
Mobil itu berhenti tepat di depan palang bertulisan Tempat Pemakaman Umum.
"Mas." Panggil Andini.
"Kita bukannya ke rumah Mama. Kenapa kesini, ziarah dulu ya Mas? Siapa yang meninggal?" Tanya Andini lagi karena tiada respon dari Rasya.
"Mas jawab aku." Ucap Andini kini yang tengah memegang bahu Rasya dan mengguncang hebat tubuhnya.
"Jangan bilang kalau Mama..."Ucapan Andini terputus kini berubah menjadi tangisan ketakutan terbesarnya.
"Ayo kita ke dalam!" Ajak Rasya.
Menggandeng tangan Andini, dan sebelumnya selalu hangat ia rasakan. Kini tangan suaminya itu kian beku terasa.
Ada rasa bersedih yang teramat dalam.
Perasaan yang tidak dapat lagi dijelaskan.
Seketika Rasya berhenti dan duduk di depan batu nisan bertulisan *Sinta*.
"Sinta, Mama aku?" Tanya Andini.
"Nggak mungkin Mas. Mama." Teriak Andini.
"Maafkan Mas yang dari awal nggak sanggup menceritakan ini dengan mu Sayang. Maafkan Mas." Ucap Rasya kini mengeluarkan air matanya.
"Mas. Aku mohon bangunkan dari mimpi buruk ini." Kini Andini yang menangis tersedu sedu.
Membungkuk di batu nisan memeluk batu nisan bertulisan Mamanya.
"Ya Allah. Kenapa ini semua terjadi." Tangis Andini yang melangit.
"Mama meninggal diwaktu kejadian kecelakaan beruntun itu sayang." Jawab Rasya.
"Kenapa Mas nggak bilang di awal?"
"Mas takut kamu makin syok dan tidak bisa mengingat segalanya lagi sayang. Maafkan Mas." Jawab Rasya.
"Kenapa Mas. Kenapa harus Mama yang meninggal. Kenapa nggak aku aja Mas."
"Kamu jangan bicara seperti itu sayang."
"Semuanya sudah kehendak Yang Kuasa. Ikhlaskan kepergian Mama agar ia tenang di surga Allah." Jawab Rasya.
"Aku penyebab meninggalnya Mama Mas. Aku yang mengajak Mama ke rumah sakit, tau tau nya Mama pergi ninggalin aku selamanya karena kecelakaan itu." Andini menangis terus terusan.
"Ini sudah kehendak Allah sayang. Jangan menyalahkan dirimu atas kejadian ini." Ucap Rasya.
__ADS_1
"Sekarang Mama sudah nggak ada Mas. Aku sendirian. Papa udah ninggalin, sekarang kenapa Mama harus pergi secepat ini. Kenapa Mas."
"Dengar sayang. Lihat mata Mas. Disini lelaki yang berdiri di hadapan kamu. Lihat Mas sayang. Mas ada untuk kamu. Mas akan selalu ada. Mas akan menjadi suami sekaligus Mama dan Papa buat kamu. Jangan menangis. Masih ada Mas yang sangat sayang padamu Andini. Masih ada Mas sayang." Ucap Rasya kini memeluk tubuh istrinya itu.
"Dan masih banyak yang menyayangimu sayang. Jangan menyerah. Hidup tidak berakhir disini sayang. Kita harus kuat dan terus melangkah. Genggam tangan Mas. Jangan menyerah." Ucap Rasya lagi.
Andini hanya menangis tersedu sedu di dalam pelukan Rasya.
"Mama. Aku belum siap kehilangan Mama. Bangunlah Ma. Andini kembali untuk Mama. Maafkan Andini sempat lupa tentang kejadian bersama Mama. Andini sayang sekali dengan Mama. Kenapa Mama ninggalin Andini secepat ini." Celetuk Andini menangis dan benar benar frustasi.
"Sudah sayang. Sekarang Mama tidak menginginkan tangisan kamu. Mama membutuhkan doa anak yang sholehah untuk perjalanan Mama di alam sana." Ucap Rasya lagi.
"Iya Mas. Aku akan coba kuat untuk Mama." Jawab Andini.
"Kita berdoa sekarang ya sayang." Ucap Rasya mengawali pembicaraan baru. di
"Iya Mas." Jawab Andini.
Setelah selesai berdoa, Andini yang masih dalam suasana perasaan kacau.
Kehilangan sosok terbaik di hidup nya. Sosok Mama yang luar biasa hebat, perjuangan yang sangat banyak.
Melahirkan, menyusui, menyayangi Andini sampai ketika sudah dewasa yang berkeluarga, tetap Andini seolah gadis kecil bagi Mama nya.
Berat, sangat berat.
"Andini sayang Mama. Tapi Allah lebih sayang Mama. Tenang disana Mama. Tungguin Andini." Doa di balik tangisan Andini.
...*Cobaan dalam hidup, bukanlah suatu beban yang menyatakan bahwa engkau dibenci Allah....
...Melainkan itu pertanda bahwa Allah menyayangi mu....
...Bagaimana seseorang bisa dikatakan beriman, sedangkan ia tidak di uji.*...
***
"Ibu." Panggil Arumi.
"Iya Nak." Jawab Andini.
"Ibu yang sabar ya. Ada Arumi yang sangat menyayangi Ibu. Jangan larut dalam kesedihan Ibu. Kita semua disini sangat sayang Ibu." Peluk Arumi ketika Andini datang kembali ke rumah dengan keadaan yang begitu menyedihkan.
"Terima kasih sayang." Balas pelukan Arumi.
"Ibu ke kamar dulu ya Nak. Ibu capek." Ucap Andini.
Arumi hanya mengangguk mengiyakan.
__ADS_1
"Susul istrimu Nak!" Perintah Rina.
Rasya mengerti dan lansung pergi menyusul Andini.
Sesampainya di kamar Rasya melihat Andini yang susah merebahkan tubuhnya di atas kasur.
"Sayang." Panggil Rasya.
"Iya Mas." Jawab Andini.
"Mas mau bicara, boleh?" Ucap Rasya.
"Iya Mas. Silakan." Jawab Andini kemudian duduk dari rebahan nya itu.
"Kuatkan hati mu sayang! Percayalah akan selalu ada hikmah dibalik musibah yang Allah berikan. Jangan jadikan kehilangan Mama menjadi kehilangan untuk bertakwa kepada Allah. Allah menyayangi orang orang yang sabar." Ucap Rasya sambil mengusap kepala Andini yang tengah bersandar di pundak Rasya.
"Semoga aku bisa melewati ini semua Mas." Jawab Andini lagi.
"In syaa Allah, pasti bisa sayang. Sebab Allah tidak menimpakan suatu masalah di batas kemampuan hamba nya. Bersabar dan ikhlas atas semua musibah yang datang dari Allah untuk menguji kita hamba nya. Bagaimana mungkin seseorang di katakan beriman, sedangkan ia tidak di uji." Balas Rasya menguatkan Andini.
"Kita harus kuat sayang. Jangan larut dalam kesedihan ini seperti ucapan anak kita." Ucap Rasya lagi.
"Memang, kita butuh waktu dalam proses pembenahan. Namun jangan jadikan waktu itu sempit dengan kita yang tidak bisa mengikhlaskan. Jadikan waktu yang ada untuk bertaubat, memperkuat keimanan dan memperkokoh akidah agama kita sayang. Sebab anak yang sholehah adalah pelanjut akidah penambah pahala untuk orang tua yang telah meninggal dunia." Lanjut Rasya.
"Jangan biarkan Mama menderita, dengan tangisan dan kehilangan semangat mu ini sayang. Jikalau Mama mengetahui anaknya bersedih begitu besar maka Mama juga pasti akan merasakan sedih di alam sana sayang." Lanjut Rasya panjang lebar.
Andini yang mengerti dengan maksud Rasya menengok dan melihat wajah suaminya itu.
"Bantu aku untuk kuat Mas. Sungguh jiwa ini terasa amat rapuh." Jawab Rasya.
"Itu sudah pasti sayang." Balas Rasya dan memeluk tubuh istrinya itu.
Berharap akan memberikan kekuatan dan semangat untuk Andini istrinya.
Berusaha menenangkan dan menguatkan hati dan jiwanya.
Rasya yang mengerti dengan perasaan istrinya saat ini.
Menjadi yatim piatu tidaklah bahagia, bahkan kadang terasa seperti badai topan mendekati.
Memang, pada umumnya kehilangan orang tua adalah bencana yang teramat besar bagi anaknya.
Namun Rasya tidak putus putusnya memberikan semangat juga pelukan kasih untuk istrinya.
Berusaha sekuat yang ia bisa agar istrinya kembali seperti biasanya, Andini yang periang dan segalanya bagi Rasya.
..."Jangan menyerah, meskipun terasa sangat lelah. Sebab dunia ini tidak akan berhenti karena rasa menyerah mu itu."...
__ADS_1