
Ketika Andini dan Rasya sudah berada di dalam kamar. Namun keduanya masih sama sama belum tidur. Andini kemudian membuka bicara.
"Sayang, besok kan masih hari minggu. Bagaimana kalau kita kerumah Mama sebentar." Ajak Andini pada suaminya.
"Tentu sayang." Jawab Rasya hangat.
"Kita tidak perlu menginap tapi hanya sekedar bertemu pelepas rindu." Lanjut Andini.
"Tidak mengapa sayang. Kalau kamu mau menginap kita akan menginap semalam. Lagian paginya kan kita bisa cepat pergi agar aku tidak terlambat bekerja." Lanjut Rasya.
"Kita lihat besok bagaimana baiknya saja. Terima kasih suami pengertian ku." Ucap Andini tersenyum lebar.
Tidak menjawab apapun Rasya hanya menciumi kening Andini dengan singkat membuat Andini pun merasakan kenikmatan yang luar biasa. Kemudian Rasya melanjutkan aksinya mendekap dan terus mendekap. Ketika Rasya membelai rambut panjang Andini kemudian menciumi bibir dan leher Andini, dan Andini pun merasa penuh kenikmatan.
Sampai akhirnya mereka ketiduran.
***
"Ma, satu jam lagi aku dan Rasya akan sampai dirumah Ma." Ucap Andini di akhir teleponnya dengan Sinta.
Sinta yang sudah mempersiapkan segalanya. Mulai dari sarapan pagi dan berbagai hal lainnya yang rasanya diperlukan nanti untuk Andini dan Rasya.
"Kita pamit pergi dulu ya Ibu." Andini menciumi punggung tangan Rina di dan menciumi pipi kiri dan kanan rina disusul dengan kini Rasya pun melakukan hal yang sama. Bagi Andini ia lakukan seperti biasanya ia lakukan kepada Rina sama halnya dengan Mama kandung nya sendiri.
"Kalian hati hati nak." Lanjut Rina dan melihat kepergian Andini dan Rasya.
Setiba di dalam mobil kemudian Rasya memutar lagu sholawat dan merekapun bernyanyi bersama.
Menikmati suasana pagi ini dengan sangat bahagia.
"Assalamualaikum Ma." Panggil Andini.
"Waalaikumussalam nak. Bawa suamimu masuk nak." Jawab Sinta membukakan pintu.
"Terima kasih ma." Kini Rasya bersuara.
__ADS_1
"Mama merindukan kalian." Ucap Sinta ketika semuanya sudah duduk di sofa.
"Kami juga merindukan Mama. Bagaimana keadaan Mama disini?"
"Alhamdulillah baik nak. Bagaimana keadaan kalian?"
"Kami juga alhamdulillah baik Ma."
"Oh iya nak Rasya gimana pekerjaanmu mengajar? pasti sangat menyenangkan?" Lanjut Sinta.
"Alhamdulillah Ma. Semua santi dan santriwati disana luar biasa menakjubkan Ma."
"Lalu bagaimana tentang program hamil kamu nak?" Tanya Sinta ke Andini membuat Andini kini tersedak kaget mendengar ucapan Mamanya dan minuman yang ia minum kini terbuang sedikit dari dalam gelasnya. Rasya yang akan berdiri menghampiri istrinya itu kemudian mengurungkan niatnya karena Mama sudah antusias lebih dulu menanggapi.
"Kamu kenapa nak?"
"Aku baik baik saja Ma." Jawabnya kemudian ketika tersedak nya itu berakhir.
"Aku belum bisa jawab pertanyaan Mama tadi." Ucap Andini berusaha menunjukkan senyumannya meskipun tangis dalam hatinya ia pertahankan dengan sangat kuat. Rasya yang mengerti perasaan Andini kemudian mengalihkan pembicaraan dan membuat suasana normal kembali.
Selesai makan pagi yang tadi sudah Sinta persiapkan kemudian Andini dan Rasya pergi ke kamar mereka dan Andini pun lansung berhamburan ke pelukan Rasya disitu kini ia mengeluarkan air matanya.
"Apa jadinya kalau Mama tau aku tidak bisa mengandung."
"Serahin semuanya kepada Allah sayang. Percayalah semuanya akan baik baik saja. Cepat atau lambat Mama akan mengerti." Rasya terus mengusap punggung istrinya itu di dalam pelukannya.
"Aku mau ke taman luar sebentar sambil menyelesaikan pengiriman berkas kemaren sayang. Apa kamu mau ikut?" Tanya Rasya.
"Tidak. Biar aku disini saja. Aku ingin mandi kemudian menemui Mama."
"Baiklah. Jaga diri."
Selesai mandi kemudian mencari tas salempang nya yang entah dimana ia letakkan, karena di sanalah bedak dan perlengkapan lainnya.
Andini terus mencari hingga ke ruang tengah. Ternyata tas itu berada di dekat meja tv diruang tamu. Untung saja ketemu dan dengan buru buru Andini mengambilnya.
__ADS_1
"Kamu kenapa nak. Buru buru sekali mengambil tas nya?" Tanya Sinta.
"Tidak Ma." Andini kaget melihat Mamanya ternyata dari tadi melihat aksinya yang sedikit cemas.
Andini buru buru pergi meninggalkan Mamanya di ruang tamu lansung memasuki kamarnya kembali.
Sinta yang melihat ada secarik kertas tak sengaja keluar dari dalam tas putrinya itu. Dia mendekat dan mengambil kertas itu. Kemudian membuka dan akan membacanya. Bertulisan Rumah Sakit Sinta sangat kaget tak teras air matanya keluar melihat isi didalam secarik kertas itu.
"Penyakit endometriosis? Tidak bisa hamil? Apa ini semua. Kenapa Andini menyembunyikan masalah sebesar ini padaku." Sinta menangis kemudian masuk ke dalam kamar Andini. Andini yang saat ini sedang sibuk memakai jilbab berwarna pink muda itu.
"Andini. Apa maksudnya surat rumah sakit ini? Apa yang terjadi denganmu nak? Kenapa ini bisa terjadi." Sinta mendekati Andini memberikan kertas itu.
Andini kaget melihat Mamanya ternyata yang ia sembunyikan kian Mama mengetahuinya.
...Se pandai pandai nya tupai melompat pasti akan terjatuh juga. Se pandai pandai nya kita menyimpan bangkai pasti akan tercium juga baunya....
"Mama maafkan aku. Aku sengaja tidak memberi tahu agar Mama tidak merasa sedih. Aku tau kondisi Mama yang baru kehilangan Ayah lalu akan mendengar kabar duka ini dari ku. Aku tidak sanggup melihat Mama kecewa Ma." Ucap Andini memeluk Sinta.
"Tapi nak. Ini Mamamu sayang. Ya Allah bagaimana mungkin putriku menerima cobaan sepahit ini." Ucap Sinta menangis sejadi jadinya.
"Lalu apakah suamimu tau nak? apa tanggapan nya?" Tanya Sinta.
"Rasya tau Ma. Tidak mencoba untuk terus mengerti Ma."
"Syukurlah kalau suamimu menerima kondisimu nak. Tapi bagaimana dengan mertuamu nak?" Tanya Sinta lagi.
Andini yang tidak menjawab hanya bisa menangis dalam pelukan Mamanya Sinta.
...'Hatiku bagai tersayat, melihat penderitaan putriku seperti ini. Bagaimana dengan perasaannya. Sungguh masalah selalu datang tiada henti. Maafkan Mama yang tadi pagi masih bertanya tentang anak. Tanpa mengetahui kejadian ini Nak. Mama menyesal karena harapan Mama adalah duka bagimu anakku. Sungguh semua ini adalah rasa yang tidak pernah sama sekali orang tua inginkan untuk anak anak nya. Namun sekarang ini semuanya terjadi pada putriku' ucap Sinta dalam hatinya....
"Jangan menangis ma" ucap Andini menghapus air mata Sinta yang sudah banyak berjatuhan.
"Kamu harus kuat nak. Kamu pasti akan sembuh. Tidak ada penyakit yang tidak ada obat penawarnya." Ucap Sinta untuk memberi kekuatan pada Andini.
"Mama benar. Jangan bersedih lagi Ma. Aku akan baik baik saja selagi Mama baik baik saja. Aku tidak akan bersedih selagi Mama tidak bersedih hati. Aku sayang pada Mama." Ucap Andini lagi.
__ADS_1
"Mama akan berusaha tidak bersedih nak. Mama sangat sayang padamu nak. Biar Mama yang akan coba menjelaskan kepada mertuamu agar nantinya ia mengerti dengan kondisi menantunya nak." Ucap Sinta
Mereka kembali berpelukan, mencoba tersenyum meskipun hatinya sangat begitu tersayat.