Suami SHOLEH Untuk ANDINI

Suami SHOLEH Untuk ANDINI
Pulih


__ADS_3

...*Ujian adalah sarana dari Allah, untuk meningkatkan kualitas hidup bukan untuk membebani hidup....


...Terkadang ia hadir berupa musibah, dan terkadang ia hadir melalui mukjizat....


...Tugas kita hanyalah bersabar, dan ikhlas menerimanya....


...Sungguh semua itu adalah takdir Allah....


...Dan akan menjadikan simpanan kekayaan di surga nanti, bagi orang yang mulia di sisi Allah.*...


"Mas." Panggil Andini.


"Iya sayang." Jawab Rasya.


"Bagaimana keadaan Mama. Seingat aku kita habis kecelakaan." Tutur Andini.


"Nanti setelah sampai di Jakarta aku akan bawa ke tempat Mama ya. Kecelakaan itu sudah enam bulan yang lalu." Jelas Rasya.


Andini hanya mengangguk pelan seolah mengiyakan ucapan suaminya.


Namun di hatinya penuh dengan tanda tanya. Berusaha mengingat lagi kejadian selama ia tidak sadarkan diri sebelumnya.


Tak berapa lama setelahnya, penerbangan itu sampai di tempat pelabuhan Jakarta pusat.


"Ayo sayang. Kita lansung pulang. Tapi kerumah Ibu ya." Ucap Rasya.


"Kenapa tidak kerumah kita Mas?" Tanya Andini.


"Nanti setelah dirumah Ibu aku akan bawa ke tempat Mama." Jelas Rasya.


"Oh baiklah Mas." Jawab Andini mengangguk pelan.


"Assalamualaikum Ibu. Kami sudah mendarat. Andini sudah mengingat hampir seutuhnya. Aku harap Ibu dan semuanya merahasiakan dulu Mama Sinta. Sebab waktu untuk menjelaskannya kepada Andini belum ada Bu. Tunggu kami dirumah. Kami akan segera sampai. Salam rindu dari anakmu Bu." Pesan singkat itu terkirim kepada Rina.


***


"Ki, Lin." Panggil-panggil Rina.


"Iya Bu." Jawab keduanya dan lansung menghampiri.


"Kakak kamu dan Mbak mu sudah menuju kesini Nak. Tadi mengirim pesan agar kita diam tentang Sinta." Jelas Rina.


"Baiklah Bu. Aku kasihan melihat nasib Mbak Andini Bu." Lanjut Lina.


"Iya. Ini semua sudah takdir Yang Kuasa. Kita hambanya hanya bisa menerima dan ikhlas menjalaninya." Jawab Rina pasti dengan wajah murung. Karena jujur saja ia sendiri pun mengkhawatirkan nasib rumah tangga anaknya itu.


Disisi lain kini Arumi yang tengah menyelesaikan mondok nya. 12 tahun berada di lingkungan pesantren. Gadis itu tumbuh anggun dan berbudi pekerti agama yang lurus.

__ADS_1


Meskipun masih berusia belia, Arumi mengalami musibah yang besar.


Saat ini, jiwa yang sabarnya sudah bergejolak, hingga keikhlasan di hatinya sudah terpupuk dan tertanam rapi.


"Arumi. Nanti kalau Ibu sudah pulang. Jangan dulu beri tahu tentang Nenek Sinta ya Nak. Ibu akan sedih jika mendengarnya dari kita. Biar Bapak yang menjelaskan kepada Ibu pelan pelan." Ucap Rina.


"Baiklah Nek. Ibu sudah pulang kesini?" Tanya Arumi.


"Iya Nak. Sebentar lagi mereka sampai." Jawab Rina.


***


...Tempat ini, menyimpan begitu banyak kenangan manis di dalamnya....


...Sangat disayangkan kenapa aku bisa melupakannya begitu saja....


...Hingga sudut sudut ruangan pun aku hapal letaknya....


...Namun kini aku kembali dengan hati yang lama....


...Bersemayam dengan takdir baru, karena ingatan itu datang kembali merasuki jiwa ini....


...Masya Allah, ini semua dari Allah....


...Merangkul aku dengan ujiannya hingga tercipta diri yang lebih tabah dan dewasa....


"Assalamualaikum." Panggil Rasya mengetok pintu masuk rumah itu.


Tinggal pergi ke luar negeri, demi pengobatan sang istri tercinta.


"Waalaikumussalam Nak." Peluk Rina.


Arumi gadis kecil yang berlari keluar datang lansung ke pelukan Andini.


"Ibu." Teriak Arumi histeris setiba di dalam pelukan Andini.


"Ibu merindukan mu Nak. Maafkan Ibu yang sempat tidak mengenali anak cantik Ibu. Itu adalah hal terburuk yang pernah ada." Ucap Andini.


"Aku juga sangat merindukan Ibu. Sudah Bu, yang penting sekarang Ibu sudah kembali pada kita." Jawab Arumi.


Keduanya menangis dan tak dapat ditahan lagi Rafki dan juga Lina yang sedari tadi mencoba kuat kian meneteskan air matanya.


Melihat suasana haru saat ini.


"Ibu, dimana Mama?" Tanya Andini tiba tiba setelah selesai drama peluk pelukan.


"Oh iya tadi Ibu dan Lina masak, masakan kesukaan kamu Nak. Kita makan dulu ayok!" Ajak Rina berusaha mengalihkan pertanyaan Andini.

__ADS_1


Andini bungkam di tempat berdirinya, Rasya yang mengagetkan menepuk pelan punggung istrinya, membangunkan dari lamunannya.


"Hah iya Bu. Aku merindukan masakan Ibu mertua yang cantik jelita ini." Jawab Andini lagi yang membuat suara tawa pecah seisi rumah itu.


"Ibu merindukan gombalan menantu yang Ibu sayangi ini." Jawabnya lagi.


"Ibu bisa saja. Kami juga menyayangi Ibu semuanya." Balas Andini.


Setelah makan dan kekenyangan semuanya mengambil posisi pekerjaan. Dimana Rasya dan Rafki membereskan peralatan Andini dan Rasya selama di Amerika. Dan Lina, Andini, Rina dan juga Arumi pergi ke taman di halaman rumah itu. Membawa berupa tenda perkemahan kecil yang indah dan unik, dan juga berupa cemilan kecil.


Rasya yang memasukkan barang barang berupa pakaian dan sebuah oleh oleh khas Amerika yaitunya Chirardeli Chocolate, produk coklat Amerika yang cukup populer di kalangan wisatawan yang mereka bawa. Mengemas nya dan merapikan kembali pakaian mereka. Rasya dibantu Rafki, dan Andini juga Lina sedang tertawa bahagia bersama Arumi gadis kecil, seperti malaikat pembawa kemanisan di dalam hangatnya keluarga besar mereka.


Berlarian seperti anak kecil, semuanya kecanduan hingga Lina merengek kesakitan, ketika kakinya tersangkut disebuah batu yang mengganggu di taman ini.


Setelah bagian Rasya dan Rafki selesai mereka menyusul ke taman menikmati kebahagiaan disana.


Menyantap cemilan ringan berupa stik dan coklat tadi. Ditambah minuman segar jus alpokat di sore ini. Menambah suasana haru di dalam hangatnya rumah tangga keluarga ini.


"Lelah juga akhirnya ya. Aku ke kamar dulu. Ayo nak, bersih bersih. Yang lainnya juga. Udah pada dekil." Ucap Andini menggandeng tangan Arumi putri kecil itu.


Selesai membersihkan diri, Andini duduk di depan Rasya. Diujung kasur di samping Rasya suaminya.


"Mas bagaimana dengan Mama?" Tanya Andini lagi.


"Aku mandi dulu sayang. Setelah itu kita ke tempat Mama." Jawab Rasya.


"Baiklah Mas."


Rasya mengambil handuk dan mandi, setelah itu berkemas memakai pakaian rapi seperti biasanya.


"Ayo sayang." Ajak Rasya sambil mengambil kunci mobil di gantungan.


"Ayo Mas." Jawabnya lansung mengambil tangan kiri suaminya, seolah meminta agar digandeng mesra.


"Ibu kami ke tempat Mama dulu." Ucap Andini.


"Hati hati Nak." Jawab Rina.


Rasya melajukan mobil itu, suasana kota di sore ini kian macet, ratusan kendaraan yang mengantri dan salah satunya itu juga dengan Rasya dan Andini.


Sekitar satu jam di perjalanan yang padat.


"Mas kenapa kita lewat sini? Bukannya rumah Mama di Perumahan Griya." Tanya Andini.


"Sebentar sayang." Balas Rasya.


Andini yang menyimpang segudang pertanyaan dan membuatnya merasakan cemas dan takut.

__ADS_1


Perasaan aneh ini merasuk ke jantung dan jiwa raganya, membuatnya diam seribu bahasa.


Hingga mobil itu berhenti tepat di depan TPU Tempat Pemakaman Umum.


__ADS_2