Suami SHOLEH Untuk ANDINI

Suami SHOLEH Untuk ANDINI
Aku Mencintaimu Mas


__ADS_3

"Selamat siang Dokter Alan." -Kevin.


"Selamat siang. Eh lo ternyata bro. Beneran ngantar temen lo berobat kesini. Dimana temen lo itu?" Tanya Alan.


"Andini." Panggil Kevin.


Andini dan juga Rasya masuk kedalam ruangan Dokter Alan itu.


"Permisi Dok." Ucap Rasya.


"Masuklah. Panggil Alan saja! Kalian temennya Kevin, berarti juga sudah menjadi temen gue juga." Ucap Alan akrab.


"Terima kasih." Tutur Andini.


"Jadi ini yang bernama Andini. Yang terkena amnesia." Ucap Alan itu lagi.


Andini hanya mengangguk tanpa menjawab apapun. Ia sedikit gugup berada di tempat asing ini.


"Jangan takut. Kami disini akan berusaha semaksimal mungkin mengobati mu Andini." Ucap Alan lagi.


Andini yang merasa canggung masih diam di tempat duduk yang sudah disediakan itu sambil mengangguk kecil kemudian menundukkan pandangannya.


"Lansung saja kita periksa keadaan syaraf Bu Andini. Mari ikut saya ke ruangan labor." Ajak Alan.


"Dengan suami saya juga boleh." Andini sedikit memohon.


"Tentu." Jawab Alan.


Andini berdiri dan juga Rasya mengikutinya memasuki laboratorium dimana pemeriksaan awal dimulai.


Kemudian selesai pemeriksaan tinggal menunggu hasilnya Andini dan Rasya juga Kevin diperbolehkan untuk pulang. Sementara hasilnya masih dalam proses pemeriksaan lengkap.


"Jika hasilnya sudah keluar dan akan saya pelajari. Kalian boleh pulang dulu untuk beristirahat." Alan.


"Terima kasih Dokter Alan." Rasya.


"Iya sama sama. Semoga istri mu segera pulih kembali."


"Aamiin."


Andini dan Rasya kembali ke apartement yang sudah disediakan oleh Kevin. Kevin seseorang yang begitu amat baik hatinya. Meskipun pernah terjerat di masa lalu yang kelam bersama Andini, namun bukanlah suatu halangan berbuat baik untuk membantu Andini saat ini. Baginya dan juga bagi Andini masa lalu adalah pelajaran yang kian mendewasakan keduanya. Tidak perlu dendam, saling memaafkan jauh lebih menenangkan.


"Andini." Panggil Rasya kemudian mendekat dan mendekat hingga tubuh keduanya kian beradu meskipun dibalik gamis penutup Andini.


"Aku mandi dulu." Ucap Andini menghindar dari serangan Rasya yang masih membuatnya belum bisa menjalaninya.


"Oke. Maafkan aku." Ucap Rasya bersalah.


"Kenapa minta maaf?" Tanya Andini membalikkan tubuhnya dan masih berada di depan pintu kamar mandi.


"Aku yang hampir membuatmu merasa takut." Ucap Rasya lansung.


"Tak mengapa. Aku yang salah. Belum bisa sadar akan situasi ku yang menyandang status sebagai seorang istri dari Tuan Rasya." Jelas Andini.


Rasya hanya diam pasrah dan duduk di atas kasur tempat tidur mereka.

__ADS_1


Meskipun istri, sekamar dan seranjang. Namun Andini tidak bisa disentuh meskipun itu adalah suaminya.


Takdir macam apa ini Ya Allah


Rasya hampir saja pasrah, namun ia kuatkan lagi keimanan dan ketakwaannya juga begitu kesabarannya akan ujian yang Allah sedang amanah kan terhadap keluarga kecil mereka.


Menguji seberapa kuat mereka akan bersabar dan bertawakal kepada Allah.


"Maaf kan aku yang tadi." Andini tiba tiba datang mengagetkan Rasya yang melamun.


"Hmmm." Jawab Rasya sambil sedikit mengangguk.


"Aku belum siap." Ucap Andini lagi.


"Iya aku paham." Rasya kembali duduk di samping kasur itu.


"Aku sudah selesai. Kita berangkat sekarang!" Ajak Andini.


"Baiklah." Jawab Rasya.


Kemudian pergi meninggalkan Andini yang masih di dalam kamar.


Rasya membalikkan arahnya ketika terdengar suara jeritan Andini.


Membuka pintu dan benar saja Andini sedang memegang kepalanya.


"Kenapa sayang? Kepala mu sakit?" Tanya Rasya mendekati Andini dan memegang tangannya dengan kedua tangan Rasya.


"Iya. Sakit banget." Ucap Andini.


"Tapi aku harus ingat." Jawab Andini.


"Perlahan dan berdoa kepada Allah. Sebab Allah lah yang menghapus lalu menimbulkan kembali."


"Iya." Singkat saja jawaban itu.


***


"Ibu Andini." Panggil seseorang di diujung mix itu. Menandakan kini tiba gilirannya yang akan diperiksa.


Andini lansung berdiri dan begitu juga dengan Rasya yang sedari tadi duduk diruang tunggu bersama istrinya Andini.


"Ayo sekarang kita periksa. Kamu harus semangat menjalani pengobatan ini." Tutur Rasya.


"Iya." Jawabnya lagi.


Kini Andini telah berbaring ditempat tidur yang sudah disediakan.


Menjalankan kemoterapi dan berbagai hal lainnya yang kamipun kurang paham alat medis itu.


Berbulan bulan menjalani pengobatan dan Andini mulai ingat satu persatu.


"Mas. Aku lapar." Ucap Andini. Karena panggilan itu membuat jantung Rasya kian berdebar lebih kencang dari yang sebelumnya.


"Iya sayang. Mau makan apa? Biar mas belikan." Tanya Rasya."

__ADS_1


"Terserah Mas. Yang gampang dicari aja. Yang penting halal." Ucap Andini lagi.


Meskipun tidak ingat banyak hal tentang Rasya namun ia telah yakin bahwasanya suaminya itu benar telah menyayanginya dengan tulus dan merawatnya sebaik baiknya.


Rasya mengecup singkat kening mulus milik Andini.


Dan tidak lagi seperti biasanya kini Andini hanya pasrah dan menikmati perlakuan manis Rasya suaminya.


"Ini sayang. Aku belikan nasi uduk diseberang sana. Biasanya kamu suka nasi uduk." Ucap Rasya memberikan sebuah kantong kresek.


"Makasih ya Mas. Kita makan berdua yuk." Ajak Andini.


"Nanti kamu nggak kenyang lagi." Jelas Rasya.


"Kenyang kok Mas. Nanti Mas malah yang kelaparan." Ucap Andini.


"Nggak sayang. Kamu sudah mengingat aku aja udah bahagia banget. Lapar pun menjadi berkurang. Hihihi." Ucap Rasya garing.


"Apa sih Mas. Kamu bisa aja." Ucap Andini lagi.


Mereka pun akhirnya makan berdua. Kali ini adalah suatu anugerah yang indah untuk kedua pasangan ini. Meskipun telah banyak mengeluarkan uang demi kesembuhan ingatan Andini.


Namun sama sekali tidak menjadi beban bagi Rasya.


"Mas disini biayanya gede banget kan pengobatannya. Kita pulang aja lagi yuk. Aku udah nggak betah." Andini sedikit bermohon.


"Jangan sayang. Kamu hampir mengingat semuanya. Kita tunggu ingatanmu pulih setelah itu kita akan kembali ke Jakarta." Jawab Rasya.


"Tapi Mas. Aku rindu dengan anak kita." Lanjut Andini.


"Anak kita? Arumi. Kamu udah mengingatnya sayang?" Tanya Rasya.


"Sedikit Mas." Jawab Andini.


"Terus ingat apa lagi?" Tanya Rasya.


"Aku ingat......... auuuu." Pekik Andini memegang kepalanya yang terasa amat nyeri itu.


"Sudah sayang. Jangan paksakan untuk mengingat hal itu." Ucap Rasya khawatir.


"Nanti pas kita konsultasi ke Dokter Alan lagi. Kita tanya kapan diperbolehkan untuk rehat pengobatan. Kalau udah rehat kita pulang ya sayang." Ucap Rasya lagi.


"Baiklah Mas." Jawab Andini kemudian pasrah.


"Semangat sayang. Banyak hal yang merindukanmu Ndin. Sembuh lah segera. Aamiin." Timbal Rasya lagi.


"Terima kasih banyak Mas. Sudah sabar menghadapi aku selama ini. Bahkan ketika istrimu tak mengenalimu pun, Mas tetap tabah menjaga dan merawat aku bahkan bela belain sejauh ini Mas." Ucap Andini.


"Jangan terlalu pikirkan banyak hal yang memberatkan mu sayang. Sudah menjadi kewajiban Mas merawat istri Mas." Ucap Rasya lagi.


"Aku mencintaimu Mas." Ucap Andini.


Rasya membalas ucapan Andini dengan pelukan hangat yang ia punya dan membisikkan ditelinga Andini.


"Mas mencintaimu sayang." Bisik Rasya.

__ADS_1


__ADS_2