
"Aku tidak sengaja mendengar pembicaraan Kakak tadi dengan Kak Kevin." Ucap Wilona muram.
"Pembicaraan yang mana Dek?" Tanya Jena.
"Pembicaraan yang kata Kakak Rafki akan acara lamaran hari ini." Ucap Wilona.
"Maksud kamu Dek?" Tanya Jena masih kurang ngena.
Namun disaat Wilona tidak menjawab apapun Jena semakin berpikir keras.
"Kakak ngerti sekarang Dek. Lelaki yang buat kamu senyum senyum itu orangnya Rafki." Jelas Jena kemudian.
Wilona malah memeluk Jena dan mengeluarkan air matanya perlahan.
"Aku kira kami akan berjodoh Kak. Aku pikir dia juga menyukai aku Kak." Wilona lirih mengungkapkannya.
"Apa aku salah karena menyukai mencintai orang itu. Kenapa semuanya tidak bisa berpihak kepada ku Kak. Padahal aku sudah tertarik dengannya. Namun ia akan menikah dengan orang lain. Apa yang harus aku lakukan Kak." Wilona berbicara terus dalam tangisannya.
Jena sangat kasihan melihat adik iparnya itu bersedih dan patah hati seperti saat ini. Jena tak mampu mengatakan apapun sekarang. Yang ia lakukan hanya memeluk Wilona erat untuk sementara agar bisa membuat Wilona sedikit merasa tenang dan lega.
"Kakak paham perasaanmu Dek. Tapi jangan larut larut seperti ini. Kamu nangis tidak mau makan, bahkan mogok di kamar. Itu artinya menyiksa tubuhmu sendiri sayang." Jelas Jena.
"Tapi aku tidak nafsu makan Kak." Ucap Wilona.
"Nanti kamu malah jadi sakit Dek." Jena memohon sambil mengarahkan tangan Wilona membawanya keluar untuk makan.
Wilona mengelak dan melepaskan tangan Jena.
"Tidak Kak. Kakak makan saja duluan. Nanti kalau aku sudah lapar aku ke bawah ambil makanan." Jawab Wilona lagi.
Namun Jena tidak berhenti sampai disana saja. Meskipun Jena keluar kemudian beberapa saat setelahnya Jena membawakan napan berisi makanan.
"Ini Dek. Jangan sampai tidak dimakan." Ucap Jena meletakkan makanan itu di dekat meja di samping kasurnya Wilona.
"Kakak ku ini. Paling dan paling super menggemaskan. Terima kasih kak Jena." Ucap Wilona dan memeluk Jena.
***
"Hanya ini yang kami bisa persiapkan Pak Nazar." Ucap Rina memberikan pembawaannya dari rumah tadi.
__ADS_1
"Ini saja sudah berlebihan Bu Rina. Kami merasa berat hati dibawa sebanyak ini. Padahal acara kita hanya sebatas berkumpul dulu."
"Begini Pak. Kami kesini berniat melamar putri Bapak yang bernama Lina untuk putra kami Rafki." Jelas Rina.
"Saya paham. Lina sudah bicara dengan saya. Sesuai harapan dan ingin anak saya. Saya terima lamaran dari Nak Rafki." Ucap Nazar kemudian.
"Kita bicarakan saja sekarang sampai hari pernikahannya sekalian Bu. Agar tidak membuang waktu dan mereka bisa segera dipersatukan." Ucap Nazar lagi melanjutkan.
"Baiklah Pak." Jawab Rina.
Yang memperdebatkan itu hanya antara Rina dan Nazar. Selebihnya hanya mengangguk kecil tanda mengerti. Terlebih bagi Rafki dan Lina yang sama sama duduk di samping orang tua masing masing.
Rasya dan Andini hanya diam mendengarkan.
Selesai sudah perjamuan juga sampai ke acara makan makan makan berakhir mereka keluarga Rafki pamit undur diri dari rumah kediaman Bapak Nazar dan putrinya Lina.
Detak detak jantung Lina semakin kencang, hingga tak sadar sebentar lagi akan di persunting seorang lelaki yang baik hatinya, berbudi luhur dan baik etikanya juga tentang ketakwaannya. Sungguh Lina menjadi wanita beruntung mendapatkan Rafki meskipun dengan cara tidak benar benar efisien.
Sesampainya dirumah, Rafki yang sedikit lelah lansung saja merebahkan tubuhnya ke atas kasur miliknya.
Ketika Rafki sedang memejamkan matanya seolah terlintas bayang bayang yang membuatnya lansung terbangun.
"Gadis itu." Lirih Rafki dalam hatinya.
Namun apa ada. Wanita bernama Lina hadir diantara keduanya. Memenjarakan Rafki dalam ucapannya sendiri. Suatu hal yang memang ketika mengingat Wilona ia teringat akan ucapannya dengan Lina. Semua ini membutuh perasaannya perlahan.
..."Jangan biarkan cobaan yang menimpa menghancurkan hidupmu. Dengan sabar dan iman, kamu harus bisa melewatinya dan menjadi orang yang lebih baik." – Mufti Ismail Menk....
..."Dan ketahuilah, sesungguhnya kemenangan itu beriringan dengan kesabaran. Jalan keluar beriringan dengan kesukaran. Dan sesudah kesulitan pasti akan ada kemudahan." - HR. Tirmidzi....
..."Cobalah pahami musibah sebagai teguran halus Allah kepada kita, agar kita jauh lebih dekat dan makin dekat lagi dengan Yang Maha Kuasa." – Uje....
"Definisi agar kita menjadi selalu bahagia pegang prinsip ini Dek.
Sabar ketika sempit,
Syukur ketika lapang, dan
__ADS_1
Istighfar ketika bermaksiat. Meskipun hanya maksiat pemikiran sekalipun." Jelas Jena kepada Wilona.
"Bimbing aku Kak. Jangan biarkan aku terlalu larut dalam hal konyol seperti ini yang akan membuat Allah akan benci dan murka pada ku Kak. Demi Allah aku akan bangkit dan melupakan segala macam masalah hari ini dan hari kemaren." Ucap Wilona dan di balas pelukan hangat dari Jena.
"Tentu sayang. Selain ipar Kakak. Kamu adalah adik dan saudara se akidah bagi Kakak sayang. Tidak akan mungkin Kakak membiarkanmu jauh meninggalkan Allah. Sekarang sholat lah! Dan minta pertolongan dan ketabahan hati dari Allah. Sungguh yang demikian itu adalah hal yang baik untuk hambanya. Tiada tempat paling indah selain menceritakan masalahmu di atas sajadah menengadah mengharap ampunan dan ridho Nya sayang." Ucap Jena yang masih dengan kondisi memeluk Wilona.
...Seribu duka pun yang akan engkau hadapi. ...
Percayalah Allah akan selalu berada di dekatmu.
Ia menggenggam mu, berharap engkau akan ingat akan hadirnya.
Allah sedang merindukan rintihan harapanmu hanya kepada Nya lah tempat kita berdoa dan berharap. Tiada sesembahan melainkan itu atas nama Allahu Akbar.
***
"Sayang. Kemari lah!" Panggil Nazar.
"Iya Dady." Jawab Lina.
"Siap siaplah Nak! Sebentar lagi Nak Rafki akan kesini. Katanya akan fitting baru pernikahan kalian. Juga dengan ditemani Andini juga Rasya.
"Baik Dady. Baguslah kalau ada Kak Andini juga Kak Rasya yang menemaninya." Ucap Lina senang.
"Benar. Sebelum pasangan antara perempuan dan lelaki belumlah halal baginya mereka akan dilarang untuk berduaan. Begitulah yang Dady tahu." Jelas Nazar.
"Ya sudah Dady. Sekarang aku bersiap dulu." Izin Lina kepada Nazar, Dady nya.
Tak lama kemudian Andini dan juga Rasya datang kerumah Lina. Menjemputnya untuk ikut pergi memilih baju pernikahannya dengan Rafki.
"Rafki mana Kak?" Tanya Lina kepada Andini.
"Ada di dalam mobil Lin. Katanya ada yang ingin ia perbaiki dulu sebelum kita berangkat." Jelas Andini.
Mereka pergi menuju Rafki dan tampaklah Rafki yang sedang mengotak atik mobil tersebut.
"Kenapa Dek?" Tanya Rasya.
__ADS_1
"Aman Kak. Aku hanya memastikannya sebelum kita berangkat." Jelas Rasya.
Selain gugup dan takut juga disertai banyak pikiran Rafki berusaha menyembunyikannya dari semua orang termasuk Lina.