
"Dasar pria nggak jelas." Celetuk Wilona dalam hatinya.
Sembari melangkahkan kakinya masuk ke rumah.
"Kenapa Dek?" Tanya Jena tiba tiba.
"Aku kesel sama kucing dan si pemiliknya Kak. Hampir aja tuh kucing ke tabrak." Ujar Wilona.
"Terus bagaimana Dek. Kamu tidak apa apa kan?" Tanya Jena kaget.
"Tidak Kak. Aku aman. Cuman itu tuh pria nyebelin yang bikin mood aku ilang Kak." Tutur Wilona.
"Cie Adek Kakak lagi berbunga bunga nih. Kesel sekarang nanti cinta loh Dek. Awas hati hati Dek." Goda Jena kemudian.
"Ih Kakak apa an sih Kak. Nggak mungkin lah." Jawab Wilona lagi.
Jena hanya terkekeh ketawa melihat tingkah Wilona yang mencurigakan baginya.
Ia Jena senang sekali melihat Adek iparnya itu sekarang sudah bisa untuk ikhlas akan kenangan pahit yang pernah ia lalui belakangan ini.
Bangkit sampai saat ini pun juga butuh perjuangan dan pengorbanan yang besar.
***
"Untuk sekarang Ibu Lina boleh dibawa pulang. Nanti kalau terjadi sesuatu yang akan berakhiran fatal silakan bawa ke sini lagi." Ujar seorang Dokter kepada Rafki.
"Terima kasih Dok." Jawab Rafki kemudian.
Nazar yang sudah mempersiapkan Lina mengganti pakaian juga memapahnya agar lebih kuat lagi untuk melangkahkan kakinya.
"Dady." Panggil Lina dengan mata masih berlinang linang.
"Sabarlah Nak. Ikhlaskan segalanya. Semua ini adalah takdir dari yang Kuasa." Tutur Nazar meyakinkan Lina.
Lina hanya terdiam sambil mata masih berkaca kaca.
"Maafkan aku Lin. Karena aku yang kurang ekstra menjagamu terjadi musibah ini." Ujar Rafki lagi.
"Tidak Ki. Ini bukanlah salah mu. Sudah menjadi nasibku kehilangan anak pertama ku." Jelas Lina yang masih berkata dengan berat hatinya.
Andini merasa benar benar iba dengan nasib dari ipar dan rumah tangga iparnya itu.
"Sudahlah. Jangan bersedih lagi. Selepas Lina benar benar pulih kita akan urus pernikahan antara Lina dan Rafki lagi. Agar semuanya tidak lagi canggung seperti ini. Semuanya akan membaik. Dan semoga Lina mendapat keturunan kembali secepat mungkin." Tutur Rasya memberi kejelasan atas hubungan dan status nasib pernikahan dan rumah tangga adiknya itu.
"Baiklah Kak." Jawab Rafki kemudian mengangkat barang barang Lina dan membawanya ke dalam mobil yang sudah terparkir di depan sana.
Lina yang masih di papah oleh Andini kemudian melanjutkan langkahnya demi langkahan yang berat.
Pandangannya pun sesekali menoleh ke belakang hendak mencari cari sesuatu yang hilang.
__ADS_1
Perasaan yang masih bercampur aduk tidak karuan. Resah sedih pilu dan kecewa kian bercampur menjadi satu.
Semangat Lina yang masih saja pudar.
Setiba dirumah kediaman Rina, Rasya ataupun Rafki.
Semuanya mulai masuk menelusuri sudut sudut ruangan itu.
Menjadi saksi bisu untuk perasaan manusia yang kehilangan separoh bahkan semua semangat hidupnya.
Kesedihan itu sama sama mereka usahakan hilang dan bangkit kembali membangun masa depan yang cerah.
Lina lansung masuk ke dalam kamarnya.
Hingga kini terdiam dan tertidur memejamkan matanya yang tak kantuk.
Menerawang entah kemana.
Hanya mampu menangis dalam diamnya saja. Siapapun tidak akan mengerti perasaannya saat ini.
"Ndin. Panggil lah Lina. Kita makan bersama dulu." Ujar Rasya.
"Baik Mas." Jawab Andini dan kemudian lansung masuk lagi ke kamar Lina.
"Permisi Lin. Ini aku Andini. Boleh masuk." Tanya Andini ragu ragu.
"Masuklah Mbak. Pintunya tidak terkunci kok." Jawab Lina.
"Aku belum nak makan Mbak. Masih kenyang. Mbak dan yang lainnya silakan makan duluan." Jawab Lina yakin.
"Tapi Lin. Kamu harus makan. Nanti kamu lama sembuhnya."
"Tidak Mbak."
"Atau biar aku bawakan saja saparan kesini." Tanya Andini.
"Jangan Mbak. Nanti biar aku saja yang mengambilnya kalau aku sudah lapar." Jelas Lina lagi dan kemudian mencoba bangun dari tidurnya.
Andini lansung menghampiri Lina lebih dekat membantunya bangun dari tidurnya.
"Kamu masih belum pulih Lin. Mbak bawakan saja makanan untukmu. Tunggulah sebentar." Ucap Andini dan lansung meninggalkan Lina di kamarnya.
Pergi ke ruang makan kemudian mengambil satu buah piring berukuran sedang menyendok makanan dan menata beberapa lauk juga sayuran. Secangkir jus jeruk sesuai kesukaan Lina.
"Lina nya mana Kak?" Tanya Rafki.
"Dia masih belum kuat untuk keluar makan bersama kita. Ini aku akan bawakan makanannya ke kamarnya." Jelas Andini.
"Biar aku yang bawakan Kak. Boleh?" Ujar Rafki.
__ADS_1
"Ini Ki. Apa alasan tidak bolehnya." Jawab Andini memberikan makanan yang sudah ia persiapkan.
Rafki mengambilnya dan membawa ke kamar Lina istrinya.
Istri tapi tidak pernah menjalin hubungan layaknya suami dan istri sungguhan. Ya itulah resiko juga ujian untuk sementara rumah tangga mereka.
"Permisi Lin. Ini aku." Rafki dari luar kamarnya.
"Masuklah." Jawabnya singkat.
"Ini makanan kamu Lin. Aku suapan ya?" Rafki menyodorkan dirinya.
"Tidak perlu Ki. Aku makan sendiri saja." Jawab Lina lagi.
Rafki yang tidak memperdulikan ucapan istrinya itu. Dan selalu berusaha bersikap manis kepada istrinya. Meskipun belum utuh bisa memperlakukan sebagai istri. Namun Rafki tak henti hentinya memperlakukan Lina baik dan selalu baik juga sopan.
***
"Arumi." Panggil Ustazah itu.
Mempersilakan Arumi untuk maju dan sekarang gilirannya lah yang membacakan juga menjawab berbagai pertanyaan perihal al qur'an.
Hafizah. Itulah gelas yang akan Arumi peroleh.
Ia akan diuji seputar 30 jus al qur'an di dalam kepalanya.
Selama beberapa tahun menghafal sekarang tibalah dimana masa wisudanya sekalian sebelum peresmiannya Arumi harus diuji coba dulu.
"Sekarang giliran mu. Siap?" Tanya Ustazah Sarah selaku guru pembimbing.
"In syaa Allah siap Ustazah." Jawab Arumi sopan.
"Qur'an Surat 20 Ayat 1_20."
Setelah soal ujian pertama dibacakan. Arumi lansung membawanya kemudian para juri atau tim penilai memberikan kritik dan masukan juga komentar lainnya.
Arumi mendapat masukan bangus tentang irama yang ia bawakan sedikit rancu dan hapalannya sudah bangus. Tinggal sedikit memperbaiki iramanya agar senada agar kedengarannya pun lebih merdu dan lebih indah.
Ujian Arumi terus berlanjut sampai ke babak akhir.
Semuanya sudah selesai di uji pada hari ini dan akan di lanjut besok lusanya. Seluruh peserta disuruh untuk mempersiapkan segala macam persiapan juga termasuk mental mereka masing masing.
"Assalamualaikum Ibu." Panggil Arumi di dalam telepon setelah seseorang mengangkat panggilan masuknya.
"Waalaikumussalam Nak." Jawab Andini di telepon itu.
"Ibu bagaimana kabarnya. Yang lainnya juga bagaimana Bu?" Tanya Arumi berikutnya.
"Alhamdulillah baik Nak. Kamu disana bagaimana sayang?" Tanya Andini lagi.
__ADS_1
"Alhamdulillah juga baik Bu. Aku mau beri kabar baik Bu. Wisuda Hapalan aku dipercepat Bu. Rabu besok aku akan wisuda. Aku harap Ibu dan Bapak juga yang lainnya bisa hadir." Jelas Arumi.
"Masya Allah Nak. Ibu benar benar senang mendengar kabar ini sayang. Selamat Nak. Pertahankan hapalan kamu dan semoga menjadi ladang ibadah juga keberkahan yang abadi Nak. Tentu Ibu akan datang. Nanti akan Ibu kasih tau kepada yang lainnya." Jawab Andini sangat senangnya.