Suami SHOLEH Untuk ANDINI

Suami SHOLEH Untuk ANDINI
Alhamdulillah sembuh


__ADS_3

Denting denting air hujan terdengar jelas diatas genteng, begitupun dengan tetesan air yang menari nari di kaca jendela pagi ini.


Ruangan berpendingin itu kian membuat tubuh menjadi kaku dan beku.


Begitu pula dengan hati dan pikiran, yang ikut melayang jauh entah kemana.


Tatapan yang kosong dengan perasaan yang gundah.


"Mas." Teriak Andini ketika tiba tiba saja terdengar petir besar menyambar di langit sana.


Rasya yang tadi berniat akan mengambilkan makanan dan juga cemilan beserta minuman segar untuk Andini lansung berlari balik menuju istrinya.


"Iya sayang. Kenapa? Pasti ketakutan sama suara petir. Udah sayang, tenanglah! Suaranya sudah tidak ada." Ucap Rasya lansung kepada Andini yang sudah berpelukan itu.


Jantung Andini yang terasa berdegup kencang, beruntunglah Rasya yang memang sudah mengenali Andini dari lama karena usia pernikahan mereka pun juga sudah hitungan tahun.


Rasya yang mengerti jikalau Andini memang takut petir dari kecilnya.


"Mas. Kecelakaan itu? Mama" Tanya Andini lansung membuat Rasya kaget mengetahui ia mengenali situasi itu dan lansung memanggil mama.


Petir dengan sambaran hebat itu membawa mukjizat besar kepada Andini. Namun bagaimana perasaannya mengetahui takdir saat ini.


Oh Tuhan, kali ini Rasya berada diposisi yang serba sulit. Mengungkapkan segalanya akankah Andini akan sabar dan tabah. Menyembunyikan sekali pun akan kah itu benar.


Rasya sangat cemas dengan semua ini.


"Sayang. Aku sudah ingat?" Tanya Rasya penasaran.


"Aku ingat semuanya Mas. Mana Mama? Bagaimana kabarnya? Arumi anakku. Kita sekarang dimana Mas? Mana yang lainnya?" Tanya Andini lansung ke intinya.


Rasya kaku tiada jawaban darinya menanyakan tentang Sinta mamanya.


"Kamu ingat semuanya sayang?" Tanya Rasya kikuk sendiri.


"Iya Mas. Dimana Mama? Apa dia baik-baik aja?" Tanya Andini lagi bertubi.


Yes akhirnya ponsel itupun berdering, yang akhirnya bisa mengelak sementara dari pertanyaan Andini.


"Hallo." Ucap Rasya mengawali.


"Hallo. Hari ini adalah hari terakhir Ibu Andini Check Konsultasi ya Pak. Dan Dokter Alan sudah menunggu." Ucap salah seorang perawat Rumah Sakit.


"Baik Buk. Terima kasih sudah mengingatkan kembali. Kami akan segera sampai." Jawab Rasya kemudian mengakhiri pembicaraannya di telepon.

__ADS_1


"Sayang. Kamu siap siap aku tunggu di depan. Kita ke Rumah Sakit konsultasi kondisi kamu. Dokter Alan sudah menunggu." Lansung Rasya melangkah kan kakinya menuju ke luar ruangan itu.


Andini yang masih diliputi dengan berjuta juta pertanyaan yang membuatnya merasakan gundah begitu hebat.


Namun dengan langkah kaki gontai pemikiran yang melayang layang Andini akhirnya memutuskan juga untuk berkemas dan merapikan diri berangkat ke Rumah Sakit.


"Ah sudahlah. Nanti aku tanya lagi ke Mas Rasya. Atau aku sendiri yang akan mencari tahu nya." Celetuk Andini di dalam hati nya ketika masih sedang bercermin dan memakai polesan dan riasan di wajah cantiknya itu.


"Sudah selesai sayang. Kita berangkat sekarang." Ucap Rasya yang memecahkan lamunan Andini yang sedang berjalan ke luar.


"Eh. Sudah Mas." Jawab Andini singkat namun padat.


Keduanya berjalan beriringan sesekali tangan yang saling terpaut dengan sentuhan lembut.


"Permisi Dok." Sapa Andini masuk ke ruangan Alan ketika keduanya telah sampai di depan ruangan Dokter Alan tersebut.


"Iya Andini, masuklah!" Ucapnya. Dan Rasya yang mengekor dari belakang.


Melihat wajah Andini yang muram mendung tiada kecerahan, membuat Dokter Alan memahami jika Andini tengah memikirkan banyak hal.


"Apa yang kamu pikirkan?" Tanya Alan lansung.


"Apa kamu mengingat sesuatu?" Tanya Alan lagi.


Kemudian suaminya lah yang akhirnya menyentuh tipis bahu Andini membuat hasil kejutan.


"Eh. Apa Mas?" Tanya Andini.


"Itu Dokter Alan bertanya sama kamu sayang. Kenapa diam dan bengong saja." Ucap Rasya.


"Hah. Masak Dok? Maafkan saya. Saya tidak sengaja tidak mendengarkan Dokter." Ucap Andini.


"Tidak masalah. Apa yang sedang kamu pikirkan?" Tanya Alan lagi.


"Kecelakaan itu. Terakhir kali yang saya ingat tentang kecelakaan beruntun." Ucap Andini.


"Yah. Itu kejadian 6 bulan yang lalu sebelum kamu kehilangan ingatan." Balasnya.


"Apa masih ada ingatan yang lain. Yang membuat kamu di bebani?" Tanya Alan berlanjut.


"Saya mengingat banyak hal. Namun ada beberapa yang ingatan samar." Jawab Andini.


"Itu wajar dan sangatlah lumrah. Tapi sekarang kesehatan ingatan Ibu Andini sudah kembali normal hampir 90%. Kemungkinan besar Ibu Andini sudah mengingat seluruhnya." Ucap Alan setelah selesai memeriksa kan keadaan Andini.

__ADS_1


Rasya mendengar ucapan dari Alan sangatlah bersyukur, dengan kondisi istrinya yang saat ini tiada lah sia sia hingga proses pengobatannya pun sampai sekarang.


Meskipun sudah berapa banyak keluar uang, namun tidak terasa berat dengan anugerah yang ia terima hari ini.


"Terima kasih banyak Dokter Alan. Berkat usaha dan kerja keras Dokter, Allah mengabulkan doa doa orang yang sayang dengan Andini tentang kesembuhan ingatannya kembali. Terima kasih banyak Dokter." Ucap Rasya berjabat salam dengan Alan.


"Sudah menjadi kewajiban kami disini, membantu proses penyembuhan pasien pasien yang datang ke sini Rasya. Semoga kita masih bisa berteman baik setelah ini." Ucap Alan menyunggingkan senyuman manis yang berlesung pipit itu membuatnya terlihat lebih maco.


"Tentu Dokter Alan. Saya dan Andini yang merasakan bahagia sekali dan banyak nya terima kasih apalagi mendapatkan kesembuhan dan juga teman baik seperti Dokter Alan." Jawab Rasya lagi.


"Nanti saya akan main main ke Jakarta ke tempat kalian dan juga Kevin, jika pekerjaan disini tidak banyak lagi." Ucap Alan.


"Kami dengan senang hati menunggu kedatangan Dokter Alan di tempat kami." Jawab Rasya lagi.


"Tidak perlu panggil saya Dokter. Alan saja!" Ucap Alan.


"Hehehe. Jadi sungkan kalau panggil nama saja." Tolak Rasya.


"Kita berteman kan. Jadi jangan panggil Dokter lah. Berasa meninggi jadinya. " Lanjut Alan.


"Alan seorang Dokter yang berbudi baik."Lanjut Rasya.


Semuanya tertawa terkekeh mendengar ucapan Rasya. Termasuk Andini yang baru masuk ke dalam ruangan khusus Dokter Alan.


"Heh Andini. Bagaimana perasaannya?" Tanya Alan.


"Alhamdulillah sudah jauh lebih baik." Jawab Andini.


Andini dan Rasya berpamitan dengan Alan.


Alan benar benar lelaki yang baik. Meskipun tidak beragama islam, namun menghargai setiap manusia. Baik hatinya dan juga sopan tutur katanya. Hanya disayangkan ia tidak beragama islam.


***


Sesampainya di apartement dan berkemas semua barang bawaan mereka lansung pesan taksi online menuju pelabuhan.


Keberangkatan penerbangan Andini dan Rasya tinggal 20 menit lagi.


Semua yang menjadi kenangan manis meskipun hanya beberapa hari memberikan kesan pertemanan yang baik.


Mengabari Kevin dan Ibunya. Dan mendapatkan respon baik dari semuanya.


Rasya dan Andini berniat untuk kembali menjalani hidup di Jakarta.

__ADS_1


Memesan online tiket penerbangan.


__ADS_2