Suami SHOLEH Untuk ANDINI

Suami SHOLEH Untuk ANDINI
Klinik Wilona


__ADS_3

"Hallo Assalamualaikum, benar dengan keluarga atas nama Ibu Lina Margaretha?" Tanya seseorang di penghujung telepon.


"Waalaikumussalam. Benar saya Mertuanya." Jawab Rina kemudian.


"Kami dari Pihak Rumah Sakit Jamal mengabarkan bahwa Ibu Lina mengalami tabrak lari dan sedang di tangani oleh Dokter. Bisa Ibu datang kesini?" Ucap seseorang itu.


Rina kaget dan syok mendengarnya. Tanpa menjawab ucapan dari orang itu Rina tak sengaja menjatuhkan telepon rumah.


"Ibu kenapa? Siapa yang menelepon?" Tanya Andini yang lansung menghampiri Rina ketika melihat keadaan Rina yang tengah syok mendapat telepon tersebut.


"Lina Nak. Lina mengalami tabrak lari. Kita harus segera kesana. Cepat kasih tau Rafki." Ucap Rina kemudian dan meninggalkan Andini kemudian mengambil keperluannya.


Selesai menelepon Rafki, Andini pun bergegas mengikuti Rina untuk pergi ke Rumah Sakit yang dimaksud.


..."Allah menguji setiap orang dengan ujian yang berbeda beda, karena setiap orang memiliki tingkat kesabaran, toleransi, dan keimanan yang berbeda."...


..."Cara untuk meringankan penderitaan ketika ditimpa kesusahan dan musibah. Sadari bahwa itu telah ditakdirkan, itu hanya sementara, bisa saja lebih buruk dari itu, agamamu masih selamat, serta sadari bahwa banyak pahala yang akan kamu raih dengan musibah tersebut." – Sheikh Ahmad Musa Jibril....


...Jangan mengeluh, tetaplah berpegang teguh bahwa kita mempunyai Allah yang apapun kejadiannya itu karena Takdir Allah. Dan setiap takdir yang Allah berikan itu bukanlah karena Allah membenci kita, melainkan Allah sedang rindu harapan kita bersujud mengingat Nya melalui musibah yang Allah timpakan kepada kita....


"Lina." Panggil Rafki yang sedang duduk di bangku samping tempat kasur bujuran Lina.


"Sabar Ki. Ini ujian dari Allah. Kita harus berserah diri kepada Nya. Berdoa untuk keselamatan dan kebaikan yang Allah berikan kepada kita." Jelas Andini menguatkan Rafki.


"Terima kasih Kak. Sudah menyadarkan aku. Aku akan kembali. Kakak tunggulah disini." Jelas Rafki kemudian.


"Baiklah Ki."


Rafki yang berdiri dari duduknya kemudian keluar dan setelah keluar langkahnya terhenti karena seseorang berpakaian putih sebut saja Dokter, datang mendekatinya.


"Bisa bicara dengan keluarga Ibu Lina?" Tanya Dokter cantik itu.


"Saya suaminya Dok. Bagaimana keadaan istri saya?" Tanya Rafki masih dalam keterpurukan.

__ADS_1


"Istri Bapak harus segera kami operasi. Anak yang ada di dalam janinnya harus segera di keluarkan. Kalau dibiarkan lama akan berakibat fatal untuk keselamatan Ibu Lina. Anak yang di dalam kandungannya telah meninggal dunia." Jelas si Dokter.


Rafki meneteskan air matanya. Ia sungguh tidak bisa berpikir jernih dengan kondisi saat ini.


Pikiran campur aduk dan buram.


"Bagaimana Pak?" Tanya Dokter itu lagi.


"Lakukan yang terbaik Dokter." Jawab Rafki.


Dokter itu meninggalkan Rafki yang tengah ter duduk di kursi tunggu di depan ruangan Lina. Tubuhnya seolah tak bertulang. Lemah dan tak ada tenaga.


Rina menghampiri Rafki kemudian.


"Nak. Jangan begini. Berdoalah untuk istrimu agar ia bisa di selamatkan." Jelas Rina memeluk putra bungsunya itu.


"Ibu. Bagaimana aku menjawab pertanyaannya nanti jika bertanya tentang anak nya?" Tanya Rafki masih dalam kondisi menangis.


Ia lansung pergi ke rumah sakit.


"Bapak. Lina mengalami kecelakaan. Pelakunya juga melarikan diri. Aku sudah melaporkannya kepada pihak berwajib dan akan segera di proses." Jelas Rafki.


"Lalu bagaimana keadaan calon cucu saya?" Nazar lagi dan lagi bertanya sendu.


"Calon cucu Bapak sudah tiada Pak. Janinnya meninggal di dalam kandungan." Ucap Rafki kemudian tak tahan menahan air mata kepedihannya lagi.


Nazar pun tersentak kaget dan terduduk kemudian. Ia syok mendengar ucapan Rafki.


"Haruskah Lina mengalami penderitaan ini karena dosa dosanya ya Allah. Ampunilah anak saya. Jangan biarkan ia menderita." Ucap Nazar di sela tangisannya.


Rafki kemudian memeluk Nazar dan menepuk pelan punggungnya berharap agar Nazar bisa tenang.


"Ini adalah ujian dari Allah Pak." Ucap Rafki lagi kepada Nazar.

__ADS_1


Rafki duduk kembali di atas kursi tunggu merenung dan seolah tiada semangat.


"Kita harus kuat untuk Lina Nak." Ucap Rina menghampiri Rafki.


"Benar Ki. Jangan lemah seperti ini apalagi didepan Lina. Kamulah yang akan menjadi kekuatannya untuk saat ini." Lanjut Andini menimpali.


"Iya Bu, Kak." Jawab Rafki setelah menyeka air matanya kemudian berdiri dari duduknya bangkit melangkah meninggalkan ruangan Lina. Kemudian mengarah kepada Mushola yang ada di dalam Rumah Sakit itu.


Melaksanakan sholat sunnah untuk memperkuat kekuatannya juga ketakwaannya kepada Sang Maha Kuasa.


***


Semua tamu datang beramai ramai. Suasana bahagia yang membuat sebuah usaha kian berhasil dan membuahkan kebahagiaan tiada terkira.


"Alhamdulillah Ya Allah. Akhirnya aku sampai pada titik ini. Ini adalah suatu permulaan yang sudah lama aku nantikan. Berilah keberkahan atas usaha ini ya Robb. Jadikan suatu ladang ibadah baik hamba atau pasien nantinya ya Robb" Doa kecil Wilona di dalam hatinya.


"Selamat Dokter Wilona." Ucapan semua tamu undangan bergantian menyalami Wilona. Mereka yang datang ke klinik baru Wilona. Usaha yang ia bangun susah susah dan sekarang berakhir dengan pembuktian klinik sendiri atas nama Dr. Wilona.


Dihadiri juga dengan adanya Kevin kakak semata wayangnya bersama istrinya Jena. Begitupun Mama, Papa Jena pun juga hadir. Setelah Papanya sembuh dan terbang ke Jakarta. Berkumpul bersama di Jakarta juga begitu dengan Kaisar yang tengah sibuk memainkan ponselnya itu duduk sambil berbicara sendiri dan entah apalah yang sedang ia lakukan. Mungkin saja memainkan gadget nya itu main chip, permainan yang sedang membumi saat ini. Atau mungkin sedang berbalas pesan dengan seorang gadis kecil yang ia sukai.


Kaisar anak muda yang keras kepala. Pacaran? Itu hal lumrah baginya. Bahkan bukan hanya satu.


Meskipun Kevin dan Jena selaku Ayah dan Ibu Kaisar namun tidak mencerminkan sedikitpun lembutnya Jena dan baik hatinya Kevin. Atau keimanan Jena maupun Kevin sama sekali tidak. Kaisar hidup sangat berlatar belakang dengan Ayah Ibunya.


"Selamat ya Dek. Akhirnya usaha mu tak sia sia. Kakak bahagia sekali akhirnya kamu bisa mendirikan klinik sendiri seperti cita citamu Dek." Jena memeluk Wilona.


"Terima kasih banyak Kak. Ini semua pun berkat kalian semua. Tanpa kalian aku tidak mungkin bisa sampai ke titik ini." Jelas Wilona dan memeluk Jena, Kevin, dan juga se muhrim yang lainnya.


Wilona gadis mandiri yang tekatnya pekerja keras. Gadis yang tidak memikirkan perihal hati atau cinta. Sebab patah hati yang dalam akibat Rafki, lelaki yang ia taksir namun menikahi wanita lain.


Semenjak kegagalan itu Wilona menjadi tidak ambil serius perihal cinta tersebut.


Meskipun berkali kali Jena memberi semangat dan motifasi namun Wilona yang teramat kecewa memilih tak menghiraukan.

__ADS_1


__ADS_2