
..."Assalamualaikum Nak. Ibu mau kasih kabar Bapak masuk Rumah Sakit Nak. Tapi sekarang alhamdulillah sudah lebih baik. Kamu jangan cemas atau khawatir. Sehat sehat disana Nak. Salam sayang dari Bapak dan Ibu. Wassalam dari Ibu."...
Ucap Andini mengirimkan surat berupa pesan singkat itu melalui pos. Karena di Pondok Arumi tidak diperkenankan memakai telepon karena ketakutan jika pelajarannya akan terganggu.
Dua hari pengiriman maka sampailah surat itu pada Arumi.
Kemudian ia membuka amplop surat itu dan membacanya.
Arumi menangis.
Kemudian berlari kepada Ustazah disana. Meminta izin untuk mengambil cuti beberapa hari. Ustazah pun mengizinkan dan mengantarkan Arumi kepada angkot yang biasanya di tumpangi oleh santriwati Pondok itu.
Arumi bergegas menuju Rumah Sakit. Ia hanya menduga Rumah Sakit Annisa sebab itulah yang lebih dekat.
"Permisi Bu. Ada pasien bernama Bapak Rasya disini Bu?" Tanya Arumi.
"Benar Dek. Di ruangan Melati nomor 35 Dek. Lurus belok kiri!" Ucap Perawat tersebut setelah melihat daftar nama pasien disini.
"Terima kasih Bu." Ucap Arumi dan lansung berlari menuju ruangan yang sudah diarahkan Perawat didepan tadi.
"Assalamualaikum." Panggilnya Arumi setelah masuk kedalam dan ia melihat Rasya terbaring kemudian menghampirinya dan berlutut menangis dibawah kasur tempat Rasya terbujur.
"Bapak maafkan Arumi yang baru datang kesini untuk Bapak. Bapak kenapa bisa seperti ini?" Suara Arumi yang sudah sedikit parau karena menangis sudah sejak tadi. Andini kaget melihat Arumi yang tiba tiba datang kesini. Rasya yang terbangun mendengar suara putrinya itu kemudian melihatnya.
"Bapak baik baik saja Nak. Bangunlah!" Ucap Rasya
Andini mendekati Arumi dan membangunkan Arumi dari duduknya yang seolah berlutut kepada Rasya.
"Bapak baik baik saja Nak. Lihatlah! sekarang sudah lebih kuat kan." Jelas Andini.
"Kenapa Ibu baru kasih kabar aku sekarang Bu. Bukankah aku Anak Ibu?" Ucap Arumi kepada Andini.
"Nak. Kamu disana sedang berjuang belajar untuk mengejar akhirat untuk menyelamatkan kami juga nantinya Nak. Lagian Bapak sekarang sudah enakan sayang. Jangan menangis lagi." Peluk Andini kepada Arumi.
__ADS_1
"Aku mohon Bu, Pak. Lain kali kalau terjadi sesuatu kasih aku kabar. Seperti ini rasanya tidak enak Bu. Aku sangat takut Bapak atau Ibu kenapa kenapa." Jelas Arumi.
"Lihatlah Nak kami baik baik saja." Jawab Andini lagi.
"Kita masih punya Allah yang akan selalu menjaga hamba Nya Nak." Lanjut Rasya menjelaskan.
"Arumi." Panggil Rina yang baru datang dari luar karena ada sesuatu yang ia perlukan.
"Nenek." Panggilnya kemudian memeluk Rina.
"Nenek kenapa ikut ikut Ibu dan Bapak tidak memberi tahu aku Nek? Kenapa jahat semua?" Arumi kembali menangis.
"Bukan begitu gadis kesayangannya Nenek. Ibu kamu yang melarang Nenek memberi tahu kamu sayang. Lagian niat Ibumu juga baik. Nenek pikir itu benar." Jelas Rina.
"Terus bagaimana ceritanya Bapak bisa seperti ini Bu?" Tanya Arumi lagi berbalik menuju Andini.
"Bapak pamit pergi ke Cimahi ada acara pengajian dan beliau yang akan membawakan acaranya, tiba tiba ada Gempa Bumi kemudian bangunan tempat ia mengisi acara runtuh menimpa Bapak." Jelas Andini.
"Astagfirullah Bapak." Ucap Arumi beristigfar.
Suasana haru ini menjadi moment pahit yang Arumi rasakan. Lagi lagi Bapaknya terkena musibah dan ia mengetahui kejadian ketika sudah diakhir saja ketika semuanya mulai membaik.
***
"Sudah jauh lebih baik kondisinya sekarang Mbak Lina" Ucap Rafki kepada pasiennya itu yang bernama Lina Margaretha.
Lina hanya diam tiada jawaban ia masih dalam suasana frustasi. Sebab usahanya untuk bunuh diri gagal karena seseorang yang menyelamatkannya.
Entah siapa itu kurang jelas karena ia berhasil menyelamatkan dari usaha mati ketika ia menyodorkan diri untuk ditabrak di jalanan.
"Sudah cukup ini yang terakhir Mbak. Hidup terlalu berarti untuk itu. Lihatlah di Rumah Sakit ini banyak pasien yang berjuang mati matian agar tetap bisa selamat menjalani hidupnya. Kenapa Mbak bisa berpikir berjuang agar mati. Sadarlah Mbak." Ucap Rafki kemudian melangkah meninggalkan ruangan tersebut kemudian menuju pasien berikutnya.
Lina tertegun dengan nasehat Rafki.
__ADS_1
'Nikmati saja sayang. Jangan menolaknya. Ini akan sungguh nikmat kita rasakan berdua. Surga dunia. Menangis saat ini tidak ada gunanya lagi. Dirimu milikku seutuhnya saat ini.' Ucap pria konyol itu berusaha melecehkan Lina. Ucapan yang selalu menghantui Lina kemana mana. Kesuciannya direnggut oleh pria yang tidak bermoral. Bahkan pertemuan yang kedua kalinya adalah bukti menyedihkan dalam hidupnya karena mendapatkan perlakuan seperti itu. Yang membuat Lina tidak ingin lagi menjalani hidup.
"Kenapa semua ini bisa terjadi. Kenapa? Tuhan engkau tidak adil. Sungguh tidak adil. Engkau mengambil kedua orang tuaku, kekasihku, sekarang engkau biarkan kesucian ku pun direnggut orang lain sebelum waktunya." Rintihan Lina di dalam hatinya.
Lina keluar dari ruangan rawatnya. Menaiki life kemudian pergi menuju balkon. Kehidupannya suram, hampa dan tidak ada semangatnya lagi. Ibarat tubuh yang tidak bernyawa. Mati! Ya itulah perasaannya Lina. Mengandung tanpa adanya sosok suami sungguh tidak bisa ia lewati.
Rafki yang akan pergi keluar ke Rumah Sakit tetangga ingin melihat kondisi Rasya. Ketika berada di parkiran Rafki tak sengaja melihat ke arah atas balkon. Ia melihat seseorang yang berlari sangat kencang Rafki pergi menuju tempat tersebut.
Dan akhirnya ia belum terlambat.
"Mbak berhenti. Jangan lakukan itu." Panggil Rafki.
"Siapa anda yang berani menahan saya?" Gertakan Lina.
"Saya Dokter disini Mbak. Sudah menjadi tugas bagi saya untuk menyelamatkan sebuah nyawa. Hidup seperti ini sangatlah sia sia Mbak. Allah membenci hambanya yang berputus asa seperti ini Mbak. Meskipun saya tidak mengenal Mbak seutuhnya juga dengan penderitaan yang Mbak alami sebelumnya. Namun saya tau persis bagaimana perasaan Mbak sampai mau bunuh diri berulang kali seperti ini. Sadarlah Mbak. Masih ada yang membutuhkan Mbak didunia ini. Hidup Mbak akan dimulai lagi setelah Mbak mau melupakan masa sulitnya Mbak." Jelas Rafki panjang lebar. Untuk menghentikan niat buruk pasiennya itu.
Namun Lina sungguh sudah mati rasa. Hingga ia ingin tetap melangkah maju menuju maut.
Satu langkah, dua langkah, tiga langkah, keempat langkah adalah lompatan.
Dan kemudian Rafki dengan sigap menarik tangan Lina kembali ke atas. Menahannya karena separuh perjalanan Lina tidak bertenaga untuk naik.
"Lepaskan saya. Biarkan saya mati." Ucap Lina.
"Tidak Mbak." Jawab Rafki.
"Anda tidak tahu hidup saya. Hidup saya sudah hancur. Masa depan saya sudah kandas. Tidak ada lagi gunanya saya hidup." Ucap Lina sambil menangis masih dalam penahanan Rafki supaya tidak terjatuh.
"Tidak Mbak. Saya akan membantu Mbak sebisanya." Balasnya.
"Anda tidak akan bisa membantu saya. Saya sekarang hamil. Hamil tanpa bersuami." Jawabnya.
"Orang yang menghamili saya tidak akan bertanggung jawab. Ia melakukannya karena nafsu belaka. Saya juga tidak mengenalnya." Lanjut Lina.
__ADS_1
"Saya akan menikahi Mbak. Sekarang naiklah!" Jawab Rafki kemudian menarik kedua tangan Lina sekuat tenaga hingga akhirnya berhasil dan Lina terjatuh kedalam pangkuan Rafki.