Suami SHOLEH Untuk ANDINI

Suami SHOLEH Untuk ANDINI
Hidayah


__ADS_3

"Cukup sekian kajian kita hari ini. Saya sudahi dengan membaca assalamualaikum warahmatullahi wabarokatu" Ucap Rasya diatas mimbar nya.


Kali ini hari pertama Andini mau diajak Sholat di mesjid. Dengan kebetulan dijadwalkan Rasya untuk membawa pengajian bada magrib.


Andini yang mulai belajar mengenal suaminya itu.


Meskipun belum seutuhnya Andini perlahan mencoba menerima takdir ini.


Menerima ajakan suaminya untuk sholat bahkan ajakan itu entah kesekian kalinya ia tolak dan hanya bisa mencela sebelumnya. Namun entah ada angin apa saat ini Andini dengan tidak terpaksa menerima ajakan Rasya bahkan untuk sholat berjamaah di masjid.


Selesai pengajian atau kultum dilanjutkan dengan adzan isya.


Seperti biasanya Rasya lah yang menjadi imam di masjid ini. Membuat Andini kembali terpukau oleh aura suaminya yang selama ini ia buta kan.


"Andini." Panggil Rasya yang melihat Andini sibuk melipat mukenah nya itu.


"Iya." Jawabnya.


"Mari kita pulang." Ajak Rasya.


"Ayolah."


Berada didekat Rasya seolah jantung Andini kian berdebar. Rasa pertama kalinya ia rasakan setelah pernikahan. dan Rasya pun terus mengucap syukur dalam hatinya. Meskipun belum seutuhnya Andini bisa paham dengan maksud baiknya setidaknya satu per satu ia mulai menerka dan mengerjakannya. Seperti halnya Andini yang membuatkan Rasya teh hangat pagi tadi ketika ia bangun tidur setelah sholat subuh. Aura perubahan Andini perlahan terlihat oleh Rasya. Meskipun Andini sendiri tidak menyadari akan perubahan sikapnya pada Rasya.


***


Jam dinding yang menunjukkan jam 20.30 wib Andini yang ingin sekali minum air dingin kemudian ia pergi menuju kulkas di dapur. Namun tiba tiba terdengar suara bising di jendela luar. Andini yang ketakutan terlihat sangat panik.


...'ya ampun. jam segini masak iya ada maling.' ...


...Ucap Andini dalam hatinya....


Perlahan satu langkah demi langkah ia kuatkan kakinya menuju tempat suara.

__ADS_1


Ia amati sekeliling nampak lah seorang pria memakai jaket sweater hitam celana Levis hitam dan memakai penutup wajah persis seperti maling.


Kemudian si maling membuka tutup wajahnya berdiri disamping Rasya yang tengah tertidur menikmati suasana malam angin sepoi sepoi.


Andini yang mengamati tingkah laki - laki tersebut. Kemudian terlihat jelas wajahnya ketika ia memalingkan wajahnya ke kiri ke kanan mengamati adakah yang melihatnya.


Dilihatnya kosong seolah berpikir semuanya sudah tidur. Kevin mengeluarkan senjata dari jaketnya itu. Andini dengan sigap lansung menghampiri dan menahan usaha Kevin.


"Apa yang kamu lakukan disini Kev?" Andini tanpa sengaja melihat Kevin memegang satu buah pisau dan mengarahkannya ke Rasya yang tengah tertidur di kursi goyang di depan teras luar kamarnya.


"Akan ku butuh pria kotor ini." Ucap Kevin geram.


"Apa-apa an kamu membela pria bejat ini?" Tanyanya lagi.


"Bukan begini caranya Kevin. Aku semakin jijik dengan tingkah mu Kev."


Rasya terbangun dari tidurnya dan kaget melihat ada Kevin disana bersama istrinya sedang berdebat hebat.


"Mau ngapain anda kesini?"


"Tidak ada yang namanya suami merebut istrinya sendiri."


"Dia pacarku."


"Itu sebelum kami menikah."


"Kurang ajar kau pria kotor."


"Cukup Kev. Pergilah dari sini. Hubungan kita sudah berakhir semenjak aku menikah dengan nya. Lupakan aku. Pergilah. Masih banyak wanita yang lebih baik dan pantas denganmu."


"Kamu keterlaluan Andini. Apa arti 3 tahun ini bagimu."


"Maafkan aku Kev."

__ADS_1


"Kamu akan menyesal memilih pria bejat ini." Lanjut Kevin meninggalkan tempat itu.


"Kamu tidak kenapa?" Tanya Rasya.


"Tidak." Jawabnya singkat meninggalkan Rasya di kursinya.


***


Di tepi kasur di atas kursi di dalam kamarnya. Andini yang terus menerus menerawang seolah memikirkan banyak hal.


Iya benar saja ini memikirkan tentang dirinya selama ini. Yang sudah menjadi anak tidak berbakti kepada orang tua. Menjadi wanita yang sangat jauh dari kata muslimah dan baginya surga hanyalah gurauan selama ini. Semenjak ia dinikahi oleh Rasya seolah menjadi tepukan hebat di kepalanya. Meskipun dari awal dirinya hanya selalu menyakiti dan melukai perasaan Rasya bahkan parahnya ia selalu mencaci maki suaminya itu. Seolah menuduh layaknya tidak tau apa apa bahkan sampai pernah membicarakan bahwa ia hanyalah islam murni atau islam abal abal. Namun sikap Rasya yang Membuatnya sadar akan semua nya. Selama ini telah salah menilai agama, dunia dan melihat tentang cinta. Di dalam pernikahannya yang sudah berjalan beberapa bulan ini bahkan hampir satu tahun namun tiada seperti layaknya rumah tangga. Rasya yang tanpa henti dan jenuh terus mengajarkannya banyak hal tentang kehidupan. Tidak pernah mengeluh bahkan mengasari nya sekalipun. Hanya sedikit bicara keras agar dirinya paham bagaimana sebenernya maksud Rasya yang ingin melihat dirinya menjadi manusia yang lebih baik dan patuh akan perintah Allah.


"Andini." Panggil Rasya masuk ke dalam.


"Iya." Jawabnya kaget karena tiba-tiba yang dipikirkannya datang menemuinya di saat bersamaan, saat Andini pun ingin hadirnya.


"Kenapa murung." Tanya Rasya menghampiri Andini.


"Tidak. Bisa bicara sebentar."


"Bicaralah!" Kini Rasya yang telah duduk di dekatnya. Di atas kasur tepat di hadapan Andini.


"Aku ingin minta maaf atas semua kesalahan dan dosa ku selama ini pada mu." Ucap Andini penuh sesal dan memberanikan diri memegang tangan suaminya itu.


"Selama ini kita menikah aku yang tak pernah menjadi istri bagimu. Bahkan hanya mencela dan mencaci sampai memaki setiap apa yang kamu bicarakan padahal itu benar adanya. Tidak pernah menghargai mu sebagai suami. Bahkan tidak menerima kehadiranmu." Lanjutnya.


"Maafkan aku untuk segalanya. Aku ingin berubah. Aku ingin benar benar menjadi istrimu. Aku ingin menjadi wanita yang baik dan menjadi istri yang sholehah. Aku ingin memperbaiki semuanya." Ulasnya lagi. Kali ini disertai dengan tetesan air mata yang sudah membasahi pipinya.


"Alhamdulillah. Aku sudah memaafkan mu. Ketika menikah denganmu aku sudah siap menerima konsekuensinya."


"Terima kasih suamiku. Tuntun aku menjadi lebih baik. Terima kasih sudah membuka dan mengetuk pintu hatiku. Aku juga ingin besok kamu mengantarkan aku ke pondok mendiang ayah. Aku ingin belajar banyak hal disana. Terutama tentang menjadi wanita dan istri yang sholehah. Ayah inginkan itu semua." Ucap Andini terus menangis tiada henti kini berada dalam pelukan Rasya.


"Masya Allah. Baik istriku. Itu pasti. Aku juga akan belajar menjadi suami yang baik untukmu." Rasya yang tengah menarik tangan istrinya itu seolah memberi isyarat untuk mendekat dengannya. Andini yang reflek lansung berdiri berniat untuk duduk di samping Rasya namun tiba-tiba dirinya tergelincir membuat dirinya terjatuh namun kali ini terjatuhnya itu harapan.

__ADS_1


"Maafkan aku pernah berbicara akan menggugat cerai kamu." Ulas Andini bangkit dari rebahan nya.


__ADS_2