
"Meskipun ada rasa ingin untuk menolak, namun mustahil rasanya terjadi.
Karena selain mengingkari janji dengan manusia, aku juga akan mengingkari janji kepada Allah." Ucap Rafki kemudian sembari sesudah melaksanakan sholat subuh pagi ini.
"Tolong kuatkan hamba menjalani semuanya ini Ya Allah. Jadikan lah keluarga hamba nanti keluarga yang penuh keberkahan karena Engkau Ya Robb." Lagi dan lagi Rafki hanya mampu berdoa dan berharap.
Sajadah ini adalah saksi bisu di dalam kepedihan Rafki. Selain ingin menyelamatkan Lina ia harus mengesampingkan perasaannya yang baru ia rasakan kepada Wilona.
***
"Rafki." Panggil Lina melihat Rafki yang sedang mondar mandir tidak jelas di depan toko buku.
"Iya Lin." Jawab Rafki.
"Apa yang sedang kamu lakukan disini?" Tanya Lina.
"Tidak. Aku hanya bingung mau beli buku apa tadi." Jelas Rafki.
"Boleh aku ajak bicara sebentar." Ajak Lina.
"Boleh." Jawab Rafki.
"Sebaiknya disana." Ucap Lina menunjukkan tempat berteduh di bawah pohon rindang di seberang jalan di depan toko tersebut. Selain mempunyai ke asrian yang indah rasanya akan adem berbicara serius disana.
"Ada apa Lin?" Tanya Rafki kemudian.
"Bisa kamu jawab dengan jujur." Ucap Lina mendahului.
"Tentu. In syaa Allah." Jawab Rafki mantap.
"Apa kamu mencintaiku?" Tanya Lina.
Rafki kaget mendengar pertanyaan Lina yang sedemikian rupanya. Tidak menyangka Lina hari ini menyanakan tentang perasaan Rafki.
"Jawablah!" Lina melanjutkan ucapannya berharap Rafki akan menjawab dengan jujur.
"Kenapa bertanya soal itu?" Rafki mengalihkan pembicaraannya.
"Aku berpikir aneh tentang sikapmu. Jika kamu mencintaiku, maka tidak mungkin rasanya kamu mencintai orang lain." Jelas Lina lagi.
Rafki benar benar kaget akan pernyataan Lina barusan. Seperti ledakan meteor yang menyambar tubuh Rafki saat ini.
"Aku tidak bisa menjawabnya Lin. Kita belum menikah." Jelas Rafki setelah ia tersadar akan pertanyaan Lina.
"Apa kamu mau menikahi aku karena terpaksa dan kasihan?" Tanya Lina lagi.
Membuat Rafki kali ini benar terperangah.
__ADS_1
"Lina. Apa ini semua. Pertanyaan macam apa itu." Rafki membelalakkan matanya.
"Aku hanya tidak mau pernikahan kita nantinya akan menyiksamu Ki. Hari pernikahan kita pun tinggal tiga hari lagi."
"Maka dari itu. Jangan banyak bertanya lagi. Kita sama sama belajar untuk semuanya." Jawab Rafki menenangkan Lina.
***
"Kenapa sayang?" Andini mendekati Rasya dari dalam lamunannya.
Setelah bertamu ke rumah Lina calon istri adik semata wayangnya itu wajahnya pun jadi tidak ceria dan sangat murung. Ada aura ketidak ikhlasan untuk adiknya.
"Tidak mengapa sayang. Sejak kapan kamu berdiri disitu?" Tanya Rasya melihat Andini yang masih berdiri di sudut kasur mereka.
"Sejak tadi. Aku lihat kamu selalu murung belakangan ini. Apa karena Lina?" Andini lansung ke intinya bicara.
"Bagaimana mungkin sayang. Rafki adikku satu satunya mempersunting wanita macam itu. Wanita bahkan penggoda dan wanita ****** seperti Lina itu. Aku tidak ikhlas." Ucap Rasya.
"Sayang. Kita punya Allah. Allah lah yang akan membolak balik hati manusia. Termasuk sikap dan ke pribadian Lina. Allah akan memberikan hidayah kepadanya. Melalui Rafki jalan hidayahnya terlihat. Coba sekarang lihat, dia sudah memakai gamis dan jilbab. Itu adalah perubahan besar sayang." Jelas Andini.
"Iya kamu benar. Tapi bagaimana kalau Rafki tau jika Lina sebelumnya pernah mencoba menggoda aku, suamiku Andini." Rasya mengungkapkan kegelisahannya.
"Ya biasa saja sayang. Lagian suami sholeh aku tidak mungkin tergoda dengan hal seperti itu. Aku percaya karena Allah menjaga suamiku untukku." Jelas Andini.
Kemudian Rasya memeluk Andini. Memeluknya penuh kasih.
"Terima kasih sayang. Kamu selalu menjadi alasan ketenangan dalam hatiku. Lewat senyuman ini ada semangat dan hasrat yang luar biasa. Membuat aku akan selalu betah di dekatmu." Jelas Rasya.
"Pahala? Kalau begini?" Tanya Rasya lagi kemudian menciumi kening mulus milik Andini.
"Juga." Jawabnya Singkat.
"Begini? Begini?" Rasya menciumi pipi Andini kemudian beralih menciumi bibir mulus Andini yang selalu membuat Rasya tergoda.
"Mari kita raih pahala yang lebih besar." Ajak Rasya lagi kemudian menggoda Andini.
"Aduh Mas Rasya. Geli. Lepaskan aku." Pekik Andini di saat Rasya mulai menggelitik tubuh mungil Andini membaringkannya di atas ranjang mereka.
Romantis sekali. Manis sekali. Perlakuan yang membuat rumah tangga mereka semakin awet.
***
"Hallo Assalamualaikum." Sapa Rina mengangkat panggilan masuk.
"Waalaikumussalam. Benar dengan Ibu Rina." Ucap seseorang di ujung telepon.
"Benar." Jawab Rina.
__ADS_1
"Kami dari reseptionis gedung Kolivera Bu. Menyampaikan bahwasanya persiapan untuk dekorasi pemakaian gedung sudah selesai Bu."
"Oh baiklah. Terima kasih."
Rina mengakhiri telepon tersebut kemudian bergegas pergi ke gedung tersebut.
Memastikan apakah sudah pas atau masih ada yang kurang.
Besok adalah hari akad pernikahan antara Rafki dan Lina.
Sesampainya di gedung Kolivera itu Rina melirik semua sudut ruangan dengan di temani beberapa pegawai gedung itu.
Semuanya rasanya sudah bagus dan indah.
"Cukup." Ucap Rina mengacungkan jempolnya tanda ia sangat menikmati keindahan hasil karya karyawan disini.
***
Waktu berlalu kian semakin dekat dan dekat. Sampailah dimana hari akan datangnya hari akad pernikahan itu.
Lina Margaretha putri semata wayang Bapak Nazar sedang mempersiapkan dandanannya dengan memakai pakaian untuk akad hari ini.
"Semoga pernikahan ini adalah awal yang baik untuk aku dan juga keluarga baru ku nantinya. Dan andai saat ini ada Ibunda." Lina bicara dalam hatinya sembari terus melihat tubuhnya di depan cermin.
Lalu Nazar masuk ke dalam ruangan itu.
"Dady." Panggil Lina.
"Iya Nak."
"Maafkan aku Dady. Hari ini adalah hari pernikahanku." Lina memeluk Ayahnya itu.
"Aku jadi rindu Ibu. Andai Ibu ada disini untukku." Lina meneteskan air matanya betapa rindunya ia akan hadirnya ibunya saat ini.
"Dady kan ada untukmu sayang. Jangan menangis. Ini adalah hari bahagiamu." Ucap Nazar.
"Kita lansung berangkat. Nanti Bapak penghulu lama menunggu." Jelas Nazar.
Tiada jawaban Lina mengikuti Dady nya keluar dari tempat berpakaian. Kini ia sudah rapi menggunakan busana gaun putih mewah.
Membuat Lina terlihat sangat anggun dan mempesona.
Lina itu indah, dan cantik.
"Apakah sudah siap semua?" Tanya Bapak Penghulu ketika Lina sudah mengambil posisi duduk, yaitunya di sebelah kiri Rafki di depan Bapak Penghulu dan Dady nya.
Rafki dan Nazar mulai menjabat tangan masing masing. Seperti yang diisyaratkan oleh Bapak Penghulu.
__ADS_1
Tak berlansung lama. Semuanya berjalan dengan lancar. Hingga kata SAH keluar dari kedua mulut saksi yang duduk di samping kiri dan kanan antara Bapak Penghulu dan Nazar.
Namun meskipun sudah Sah. Rafki belumlah bisa serumah dan menyentuh istrinya. Lina yang memakai sarung tangan kemudian menciumi punggung tangan Rafki menandakan ia sudah menyerahkan haknya sebagai seorang istri untuk Rafki.