Suami SHOLEH Untuk ANDINI

Suami SHOLEH Untuk ANDINI
Rafki yang Salah Tingkah


__ADS_3

"Mbak Andini." Panggil Wilona.


"Iya Dok." Jawabnya lesu.


"Kenapa bisa seperti ini Mbak? Untuk usia kehamilan yang masih sangat muda Mbak tidak boleh banyak pikiran apa lagi sampai frustasi seperti ini." Jelas Wilona.


"Maaf Dok." Jawab Andini mengeluarkan air matanya.


Wilona yang sudah tahu apa penyebab Andini merasa sangat frustasi, sebab Rasya juga dirawat di Rumah Sakit ini.


"Jangan seperti itu terus Mbak. Kuatkan hati Mbak untuk menghadapi segalanya Mbak. Ini demi calon bayi yang ada di dalam kandungan Mbak." Jelas Wilona.


"Iya Dok. Terima kasih." Jawab Andini kemudian.


"Mbak jangan banyak bergerak dulu. Sebaiknya hari ini Mbak istirahat disini sampai kesehatan juga kekuatan Mbak menjadi benar benar stabil." Lanjut Wilona.


"Baiklah Dok." Ucap Andini mengerti.


Selesai memeriksa Andini dan memastikan Andini sudah dalam kondisi stabil kemudian Wilona meminta izin kepada Sinta yang saat ini menunggui Andini, kemudian melangkahkan kakinya keluar menuju pasien berikutnya.


'Sungguh rasanya batin ini ikut merasa sedih melihat nasib Mbak Andini. Apalagi dalam keadaannya yang saat sekarang ini harus diberi ujian pahit atas kabar suaminya.' Ucap Wilona dalam hatinya sambil menggelengkan kepalanya dengan kecil.


"Rasya. Bangunlah Nak! Ibu mohon." Rina terus dan selalu mengelus kening dan berbisik ke dekat telinganya berharap Rasya akan mendengar ucapannya kemudian bangun dari komanya. Sudah seharian Rasya dalam masa komanya.


"Ibu. Sudahlah jangan menangis. Kasian Kak Rasya akan semakin memburuk jika melihat Ibunya sudah lemas dalam menangis." Jelas Rafki kepada Rina.


"Ibu takut Nak." Rina memeluk Rafki dengan segudang rasa bersedih.


"Ibu ayo kita lihat Kak Andini. Bagaimana keadaannya sekarang. Apa sudah bangun dari pingsannya. Disana hanya ada Ibu Sinta saja." Ucap Rafki mengalihkan pikiran Rina tentang Rasya.


"Ayo Nak. Dimana Andini?" Tanya Rina.


Rafki yang berjalan didepan dan diikuti oleh Rina dari belakang kemudian berhenti disebuah ruangan. Tepatnya dimana Andini sedang terbujur menahan sakit yang ia rasakan.


"Andini." Panggil Rina.


"Ibu. Bagaimana keadaan Ibu?" Tanya Andini.

__ADS_1


"Kenapa masih memikirkan Ibu Nak. Kamu sendiri seperti ini. Kenapa selalu memikirkan orang lain ketimbang dirimu sendiri sayang. Jangan seperti ini. Kesehatanmu prioritaskan lah! Sekarang bukan cuman kamu di tubuhmu itu. Ada calon cucu Ibu." Jelas Rina.


"Iya Ibu. Tenanglah! Jika Allah sudah berkehendak maka aku dan calon bayi ini akan selalu baik baik saja Bu." Jawab Andini lagi.


Yang dibalas dengan kecupan sayang di pipi kanan dan kiri Andini kemudian disusul dengan pelukan hangat untuk Andini.


Sinta memeluk Rina kemudian. Ketika Rina sudah duduk diatas kursi yang sudah disediakan pihak Rumah Sakit.


"Rin. Kita harus kuat demi Anak Anak kita. Jangan lesu dan lemah seperti ini. Kitalah yang akan menjadi kekuatan bagi mereka saat ini. Mereka membutuhkan orang tua dan dukungan saat sekarang ini. Jika bukan kita kelurganya maka siapa lagi." Jelas Sinta.


"Tapi Sin. Kenapa harus Andini dan Rasya. Kenapa selalu mereka yang kena banyak musibah. Apa dosanya?" Rina menangis lagi di dalam pelukan Sinta.


"Itu karena putra dan putri kita adalah manusia pilihan Allah yang akan kuat menerima cobaan ini Rina." Jawab Sinta lagi membuat tangisan Rina kembali pecah.


"Bukan karena penuh dosa, maka dari itu Allah beri ujian. Itu karena Allah sayang dengan mereka." Jelas Sinta lagi.


"Tak lain tidak bukan itu untuk memperkuat keimanan dan kesabaran mereka menghadapi ujian. Kita sebagai orang tua harus selalu siap mendukung dan memberi support kepada mereka Rin." Lanjut Sinta.


Rina yang tidak bisa menjawab apapun karena dihatinya masih tiada bekas tersisa oleh luka yang membalutnya.


Rina bersandar di bahu Sinta kemudian Sinta mengelus kepala Rina dengan penuh kehangatan. Hubungan yang sangatlah susah didapatkan oleh yang lain. Kedekatan yang begitu akrab dengan besan sendiri. Seperti bukanlah besan atau mertua dari anaknya. Melainkan seperti kakak beradik sekalipun.


....Jangan putus asa. Muslim sejati itu ; tidak putus asa dan putus harapan, dia tahu bahwa bersama hari ini masih ada hari esok, bersama kesulitan ada kemudahan, setelah malam ada fajar, dan banyak kenyataan hari ini adalah mimpi hari kemaren. (Syeikh Dr. Yusuf Qardhawi)....


***


Disaat Andini sudah merasa lebih baik. Ia meminta untuk kembali ke ruangan Rasya untuk menemaninya. Belum dapat izin namun Andini bersikeras ingin pergi. Dengan berat hati akhirnya Dokter juga Perawat memberi izin menggunakan kursi roda.


Setibanya di ruangan Rasya. Dan saat ini Rasya masih dalam keadaan koma, Andini hanya mampu menangis kemudian sesekali membacakan al quran di samping suaminya itu. Melantunkan ayat ayat suci Allah. Yang membuat perasaan Andini lebih tenang.


Benar adanya al quran adalah satu satunya obat penenang bahkan lebih mujarab di banding obat bius.


"Assalamualaikum." Seseorang masuk ke dalam ruangan Rasya.


"Waalaikumussalam." Andini, Sinta dan Rafki menoleh ke asal suara.


Ternyata terlihatlah Kevin juga Jena istrinya masuk ke ruangan rawat Rasya.

__ADS_1


"Saya mendengar kabar sedih ini dari Wilona Adik saya. Bagaimana keadaan Rasya sekarang?" Tanya Kevin.


"Beginilah Kak. Kak Rasya masih dalam kondisi koma." Jawab Rafki.


Rafki maupun Andini kaget mendengar ucapan Kevin mengatakan bahwa Wilona adalah adiknya.


"Jadi Dokter Wilona adalah Adiknya kamu Kev?" Andini bersuara.


"Benar Andini. Dia Adikku. Kami satu Ibu beda Bapak." Jelas Kevin lagi.


Andini hanya mengangguk kecil pertanda paham akan ucapan Kevin.


Rafki salah tingkah mendengarnya. Ternyata Wilona adalah adik mantan pacar kakak iparnya.


"Kak aku ke kamar kecil dulu sebentar kak." Izin Rafki kepada Andini.


"Baiklah Ki." Jawab Andini.


Kemudian Rafki melangkahkan kakinya keluar menuju kamar kecil.


Namun tiba tiba tidak dapat dihindari lagi tabrakan tubuh itu terjadi lagi untuk kedua kalinya.


"Eh maaf Mas. Saya tidak sengaja." Ucap Wilona kemudian menengadahkan kepalanya dan melihat ternyata seseorang yang pernah ia temui.


"Tidak mengapa Dok. Saya yang salah. Maafkan saya." Jawab Rafki kemudian.


Wilona masih dalam pikirannya kemudian Rafki memberikan beberapa berkas yang terjatuh ke lantai sebab tabrakan tersebut.


Wilona tertegun.


"Ini kali kedua ini tabrakan Dok." Goda Rafki.


"Benar. Waktu itu Mas juga ya orangnya." Jawab Wilona.


"Aku tunggu yang ketiga kalinya Dok. Kata orang jika tabrakan dengan orang yang sama sebanyak tiga kali kemungkinan itu jodoh." Goda Rafki lagi.


Wilona hanya menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


Dan kemudian melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Rafki. Sampai Wilona pun tidak menyadari bahwa tadi ia terburu karena ada keadaan darurat.


"Dok selamatkan Istri dan Anak saya."Ucap seseorang, yaitu suami dari pasiennya yang akan melahirkan. Membuat Wilona tersadar dan bergegas ke ruangan pasien.


__ADS_2