Suami SHOLEH Untuk ANDINI

Suami SHOLEH Untuk ANDINI
Persiapan menantikan kelahiran.


__ADS_3

Sesampainya dirumah Andini yang lansung merebahkan tubuhnya di atas kasur.


"Sayang, kamu makan dulu ya! Mas suapan. Mau?" Ucap Rasya bertanya kepada istrinya.


"Makasih Mas, tapi aku nggak lapar." Jawab Andini menolak.


"Paksakan buat makan sayang! Biar kuat dan calon bayi kita sehat juga kuat sayang." Lanjut Rasya.


"Ya udah Mas." Balas Andini pasrah terhadap tawaran Rasya.


Perutnya yang memang masih rada mulas namun ada pertumbuhan di dalam kandungannya yang harus dia prioritaskan ketimbang rasa mual yang ia rasakan.


Akhirnya Andini makan makanan yang di suap kan oleh suaminya.


Selalu begitu, Rasya yang siap tangkap memberikan perhatian kepada istrinya.


Seperti seolah ia ikut merasakan yang dirasakan oleh Andini istrinya.


***


Di tempat lain Rina yang sibuk shopping membelikan perlengkapan untuk menanti kedua cucunya akan lahir.


Mulai dari kasur set, dan ayunan serta pakaian bayinya.


Awalnya Rina pergi ke tempat Rafki dan Lina dan memberikan jatah untuk mereka.


"Sayang, ini keperluan buat cucu Ibu nantinya. Semoga bermanfaat ya Nak." Ucap Rina kepada menantunya Lina.


"Ibu repot-repot ah. Lagian nanti Rafki kan bisa beli Bu. Kenapa Ibu capek-capek bawa barang sebanyak ini." Balas Lina.


"Nggak repot nggak capek kok. Buat cucu Ibu yang sebentar lagi akan lahir. Lagian Ibu juga senang membelikan dia sesuatu yang nantinya akan berguna." Lanjut Rina.


"Terima kasih banyak Ibu. Cucu Ibu pasti senang Omanya bawakan ia yang bagus-bagus seperti ini. Ia kan sayang?" Ucap Andini sambil mengelus perutnya yang sudah membulat ke depan.


Saat ini Lina sudah memasuki usia kehamilan 8 bulan.


"Oh iya Lin. Tadi di jalan Ibu nemu buah ini. Waktu itu kamu kan pengen sekali makan ini. Maaf Nak, baru sekarang adanya." Lanjut Rina menyodorkan bingkisan berikutnya.


"Apa ini Bu?" Tanya Lina.


"Buka aja." Lanjut Rina.


Lina yang memang membukanya dan melihat isinya ternyata adalah buah Kelengkeng.


Buah Kelengkeng itu manis bahkan melebihi dari rambutan.


Memang sih Lina amat menyukai buah ini.


"Wah Ibu, Buah Kelengkeng ya? Makasih banyak Ibu." Peluk Lina kemudian pertanda ia amat menyukai dan menyenangkan hatinya.


Rina yang membalas pelukan Lina kemudian menepuk punggungnya pelan sambil berbisik.


"Sehat selalu Nak, Cucu Ibu juga sehat." Doa Rina.

__ADS_1


"Aamiin ya Allah. Terima kasih banyak Ibu." Lanjutnya lagi.


Rafki yang sedari tadi mematung melihat dan memperhatikan istri dan ibunya itu tertawa tawa kecil.


Melihat perlakuan manis dari keduanya yang penuh akrab dan kasih sayang.


"Ya sudah Ibu lansung balik. Mau ngasih ini juga ke Andini." Pamit Rina.


"Makan siang dulu disini Bu! Bareng kita." Lanjut Lina.


"Benar kata Lina Bu. Habis makan nanti aku yang antar Ibu pulang." Ucap Rafki membenarkan.


"Ya sudah lah kalau kalian maunya gitu." Lanjut Rina menuruti permintaan menantu dan anaknya itu.


Sehabis makan siang Rina yang sudah siap untuk berangkat.


"Ibu nggak nginap disini?" Tanya Lina ragu.


"Lain kali ya sayang. Nanti Ibu akan disini bareng kalian." Lanjut Rina.


Selesai berpamitan kemudian Rina memasuki mobil milik Rafki.


"Ibu bagaimana kabarnya? Kak Rasya dan Mbak Andini juga bagaimana Bu?" Tanya Rafki di perjalanan.


"Alhamdulillah kami baik semua Nak." Jawab Rina.


"Syukurlah Bu. Aku dan Lina belum sempat mampir kesana." Ucap Rafki lagi.


Memang rumah Rina dan rumah yang dibeli Rasya berdekatan.


Namun meskipun begitu Rina tetap tidak bisa selalu disana.


"Ya udah Bu." Ucap Rafki lagi kemudian.


***


"Assalamualaikum." Sapa Rina dan disusul Rafki masuk kerumah kediaman Rasya dan Andini.


"Waalaikumussalam." Balas Andini yang sudah membaik.


"Bagaimana kabarmu Nak? Rasya mana? Sendirian aja kamu dirumah?" Tanya Rina bertubi.


"Baik alhamdulillah Bu. Mas Rasya ada di kamar tamu bareng Arumi. Arumi baru saja pulang Bu." Lanjut Andini mempersilakan Rina dan Rafki masuk.


"Arumi, sayang. Sini Nak? Lihat siapa yang datang?" Panggil Andini.


"Nenek, Om Rafki." Panggilnya kemudian menyalami dan memeluk Rina.


"Cucu Nenek apa kabarnya? Kenapa nggak bilang-bilang akan pulang sayang?" Ucap Rina.


"Biar jadi kejutan Nek. Lagian Arumi juga tidak mau balik lagi kesana. Meninggalkan Ibu dan semuanya." Ucapnya sambil memonyongkan bibirnya.


"Kenapa sayang? Apa ada yang menyakiti kamu Nak?" Tanya Rina lagi.

__ADS_1


"Ibu, Ki minum dulu." Ucap Andini yang membawakan napan berisi gelas dan di dalamnya berisi jus jeruk sesuai selera mereka semuanya.


Rina mengangguk.


"Nggak kok Nek. Arumi mau berhenti aja. Soalnya Arumi mau jagain Ibu disini yang berjuang demi kelahiran calon adik Arumi." Lanjutnya.


"Terus bagaimana sama didikan kamu Nak?" Tanya Rina lagi.


"Udah ada pengganti Arumi kok Nek." Lanjutnya lagi.


Semuanya belum bisa bertanya lebih jauh kepada Arumi.


Mereka lebih memilih untuk menikmati saat dimana disini sedang ada Arumi.


Melepas rindu yang sudah lama mereka tahan kepada Arumi, begitu pun dengan Arumi.


Sangat merindukan suasana keluarganya.


Yang dari sekolah hingga saat ini selalu jauh dengan keluarga angkatnya itu yang rasanya seperti keluarga kandungnya sendiri.


"Oh iya Andini. Ibu kesini bawa ini buat calon Cucu Ibu." Ucap Rina sambil memberikan bingkisan besar disana.


"Kenapa repot-repot Ibu. Ini kebanyakan Bu." Ucap Andini.


"Nggak repot kok Nak. Apalagi buat cucu sendiri. Nggak akan ada kata repot." Ucap Rina lagi.


"Makasih banyak ya Bu." Ucap Andini.


"Terus Lina Bu?" Tanyanya lagi.


"Tadi juga udah Ibu bawakan. Ibu ke pengen membelikan sesuatu buat menantikan cucu Ibu lahir. Dan di toko dekat pasar Ibu menemukan ini. Makanya Ibu belikan dua. Untuk disini dan untuk disana." Lanjut Rina.


"Makasih banyak Ibu." Ucap Andini.


"Iya sama-sama Nak." Lanjut Rina.


"Oh iya Mbak. Aku nggak bisa lama Mbak. Soalnya Lina tinggal sendirian. Nanti repot kalau perlu apa-apa disana nggak ada siapa-siapa." Ucap Rafki.


"Ya udah Ki. Nggak kenapa. Hati-hati ya Ki. Titip salam buat Lina. Makasih udah nganterin Ibu kesini Ki." Ucap Andini.


"Iya Mbak." Lanjut Rafki kemudian pergi meninggalkan tempat itu.


"Ibu disini dulu ya Bu." Lanjut Andini.


"Tapi Nak." Ucap Rina terputus mengingat tadinya Lina juga mengajaknya untuk menginap dirumahnya dulu dan ia tolak.


Lantas apa baik jika ia menerima tawaran Andini untuk menginap disini.


Rasanya terlalu pilih kasih.


Namun disini Arumi baru pulang dari luar negeri, apa nggak menyakiti hatinya juga jika ia menolak untuk menginap disini.


"Iya Nek. Disini dulu bareng Arumi. Nanti Nenek tidur dengan Arumi. Arumi rindu dibacakan dongeng lagi sama Nenek." Mohon Arumi memecahkan lamunan Rina.

__ADS_1


__ADS_2