
“Selamat pagi Dok.” Sapa Ranti, suster yang sudah lama membidangi pekerjaannya di sebuah klinik bernama XXX.
“Pagi Sus Ranti.” Jawab Galfin sopan.
Ranti yang memang sudah sejak lama memendam rasa kagum dan bahkan lebih dari itu. Ranti adalah sahabat Galfin semenjak mereka masih berusia kanak kanak. Hingga sekolah bahkan sampai saat ini Ranti dan Galfin selalu berada di tempat yang sama. Pekerjaan yang sangat mereka nantikan sejak dulu.
Galfin yang memang bercita cita menjadi seorang Dokter, dan Ranti bercita cita menjadi seorang Suster. Alhamdulillah takdir berkehendak pada keinginan mereka.
”Galfin makin hari makin ganteng saja. Bikin meleleh.” Ranti membincang dengan hatinya sambil melanjutkan langkahnya pergi meninggalkan Galfin yang juga sudah menghilang pergi ke ruangannya.
“Lah kenapa sih aku mikirin Galfin mulu.” Ocehnya lagi kemudian.
“Suster Ranti mohon bantuannya untuk Suster Lela di depan. Ada pasien gawat korban kecelakaan.” Ucap seorang Dokter yang berhasil menghentikan lamunan Ranti.
“Oh baiklah Dok.” Ucapnya lansung pergi kemuju tempat diberitakan tadi padanya.
Setiba di depan benar saja. Hanya Suster Lela yang mengawal tanpa ada yang lainnya. Ranti lansung menghampiri Lela yang memantunya membawa korban lansung ke ruangan ICU.
“Terima kasih Ran.” Ucap Lela.
“Sama-sama La.” Ucap Ranti lagi. Kemudian keduanya sama sama meninggalkan ruangan itu setelah ada beberapa Dokter yang menangani pasien tersebut.
“Oh ya Ran. Bagaimana hubunganmu dengan Dokter Galfin? Sudah ada kemajuankah?” Tanya Lela. Seperti biasa dilain kesibukannya mereka Ranti dan Lela adalah karib akrab semenjak keduanya sama sama diterima bekerja di klinik kecil ini. Meskipun kecil namun lokasi strategis yang membuanya selalu ramai dan kalah saing dari Rumah Sakit sekalipun.
“Entahlah La. Kadang aku mulai lelah deh. Ngejar cowok tanpa kejelasan. Udah sekian tahunnya bahkan semenjak masa kecil dulu. Namun Galfin tetap no respon ke aku.” Jawab Ranti pasrah.
“Yang sabar Ran. Kejar terus. Pastinya yang namanya jodoh itu nggak kemana kok. Juga nggak bakal ketuker. Tinggal nunggu waktu yang pas aja lagi nanti akan dipersatukan di saat tepat. Tetap bukan berarti cepat.” Lela menjawab dengan yakin.
“Makasih ya La.”
“Iya Ran. Semangat pokoknya.”
Ranti tiada membalas lagi sahutan Lela hanya senyuman manisnya itu yang sengaja iya pancarkan untuk Lela.
***
‘Dedaunan mulai gugur berjatuhan,
Membuat ranting semakin terlihat akan hadirnya,
Batang yang terlihat sedih kehilangan daun,
Namun dibawah sana ada tanah yang merindukan hadirnya,
__ADS_1
Tumbuhan lain ikut tersenyum menyambut kehangatan itu.’
“Sayang.” Panggil Rasya.
Panggilan khas itu mengejutkan Andini yang tengah sedang menikmati keindahan alam di pagi ini.
“Iya sayang, kenapa?” Tanya Andini kemudian.
“Tidak ada sayang. Aku kehilangan istriku dikamar tadi.” Jelasnya kemudian mendekati Andini yang sedang duduk manis di tempat duduk di taman sebelah rumah kecil yang merka tempati.
Meskipun luarnya terlihat kecil, namun kehangatan rumah tangga mereka sangatlah utuh. Hingga semua wanita merindukan sosok seperti rumah tangga mereka.
“Maaf sayang. Tadi aku nggak tau mau ngapain. Bosan banget sayang. Rasanya ada perasaan yang aneh yang aku sendiripun tidak tahu apa maksudnya. Makanya aku kesini.” Jelas Andini.
“Ya sudah sayang. Ada apa dengan kamu? Kenapa pikirannya nggak enak. Apa yang sedang mengganggu pikiranmu itu?” Tanya Rasya.
“Entahlah mas. Seolah aku merasakan kebahagiaan ini akan hilang tiba-tiba.”
“Apa yang kamu bicarakan sayang. Jangan berpikir yang tidak-tidak.”
Andini kemudian memeluk Rasya. Entah kenapa Andini merasakan perasaan yang sangat amat aneh itu. Seperti ia akan kehilangan Rasya suaminya.
“Sudah sayang. Hentikan pikiran jelek itu. Aku sayang padamu.” Rasya mengeratkan pelukannya membuat kehangatan yang alami untuk Andini.
“Iya sayang. Semoga ini hanya tentang pikiran buruk saja.”
“Tetaplah bersamaku. Meskipun kelak akan ada ujian yang memberatkan rumah tangga kita Mas.”
“Tentu sayang. Setiap rumah tangga akan memiliki ujian sesuai porsinya masing-masing. Tiada rumah tangga yang tidak ada ujiannya sama sekali. Dan alhamdulillah udah tahun kesekian kalinya pernikahan kita Allah selalu memudahkan kita melewati berbagai macam ujian dari Nya. In syaa Allah kedepannya juga akan seperti itu.” Jawab Rasya kemudian.
Andini tidak sadar kini ia meneteskan beberapa bulir air matanya itu masih dalam pelukan Rasya.
“Ada apa denganmu istriku. Ya Allah pertanda buruk apa ini? Kuatkan kami Ya Allah.” Rintihan Rasya di dalam hatinya.
“Ya sudah sayang. Kita balik kerumah yok. Aku lapar.” Ucap Rasya mengawali pembicaraan dan topik baru.
“Ya ampun. Suamiku lapar ya. Ya sudah ayo balik.” Balas Andini.
Dibalas kecupan hangat singkat dikening mulus milik Andini.
“Ini sayang.” Andini memberikan sepiring nasi berisi beberapa lauk dan juga sayurannya. Tak lupa minuman sengar yang sehat berupa segelas air putih.
“Terima kasih istriku.” Ucap Rasya.
__ADS_1
“Boleh aku suapin Mas?” Tanya Andini kemudian.
Awalnya memang Rasya kaget dengan ucapan Andini, namun berusaha ia alihkan dan bersikap biasa saja.
“Tentu sayang. Aku juga akan merasa amat terhormat diperlakukan manis oleh istri secantik kamu.” Goda Rasya.
Andini menyuapi Rasya sarapan pagi ini.
Seketika diselingi beberapa pembicaraan yang membuat keduanya sama sama tertawa lepas sangat bahagia.
**
“Ki. Permisi, ini teh hangat untukmiu.” Ucap Lina membawakan Rafki teh hangat seperti biasnya. Kini rumah tangga mereka kian membaik setelah badai datang dalam kehidupan rumah tangga mereka.
“Makasih Lin. Taruh disitu saja.” Ucap Rafki menunjukkan ke tempat dekat meja kecil disamping tempat tidur mereka. Meskipun belum adanya malam pertama di antara Lina dan Rafki, karena keduanya sama-sama salah pikir.
Lina yang berpikir Rafki yang belum siap menerimanya, dan Rafki yang berpikir jika Lina masih dengan traumanya.
Namun keduanya perlahan mulai membaik.
“Mau kemana Lin?” Tanya Rafki yang melihat Lina hendak pergi dari kamar.
“Nggak. Aku Cuma mau kebawah lagi. Nggak enak sama Ibu diluar sendirian.” Jawab Lina polos.
“Oh gitu. Baiklah. Aku akan segera menyusul.” Jawab Rafki. Yang kemudian hanya dibalas senyuman dari sang istri.
“Ibu.” Panggil Rafki.
“Iya Nak. Kamu tidak ke Rumah Sakit hari ini?” Tanya Rina.
“Nanti Bu. Jadwal dinas siang.” Jawab Rafki.
Dibalas anggukan kecil menandakan bahwa Rina paham akan maksud Rafki.
“Aku rencana mau ngajak Lina liburan Bu. Ibu ikut ya!” Ajak Rafki.
Lina kaget dengan ucapan suaminya. Baru kali ini ia mengajak hal demikian.
“Kemana Nak?” Tanya Rina.
“Entahlah Bu. Belum pasti. Kemana Lina mau aja nanti.” Jawab Rafki.
“Kalian saja yang pergi. Ibu jaga rumah saja. Jangan lupa bawakan Ibu oleh-oleh dari sana.” Goda Rina.
__ADS_1
“Ibu mau oleh-oleh apa?” Tanya Rafki.
“Cucu misalkan.” Goda Rina lagi.