Suami SHOLEH Untuk ANDINI

Suami SHOLEH Untuk ANDINI
Ungkapan Perasaan Rafki


__ADS_3

Wilona selesai melaksanakan sholat subuh, kemudian lansung siap siap berangkat ke Rumah Sakit. Karena baru saja dapat panggilan dari salah seorang Perawat di Rumah Sakit ada pasien yang butuh penanganan segera.


"Dek." Panggil Kevin. Karena rasanya sedikit haus Kevin turun ke bawah menuju dapur. Namun tiba tiba kaget melihat Wilona yang mau pergi membawa beberapa perlengkapan dan sudah sangat rapi menggunakan pakaian dinasnya.


"Iya Kak." Jawab Wilona menoleh ke asal suara. Kevin yang berdiri di belakang Wilona.


"Se pagi ini berangkatnya Dek?" Tanya Kevin.


"Iya Kak. Ada pasien gawat darurat Kak." Jelas Wilona.


Selesai Wilona salim dengan Kakaknya itu kemudian meninggalkan Kevin di ruangan tersebut.


"Hati hati Dek." Ucap Kevin kemudian di saat Wilona masih belum begitu jauh dan Wilona pun masih bisa mendengarnya.


"Siap Kak. Dah bye Kak." Jawab Wilona yang sudah hampir tidak tampak oleh Kevin.


Kevin melanjutkan langkahnya mengambil air di dalam lemari es. Mengambilnya dan meminumnya.


Kevin kembali ke dalam kamarnya. Membangunkan Jena.


"Sayang bangunlah! Kamu belum sholat subuh. Hari sudah hampir pagi." Ucap Kevin dan menciumi bibir Jena terus terusan hanya berjeda beberapa detik. Dan sampai akhirnya Jena pun bangun.


"Mas. Sudah. Aku jadi malu. Dibangunin suami. Beberapa hari belakangan ini aku jadi telat bangun subuh. Selalu Mas yang bangunin." Jawab Jena berusaha bangkit dari tidurnya.


"Itu tak masalah sayang. Itu gunanya suami. Disaat istrinya khilaf dan tak bisa bangun pagi suamilah yang bertanggung jawab membangunkannya. Tapi maaf, Mas sudah sholat duluan. Karena dari tadi Mas bangunin kamunya nggak bisa bangun." Jelas Kevin kemudian.


"Ya sudah Mas. Pagi ini berarti absen dong sholat jamaahnya." Jena lesu.


"Maaf sayang. Ini akan menjadi waktu terakhir kita tidak sholat berjamaah. Insyaa Allah." Jawab Kevin lagi.


"Iya sayang. Semoga. Ya sudah aku ambil wudhu dulu habis itu lansung sholat." Pamit Jena.


Jena yang tengah berdiri dari tempat tidurnya mendapatkan ciuman singkat di keningnya memperkuat tali kasih dan sayang di dalam rumah tangga mereka.


****


Brak.


Tabrakan itu lagi lagi tak disengaja dan tiba tiba saja terjadi.


Bahan Wilona selesai penanganan kasus darurat tadi pun tercerai berai. Jatuh berserakan di lantai.


Membuatnya kesal tanpa melihat lawan tabrak tubuh tersebut.


"Jalan pakai mata dong. Buku saya jadi berserakan." Ucap Wilona dan menunduk memunguti buku dan berkas berkasnya.

__ADS_1


"Sinis amat Mbak." Ucap pemuda tersebut dan membantu Wilona memungutinya.


"Dokter Wilona." Ucap pemuda tersebut.


Wilona menoleh ke asal suara karena mengenali dirinya.


"Terima kasih. Lain kali hati hati kalau jalan." Ucap Wilona dan beranjak pergi meninggalkan pemuda tersebut. Entah apa tujuan dan maksudnya datang kemari. Siapa dia. Entah lah.


Wilona yang sampai diruangan kerjanya. Berniat istirahat sejenak. Namun lagi dan lagi telepon genggam itu berdering. Yang tanpa mengenal bahwasanya tubuh Wilona sudah sangat amat lelah melayani beberapa pasien sedari tadinya.


"Iya ada apa Sus?" Tanya Wilona.


"Seseorang mencari Dokter. Bisa saya suruh lansung ke ruangan Dokter atau bagaimana." Jelas Suster.


"Baiklah Sus." Ucap Wilona kemudian menutup telepon tersebut.


Tidak lama kemudian terdengar suara ketokan pintu diluar. Menandakan seseorang akan masuk.


"Masuklah." Ucap Wilona dari dalam.


"Permisi Dok. Assalamualaikum." Sapa seseorang yang masuk ke dalam ruangannya itu.


Kursi putar Wilona yang mengarah ke jendela lansung berputar menuju asal suara. Sebab suara tersebut sangatlah tidak asing baginya.


"Waalaikumussalam." Jawab Wilona gugup dan terbata.


"Duduklah Dokter Rafki." Ulas Wilona kemudian.


"Terima kasih Dokter Wilona. Saya kesini berniat untuk memberikan ini Dok. Datanglah!" Ucap Rafki memberikan selembaran undangan bertulisan nama Rafki dan Lina di sampulnya tersebut.


Wilona sangat sedih melihat seseorang yang ia sukai memberikannya undangan pernikahan seperti ini.


"Ada apa Dok?" Tanya Rafki menyadarkan Wilona dari renungannya.


"Tidak kenapa. Baiklah." Ucap Wilona tanpa mengambil undangan tersebut dari tangan Rafki. Begitu amat menyakitkan baginya.


Rafki yang sudah mengerti tingkah Wilona. Sebab ia pun juga merasakan sakit dan debar yang berbeda saat berdekatan dengan Wilona.


Kemudian Wilona ambil alih mengerjakan beberapa pekerjaan yang tertunda tadi menghilangkan rasa kesedihannya itu yang begitu dalam.


"Wilona." Panggil Rafki.


"Iya kenapa? Masih ada yang penting?" Tanya Wilona tanpa melihat ke asal suara.


"Aku tau kamu sedih melihat undangan ini. Aku juga sedih meninggalkan seorang wanita yang sudah membayang bayangiku kemana pun seolah di dunia ini hanya ada dirimu Wilona, dalam pernikahan yang kian menjebakku." Jelas Rafki.

__ADS_1


Wilona menoleh ke arah Rafki. Di ruangan ini hanya ada Wilona dan Rafki.


"Aku tau kamu menyukai ku Wilona. Begitupun aku. Sebenarnya perasaan ini adalah namamu Wilona." Ucap Rafki lagi.


Wilona hanya menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Rafki tak terasa kini air matanya jatuh berlinangan.


"Sudahlah Rafki. Semuanya sudah terlambak. Aku juga terlambat menyadari semua ini. Biar aku bangkit dengan sendirinya. Dalam rasa yang amat menyiksaku ini." Jelas Wilona kemudian menyeka air matanya.


"Aku minta maaf. Jodohlah yang tidak berpihak kepada kita." Jelas Rafki.


"Pergilah sekarang. Jodohmu menunggumu." Ucap Wilona memalingkan kursi putarnya.


"Assalamualaikum." Ucap Rafki berdiri dan meninggalkan Wilona di ruangannya tersebut.


Wilona bungkam tidak dapat menjawab salam dari Rafki. Air matanya yang terus keluar membuat kekuatannya jadi melemah.


***


"Sayang." Panggil Rasya.


"Iya." Jawab Andini singkat dan menghentikan aktifitasnya yang sedang memasak sarapan untuk makan malam hari ini.


Rasya kemudian melingkarkan kedua tangannya di pinggang Andini. .


"Kenapa sayang?" Tanyanya kemudian.


"Aku merindukan Arumi sayang. Bisa kita menjenguknya." Ucap Rasya lagi.


"Silakan saja. Penting kita bisa bertemu dengan Arumi." Jawab Rasya lagi.


"Benar itu. Aku juga sangat merindukan Arumi. Sudah lama juga kita kita mampir ke sekolah Pesantren Arumi." Jelas Andini.


"Aku akan melanjutkan masakan ku dulu Mas." Pinta Andini kemudian.


Rasya hanya menengok sesekali memuji keanggunan yang dimiliki oleh Andini istrinya.


Selesai Andini mempersiapkan sarapannya dan menjamunya di atas meja makan kemudian berkata.


"Kenapa masih berdiri disana sayang. Kemari lah! Mari kita makan." Ucap Andini.


Rasya yang mengangguk mengerti sambil kemudian tersenyum lebar melihat tingkah istrinya yang selalu memperhatikan lalu memanjakan dirinya itu. Sama hal nya saat ini. Rasya berdiam diri kemudian nasi beserta lauknya juga duduk terbaring di atas piring di hadapannya.


"Terima kasih sayang." Ucap Rasya dan membalasnya dengan sebuah ciuman singkat di kening milik Andini seperti biasanya.


Meskipun hanya berdua di dalam rumah sederhana bukanlah halangan menjadikan adanya kebahagiaan di dalam rumah tangga mereka. Bahkan hal kecil sekalipun bisa menjadi alasan kebahagiaan yang sesungguhnya.

__ADS_1


__ADS_2