Suami SHOLEH Untuk ANDINI

Suami SHOLEH Untuk ANDINI
Lina


__ADS_3

Rafki yang tinggal masih dengan Rina Ibunya. Sementara mempersiapkan modal untuk membeli rumah sendiri yang nantinya akan ia tempati bersama dengan Lina.


Begitu juga dengan Lina yang masih tinggal bersama Nazar. Hingga usia kandungan Lina memasuki 8 bulan. Rina meminta agar Lina tinggal bersama dengannya dan Rafki dirumahnya.


"Lina sebaiknya tinggal dengan suaminya karena sudah hampir akan melahirkan. Bagaimana menurut Bapak Nazar?" Tanya Rina mengawali.


"Kalau itu lebih baik, maka silakan saja Buk." Jelas Nazar.


Lina yang mempersiapkan keperluannya.


Dan juga Rina juga mempersiapkan bekal untuk anaknya Lina yang akan lahir.


Selesai berpamitan dengan Nazar, Lina ikut bersama Rafki dan Rina Ibu mertuanya.


Karena Lina yang tinggal menghitung hari akan melahirkan. Rina juga menghubungi Andini dan Rasya agar tinggal bersama. Supaya tidak berjauhan ketika akan menyambut persalinan menantu barunya itu.


Rina yang masih berusaha memperlakukan Lina seperti Andini. Sangat sulit, di karenakan juga bukan inginnya. Kecewa dan sedih hati akan nasib jodoh anak bungsunya itu. Mendapati wanita yang sedang hamil dengan entahlah dengan siapa.


"Lina." Panggil Rina.


"Iya Ibu." Jawabnya kemudian mendekati Rina.


"Bagaimana keadaanmu. Kemari lah! Kamu belum sarapan." Ajak Rina.


"Baik Ibu." Lina menuruti maksud baik mertuanya itu meskipun kondisi perutnya tidaklah sedang ingin makan. Namun bagaimana pun juga ia harus makan demi calon bayi yang ada dalam kandungannya saat ini yang menjadikan Lina mau untuk makan.


"Kak Andini." Panggil Lina.


"Iya Dek. Kamu mau apa? Ini mau?" Tanya Andini kemudian menambahkan beberapa banyak sayuran ke dalam piring milik Lina.


"Terima kasih Kak." Jawab Lina lagi.


"Makan yang banyak Dek!" Perintah Andini kepada Lina.

__ADS_1


"Tentu Kak." Jawab Lina sambil tersenyum sumringah.


Sebelumnya Rafki yang dadakan ke Rumah Sakit karena ada kasus darurat. Hanya ada Rina, Lina dan Andini saat ini. Rasya pun sudah berangkat pagi pagi karena mendapat telepon dari Ulil Amri untuk mengisi acara di salah satu Masjid ternama.


Rafki dan Rasya yang sebelumnya sudah dibekali dan berangkat untuk tujuan yang berbeda.


***


Setelah mengarungi beberapa bulan berumah tangga namun tidak serumah, rasanya memang tidaklah mudah di lalui oleh pasangan suami istri ini.


Ketika saat ini berkesempatan untuk serumah namun belumlah sekamar. Jangankan melepas hak masing masing, sekamar saja tidak.


Banyak dari kalangan luar memikirkan hal negatif tentang pasangan ini.


"Kalau akan begitu. Lalu untuk apa menikah. Sendiri saja, sama saja hal nya dengan saat menikah. Aneh. Budaya mana itu?" Seperti itulah kira kira omongan manusia sekeliling.


Namun bagi Rafki ucapan itu hanyalah tameng yang tak perlu untuk di dengar. Biarlah mereka berkata apa, karena mungkin mereka tidak mengerti bagaimana sesungguhnya azab dan dosa jika mereka bergaul layaknya pasangan suami istri pada umumnya.


Hubungan mereka meskipun sudah berstatus menikah dan memiliki buku nikah sebagai bukti pemerintah, namun beberapa pendapat ulama mengatakan mereka belumlah muhrim. Dan akan menjadi dosa jika bercampur baur antaranya.


Lina dan keluarganya perlahan memahami dan mengerti kondisi itu dan maksud hadist hadist sahih menyangkut kondisi Lina yang menikah ketika sedang dalam keadaan berbadan dua.


"Rafki. Aku mau izin ke toko seberang sana. Ada keperluan untuk calon baby yang belum aku beli." Jelas Lina mendekati Rafki.


Meskipun tak pernah bersentuhan namun Lina selalu meminta izin akan suaminya itu jika akan bepergian.


"Baiklah. Biar aku antar." Ucap Rafki.


"Tidak perlu. Lagian kan dekat. Aku saja." Tolak Lina.


"Aku antar saja. Biar lebih aman." Lanjut Rafki. Lina hanya menurut saja.


Rafki yang memulai langkah perlahan di samping Lina yang menyamai langkahnya.

__ADS_1


Sesampai di depan pintu.


Rafki dikagetkan oleh panggilan masuk.


"Hallo assalamualaikum Dokter Rafki. Ada kasus darurat saat ini juga. Dokter bisa sekarang juga ke Rumah Sakit." Ucap Clara perawat sekaligus asisten Rafki yang biasanya kalau ada keadaan darurat dialah yang memberi tahu lebih dulu.


"Waalaikumussalam. Baiklah. Persiapkan segalanya. Saya akan segera sampai." Jawab Rafki kemudian.


"Pergilah! Aku sendirian saja." Ucap Lina kemudian.


"Tidak. Aku akan antar tapi nanti pulangnya sendirian. Oke." Lanjut Rafki kemudian membukakan pintu mobilnya dan mempersilakan Lina masuk.


Lina hanya mengangguk saja.


Sesampai di tempat tujuan Lina yang jalannya searah dengan Rumah Sakit tempat Rafki dinas.


Rafki yang sudah meninggalkan Lina di toko tersebut, kemudian Lina masuk ke dalamnya dan memilih milih keperluan yang ia butuhkan.


"Berapa semua Mbak?" Lina membawakan barang belanjaannya ke kasir dan membayar sebanyak yang kasir ucapkan kemudian meninggalkan toko tersebut.


Di karenakan tokonya tidak terlalu jauh dari kediaman Rafki, Lina memilih untuk berjalan kaki pulang.


Di perjalanannya Lina terlihat menikmatinya sembari menggoyang goyangkan barang belanjaannya. Juga teringat akan ucapan Dokter Kandungan waktu itu agar Lina sering sering berjalan ketika kandungan mendekati persalinan. Itu akan mempermudah proses persalinannya nanti.


Usia kehamilan yang sudah mendekati sembilan bulan adalah suatu moment menegangkan bagi setiap calon ibu, terlebih itu untuk pertama kalinya.


Karena terlalu senang tanpa sadar Lina yang berjalan sendirian tanpa siapapun disini. Jalanan yang kosong tiba tiba ada sebuah mobil yang melaju dengan tidak sewajarnya, seperti seseorang yang dalam keadaan tidak sadar.


Lina tidak melihat semua itu hingga sebuah mobil tersebut menghantam tubuh Lina, semua yang ia beli berserakan berterbangan kemana mana. Suara Lina yang berteriak kian hilang redup di tengah keheningan jalanan dan membuat tubuhnya kian tidak sadarkan diri. Darah dimana mana, tubuh yang kian melemah, janin yang entah bagaimana keadaannya. Dan sopir pengendara mobil tersebut yang lansung melarikan diri. Ia sangka tidaklah ada saksi mata kejadian tersebut, namun seorang anak muda datang tiba tiba menyaksikan kejadian maut di tengah jalan itu. Seorang pemuda yang jika diperkirakan masih anak sekolah, maksimalnya itu adalah anak kuliah atau mahasiswa. Ia dengan sikap merekam plat nomor mobil yang di kendarai seseorang tersebut dan lansung mendekati wanita hamil tua itu.


"Mbak." Panggilnya.


"Mbak bangun Mbak." Ucapnya lagi sembari mencoba merasakan denyut nadi dari wanita itu dan ia mengangguk kecil karena merasakan bahwa wanita ini masih dalam keadaan hidup. Lalu ia meninggalkan wanita itu kemudian mengambil mobil yang ia parkir kan yang tidak jauh dari tempat kejadian.

__ADS_1


Ia tidak melihat siapapun disana. Mengenal wanita itu pun tidak membuatnya pun kebingungan namun lansung membawa wanita ini menuju rumah sakit terdekat. Hanya itu yang terpikir oleh anak muda itu.


__ADS_2