
Rasya masuk ke ruangan dimana Andini tengah tidur tak sadarkan diri karena efek biusnya itu masih ada.
Rina dan Rafki pun menyusul masuk ke dalam ruangan itu.
Tak berapa lama Rasya melihat anak kembarnya itu. Namun perawat - perawat itu pun berlalu membawa putri kembarnya untuk di lakukan pemeriksaan ulang setelah meminta izin kepada Rasya dan juga setelah Rasya pun mengazankan putri kembarnya itu.
"Selamat ya Nak." Peluk Rina.
"Iya Kak. Selamat atas kedatangan putri kembarnya Kak." Lanjut Rafki.
"Makasih Bu, Ki. Aku beneran sangat bahagia sekali. Rasanya semua cobaan dan derita yang berlalu bersama Andini hilang tiba-tiba. Masya Allah ternyata inilah rencana Allah dalam ujiannya sebelumnya untuk keluarga kami." Jawab Rasya memeluk Ibu dan Adiknya itu bergantian.
***
Selesai proses mengajar untuk saat ini Arumi lansung izin dari pihak pondok pesantren untuk menjenguk ibunya yang sedang berada di rumah sakit.
Sesampainya dirumah sakit Arumi bergegas masuk dimana Andini sedang di rawat.
"Assalamualaikum. Bagaimana keadaan Ibu Pak?" Tanya Arumi cemas dan khawatir.
"Arumi. Waalaikumussalam Nak. Alhamdulillah Ibu baik-baik saja, namun sekarang masih belum sadarkan diri setelah operasi. Adik kamu udah lahir Nak. Perempuan kembar, cantik seperti Kakaknya." Jelas Rasya.
"Masya Allah Pak. Benarkah itu. Lalu sekarang dimana Adik-adik Arumi Pak?" Tanya Arumi tak sabar kan diri ingin segera bertemu.
"Di ruangan labor khusus bayi Nak. Tunggu saja dulu! Dokter sedang periksa keadaan Adik kamu Nak." Lanjut Rina menjawab pertanyaan Arumi cucunya.
"Nenek Rina. Saking cemas dan bahagianya Arumi sampai nggak liat kalau ada Nek Rina sama Om Rafki disini. Hehehe." Kekeh Arumi sambil menyunggingkan senyuman khas ala Arumi nya.
"Dasar cucu Nenek. Kalau udah bahagianya suka lupa dengan sekitarnya. Bahkan Neneknya sendiri dia lupakan." Ngambeknya Rina.
Dan akhirnya Arumi balas ngambeknya Nenek dengan sebuah pelukan hangat penuh kasih.
Dan menciumi pipinya berkali kali.
Sungguh pemandangan yang sangat indah.
"Hallo assalamualaikum Ki." Panggil Lina di ujung telepon.
"Iya waalaikumussalam Lin." Jawab Rafki.
"Bagaimana keadaannya Mbak Andini Ki?" Tanya Lina kemudian.
"Alhamdulillah Mbak Andini baik-baik saja dan sekarang masih belum sadarkan diri setelah operasi caesar prematur." Jawab Rafki.
"Jadi Mbak Andini udah lahiran Ki?" Tanya Lina lagi penasaran.
"Udah Lin. Alhamdulillah kembar." Jawab Rafki.
__ADS_1
"Masya Allah. Aku sangat bahagia." Lanjut Lina lagi.
"Oh ya Lin. Bagaimana kamu dirumah? Bentar lagi aku pulang. Zayyan gimana?" Lanjut Rafki bertubi menanyakan kondisi istri dan anaknya.
"Ini Ki. Makanya aku telepon. Zayyan sepertinya demam Ki. Semenjak tadi kamu pergi Zayyan nangis terus, tapi badannya sedikit panas. Kalau bisa pulang, segeralah pulang Ki. Aku kasian sekali liat Zayyan nggak hentinya nangis." Rengek Lina kepada suaminya.
"Ya udah sayang. Aku pulang sekarang." Jawab Rafki kemudian panggilan itu pun terputus.
"Bu, aku duluan ya pulangnya. Zayyan demam kata Lina." Izin Rafki.
"Hah. Demam Nak? Terus sekarang gimana?" Tanya Rina.
"Ibu disini saja dulu. Biar aku pulang melihat kondisi Zayyan nanti akan aku kabari Ibu." Lanjutnya.
Rina mengangguk mengiyakan kemudian Rafki berlalu pergi.
***
Sesampainya dirumah dan benar saja Zayyan putra kecil yang masih berusia lebih dari dua bulan ini sedang menangis teriak teriak.
Rafki langsung mengambil alih Zayyan dari Lina.
Dan hebatnya Zayyan lansung berhenti menangis.
"Masya Allah Nak. Baru saja Papa gendong, teriakannya langsung berhenti." Rafki langsung mengecup pipi manis itu.
"Ya ampun Ki. Anak kamu nyebelin sekali." Goda Lina.
"Terus tadi gimana Mbak Andini sudah sadar kah Ki?" Tanya Lina lagi.
"Masih belum Lin. Tapi sekarang entahlah semoga saja sudah siuman." Ucap Rafki.
Diwaktu bersamaan di Rumah Sakit Husada dimana Andini sedang menjalani perawatan.
Terlihat sedikit respon dari tubuh Andini, yaitu nya jemarinya ada yang bergerak.
Perlahan lahan detik demi detik hingga akhirnya Andini membuka matanya kembali setelah berjam jam tidak sadarkan diri.
"Auuh." Pekik Andini kesakitan.
"Apa sayang? Apa yang sakit?" lansung Rasya tersentak menghampiri istrinya itu berharap baik baik saja.
"Mas. Aku dimana?" Tanya Andini masih dengan suara aneh yang terbata.
"Kamu di Rumah Sakit sayang." Lanjut Rasya.
Andini melihat sekelilingnya kemudian merasakan sedikit nyeri di bagian perutnya.
__ADS_1
Ketika ia meraba perutnya Andini kaget dengan perut besarnya kemudian tidak ada lagi.
"Anakku." Pekik Andini.
"Alhamdulillah sayang. Anak kita kembar dan selamat juga sempurna. Manis seperti Ibunya." Lanjut Rasya.
"Jadi Mas?" Andini masih terlihat syok dan tidak memahami keadaannya.
"Iya sayang. Kamu sudah melahirkan dua orang putri cantik seperti bidadari. Kamu sudah di operasi caesar untuk menyelamatkan Anak kita." Lanjut Rasya menjelaskan.
"Masya Allah Mas. Alhamdulillah." Syukur Andini seolah tak merasakan lagi sakit dan perihnya setelah operasi.
"Ibu, apa Ibu baik-baik saja?" Arumi lansung mendekati Andini dan bertanya sambil memeluk Ibu angkatnya itu.
"Ibu baik-baik saja Nak. Kamu kapan datangnya Nak?" Tanya Andini lagi.
"Baru saja Bu. Arumi habis dari ruangan adik-adik Bu. Mereka sangat lucu dan menggemaskan." Lanjut Arumi.
"Alhamdulillah Nak. Kalian bertiga harus saling menjaga hingga dewasa nanti ya Nak. Jaga adik-adik ya sayang Ibu." Pinta Andini sebab merasa sedikit berbeda. Takutnya Arumi malah berpikir jauh ketika adik tirinya lahir ke dunia ini. Mungkin iri ataupun cemburu.
Namun meskipun begitu Andini telah berjanji di dalam hatinya meskipun Arumi adalah anak tirinya mereka akan menyamakan kasih sayang di antara anak-anaknya. Apakah itu kandung ataupun tiri. Yang di cemaskan Andini sebelumnya ialah Arumi yang merasa minder.
"Tentu Ibu. Arumi sangat sayang dengan adik kembar." Ucap Arumi mengecup pipi Ibunya itu.
"Ibu juga lebih sayang kalian semuanya." Lanjut Andini.
Membuat suasana haru diantara semuanya.
Dan yang lainnya terus mencermati dengan seksama kejadian ini.
Haru, bahagia, sedih dan yang lainnya terasa sangat bercampur aduk di benaknya.
Seolah mengerti dengan perasaan Arumi ataupun Andini.
"Nak, boleh Ibu minta tolong sayang? Panggilkan dokternya Nak! Ibu ingin sekali melihat adik kembar." Pinta Andini.
Arumi menoleh kesemuanya terlebih kepada Bapaknya Rasya.
Dan mendapat anggukan dari Rasya, Arumi pun paham dan mengerti.
"Oh oke Bu. Baiklah. Ibu tunggu sebentar." Lanjut Arumi.
"Terima kasih banyak Nak." Ucap Andini.
Setelah Arumi keluar dan Andini mulai menggerakkan tubuhnya ingin bangun dari tidurnya.
"Kenapa sayang?" Tanya Rasya.
__ADS_1
"Mas aku ingin sekali melihat anak kita." Lanjut Andini.
"Tunggu dulu kamu di periksa Dokter dan Dokter mengizinkan kita bertemu dengan si kembar." Lanjut Rasya.