
"Eh maaf Mas. Ana nggak sengaja." Ucap seseorang kepada Rafki.
Karena tidak dapat menghindari tabrakan tubuh itu terjadi dengan tiba tiba.
"Tidak mengapa Mbak." Jawab Rafki.
"Permisi Mas. Assalamualaikum." Ucap perempuan itu lansung meninggalkan Rafki.
"Waalaikumussalam." Jawab Rafki setelah terbangun dari perenungannya.
'Siapa gadis itu? Kenapa aku baru lihat?' Rafki bertanya tanya dalam hatinya. Seolah raut wajah perempuan yang tidak sengaja menabraknya itu menghantui kemana mana. Perempuan yang sungguh anggun dan sopan.
'Entahlah. Kenapa jadi malah memikirkan dia.' Jawabnya lagi sendirian.
***
"Permisi. Benar dengan Ibu Andini?" Tanya seseorang kepada Andini yang duduk di ruang tunggu Rumah Sakit.
"Iya Dok. Benar ini Andini." Jawab Andini kepada Dokter yang sudah datang mendekatinya.
"Mari Bu. Silakan masuk!" Ucap Dokter itu lagi.
"Terima kasih Dok." Ucap Andini mengikuti langkah kaki Dokter dan mengikuti setiap saran darinya.
Kini Andini tengah berbaring di atas kasur dan diperiksa oleh sang Dokter.
"Jadi bagaimana keadaan saya Dok?" Tanya Andini.
"Ibu Andini pernah terkena penyakit endometriosis? Tanya Dokter itu.
"Benar Dok. 15 tahun yang lalu saya divonis penyakit tersebut." Jelas Andini.
"Alhamdulillah Bu Andini. Sekarang penyakit itu sudah mati dalam tubuh Bu Andini. Selamat Bu Andini hamil dalam kurun waktu 8 minggu. Itu sebabnya Bu Andini mengalami pusing yang berlebihan. Kedepannya akan sering mual karena sekarang ada janin dalam rahim Ibu. Saya sarankan Ibu harus istirahat total sementara Ibu bisa kembali kuat." Jelas Dokter itu.
"Masya Allah. Saya berasa seperti mimpi." Ucap Andini.
"Assalamualaikum. Permisi Dokter." Rasya masuk kedalam ruangan dimana Andini sudah dipanggil. Karena tadi Rasya kebelet ingin buang air makanya meninggalkan Andini diruang tunggu sendirian dan ternyata Andini sudah terpanggil.
"Waalaikumussalam Pak. Duduklah!" Jawab Dokter Wilona. Ya nama Dokter itu adalah Wilona Purnama.
"Jadi bagaimana Dok, istri saya?" Tanya Rasya lansung ke intinya.
__ADS_1
"Selamat Pak. Bapak akan menjadi seorang Ayah." Jelas Dokter tersebut.
"Alhamdulillah. Sekian lama menunggu ternyata Allah kasih buah manis dalam kesabaran." Ucap Rasya sangat bahagia.
"Tapi Dokter. Usia saya sudah tidak muda lagi. Akankah ini aman?" Tanya Andini yang menjadi beban baginya. Sebab umur Andini saat ini sudah berkepala 3. 35 tahun jalan 36 tahun.
"Memang berisiko Bu Andini. Tapi Allah sudah menghendaki. Sering seringlah berkonsultasi kesini Bu. Maka akan menjadi lebih baik untuk Ibu dan Calon Bayi. Kami akan memberikan imunisasi dan vitamin yang diperlukan." Ucap Dokter lagi.
"Terima kasih Dokter." Ucap Andini.
"Sama sama Bu Andini. Sekali lagi selamat." Ucapnya menjabat tangan Andini dan Andini pun lansung membalas uluran tangan tersebut.
Setibanya di kontrakan Rasya duduk disamping Andini.
"Terima kasih sayang sudah menunggu selama ini." Andini memulai perkataannya.
"Sehat sehatlah kamu dan calon anak kita." Balas Rasya.
"Semoga Allah selalu menjaga keluarga kita suamiku."
"Aamiin. Aku senang sayang. Kamu harus istirahat total seperti saran Dokter Wilona tadi. Berbaringlah!" Perintah Rasya sembari menidurkan istrinya itu.
"Sudah lebih baik?" Tanya Rasya lagi.
***
"Assalamualaikum Kak Kevin." Panggil Wilona.
"Waalaikumussalam Dek." Jawabnya.
"Bagaimana tadi dirumah sakit Dek?" Tanya Kevin lagi.
Kevin dan Wilona adalah kakak beradik. Meskipun bukan satu Bapak tapi satu Ibu mereka.
Orang tuanya meninggal ketika Wilona masih berumur 19 bulan.
Sungguh sesuatu yang sangat menyesakkan dan membuat kehidupan mereka terombang ambil. Bersyukurlah Kevin dan Wilona diasuh oleh adik Ibu mereka. Sampai Kevin berusia 15 tahun dan Wilona berumur 10 tahun. Kemudian lagi dan lagi kabar duka menyelimuti perasaan Kevin dan Wilona. Kevin yang melanjutkan pendidikannya melalui bantuan dari kakak Ayah nya. Dan Wilona melanjutkan pendidikannya melalui suami tantenya kemudian disusul lanjutan oleh Kevin ketika Kevin sudah resmi bekerja.
"Seru Kak. Hari pertama aku kerja disini semuanya menyenangkan." Jawab Wilona.
Wilona adalah Dokter Kandungan yang dipindah tugaskan ke Jakarta dari Sulawesi.
__ADS_1
"Baguslah Dek. Semoga kamu betah disini dan banyak mendapatkan kenalan dan juga jodoh." Goda Kevin.
"Apa an sih Kak." Jawab Wilona malu.
"Apa cerita nya nih. Keliatannya seru." Suara Jena menyusul mendekati Kevin dan Wilona. Membawakan tiga buah gelas berisi jus mangga.
"Ini nih yang aku paling suka dari Kak Jena sang Kakak Ipar." Wilona menyusul kemudian mengambil satu gelas memberikannya kepada Kevin dan satunya lagi ia ambil dan lansung meminumnya.
"Duduklah dulu Dek!" Ajak Jena melihat Wilona minum sambil berdiri.
"Eh aku lupa Kak." Jawabnya kemudian lansung duduk.
Mereka bertiga tertawa senang. Sekarang semenjak tiga hari yang lalu Kevin, Jena dan Wilona tinggal satu rumah. Rumah yang sengaja Kevin beli dari hasil kerja kerasnya selama ini.
Prosesnya memulai dari nol sampai sekarang sudah bisa dikatakan lebih dari cukup hasil kesabaran dan doa yang istrinya tercinta, yaitunya Jena.
"Ada kabar yang menjadi topik dasar cerita kerjaku hari ini Kak." Ucap Wilona mengawali pembicaraan lagi.
"Apa Dek?" Tanya Jena penasaran begitu juga dengan Kevin.
"Tadi dirumah sakit ada seseorang seumuran Kakak deh kayaknya. Menantikan kehamilan pertamanya selama 15 tahun. Masya Allah sekarang ia sudah hamil. Dia menginap penyakit endometriosis Kak. Bahasa dasarnya itu susah hamil. Kemungkinan kecil bisa mengandung. Sebab ada sesuatu penyakit yang tumbuh dalam rahim seseorang yang terserang penyakit tersebut. Aku kasihan liat Kakak itu." Jelas Wilona.
"Siapa Dek?" Tanya Kevin.
"Kalo tidak salah namanya itu Andini Kak." Jawabnya.
Keduanya ternganga mendengar nama yang barusan Wilona sebutkan. Akankah Andini mantan kekasih Kevin.
'Oh tidak mungkin. Bisa jadi orang lain. Tidak hanya satu nama Andini di muka bumi ini.' Celetuk Kevin dalam hatinya.
"Ah sudahlah Kak. Kenapa jadi bengong begitu. Topik lainnya aku kesal kalau ingat kejadian tadi di pintu masuk rumah sakit. Ada seseorang yang menabrak ku. Untung saja ganteng. Kalau tidak aku libas." Wilona terkekeh begitu juga dengan Kevin dan Jena.
"Kamu nih Dek. Doyan sekali pada yang ganteng bening." Goda Jena.
"Ya sudah Dek. Lansung bungkus bawak sini!" Lanjut Jena.
"Waduh Kak. Parah sekali. Emang gorengan kak." Jawab Wilona dan semuanya kembali tertawa gembira.
"Ya sudah aku ke kamar dulu." Kevin melangkahkan kakinya meninggalkan istri dan adiknya di meja tamu.
'Jika benar Andini yang Wilona maksud adalah Andini mantan aku. Sungguh sudah berapa banyak kesedihan yang ia sudah alami. Apa yang sudah terjadi padanya.
__ADS_1
Oh iya aku kan biasa ketemu dengan Rasya. Kenapa tidak lansung ku tanyakan padanya.' Lagi dan lagi Kevin masih terpikir akan Andini.
Ia berniat untuk menghubungi Rasya, namun ia urungkan takutnya nanti akan ada sesuatu yang mengganjal