
"Jadi ini semua rencananya Kakak?" Tanya Wilona kepada Kevin.
"Nggak Dek. Ini rencananya Galfin yang membujuk Kakak terus - terusan." Balas Kevin.
"Terus Kakak mau, gitu Kak?" Tanya Wilona lagi.
"Ya abis bujuknya mempan sih Dek." Ucap Kevin sambil tersenyum senyum.
"Kakak jahat. Kakak durhaka. Sengaja ngerjain adiknya sendiri. Kak Kevin nggak sayang lagi ma aku." Ucap Wilona merajuk.
"Karena Kakak sangat menyayangi mu Dek. Makanya ikut ambil peran buat mempertemukan kamu dengan jodohmu Dek. Udah lah jangan merajuk gitu. Kalau merajuk cantik nya kan jadi hilang." Ucap Kevin.
Belum saja Wilona akan menjawab, perkataan yang ia siapkan hilang seketika melihat seseorang datang tepat di depan matanya.
Siapa lagi kalau bukan Galfin.
Pria misterius yang barusan diterima Wilona lamarannya.
"Hai calon istri." Panggilnya.
"Geli denger nya." Balas Wilona.
"Oh gitu. Istri aja biar nggak geli kan." Lanjut Galfin.
"Ngaco." Balasnya Wilona lagi.
Kevin dan Jena hanya tersenyum dan tertawa kecil melihat tingkah mereka berdua.
"Udah. Jan berantem disini. Rumah Sakit, banyak pasien butuh istirahat di luar." Lerai Jena istrinya Kevin.
"Iya iya Kakak bawel." Jawab Wilona kemudian keluar dari ruangan operasi itu.
"Wilona." Panggil Galfin.
"Iya." Jawab Wilona menghentikan langkahnya.
"Bentar lagi kan makan siang nih. Bareng yok di restoran depan. Katanya ada menu baru yang enak." Ajak Galfin.
"Boleh." Ucap Wilona melanjutkan langkahnya.
"Dasar cewek judes." Ucap Galfin dengan nada rendah.
"Apa apa? Barusan Lo bilang Gue apa? Gue nggak bude' ya. Gue bisa denger Lo tadi bilang apa." Ucap Wilona membalikkan tubuhnya kemudian menghampiri Galfin lagi.
"Kalo denger ngapain nanya lagi." Timpal Galfin.
"Dasar Lo ya. Cowok paling nyebelin sejagat raya." Lanjutnya.
Entahlah meskipun keduanya ibarat sudah saling mengungkap rasa, namun tidak memecah kehebohan di antara keduanya.
***
"Bagaimana sayang? Perutnya masih sakit?" Tanya Rasya.
"Udah lumayan Mas. Nggak terlalu sakit lagi." Jawab Andini sambil berbaring.
Usia kehamilannya mencakup hitungan 3 bulan.
Dan keadaan Andini perlahan mulai membaik dari bulan sebelumnya.
Memang hal yang wajar di usia kehamilan yang masih dini rentan membuat ibu kelelahan.
"Andini, ini Ibu masakin bubur hijau buat kamu." Ucap Rina memberikan semangkok wajan berisi bubur hijau di dalamnya.
"Makasih Bu." Jawab Andini.
__ADS_1
"Sama-sama Nak. Ibu minta maaf karena sempat kesal dengan kamu." Ulasnya.
"Tidak mengapa Bu. Sudah aku maafkan Bu. Lagian Ibu juga nggak salah kok." Lanjut Andini.
Keduanya berpelukan.
Rina menyesal mengingat kejadian dimana dia selalu memojokkan Andini menantunya.
Menantu terhebat yang ia punya.
Sikap manis Lina membuatnya buta mata akan setiap kenangan bersama Andini.
Hingga akhirnya Lina juga lah yang menyadarkan akan sikap Rina yang sudah jauh melenceng.
***
"Assalamualaikum." Sapa Galfin.
"Waalaikumussalam." Balas Wilona.
"Nggak lupa kan. Hari ini kita bakal fitting baju pengantin." Ucap Galfin.
"Nggak kok. Tapi aku mungkin agak telat. Soalnya ada urusan dulu, tadi pasien nelpon bakal kesini bentar lagi." Ucapnya jujur.
"Oke lah. Aku tunggu di luar." Ucap Galfin.
"Disini aja juga nggak kenapa kok." Lanjut Wilona.
"Benar nih nggak ganggu kerja kamu." Ucap Galfin lagi.
"Ya nggak lah. Aku berusaha buat nyaman dengan kamu. Lagian nggak ada kasus juga calon suami ganggu kerjaan calon istrinya." Jelas Wilona.
Yang berhasil membuat Galfin melambung ke angkasa.
"Eh kamu emang nggak ngantor hari ini?" Tanya Wilona.
"Nggak ah. Males. Kan sekarang juga jadwal bareng kamu." Tutur Galfin.
"Begitu ya kalau jadi bos nya. Bisa seenaknya aja mau masuk dan nggak soal kerja." Jelas Wilona.
"Ya nggak gitu juga sih sebenernya." Tolak Galfin.
Sesampainya di butik yang direkomendasikan oleh Galfin tempat dimana mereka akan melakukan fitting baju.
"Mbak, ini calon pengantinnya. Mohon di bantu ya Mbak." Ucap Galfin kepada pelayan disana.
"Baik Pak." Jawabnya kemudian.
Wilona yang di bantu mencarikan gaun pernikahannya yang di bantu oleh pelayan.
Mencobanya satu per satu.
Hingga kali ini Wilona keluar dari ruang ganti dengan gaun dress white nya nuansa putih kilauan dengan aksesoris berlian berjajar di gaun tersebut.
Galfin yang tadinya duduk kemudian tertegun lansung berdiri terkagum melihat aura Wilona yang sangat menawan dan anggun.
Serasa sudah menjadi pengantin beneran.
"Masya Allah. Yang ini aja. Kamu cantik pakai ini." Ucap Galfin.
Wilona yang tersipu malu mendengar pujian Galfin.
"Oke." Ucapnya pelan lansung membentuk jemarinya dengan jari telunjuk dan ibu jari yang di gabungkan membentuk O.
Selesai memesan gaun pengantin.
__ADS_1
"Aku lapar. Makan dulu yok!" Ajak Galfin.
"Makan dimana?" Tanya Wilona.
"Di depan sana ada restauran baru buka. Kita coba menu di saja yok!" Ajaknya lagi.
"Oke." Jawab Wilona kemudian mereka lansung menuju restauran tersebut.
"Kamu mau pesan apa?" Tanya Galfin sembari mengulurkan menu makanannya.
"Terserah kamu aja. Di samain aja." Ucapnya.
"Baiklah. Biasanya ini enak. Kamu pasti suka." Lanjut Galfin memberikan secarik kertas kepada pelayan restauran itu.
Beberapa menit kemudian pesanan mereka pun telah datang.
Dan benar saja makanannya enak, Wilona menyukai hidangan restauran ini.
"Enak kan?" Tanya Galfin.
"Lumayan lah." Jawab Wilona kemudian.
"Wil. Kamu benar tidak terpaksa kan menerima lamaran aku?" Tanya Galfin lansung ke intinya.
Wilona tersedak dan Galfin lansung memberikannya air minum.
"Maaf." Ucapnya lagi.
"Tadi kamu bilang apa?" Tanya Wilona.
"Jangan bahas lagi. Sudahlah." Ucap Galfin.
"Jelas aku nggak terpaksa. Sebenernya aku juga suka sama kamu." Lanjut Wilona dengan wajah malu-malu dan memerah.
"Tuh wajahnya kenapa jadi memerah gitu?" Goda Galfin.
"Hah, nggak kok. Dimana? Mungkin blush on kali." Lanjut Wilona yakin.
"Nggak mungkin blush on kek gitu Wil." Ucapnya lagi.
Wilona hanya diam menikmati makanan yang belum lagi habis.
"Nggak usah malu-malu lah. Kalau sayang bilang sayang, kalau cinta ya bilang cinta. Buat apa menutupi perasaan." Lanjut Galfin.
Membuat Wilona semakin sungkan dan malu-malu.
"Jangan godain aku terus." Ucap Wilona menutupi wajahnya.
"Siapa yang godain kamu. Aku bicara yang benar kok." Lanjut Galfin.
"Udah Galfin. Dasar nyebelin nya kumat lagi tuh kan." Timpal Wilona.
"Nyebelin seperti ini kan tetap menjadi pemenang di hati Dokter muda yang sangat cantik bernama Wilona." Lanjutnya lagi.
"Galfin udah." Ucapnya.
"Tapi bener loh Dokter muda ini kenapa jadi secantik ini sih?" Tanya Galfin.
Wilona hanya diam namun Galfin tiada hentinya.
"Hahaha aku senang sekali lihat wajah menggemaskan ini kalau lagi ngambek dan manyun gitu." Jelasnya.
"Kebiasaan deh seneng bikin orang lain kesel." Wilona sedikit marah.
"Biar nanti jadi terbiasa." Lanjutnya lagi mengeluarkan tawanya yang terbahak.
__ADS_1