
"Nak Rasya. Maafkan putri Mama tidak bisa memberikanmu keturunan." Sinta yang berada di depan Rasya sambil menangis memohon agar Rasya tidak menceraikan putrinya itu.
Karena hal yang lumrah bagi suami menceraikan istrinya tidak bisa mengandung atau bahkan bisa berpoligami jika berada di kondisi seperti ini.
"Allah yang mengatur segalanya Ma. Termasuk kondisi Andini. In syaa Allah jika memang allah uji rumah tangga kami dengan ini, maka atas Kuasa Nya pulalah kami akan kuat menerimanya. Jika memang ingin memiliki anak tidak harus dari rahim Andini bisa melalui cara lain. Adopsi anak juga bisa menjadi solusi baik Ma. Tenanglah. Andini akan selalu menjadi wanita pilihan dan akan selalu menjadi satu satunya istri bagiku Ma." Jawab Rasya membuat Sinta sangat amat senang dengan jawabannya.
"Terima kasih nak. Sudah bisa mengerti dengan kondisi istrimu." Jawab Sinta dengan bangga memiliki menantu berbudi pekerti baik apalagi menjadi suami hebat bagi anaknya.
"Jangan berterima kasih Ma. Sudah menjadi kewajiban aku sebagai suami Ma." Jawab Rasya yakin.
"Tapi nak. Bagaimana dengan Ibumu? akan kah ia bisa menerima menantu yang tidak sempurna seperti Andini?" Tanya Sinta yang kini sedang menangis.
"In syaa Allah Ibu juga tidak akan menjadi masalah Ma. Jangan menangis. Saya tidak tega melihat Mama menangis. Karena Mama adalah Mama saya juga." Jawab Rasya menyalami tangan Sinta dan menciumi punggung tangannya pertanda kehormatannya sebagai anak.
"Masya Allah nak. Semoga Allah selalu memberi kebahagiaan di dalam rumah tangga kalian." Harapan Sinta saat ini.
"In Syaa Allah Ma. Aamiin ya robbal alaamiin." Jawab Rasya lagi.
***
Andini yang sedang duduk di kursi depan kamar tidurnya, melihat ke bagian halaman bawah yang terlihat di dalam kamarnya itu.
Suasana yang masih senyap di pagi ini, hanya butir butir embun yang berjatuhan terlihat jelas dari pepohonan tinggi. Membuatnya kian larut dalam keheningannya.
Rasya yang berangkat kerja dari subuh tadi selesai sholat subuh berjamaah membuat perasaan Andini lagi dan lagi terasa sepi.
Karena hanya mereka berdua di dalam rumah ini di tambah Lela pembantu ART nya, namun tidak menjadi solusi baik bagi Andini menceritakan keluh kesahnya kepada Lela meskipun seolah akrab namun tetap saja kodratnya Lela adalah orang lain yang tidak bisa menjadi curahan isi rumah tangganya.
"Halo Assalamualaikum." Jawab Andini mengangkat telepon genggamnya yang sudah dua kali berdering. Tanpa melihat dan membaca nama si penelepon Andini lansung mengangkatnya.
__ADS_1
"Halo. Apa kabar denganmu." Tanyanya.
Andini kaget mendengar suara lelaki di panggilan itu. Dan suaranya itu sungguh tidaklah asing bagi Andini. Belum lagi menjawab Andini terburu melihat nama di panggilannya itu. Ternyata orangnya bernama Kevin.
"Maaf. Saya tidak melihat jika anda yang menelepon. Ada perlu apa? jika tidak ada yang berkepentingan mohon tutup saja teleponnya!" Ucap Andini kemudian.
"Andini. Kenapa kamu bisa sedingin ini denganku? sabun cuci apa yang digunakan pria bangsat itu mencuci otakmu?" Ucap Kevin dengan kesalnya.
"Maaf saya tidak melayani ucapan yang tidak bermoral dari siapapun apalagi itu tentang suami saya." Ucap Andini ingin mematikan teleponnya namun Kevin masih bersikeras ingin bicara dengannya.
"Kenapa secepat itu kamu melupakan ku Andini." Tanya Kevin lemas membuat simpatik Andini mengakhiri telepon itu memudar.
"Kevin. Maafkan aku. Aku mohon jangan lagi ganggu rumah tanggaku. Carilah wanita yang lebih baik dariku. Diluar sana masih banyak yang mendambakan mu." Ucap Andini sudah dengan bahasa lembutnya.
Inilah suara Andini yang selalu Kevin rindukan. Kelembutan suaranya yang manis membuat Kevin semakin sulit bahkan tidak mampu menahan gejolak rindu dalam dirinya untuk Andini.
"Maafkan aku Kevin. Aku sudah istri orang lain. Berdosa besar jika berhubungan dengan pria lain. Itu di haramkan Kevin."
"Jangan sok suci kamu Andini."
"Maafkan aku. Terserah penilaian kamu seperti apa."
"Dulu kamu seperti apa. Gampangan." Ucapnya Kevin merasa kesal.
Andini merasa sangat tersinggung dengan ucapan Kevin mengatakan dengan sengaja menilai dirinya itu gampangan.
"Assalamualaikum." Ucap Andini kemudian lansung mematikan telepon dari Kevin itu.
Air matanya mengalir kembali. Mengingat ucapan Kevin barusan. Membicarakan tidak baik akan dirinya. Mengatakan dirinya itu gampangan. Sungguh ucapan mematikan yang ia terima. Meskipun dulu Andini tidak pernah sholat apalagi berhijab. Namun sekali saja ia tidak pernah membiarkan kesuciannya itu direnggut pria mana saja. Namun dengan sengaja Kevin men cap nya wanita gampangan.
__ADS_1
Sejenak membuat kepedihan bagi Andini. Namun bukan se pedih kenyataan bahwa ia tidak akan bisa memberikan suaminya keturunan dari rahimnya.
Andini menangis lagi dan lagi.
Tanpa ia sadari kini Rasya sudah berada di belakangnya. Lansung meletakkan tas di atas kasur mendekati istrinya dan lansung memeluk tubuh Andini dari belakang.
"Kenapa menangis lagi sayang?" tanya Rasya
"Tidak. Rasanya semua ini membuat tubuhku tak bertenaga menjalankan kehidupan ini lagi. Untuk apa aku menikah? untuk apa?"
"Sudah sayang. Jika kamu ingin mempunyai anak. Kita pakai cara lain. Kita bisa mengadopsi anak di panti asuhan sayang. Kita bisa membesarkannya dengan kasih sayang orang tua sesungguhnya. Selain kita bisa menjadi orang tua pahala yang begitu amat besar yang sudah Allah janjikan. Bersedih seperti ini adalah suatu kejadian yang membuat Allah tidak menyukai hambanya. Percayalah Sayang. Karena kamu kuat Allah menimpakan masalah ini dalam rumah tangga kita." Jelas Rasya.
"Adopsi? tapi sayang. Itu bukanlah dari benih dan darah daging kamu." Jelas Andini.
"Itu juga bisa menjadikan kita sebagai orang tua sayang. Kebahagian bukan selalu tentang anak kandung, darah daging kita sendiri. Anak adopsi pun bisa menjadikan kebahagiaan tidak ternilai sayang. Ingat pahalanya sayang. Membesarkan seorang anak yatim piatu pahalanya yang berlipat ganda dan hadiahnya tetaplah surga sayang. Bayangkan saja itu. Berlaku sesuai anak kandung kita sendiri. Sayangi ia sebagai anak kandung kita sayang."
"Lalu bagaimana dengan Ibu. Apakah Ibu bisa menerima kondisi aku sayang?" Ucap Andini dalam tangisannya.
"In Syaa Allah sayang. Ini keluarga kita. Ibu memang berhak memberi solusi namun bukan berarti berhak menghalangi sayang. Nanti biar aku yang akan menjelaskannya." Jawab Rasya lagi.
"Terima kasih sayang." Ucap Andini kemudian memeluk suaminya itu.
"Setidaknya aku bisa menjadi seorang ibu, sebagai pengobat duka takdir ini. Pelebur lara ku dan semoga bisa membawa anugerah dalam rumah tangga kita." Ucap Andini penuh dengan harapannya.
"Benar sayang. Aamiin ya robbal alaamiin." Jawab Rasya mengaminkan.
Keduanya saling berpadu kasih dalam pelukan hangat itu. Meskipun apapun ujian dan cobaan yang Allah berikan kepada hambanya namun tidak memberikannya diluar jalan keluarnya.
Meskipun awalnya sungguh terasa berat, percayalah jika menjalaninya dengan ikhlas dan sabar Allah akan menghadiahkan surga bagi hambanya yang ikhlas dalam berbuat kebaikan dan ibadah.
__ADS_1