
Disebuah ruangan penuh dengan selang bahkan bius dan infus sekaligus berbau obat obatan.
Terdapat Andini yang terbaring lemas di dalam sana.
Ditemani Rasya yang terus berharap dan berdoa untuk kekuatan dan kesehatan istri dan calon anaknya.
Terus membacakan ayat suci Al Qur'an di samping Andini yang tertidur dengan pulas nya setelah meringis kesakitan sebelumnya.
Lagi dan lagi Andini harus bolak balik ke Rumah Sakit.
Karena kehamilannya yang begitu sangat rentan.
Setiap trimester kehamilannya ia harus bolak balik ke Rumah Sakit demi untuk menguatkan janin di dalam kandungannya.
Mungkin ada juga resiko mengenai masa lalunya yang pernah mengalami keguguran dan masalah lainnya di rahimnya.
Hari ini tepatnya usia kehamilannya sudah mencapai 33 minggu atau lebih dari delapan bulan kehamilan.
"Permisi Pak." Sapa seorang dokter masuk bersama satu orang perawatnya.
"Iya Dok." Jawab Rasya.
"Kami akan periksa lebih lanjut kondisi Bu Andini." Jelas Dokter itu.
"Silakan Dok!" Timpalnya sembari memberikan ruang untuk Dokter bisa lebih leluasa memeriksa Andini.
"Bapak tunggu diluar dulu!" Ucap perawat itu dan Rasya hanya bisa menurutinya.
Setelah Dokter dan perawat itu keluar selesai memeriksa Andini, Rasya pun begitu tak sabaran menantikan kabar istrinya.
"Bagaimana istri saya Dok?" Tanyanya.
"Kondisi Bu Andini cukup baik Pak. Tapi kita harus segera ambil tindakan prematur untuk janin. Sebab kondisinya di dalam cukup lemah dan mengkhawatirkan." Jelas Dokter.
"Lakukan yang terbaik Dok! Selamatkan istri dan anak saya Dok!" Pinta Rasya memohon lemah kepada Dokter itu.
"Sebelumnya Bapak harus menanda tangani persetujuan untuk tindakan ini." Lanjut sang Dokter.
"Baik Dok." Jawab Rasya kemudian mengikuti perawat itu ke depan ke ruangan dimana pernyataan itu berada.
"Ya Allah, bantu istri dan calon anak hamba Ya Allah. Beri mereka kekuatan untuk melewati semua ini. Izinkan kami untuk bersama di dunia dan di akhirat nanti Ya Rabb." Doa Rasya setelah ia menanda tangani surat pernyataan persetujuan lahiran prematur.
Lahiran di saat belum seharusnya untuk di lahir kan.
Tapi di dalam ilmu kedokterannya ini adalah langkah yang seharusnya.
Rasya berusaha menerimanya dengan lapang dada dan ikhlas juga terus mendoakan keselamatan Andini juga calon anaknya.
__ADS_1
Kini kasur Andini tempatnya tidur tengah di dorong beberapa perawat menuju ruangan operasi.
"Mas." Panggil Andini.
Karena jujur saja Andini sangatlah takut apalagi sampai akhirnya harus di operasi.
Tapi ia berusaha untuk kuat demi anak yang ia kandung.
"Bismillah sayang. Ingat sama Allah. Kamu ini Ibu yang kuat istri yang hebat. Mas akan selalu bersamamu dan mendoakan kamu sayang." Ucap Rasya menguatkan Andini sambil menggenggam tangan Andini mengiringinya sampai ke ruangan operasi tersebut.
Sesampainya di ruangan operasi Andini mulai memejamkan matanya hingga sebuah suntikan menusuk lengan kirinya.
Pemikirannya yang entah melayang kemana mana hingga menerawang sejauh angkasa.
Entah apa yang akan terjadi setelah ini, takut, cemas dan lain sebagainya.
Hingga perlahan lahan semuanya mulai pudar gelap dan hilang.
Karena suntikan biusnya itu keseluruhan hingga membuatnya mati sementara.
Lampu kuning yang sudah menyala di depan ruangan operasi tersebut menandakan jikalau proses operasinya sedang berlangsung.
Sedangkan Rasya yang duduk di kursi tunggu itu sibuk mondar - mandir tiada kejelasan karena dia pun rasanya sangat cemas akan kondisi istrinya.
Rina dan Rafki sudah datang mendekati Rasya yang memecahkan kesibukannya.
"Nak. Bagaimana kondisi Andini?" Tanya Rina.
"Semoga Andini dan cucu Ibu selamat dan sehat." Doa nya Rina.
"Aamiin." Semuanya mengaminkan.
Termasuk Wilona Dokter muda yang biasanya menangani Andini.
"Dokter Wilona." Panggil Rina.
"Iya Mbak. Jangan khawatir Mas, Mbak dan Ibu. Mbak Andini itu sangatlah kuat. In syaa Allah semuanya akan baik - baik saja. Kita harus selalu menjadi penguat untuk Mbak Andini melaluinya. Dan pastinya perbanyak doa." Nasehat Wilona.
"Iya Dok. Sekali lagi terima kasih." Ucap Rasya menimpali.
"Ya sudah saya permisi pergi dulu. Mau periksa pasien." Ucap Wilona berlalu pergi meninggalkan senyumannya.
Memang begitulah Wilona, jangankan kepada yang ia kenal, kepada yang tidak kenal sekalipun ia akan sangat ramah menyapa pasiennya.
Detik demi detik, jam pun berlalu begitu saja.
Dua jam dalam ruangan operasi kini lampunya sudah mati.
__ADS_1
Dan tidak lama kemudian Dokter yang menangani Andini pun keluar.
"Bagaimana Dok?" Tanya Rasya.
"Selamat Pak. Istri dan anak - anak Bapak selamat dan dalam keadaan sehat. Namun untuk anak - anak Bapak tidak bisa di pegang dulu, karena akan di masukkan ke labor memeriksakan kondisi di dalam tubuhnya." Jelas Dokter.
"Alhamdulillah ya Allah." Semuanya mengucap syukur atas nikmat yang tak terduga kali ini.
"Maksud Dokter anak - anak?" Tanya Rasya lagi.
"Iya Pak. Anak Bapak kembar. Keduanya perempuan Selamat Pak.." Jelas Dokter itu lagi.
"Masya Allah." Ucap Rasya sembari melaksanakan sujud syukur atas kelahiran putri kembarnya itu.
Rasya masuk ke ruangan dimana Andini tengah tidur tak sadarkan diri karena efek biusnya itu masih ada.
Rina dan Rafki pun menyusul masuk ke dalam ruangan itu.
Tak berapa lama Rasya melihat anak kembarnya itu. Namun perawat - perawat itu pun berlalu membawa putri kembarnya untuk di lakukan pemeriksaan ulang setelah meminta izin kepada Rasya dan juga setelah Rasya pun mengazankan putri kembarnya itu.
"Selamat ya Nak." Peluk Rina.
"Iya Kak. Selamat atas kedatangan putri kembarnya Kak." Lanjut Rafki.
"Makasih Bu, Ki. Aku beneran sangat bahagia sekali. Rasanya semua cobaan dan derita yang berlalu bersama Andini hilang tiba-tiba. Masya Allah ternyata inilah rencana Allah dalam ujiannya sebelumnya untuk keluarga kami." Jawab Rasya memeluk Ibu dan Adiknya itu bergantian.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
وَلَئِنْ اَذَقْنٰهُ نَـعْمَآءَ بَعْدَ ضَرَّآءَ مَسَّتْهُ لَيَـقُوْلَنَّ ذَهَبَ السَّيِّاٰتُ عَنِّيْ ۗ اِنَّهٗ لَـفَرِحٌ فَخُوْرٌ ۙ
wa la`in azaqnaahu na'maaa`a ba'da dhorrooo`a massat-hu layaquulanna zahabas-sayyi`aatu 'annii, innahuu lafarihung fakhuur
"Dan jika Kami berikan kebahagiaan kepadanya setelah ditimpa bencana yang menimpanya, niscaya dia akan berkata, Telah hilang bencana itu dariku. Sesungguhnya dia (merasa) sangat gembira dan bangga,"
(QS. Hud 11: Ayat 10)
...**Sesungguhnya setelah badai itu datang, akan ada pelangi yang akan tiba membawa kebahagiaan dan ketenangan yang pemilik kesabaran....
...Jangan sedih jika kita ditimpa suatu ujian, masalah dan cobaan....
...Sebab itu adalah bentuk rindu Rabb mu, merindukanmu mengharap dan bermohon akan datangnya kabar gembira itu darinya, yaitu suatu keindahan yang disebut dengan kebahagiaan....
...****...
...*BERSAMBUNG....
Jangan lupa like dan komentar cerita ini ya reader.
__ADS_1
Tetaplah setia sebagai pembacanya dan juga terima kasih buat semuanya yang sudah memberikan support dan dukungan serta komentar positif yang selalu menjadi penguat.
Salam dari author*. :-)