Suami SHOLEH Untuk ANDINI

Suami SHOLEH Untuk ANDINI
Marah


__ADS_3

Andini yang sedang memasak di dapur. Makanan kesukaan Rasya suaminya.


Namun tiba tiba ada seorang yang mengetok pintu dan Andini lansung membukakan pintu. Andini sangat kaget melihat sosok siapa yang datang.


"Assalamualaikum Ibu." panggil Arumi dari luar


"Waalaikumussalam nak. Ada apa kamu pulang? uang belanja mu habis?" tanya Andini kaget melihat Arumi datang tiba tiba di saat keadaan buruk seperti ini. Andini dan Rasya sengaja menyembunyikan dari Arumi agar proses nya belajar di pesantren tidak terganggu.


Namun Arumi datang tiba tiba menangis dan memeluk Andini.


"Kenapa Ibu dan Bapak tidak memberi tahu aku?


Kenapa Ibu dan Bapak hadapi berdua. Aku kecewa Bu. Aku benar khawatir mendengar ini dari tetangga rumah kita." jelas Arumi panjang lebar.


Rasya keluar dari kamarnya ketika mendengar ada suara bising dari luar kamarnya itu.


Rasya duduk mendekati ternyata Arumi yang datang.


"Maafkan kami nak. Kami tidak mau membuatku khawatir lebih dulu mengetahui kejadian itu nak. Alhamdulillah kami selamat sayang. Bukankah itu yang paling penting nak?" jawab Andini kemudian


"Benar Ibu. Aku takut Bapak dan Ibu kenapa kenapa?"


"Buktinya sekarang kami berdua sehat sayang." jawab Rasya.


Kemudian Arumi kembali memeluk Andini sambil mengeluarkan air mata di balik cadarnya dan kemudian bersalaman dengan Rasya di balik sarung tangannya yang selalu ia pergunakan.


Selain memakai cadar Arumi selalu memakai sarung tangan agar tidak ada kegelisahan ketika suatu masa berada di sekeliling para bukan muhrim.


Pakaian Arumi sungguh menunjukkan bahwa Rasya dan Andini tidak lah gagal mendidik putrinya agar bisa berpakaian sopan seperti ini. Keputusan memasukkan Arumi ke pesantren adalah sangat tepat.


...Cadar?...


...Memang bukanlah suatu kewajiban bagi wanita muslimah....


...Namun karena cadar itulah membuat wajah wanita muslimah bisa terjaga rapat dari pandangan lelaki yang berniat jahat dan lain sebagainya....


...Penampilan memang tidak menjamin akhlaknya....


...Namun akhlaknya tergantung penampilannya....


...Tidak semua yang menutup auratnya adalah wanita Sholehah menurut Allah....


...Namun yang pasti wanita Sholehah menutup auratnya dengan baik....


"Bagaimana dengan pelajaran mu nak?" tanya Rasya kemudian memecahkan keheningan dan kesedihan. Kemudian mencari topik pengganti.


"Alhamdulillah lancar saja Bapak."


"Alhamdulillah." Andini dan Rasya mengucap syukur bersamaan.

__ADS_1


"Assalamualaikum." pembicaraan Rasya Andini maupun Arumi terputus ketika tiba tiba terdengar suara ketokan pintu dan salam yang rasanya bukan asing.


Andini menuju pintu dan membukanya. Andini kaget melihat Sinta dan Rina sudah berada di luar dengan raut wajah kecewa dan marah seolah ingin menerkam Andini habis habis.


"Waalaikumussalam." jawab Andini sedikit grogi. Andini berpikir tentang Mama dan Ibu nya tau dia tinggal disini dari siapa. Bagaimana perasaan mereka saat tau keadaan kami saat ini.


Andini terdiam di tempat. Lalu Sinta memecah keheningan itu


"Arumi yang mengabari kami tentang kalian." ucap Sinta seolah Mama nya mengetahui isi hati Andini.


"Maafkan kami Ma, Bu." ucapnya kemudian sambil mempersilakan Sinta dan Rina masuk dan duduk di kursi tamu bersama Rasya dan Arumi yang sudah duduk saat ini.


"Rasya." panggil Rina


"Ibu, Mama." ucapnya sambil menyalami orang tuanya itu dengan sopan.


"Kenapa kalian tidak memberi tahu kami?" tanya Rina seolah ingin marah kepada putra dan mantunya itu.


"Maafkan kami Ibu. Kami tidak ingin membuat kalian khawatir dan syok." jelas Rasya mengucap yang ia rasakan.


"Tapi bukan dengan cara kalian menyembunyikan ini semua dari kami. Kalian lewatin berdua itu bukan jalannya Rasya. Masih ada kami sebagai orang tua kalian. Kenapa kalian tidak pulang kerumah Ibu atau Mama kalian." Rina terlihat ingin marah dan sedih melihat kondisi putra dan mantunya itu yang sudah ia anggap seperti putrinya sendiri.


"Maafkan kamu Ibu. Kami tidak ingin membuat kalian bersedih dan khawatir melihat kondisi kami saat ini. Kami tidak mau Ibu dan Mama bersedih." jelas Andini


"Tapi dengan begini apakah kami akan tenang. Melihat putri dan putra kami menderita menanggung beban sendirian." Sinta bersuara


Andini kemudian menangis membuat Rina dan Sinta berdiri dari duduknya menghampiri Andini dan memeluknya.


"Maafkan kami Ibu, Mama." Andini dan Rasya bersamaan menjawabnya.


Arumi hanya diam sesekali menitikkan air matanya melihat kesusahan orang tua angkatnya itu.


"Ya sudah sekarang kalian bersiap dan kita akan pergi kerumah Ibu atau Mama." jelas Rina


"Tidak Bu. Jangan." Andini menolak


"Kenapa?" tanya Sinta


"Kami akan tetap tinggal disini Ma, Bu. Disini kami akan memulainya dari nol kembali. Mencoba agar bisa mampu bertahan disaat kondisi yang sudah Allah garis kan pada rumah tangga kami." Jawab Andini


"Tapi nak. Bagaimana kalau kalian sakit dan disini kondisi rumahnya juga kecil dan sedikit kotor" Sinta berbicara dan Rina mengangguk kecil.


"Tidak mengapa Ma. Kami sudah merasa nyaman dan bisa ikhlas menerima semua ini Ma, Bu. Tenanglah kami akan baik baik saja. Percayalah anak Ibu dan Mama juaranya hebat." ucap Andini lagi.


"Tapi nak....." Rina


"Tidak Bu. Kami akan disini sampai bisa bangkit lagi dan keadaan semakin membaik." jelas Rasya


"Kami tidak bisa memaksa kalian. Tapi kami tidak bisa melihat kalian susah disini." Sinta

__ADS_1


"Iya nak. Dengarkan lah kami." Rina mengiba


"Kami tidak susah Ma, Bu. Kami senang disini." Andini


"Tapi kalian harus janji kalian kalau butuh sesuatu bilang pada Mama dan Ibu. Kami juga akan sering kesini. Iya kan Rina?" Jawab Sinta


"Tentu." Rina menimpali.


"Iya Ma, Bu." Andini dan Rasya bersamaan.


"Bagaimana keadaan kalian disini? Bagaimana makan dan bagaimana kesehatan?" tanya Sinta bertubi tubi


"Lihat lah Ibu, Ma. Kami sangat sehat alhamdulillah.


Makan? Allah tidak pernah menimpakan suatu masalah diluar batas kesanggupan hambanya. Seperti yang sering Ibu dan Mama jelaskan kepada kami. Kami alhamdulillah masih bisa makan enak Ma, Bu." jelas Andini panjang lebar


Rasya hanya mengangguk kecil.


...Meskipun saat ini mungkin terasa berat...


...karena kita baru berputar dari kaya menjadi cukup...


...miskin?...


...tidak ada kita manusia sebenarnya yang miskin...


...hanya saja porsi kita berbeda masing masing nya....


...Bahkan ketika menjadi kaya lah kita akan merasa gelisah....


...Sebab orang paling kaya adalah orang yang terakhir masuk surga....


...Untuk memperhitungkan hisab dari hartanya....


...ketika kita berada dititik bawah...


...jangan mengeluh ataupun bersedih...


...jadikanlah itu suatu bentuk ibadah...


...karena Allah sedang ingin melihat usaha kita untuk bangkit dan bagaimana cara kita menerima ujian itu....


...Allah tidak benci, melainkan ia sangat sayang...


...Dan percayalah kita akan selalu berputar seperti roda...


...ada masanya di bawah dan ada masanya untuk di atas....


...Tidak perlu khawatir akan kaya ataupun sebaliknya...

__ADS_1


...Allah sudah mengatur sesuai kebutuhan kita dan bukan keinginan kita....


__ADS_2