Suami SHOLEH Untuk ANDINI

Suami SHOLEH Untuk ANDINI
Dilema


__ADS_3

"Assalamualaikum." Sapa Jena masuk ke dalam rumah.


"Waalaikumussalam Ibu, Ayah. Masuklah!" Ucap Kaisar membukakan pintu.


"Mana Kakek Nak?" Tanya Jena lagi.


"Kakek masih tidur Bu. Baru saja bisa tidur. Semalaman Kakek tidak tidur Bu." Jelas Kaisar.


"Kenapa tidak dibawa saja ke Rumah Sakit?" Tanya Jena.


"Kakek tidak mau di bawa ke Rumah Sakit." Ucap Kaisar.


"Ya diusahakan untuk membujuknya dong Nak. Sejak kapan Kakek sakit?" Tanya Jena.


"Udah empat hari belakangan ini Bu. Makan saja tidak mau." Jelas Kaisar lagi.


"Ya Allah. Ya sudah sekarang kita bawa Kakek ke Rumah Sakit. Lagian udah ada Ibu dan Ayah sekarang disini. Sebelum Kakek sembuh kami akan menetap disini." Jelas Kevin.


"Bener Mas. Itu lebih baik." Jawab Jena.


Kemudian masuk menuju kamar tempat Kakek sedang tidur. Dan ketika Jena sudah masuk Kakeknya Kaisar sudah membukakan matanya.


"Papa kenapa seperti ini?" Tanya Jena lansung memeluk Papanya menciumi punggung tangannya.


"Sejak kapan kamu disini Nak? Papa tidak kenapa." Jelas Papanya itu.


"Tidak kenapa apanya Pa? Ini Papa kenapa berbaring lemas seperti ini. Sekarang Jena dan Mas Kevin sudah disini. Ayo kita periksa ke Rumah Sakit. Dibiarkan maka sakitnya Papa akan semakin memburuk."Jelas Jena.


"Tidak Nak. Papa disini saja." Jawab Papa.


"Tidak boleh menolak Pa. Papa harus segera diperiksa. Mobilnya sudah disiapkan Mas Kevin." Jelas Jena lagi.


Papanya yang hanya berbaring lemas tidak mampu menggerakkan anggota tubuhnya hanya bisa memasrahkan dirinya kepada anak dan mantunya itu.


"Ma, semua keperluan Papa sudah siap?" Tanya Jena.


"Sudah Nak. Akhirnya kamu bisa membujuk Papa untuk ke Rumah Sakit. Sekian cara Mama untuk membujuknya namun selalu gagal." Ucap Mama membenarkan.

__ADS_1


"Ya sudah Ma. Sekarang kita berangkat ke Rumah Sakit." Jena membawakan beberapa peralatan Papanya. Kemudian Kevin menggendong tubuh mertuanya itu masuk ke dalam mobil.


Sesampai di Rumah Sakit.


Memasuki ruangan ICU. Kemudian Dokter yang bertugas masuk ke dalamnya. Memeriksakan keadaan pasiennya bernama Ardi Papa dari Jena.


Selesai pemeriksaan akhirnya Dokter tersebut keluar dan keluarga Ardi lansung mendekati Dokter.


"Dok. Bagaimana suami saya?" Tanya Sari. Suami dari Ardi dan Mama dari Jena.


"Suami Ibu tidak terlalu parah. Syukurlah suami Ibu tidak terlambat dibawa ke Rumah Sakit. Jika lebih lama lagi dibiarkan maka penyakit Gejala Tumor yang ada di kepalanya akan semakin mem buas dan menjaring ke berbagai anggota tubuh lainnya." Jelas Dokter.


"Apa Dok? Tumor?" Jena kaget mendengar ucapan Dokter begitupun dengan Sari juga Kevin. Tak kalah kagetnya Kaisar. Kaisar yang masih belia memang tidak terlalu mengenal penyakit itu namun ketika melihat yang lainnya panik kaget iapun ikut kaget.


"Benar Mbak. Papa Mbak terserang gejala tumor. Alhamdulillah masih gejala. Kami sudah memberikan bius dan obat untuk mematikan jaring jaring tersebut." Ucap Dokter.


"Tapi Papa saya tidak kenapa kenapa kan Dok. Dia baik baik saja." Jelas Jena.


"Tunggulah beberapa saat maka Pak Ardi akan segera siuman." Jelas Dokter. Karena bius yang ia masukkan ke dalam tabung infus Ardi membuatnya jatuh pingsan.


"Terima kasih banyak Dokter." Ucap Sari kemudian.


***


Wilona yang datang ke Rumah Sakit dengan penuh semangat baru, bahkan perasaan baru.


Namun ketika Wilona baru saja ingin melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan kerjanya. Seseorang dalam memanggilnya.


"Dokter Wilona." Panggil Rafki.


"Iya." Jawabnya dan kemudian menoleh ke belakang. Wilona kaget ternyata orang itu adalah Rafki yang selama ini membayang bayang di dalam pikirannya.


"Kenapa?" Tanya Wilona kemudian.


"Dokter meninggalkan sesuatu di dekat parkir." Ucap Rafki memberikan sebuah pin bernama *Dr.Wilona*.


"Terima kasih Dokter Rafki." Ucap Wilona kemudian dan mengambil pin itu dari tangan Rafki.

__ADS_1


"Kenapa jantung ini serasa berdegup kencang ketika berada didekat nya." Ucap Rafki dalam hatinya sembari telah di tinggal Wilona.


"Astagfirullah. Aku akan menikah dengan Lina. Pantaskah masih berpikir tentang Wilona." Ucapnya lagi memperkuat ucapan bahkan janjinya yang sudah tertuang kepada Lina. Meskipun tidak yakin namun semuanya sudah ia ambil tindakannya. Apapun keadaannya ia tidak boleh ingkar janji. Rafii terus berusaha memperkuat hatinya agar tetap berada dalam kendalinya.


"Ya ampun. Kak Andini. Aku hampir saja lupa tujuan awalnya kesini untuk menemui Kak Andini." Ucapnya lagi kemudian.


Dan Rafki melangkah demi langkah menuju ruang rawat Andini. Langkah kakinya berat. Meskipun berat tubuhnya hanya berkisar 47 kg, namun rasanya tubuhnya sangat amatlah berat. Mengingat beban yang akan ia hadapi.


Namun Rafki berusaha terus menghilangkan pikirannya yang memang tak sepantasnya ia pikirkan.


"Aduh aku sampai lupa pula meminta nomor telepon Lina. Bagaimana sekarang keadaanya." Lagi dan lagi Rafki bicara sendiri menggelengkan kepalanya. Banyak sekali yang ia pikirkan.


***


"Ini satu Mbak." Ucap Lina memberikan selembar uang kertas bernominal seratus ribu rupiah.


Susu formula khusus ibu hamil yang sudah ia ambil seharga enam puluh lima ribu rupiah. Selesai kasir mengembalikan kembalian uangnya Lina lansung pergi meninggalkan mini market tersebut.


Diperjalanan Lina tampak lesu suntuk tak bersemangat. Kehidupan suram yang ia jalani. Seseorang berkata padanya.


"Lina yang trend topik di media sosial itu bukan." Ucap seseorang tersebut dengan teman sebelah bangku bus yang Lina tumpangi.


"Sepertinya benar. Kenapa sekarang sok alim padahal wanita malam." Ucap teman seseorang tadi.


Lina yang mendengarnya agak jelas membuatnya jengkel dan ingin sekali menampar wajah perempuan perempuan tersebut. Namun niat buruknya itu ia urungkan. Dan Lina mencoba untuk pura pura tak mendengar ucapan perempuan perempuan itu. Mengalihkan perhatiannya keluar pintu melihat pepohonan yang asri dan indah. Dedaunan yang berjatuhan menambah keindahan pemandangan tersebut.


"Sekian banyak masa indah yang selama ini ku lewatin, namun tidak pernah ku sadari. Entah sejauh apalah aku melangkah menuju jalan sesat selama ini. Hingga mataku amatlah buta bahkan hanya sekedar melihat keindahan alam ciptaan Allah saja tidak aku sadari. Astagfirullah." Ucap Lina dalam hatinya.


Tak disadarinya kini sudah sampai di depan rumah kediamannya. Lina turun dari bus atau angkot tersebut. Dan membayar biayanya kemudian melangkah masuk ke dalam pekarangan rumahnya.


***


"Rafki." Panggil Rasya.


"Iya Kak." Jawabnya.


"Kakak liat kamu sedang dalam masalah besar. Ada apa Dik?" Tanya Rasya melihat Rafki yang termenung duduk di atas kursi pojok kiri di dalam ruangan Andini.

__ADS_1


"Tidak mengapa kok Kak." Jawab Rafki.


"Aku ini Kakak mu Dik. Kakak mengenalmu. Kakak tahu kamu sedang ada masalah. Ceritakan lah! Kakak akan membantumu Dik." Jelas Rasya meyakinkan Rafki.


__ADS_2