
"Assalamualaikum." Sapa seseorang didepan rumah tempat dimana Andini saat ini.
"Waalaikumussalam Kevin, Jena. Masuklah!" Ucap Rasya membukakan pintu.
"Bagaimana keadaan Andini Ras?. Saya dengar dari Wilona Andini mengalami amnesia." Tutur Kevin.
"Benar itu Kev. Kami sedang mencari tempat yang bagus dan cocok untuk perawatan Andini untuk segera pulih kembali." Jelas Rasya.
"Kami ada kenalan Dokter khusus otak di Amerika. Jika Mas Rasya berkenan mari kita coba perawatan Andini disana." Ucap Jena.
"Baiklah. Mana tau ini akan berhasil. Kita usahakan terlebih dahulu selebihnya biar Allah yang menentukan." Jawab Rasya.
"Andini." Panggil Rasya masuk kedalam kamar Andini.
"Iya." Jawabnya singkat.
"Diluar ada Kevin dan Jena. Kamu temuin ya." Ucap Rasya.
"Siapa mereka?" Tanya Andini.
"Mereka teman dekat kamu. Terlebih Kevin adalah mantan kekasih kamu sebelum kita menikah." Ucap Rasya.
"Baiklah. Mana tau setelah melihat mereka ada bagian memori ku yang kembali."
"Semoga saja."
"Andini." Panggil Jena.
"Iya." Jawab Andini sedikit gugup.
"Ini aku Jena istrinya Kevin." Ucapnya lagi.
Andini hanya mengangguk kecil.
Asing, sangat asing. Memang jikalau dibuktikan sekali pun semua yang mereka ucapkan adalah nyata. Namun ketika tiada ingatan akan semua itu rasanya cukup aneh untuk dimengerti. Tuhan ada apa denganku. Ku mohon kembalikan lah ingatan ku.
"Jangan paksain untuk mengingatnya Ndin. Kita kesini mau ajak kamu berobat ke Amerika. Sebelumnya kami sudah memberi tahu Rasya tentang ini. Disana ada Dokter ternama yang sering menangani kasus seperti kamu Ndin." Ucap Kevin.
Andini tersentak kaget mendengar tutur bahasa Kevin.
Terdengar sangat lumrah dan baginya kali ini tidaklah asing.
Mana mungkin bathin ini mengenali Kevin, sedangkan suamiku sendiri terhapus kan.
"Jadi bagaimana sayang. Kamu mau kan Andini." Ucap Rasya memecah keheningan dalam lamunan Andini.
"Ha bagaimana kata mu? ke Amerika. Terlalu jauh." Ucap Andini.
"Ada aku yang akan setia dua puluh empat jam di sampingmu Ndin." Ucap Rasya lagi.
"Tapi." Ucapan Andini terhenti seolah memikirkan banyak hal.
"Baiklah." Ucapnya lagi kemudian.
"Alhamdulillah. Aku akan urus administrasi keberangkatan kita besok pagi." Ucap Kevin.
__ADS_1
"Terima kasih banyak Kev." Ucap Rasya.
"Santai bro." Jawabnya.
Kevin dan Jena pamit undur diri dari rumah Andini.
"Maafkan aku sayang. Kelak akan ku beri tahu. Maafkan karena rumah hasil jerih payah kita ini harus aku jual sementara waktu. Ya Allah sembuhkan lah istriku." Doa Rasya seraya memegang map kuning berisi sertifikat rumah dan tanah.
***
"Kita lansung berangkat." Ajak Rasya membawa koper berisi pakaian mereka berdua.
"Oke." Jawab Andini singkat.
dring dring dring
Telepon Rasya berdering panggilan masuk dari Kevin.
"Assalamualaikum. Lo udah dimana bro?" Tanya nya.
"Waalaikumussalam. Ini kita baru saja akan berangkat." Jawab Rasya.
"Sip lah. Gue udah di pelabuhan Ras." Ucap Kevin lagi.
"Baiklah. Kami akan segera sampai." Jawab Rasya lagi.
Selama perjalanan menaiki taksi online semua perasaan gundah kian menyapa dan membeku hingga kini tanpa sadar air mata Rasya pun kian keluar membasahi pipinya yang sempurna.
"Kenapa?" Tanya Andini di samping Rasya yang sedari tadi sudah memperhatikan tingkahnya.
"Tidak."
"Nggak. Tadi ada debu masuk ke mata ku." Jawab Rasya menutupi kegundahannya.
"Aku tau kamu lagi memikirkan sesuatu. Pasti tentang aku. Maafkan aku yang sudah melupakanmu. Sesungguhnya itu bukan lah ingin ku." Tutur Andini lagi.
"Kamu tidak salah sayang. Tunggu sebentar." Ucap Rasya mengeluarkan telepon genggam nya yang berdering.
"Assalamualaikum Nak." Panggil Rasya. Tentu saja itu adalah panggilan masuk dari Arumi.
"Waalaikumussalam Bapak. Bagaimana Ibu? Sekarang Bapak sudah sampai dimana?" Tanyanya di ujung telepon.
"Baik Nak. Alhamdulillah. Doakan semoga semua prosesnya lancar ya Nak. Doa anak yang Sholehah akan dikabulkan oleh Allah." Ucap Rasya lagi.
"Aku boleh bicara dengan Arumi?" Tanya Andini.
"Tentu."
"Arumi sayang. Ini Ibu mau bicara." Ucapnya.
"Hallo anakku. Ibu minta maaf ya Nak. Bukan maksud Ibu di situasi seperti ini. Doakan Ibu segera sembuh dan ingat lagi tentang moment moment bahagia kita sayang." Ucap Andini menangis.
"Aamiin. Jangan menangis Ibu. Aku tidak mengapa saat ini Ibu tidak mengenali aku lagi Bu. Ibu harus sembuh. Aku akan doakan Ibu setiap sujud sholat ku Bu. Selamat sampai tujuan Ibu. Aku akan merindukan Ibu." Kini Arumi pun menangis tersedu mengingat akan nasib rumit Ibunya itu.
"Tentu sayang. Ibu juga akan merindukanmu." Ucap Andini. Meskipun dengan rasa yang begitu masih hampa Andini berusaha untuk tidak menyakiti hati dan perasaan anaknya itu.
__ADS_1
"Sudah dulu ya Nak. Ibu dan Bapak hampir sampai di bandara. Jaga dirimu baik baik." Ucap Andini lagi.
"Ibu juga. Assalamualaikum Bu."
"Waalaikumussalam Ibu."
Panggilan itu terputus dan taksi yang mereka tumpangi kini sudah berhenti dimana tempat parkir disediakan.
Andini dan Rasya keluar dari dalam taksi itu dan membayar jasa kirimnya yang telah mengantarkan mereka sampai disini.
"Terima kasih Pak." Ucap Andini.
"Sama sama Buk." Jawab sopir taksi itu.
"Hai Andini, Rasya." Panggil Kevin sambil mendekati mereka.
"Jam keberangkatan kalian tinggal 20 menit lagi. Sekarang masuklah dan persiapkan segala urusan." Ucap Kevin lagi.
"Gue udah menghubungi Dokter Alan itu. Dan dia sudah menunggu. Gue juga akan berangkat bersama kalian." Ucap Kevin lagi.
"Lalu istri lo?" Tanya Rasya.
"Tidak perlu khawatir. Jena sudah memberi izin. Tapi gue tidak menunggu sampai pengobatan selesai." Lanjutnya.
"Terima kasih banyak bro. Jasa lo sudah banyak membantu kami. Kami akan sangat berhutang pada lo."
"Jangan anggap hutang. Ini sudah menjadi bagian dari kewajiban gue membantu sesama. Apalagi itu Andini. Seseorang yang pernah membuat warna di hidup gue. Dia harus bahagia dan ingat lagi akan semuanya terutama itu kenangan pernikahan kalian."
"Sekali lagi terima kasih banyak Kev." Rasya bersalaman dengan Kevin memeluknya dan menepuk-nepuk punggung Kevin.
***
Beberapa saat di dalam pesawat terbang kini telah tiba dimana tujuan mereka.
"Welcome to Amerika." Ucap Kevin.
Rasya dan Andini kagum melihat pemandangan dan suasana yang baru.
Gedung menjulang tinggi.
Dan masih banyak lagi sesuatu yang baru dan indah yang baru kali ini mereka nikmati.
Sesampainya mereka disebuah apartement yang memang dari awal sudah di booking.
"Ini kamar kalian." Ucap Kevin.
"Makasih." Ucap Rasya lagi.
"Itu Andini kenapa mukanya di tekuk sejak tadi. Tidak bicara apapun malah. Seperti orang kesambet." Ucap Kevin memecah suasana dingin di antara mereka yang membuat ketiganya mengeluarkan tawa yang memang begitu memperlihatkan suasana bahagia.
"Lo ada ada bro. Tapi emang bener." Ucap Rasya sumringah.
"Apa an sih." Cemberut Andini.
"Tuh suara emasnya keluar juga akhirnya." Kevin.
__ADS_1
"Btw semangat ya Ndin. Semoga ingatan kamu kembali secepatnya. Jangan menyerah." Ucap Kevin lagi memberi semangat kepada Andini.
"Terima kasih banyak Kevin." Ucap Andini.