Suami SHOLEH Untuk ANDINI

Suami SHOLEH Untuk ANDINI
Lina Lahiran


__ADS_3

Rina hanya pasrah menuruti keinginan cucunya itu. Meskipun ada rasa yang mengganjal di hatinya.


Namun apa boleh buat perasaan Arumi jauh lebih berarti dibanding kekacauan nya.


"Baiklah sayang." Jawab Rina.


"Yee Nenek mau disini." Ucap Arumi kegirangan bahagia.


Andini maupun Rasya hanya tercengang diam sambil tersenyum-senyum dengan tingkah manis itu.


***


"Jadi kamu ingin bulan madunya kita ke Amerika?" Tanya Wilona memastikan sebab ia menerima selembar note berisi pesan singkat yang ingin membawanya terbang dari Jakarta.


"Iya sayang. Kalau kamu mau." Ucap Galfin.


"Nggak bisa Gal. Disini pasien aku banyak yang membutuhkan. Nanti kalau ada gawat darurat gimana? Aku nggak bisa izin gitu aja." Jawab Wilona.


"Iya deh Dokter Wilona kesayangannya Galfin. Aku paham kok. Terus gimana dong bulan madunya kita?" Tanya Galfin.


"Kita bisa bulan madu kapan juga. Nggak harus kesana sini juga kan." Jawab Wilona.


"Ya sudah. Kalau bisa kapan aja. Berarti sekarang bisa dong. Ayo sayang!" Ajak Galfin.


Galfin yang mulai mendekat semakin dekat, kini telah sampai tepat di depan wajah istrinya itu.


Wilona yang mundur kebelakang pun aksi nya terhenti karena dibelakangnya saat ini sudah ada dinding yang menanti.


"Galfin. Jangan becanda gini dong. Mau apa sih? Siang bolong begini. Jangan macam-macam lah." Wilona menahan dada bidang Galfin.


Galfin yang merasa menang, berhasil membuat wajah istrinya Wilona itu memerah menawan.


"Itu kenapa pipinya merah gitu?" Tanya Galfin.


Wilona yang sangat deg-degan itu pun memegang pipinya cepat.


"Mana? Nggak merah juga." Ucap Wilona berhasil menghindar dari serangan Galfin, kemudian lansung menghadap ke cermin.


Galfin memperhatikan Wilona yang sedang bercermin kemudian ia mendekatinya dan memeluk tubuh istrinya dari belakang.


"Aku beruntung banget, bisa mempunyai istri secantik kamu sayang. Bahagia banget bisa menjadi suamimu." Bisik Galfin.


"Aku juga beruntung bisa menjadi istrimu suamiku." Balas Wilona.


Yang di balas dengan cumbuan hangat keduanya.


***


"Ki." Panggil Lina manja.


"Iya Lin." Jawab Rafki lansung menemui Lina istrinya.


"Perut aku Ki. Rasanya sakit sekali." Lina memegang perutnya.

__ADS_1


"Apa kamu akan lahiran Lin. Sebaiknya sekarang kita ke Rumah Sakit." Ajak Rafki.


Lina hanya mengangguk mengiyakan ucapan suaminya.


Sesampainya di Rumah Sakit benar saya Dokter mengatakan jika Lina sudah kontraksi akan melahirkan.


Rafki yang selesai menghubungi keluarganya tidak lagi meninggalkan Lina meskipun itu sedetik.


Mendampingi istrinya, seolah merasakan sakit yang saat ini lina rasakan.


Sakit yang tiba - tiba hilang kemudian sakit lagi.


Dengan waktu tempo yang kian lama kian sangat cepat.


Dan Dokter pun yang sudah memberikan kode kata untuk Lina mengikutinya.


Hingga datang proses mengejan.


Dima nyawa serasa berada di antara lidah dan gigi.


Meraung ke langit dengan rasa sakit yang teramat sakit.


Seperti kini nyawa akan melayang meninggalkan badan.


Pemikiran yang bercampur aduk antara bahagia dan rasa cemas dengan kondisinya dan calon anak nya.


Begitu pula dengan Rafki yang kali ini adalah kali pertamanya menyaksikan perjuangan seorang Ibu, hingga kini air matanya tak dapat dibendung lagi.


Rafki selalu membacakan ayat-ayat suci untuk membantu memberikan kekuatan kepada Lina yang diikuti oleh Lina sendiri.


"Alhamdulillah ya Allah." Ucap Rafki mengambil seorang putra kecil mungil yang mirip sekali dengannya.


Mengazankan putra kecil itu dengan lantunan azan yang sangat merdu sekali suaranya.


Selesai mengazankan baby junior itu Rafki memberikannya kepada Rina, sebab Ibunya yang sedari tadi menunggu giliran untuk dapat menggendong cucunya itu.


Rafki mendekati Lina yang kini tengah separuh sadar.


Menyadarkannya dan memeluknya sambil berbisik.


"Masya Allah sayang. Anak kita selamat dan sempurna. Cepatnya bangun lihat lah tubuh mungil itu buah dari cinta kita berdua." Ucap Rafki.


Lina yang mendengarkannya.


"Anak kita Ki." Suara itu terbata hingga seorang pasien pun mendekatkan bayi kecil itu kepada lina.


Memberikan imunisasi menyusui dini.


"Alhamdulillah." Syukur Lina yang masih saja terbaring menikmati setiap rasa sakit dan kebahagiaan itu.


Andini dan Rasya juga sangat bahagia melihat keluarga adiknya itu kian lengkap sudah saat ini.


***

__ADS_1


Disebuah ruangan di pesantren peninggalan Zidan dan Sinta kakek dan nenek angkatnya Arumi.


Sebelumnya Arumi yang sudah memutuskan untuk kembali menjadi tenaga pendidik disana. Dengan banyak pertimbangan dan keyakinan akhirnya Arumi mau mengajar seperti biasanya.


"Ustazah Arumi." Panggil seorang anak kecil menghampirinya.


"Iya." Jawab Arumi singkat padat dan jelas.


"Aku izin keluar ke toilet sebentar ya Ustazah." Ijin muridnya itu.


"Baiklah Aina. Segera kembali dan selesaikan kuisnya." Lanjut Arumi dengan nada seriusnya.


Aina seorang murid didikan Arumi di pesantren itu, seorang wanita yang berwatak keras kepala.


Dan yang paling pintar ia pinter ngeles dan mencari alasan agar bolos mata pelajarannya itu tentang Ilmu Fikih.


Dan benar saja, sudah satu jam berlalu si Aina belum juga masuk ke kelasnya.


Sementara waktu istirahat akan dimulai lebih kurang dua belas menit lagi.


Seluruh siswi mulai berkemas perlengkapannya dan bersiap untuk menikmati jam istirahat, seperti anak yang lainnya.


Selesai sholat zuhur berjamaah dan makan siang bersama.


Arumi masuk ke dalam ruangannya kemudian meminta agar menyelesaikan pekerjaannya dengan segera.


"Ustazah Anggun, tolong panggilan Aina ke sini dengan mikrofon itu!" Ucap Arumi.


Anggun yang mengangguk mengiyakan lalu memanggil Aina agat segera datang menemuinya.


Aina yang masuk ke dalam ruangan majelis guru atau ustazah nya yang bernama Arumi.


"Assalamualaikum Ustazah." Sapa Aina dan masuk.


"Waalaikumussalam Aina. Duduklah! Ustazah mau bicara." Lanjut Arumi.


"Baiklah Ustazah." Ucap Aina tertunduk dan mendengarkan Arumi.


"Tadi ketika proses belajar berlangsung, kamu izin sama Ustazah mau ke toilet. Ada ke toiletnya dua jam?" Tanya Arumi masih dengan memperlebar sabarnya.


"Maaf Ustazah." Kelit Aina.


"Tadi kita ada mengerjakan kuis. Apa kuisnya sudah selesai?" Tanya Arumi.


"Belum Ustazah." Jawabnya masih dengan ragu dan terus menunduk.


"Belajarlah untuk selalu tertib, dan belajarlah dengan benar. Sebab suatu saat nanti akan ada masanya di uji. Jika hari ini lalai, kedepannya lalai. Apa jadinya dengan hasil uji mu nanti?" Ucap Arumi.


Yang berhasil menyadarkan Aina dari kelalaiannya, yang sengaja ingin cabut dari pelajarannya.


"Iya Ustazah. Maafkan aku. Lain kali tidak lagi seperti ini." Ucap Aina seperti benar adanya.


"Berjanjilah kepada Allah. Sebab jika ke Ustazah maka masih bisa di ingkari, sebab Ustazah tidak akan bisa melihatmu 24 jam. Jika berjanji kepada Allah, maka Allah tidak pernah tidur dan akan mengawasi kita setiap saat." Lanjut Arumi.

__ADS_1


"In syaa Allah Ustazah. Terima kasih, aku akan buat kuisnya sekarang." Lanjut Aina.


__ADS_2