
"Sinta." Sapa Rina besannya.
"Iya Rin. Masuklah!"
"Gimana kabarmu?"
"Baik alhamdulillah. Kamu sendiri bagaimana kabarnya?" Jawab Sinta dan menanyakan juga bagaimana kabar sahabatnya.
"Alhamdulillah juga baik. Saya kesini mau mengajak kamu. Sesekali mari kita yang kerumah anak anak kita. Jangan hanya mereka yang menengok kita." Ide Rina menjelaskan.
"Oke. Ide yang bagus Rin. Sebentar aku siap siap dulu." Ucap Sinta. Setelah selesai menjamu Rina dengan minuman segar dan beberapa cemilan Sinta meninggalkan Rina di meja tamu dan pergi ke kamarnya untuk bersiap.
Sesampainya dirumah anak anak mereka disambut penuh dengan cinta. Karena memang waktunya tepat. Disaat Rasya masih dirumah dan Andini tidak ada jadwal kemanapun.
"Mama Ibu masuklah!" Ajak Andini.
"Iya nak. Bagaimana keadaan kalian disini?" Tanya Rina.
"Alhamdulillah Ibu. Baik saja. Ibu bagaimana? Mama juga bagaimana?"
"Alhamdulillah kami juga baik nak."
"Ibu sama Mama repot repot datang kesini. Lagian kalau rindu kan bisa telepon kami akan kerumah Mama dan Ibu." Ucap Andini.
Rasya yang senyum senyum melihat perbincangan mereka.
"Tidak mengapa lah nak. Sesekali kami yang nengok kesini."
"Sama apa Ibu dan Mama kesini?"
"Tadi pesan taksi online."
"Mama dan Ibu menginap lah beberapa hari dulu disini!"
"Jangan nak. Nanti kami mengganggu waktu kalian. Lagian rumah kita tidaklah jauh nak."
"Jangan Ibu. Untuk beberapa saat saja Bu Ma."
__ADS_1
"Baiklah jika kamu memaksa untuk disini nak. Kami akan menginap malam ini. Ia kan Rina." Tanya Sinta menuju Rina.
"Baiklah." Jawab Rina singkat.
Setidaknya mereka akan tau bagaimana kemajuan rumah tangga anak anak mereka itu.
"Ya sudah habiskan hari sesuka kamu Sayang ajak Mama juga Ibu sekalian. Dan aku akan berangkat kerja." lanjut Rasya kemudian
"Oke sayang. Itu pasti." Jawab Andini.
Sinta dan Rina kaget mendengarnya. Ucapan sayang sama keluar dari ucapan mereka. Sinta sangatlah bahagia melihat anaknya yang sudah bisa menerima bahkan sudah menyayangi menantunya itu. Juga Rina yang begitu gembira mendengar menantunya Andini sudah menerima putranya itu. Usaha putranya pun tidak sia sia. Mereka sudah bisa menerima satu sama lain. Usaha Sinta dan Rina menjodohkan mereka berdua pun tidaklah percuma. Dan ternyata itu berhasil membuat Andini berubah menjadi wanita yang lebih baik lagi.
"Bagaimana Rasya denganmu nak?" Tanya Rina
"Ibu benar. Mama juga benar. Almarhum Ayah juga benar. Telah menjodohkan aku dalam pernikahan yang sangat membuatku terbuka lebar pikiran maupun hati. Meskipun awalnya sangat berat. Namun akhirnya aku bersyukur bisa menjadi istri seorang Rasya yang sholeh dan selalu menuntunku kepada hal kebaikan. Perlahan aku mulai bisa mengenalnya bahkan mencintainya dengan sesungguhnya. Perjodohan ini kali ini sudah tidak memaksaku lagi. Sekarang aku benar jatuh cinta di dalam perjodohan melalui pernikahan ini." Ucap Andini panjang lebar.
"Masya Allah nak. Alhamdulillah. Mama sangat senang. Tujuan Ayah akhirnya terwujud. Ayah pasti senang disana melihat perkembangan putrinya yang ia tinggalkan." Ucap Sinta sambil menitikkan air matanya.
"Jangan menangis ma. Semuanya benar apa yang saat ini terjadi adalah yang terbaik. Aku bersyukur Ayah sudah memilihkan suami terbaik untukku Ma."
"Semoga rumah tangga kalian menjadi keluarga yang sakinah mawadah wa rohmah nak." Rina menimpali.
'Alhamdulillah ya Allah akhirnya engkau beri putri hamba hidayah mu. Masya Allah.' Ucap Sinta dihatinya penuh syukur.
"Bagaimana kalau kita jalan jalan? Mumpung masih siang." Ajak Rina kemudian.
Rina adalah sosok yang selalu mengeluarkan ide ide kreatifitasnya apalagi tentang jalan jalan ataupun hiburan. Ibu kece yang tidak ketinggalan teknologi.
"Ayok Ibu. Kemana?" Tanya Andini melanjutkan.
"Gimana kalau ke Pondok?" Sinta bersuara. Sinta seorang Mama yang tak kalah kece nya dari Rina. Bagi Andini Sinta adalah sosok Mama terbaik dan terhebat didunia. Namun kali ini ia sudah memiliki orang tua dua. Satu Mamanya dan satu lagi Ibunya. Keduanya selalu mendapat perlakuan sama dari Andini.
"Baik. Ayo sekarang siap siap." Rina lagi menjawab.
Pondok adalah suatu tempat teratas yang ada dalam ingatan mereka saat ini. Entahlah kan sehabis ke pondok akan kemana lagi.
Sesampainya di pondok Andini mengajak Ibu dan Mama nya jalan jalan mengelilingi lingkungan Pondok Pesantren tersebut. Namun Sinta memilih untuk tidak mengikuti hanya Andini dan Rina saja.
__ADS_1
Sinta yang memilih datang menemui Ruangan Ustad Ustazah kembali ketika hanya dirinya sendiri kali ini Sinta memberanikan diri menanyakan tentang bagaimana perkembangan Andini yang nampak di Pondok ini. Karena beberapa hari belakangan Andini sudah aktif di Pondok. Tidak hanya belajar namun juga mengajar berbagai hal tentang ilmu keagamaan.
"Ustazah Bunga. Saya mau bertanya tentang Andini. Bagaimana ia selama sudah berada di lingkungan ini?"
"Masya Allah Bu Ustazah. Ustazah Andini sudah sangat jauh perkembangannya. Sekarang sudah selalu memakai pakaian yang syari juga bahasa maupun tingkahnya yang sudah sangat sopan dan ramah sekali Bu Ustazah." Jelas Bunga
"Alhamdulillah. Beri tahu saya lagi kalau ada perubahan lainnya pada Andini. Terima kasih Ustazah Bunga." Lanjut Sinta.
"In syaa Allah bu Ustazah. Saya akan selalu memberi tahu." Ulas Bunga menjawab.
Ketika selesai berkeliling tak terasa kini perut Andini maupun Rina berbunyi nyaring karena cacing didalamnya sudah menari nari meminta makan dan jatah siang ini.
"Kita makan disini atau diluar?" Tanya Sinta
"Terserah Ma." Jawab Andini.
"Bu Ustazah, dan Ustazah Andini juga Ibu Ustazah Rina. Makanan sudah ada di ruangan makan. Mari kita makan bersama sama." Panggil Bunga mendekat.
"Merepotkan." Jawab Rina.
"Tidak Bu. Hari ini kedatang kita semua sudah kami tunggu tunggu." Ucap Bunga kembali.
Andini Rina dan Sinta kemudian tiada pilihan selain mengikuti permintaan Bunga Pengajar di Pondok. Hal yang biasa karena ketika mereka datang berkunjung akan selalu di jamu dengan makanan bahkan cemilan lainnya.
***
Setelah seharian berkelana, dan masih banyak tempat yang belum di jelajahi. Namun sudah sangat melelahkan tubuh ini. Lelah namun ada rasa yang namanya bahagia di dalamnya. Bisa menikmati perjalanan manis bersama Mama dan Ibu.
"Selesai mandi turunlah nak!" Panggil Sinta di depan pintu kamar Andini.
"Baik Ma. Aku segera kebawah!" Jawab Andini di dalam kamarnya. Ia masih sibuk dengan jilbabnya yang belum terpasang rapi.
"Kamu sudah merencanakan untuk mempunyai anak?" Tanya Sinta ketika Andini sedang sibuk memainkan gadgetnya melihat siapa yang mengirimkan pesan singkat untuknya.
Dengan terkejut dan sangat kagetnya Andini tak sengaja menjatuhkan handphone di tangannya.
"Apa Ma? Anak?" Tanya Andini lagi.
__ADS_1
"Iya. Kami sebagai orang tua kalian sudah rindu ingin menimang cucu. Apa salahnya kalian sudah setahun menikah. Untuk apa lagi memperlambat mempunyai keturunan." Ucap Sinta.