat lalu beberapa orang di dalam liang lahat menangkap ayah dari atas untuk mem bujur kan nya di tempat terakhir istirahat ayah tersebut. Terus saja tangisan Andini maupun Sinta terus pecah. Andini yang di kuatkan oleh Rasya dan Sinta yang dirangkul terus oleh Rina.


__ADS_2