
"Jangan terlalu memberikan kesan buruk ke Gue. Nanti Lo malah tertarik dan ngejar-ngejar Gue." Ucap Galfin lagi dan lagi itu berhasil membuat Wilona semakin kesalnya.
"Jadi orang tuh jangan kebanyakan ngarang." Balas Wilona.
"Siapa juga yang ngarang. Gue yakin pasti nanti kek gitu. Abis Lo terlalu menilai sesuatu itu buruk, sebelum Lo sendiri mengenalnya lebih jauh. Itu sih prediksi Gue. Tapi semoga aja nggak kan. Nggak rela juga kalau sampai berjodoh dengan Lo." Tutur Galfin panjang lebar, bahkan melebihi kata-kata perempuan.
"Ih Gue yang amit-amit berjodoh sama orang yang macamnya kek Lo." Lanjut Wilona.
Pembicaraan mereka terus berlanjut tiada henti, dan tanpa mengalah.
Selalu beradu argumen hingga tak kunjung selesainya.
Jam tangan yang sudah menunjukkan pukul 21.00 wib atau jam sembilan malam.
"Waduh, kan gara-gara Lo, Gue jadi lupa waktu. Udah ah ini kelamaan. Gue balik dulu." Izin Wilona.
Galfin yang tiada jawaban dan melihat jam tangannya membenarkan perkataan Wilona.
Benar saja sekarang sudah sangat larut untuk sepasang yang belum halal.
Karena tadinya tim pengawas Kevin dan Jena mengalami insiden makanya pergi duluan.
Karena melihat tingkah mereka berdua, rasanya tidak mengganjal dan keduanya percaya utuh seandainya Galfin akan menjaga Wilona dengan baik.
Wilona yang berdiri dari bangkunya, lansung membalikkan badan.
Namun tiba-tiba saja baju gaun yang ia pakai saat ini tersangkut di bagian meja Dinner nya.
Galfin lansung spontan berlari menuju Wilona dan menangkap tubuhnya yang hampir terjatuh.
Kini Wilona yang tengah berada di dalam pangkuan Galfin, menatap lekat mata pria yang menyelamatkannya barusan.
Jika tidak ada Galfin yang membantu, mungkin saja ia sudah terjatuh dan kepeleset.
"Astagfirullah." Ucap Wilona tersadar, jika saat ini Galfin tengah menyentuhnya.
"Astagfirullah. Maaf. Makanya Lo hati-hati kalau jalan. Liatnya ke bawah jangan ke langit." Ucap Galfin menghilangkan rasa gugupnya.
Baru kali ini ia seperti memeluk wanita, meskipun bukan harapan dan rencana.
Namun rasanya juga sungguh sangat mengganjal.
__ADS_1
"Lo sengaja ya. Ambil-ambil kesempatan di balik kesempitan. Dasar, ternyata pria brewok seperti alim ini juga mesum ya." Balas Wilona tidak terima.
"Udah di bantuin juga. Bukannya makasih, malah memaki. Dasar cewek yang nggak punya balas budi. Pantesan kayak gini, cewek yang nggak punya menor baik." Lanjut Galfin tidak mau kalah.
"Eh dasar la Lo. Bikin Gue makin enek deh. Paling pinter dalam meniru setiap perkataan orang." Balas Wilona lagi.
Dan lansung melangkahkan kakinya.
Baru sekitar dua meter atau lebih sedikit, Wilona membalikkan tubuhnya menghadap kembali ke arah Galfin yang masih berdiri di depannya.
"Oh ya. Makasih." Ucap Wilona dan melanjutkan langkahnya pergi meninggalkan Galfin.
Galfin yang menggelengkan kepalanya yang tidak sakit melihat tingkah lucu dan menggemaskan Wilona.
Membuatnya jadi terbayang-bayang akan Wilona.
Galfin merasa dihantui oleh bayang-bayang Wilona di pikirannya hingga membuatnya pun tidak bisa memejamkan matanya.
"Kenapa malah Gue jadi mikirin tu cewek. Ini bener-bener nggak masuk akal. Sepertinya ada yang salah dengan otak Gue." Tutur Galfin sendirinya.
Dan disisi lain Wilona juga memikirkan hal yang sama.
Meskipun raga keduanya sama-sama berontak, berlawanan setiap kali bertemu, berdebat yang tiada kelarnya.
"Apa sih Wil. Lo nggak boleh mikirin orang yang nggak pantes ada di pikirin Lo. Kenapa sih? Otak Lo Demam Wil." Ucap Wilona dalam hatinya dan menggelengkan kepala nya dengan sedikit kencang.
Berusaha melepaskan pikirannya dari Galfin, pria yang selalu membuat mood nya tidak baik, pria yang nyebelin dan selalu bertingkah tidak baik kepadanya bagi Wilona.
"Astagfirullah Dek. Bangun ini udah siang. Kamu nggak sholat subuh Dek. Bangun." Jena menggoyang-goyangkan tubuh Wilona yang masih tertidur pulas.
"Ih Kakak. Please, aku masih ngantuk." Balas Wilona tanpa membuka matanya.
"Bangun! Sholat subuh dulu Dek. Kenapa melalaikan sholat seperti ini. Allah benci hamba Nya yang suka melalaikan sholat dan perintah Nya." Lanjut Jena.
Hingga berhasil membuat Wilona membuka matanya perlahan.
Meskipun masih sangat mengantuk, akhirnya Wilona berdiri dan lansung ke kamar mandi untuk mengambil air wudu.
"Dek, wudu nya kenapa lama sekali. Ayo nanti waktu subuh keburu habis." Teriak Jena.
"Iya Kak Jena bawel." Balas Wilona keluar dari kamar mandi dan masih mengusap-usap matanya yang rasanya masih mengantuk.
__ADS_1
Selesai sholat subuh dan melihat ke arah jam dinding. Terlihat jelas jam dinding yang menunjukkan pukul 05.15 wib.
"Aduh Kak Jena, sengaja ya ngerjain aku. Bilang udah kesiangan, nyatanya masih jam segini." Ucap Wilona memanyunkan mulutnya.
"Abis Dinner nya kelewatan sih, sampai-sampai susah sekali untuk dibangun sholat. Apa jangan-jangan merasuk lagi kedalam jiwa ya. Kalian pasti jatuh cinta." Goda Jena.
"Apa sih Kak. Nggak mungkin aku jatuh cinta sama pria yang nggak punya menor kek dia." Balas Wilona lagi.
"Jangan ngucapin jelek dulu Dek. Nanti kamu kena batunya lagi. Nanti beneran suka gimana? Siapa yang akan tanggung jawab. Lagian kalau emang suka jangan bohongi perasaan itu. Keburu diambil orang nanti yang sakit kan kita juga." Ucap Jena memberi peringatan.
Wilona yang termenung mendengar ucapan Jena barusan mengingatkan kembali ingatan yang bertahun silam.
Dimana penyesalannya akibat terlambat menyadari rasanya kepada Rafki.
Hingga akhirnya harus terpisah karena Rafki yang menikahi perempuan lain.
"Dek. Kenapa bengong?" Jena menyentuh bahu Wilona.
Wilona tersentak kaget karena ulah Jena.
"Hah. Apa Kak? Gimana?" Tanya Wilona.
"Udah Dek. Intinya, kalau suka bilang suka. Jangan bilang nggak suka. Nanti endingnya nggak akan baik jika kita membohongi perasaan kita sendiri. Dan jika suka halalkan! Jangan biarkan perasaan itu merusak iman di dada. Dan jangan biarkan rasa itu menjerumuskan kita ke dalam api neraka." Lanjut Jena memberi peringatan lagi kepada Wilona.
"Iya Kakak sayang. Ustazah terbaik. Sayang Kakak." Balas Wilona dan lansung memeluk Jena.
Seperti anak kecil yang kegirangan memeluk ibunya.
Karena setelah Ibunya tiada dan Jena menikah dengan Kevin Kakaknya. Wilona sudah nyaman dan lansung dekat seperti ada rasa kasih sayang Ibu dan Kakak hadir bersamaan.
***
"Ki." Panggil Lina.
"Iya Lin. Kamu kenapa?" Tanya Rafki menghampiri Lina yang tengah memegang perutnya.
"Perut aku sakit Ki." Ucap Lina.
"Sakit kenapa? Kita ke Rumah Sakit sekarang yok!" Ajak Rafki yang lansung memapah Lina.
"Nggak usah sekarang Ki. Udah malam juga. Besok aja lagi. Aku mau di pijitin aja. Boleh kan?" Tanya Lina.
__ADS_1
"Tentu sayang." Balas Rafki dan menggendong Lina menuju kamarnya.
Sesampainya di kamar Rafki lansung memijit Lina dengan penuh kasih sayang.