
"Selamat pagi bidadariku. Ayo bangun! Kita sholat subuh jama'ah yok sayang." Ucap Rasya sambil membelai lembut wajah putih mulus milik Andini.
"Mas." Panggilnya berusaha membuta matanya yang masih mengantuk.
"Ayo sayang. Kita ambil wudhu dulu." Ajak Rasya lagi.
Andini berusaha bangun dari tidurnya kemudian dibantu Rasya mengangkat bagian kepala Andini yang akan mempermudah keadaan Andini untuk bangun.
Selesai mengambil wudhu dan melaksanakan kewajiban itu sholat subuh berjama'ah. Sungguh adalah suatu moment indah yang tidak semua orang mampu menikmatinya.
Selesai salam, Rasya yang menoleh ke istrinya yang masih duduk menunggu suaminya melihat kearahnya. Lansung diambil tangan Rasya dan menciuminya, seperti biasanya. Kemudian dibalas kecupan hangat di kening Andini.
Keduanya saling berpelukan.
Syukur terindah yang pernah ada didunia.
Dua insan manusia yang selalu berusaha mempertahankan keimanan dan memperdalamnya, cinta yang selalu utuh meskipun ujian datang silih berganti.
Tiada pernah menyerah, sabar dan ikhlas adalah jalan baginya.
Hidup kaya dan memiliki segalanya belum tentu akan bahagia. Karena bahagia itu sendiri tidak berdasarkan martabat dan status seseorang.
Bahagia itu di hati.
Ketika kita bisa menerimanya dengan lapang dada semua masalah yang berat, terasa tidak berat sekalipun.
"Sayang. Aku ada jadwal pengisian acara, penceramah di Masjid Nurul Ihsan. Aku pamit sayang. Doakan semoga berkah dan lillah." Ucap Rasya selesai membenarkan kancing bajunya yang masih berantakan.
"Iya sayang. Doaku selalu bersamamu." Jawab Andini mengambil alih memperbaiki kancing Rasya yang belum saja rapi.
"Terima kasih sayang." Ucap Rasya mengecup kening Andini dan bersalaman.
Seperti biasanya Andini yang selalu mengantarkan Rasya ke depan pintu, merelakan kepergiaan suaminya mencari ridho Allah.
***
"An-an_dini." Panggil Sinta terbata di dalam ponsel genggam itu.
"Iya Ma. Mama kenapa?" Tanya Andini kemudian.
Namun tiada jawaban apapun dari Sinta. Hanya terdengar seperti barang benda jatuh ke lantai. Andini panik tak karuan. Pikirannya pun melayang entah kemana.
"Assalamualaikum Mas Rasya. Mas dimana? Masih sibuk acara taklim pastinya ya. Aku dapat panggilan dari Mama yang membuat pikiran aku jadi tidak enak Mas. Suara Mama terbata dan tidak ada jawaban apapun ketika aku menanyakannya. Aku pamit izin pergi kerumah Mama ya Mas. Sebelumnya sarapan buat Mas udah aku siapin di meja makan. Assalamualaikum suamiku." Pesan singkat itu berhasil Andini kirim kepada Rasya.
Selesai berkemas dan lansung pergi meninggalkan kediamannya Andini lansung masuk ke taksi online yang sebelumnya telah ia pesan.
"Kemana Mbak?" Tanya sopir itu.
__ADS_1
"Jalan Merak nomor 41." Ucapnya pasti.
Rasanya perjalanan ini amat jauh sekali baginya. Hatinya yang terasa begitu gundah membuatnya amat gelisah.
"Maaf Pak. Bisa lebih cepat lagi." Ucap Andini lagi.
"Baik Mbak." Balasnya dan mempercepat sedikit laju mobil itu.
Sesampainya di rumah Sinta. Sinta yang hanya sendirian dirumah. Karena ART nya pulang kampung, dikarenakan ada salah satu keluarganya yang sakit.
Andini lansung keluar selesai membayar taksi tersebut.
"Mama. Mama." Teriak Andini hingga tiba di pintu masuk.
Pintu itu terkunci di dalam, dan tiada jawaban dari Sinta.
Andini mencoba mencari cari celah supaya bisa melihat situasi di dalam sana.
Benar saja, seseorang tergeletak di dekat meja makan. Dugaan Andini itu adalah Sinta.
"Tidak mungkin Mama. Tidak." Ucap Andini panik dan tanpa sadar lagi ia kini tengah menangis dan mencari sebuah benda yang bisa ia pergunakan untuk membuka paksa pintu rumah itu.
Tiba tiba ada keajaiban yang datang. Andini menemukan sebuah besi panjang dan ujungnya juga begitu tumpul hingga memudahkan untuk ia pergunakan.
Selesai membuka pintu itu. Andini lansung berlari menuju meja makan dimana tadi ia melihat seseorang yang terduga itu Mamanya.
"Mama. Mama kenapa?" Teriaknya lagi.
Mencoba sekuat tenaga yang ia punya memapah Sinta keluar dari rumah itu.
"Tolong." Teriak Andini.
"Bapak, Ibu tolong kami." Teriaknya terus terusan.
Hingga tetangga kemudian berlari menuju asal suara Andini.
"Mama kamu kenapa Din?" Tanya Pak Sarwo tetangga Sinta yang sangat mengenal baik keluarga Sinta.
"Andini juga tidak tau Pak. Tadi Mama menelepon tapi tidak jelas katanya Pak. Makanya Andini lansung kesini. Tau tau Mama udah tergeletak di meja makan." Tutur Andini parau dan serak karena ia terusan menangis.
"Lansung bawa kerumah sakit Din. Biar saya antar." Ucap Sarwo.
"Terima kasih banyak Pak." Ucap Andini merasa sedikit lega.
Sarwo yang mengemudi dengan kecepatan sedang di saat rambu lalu lintas berwarna merah tiba tiba sebuah mobil lainnya menerobos yang lainnya, dengan kecepatan yang luar biasa kencang, dan sopir pun tidak bisa mengendalikannya lagi hingga terjadinya kecelakaan maut beruntun.
tiga mobil dibelakang Sarwo hancur dan mobil itupun tidak sempat lagi pergi lansung saja pecahan dan lain halnya menimpa dan menabrak mobil Sarwo yang di dalam sana ada Sinta yang pingsan juga Andini yang masih dalam tangisannya.
__ADS_1
"Allahu Akbar. Mama. Mas Rasya." Ucap Andini sebelum pecahan kaca menimpa hebat kepalanya.
***
Ambulan datang silih berganti.
Entah berapa banyak korban jiwa akibat ini. Belum bisa di kwalifikasi.
Rasya yang sudah pulang kini lansung masuk ke kamarnya.
Disana terlihat selembar kertas bertulisan seperti apa pesan masuk ke ponselnya tadi.
"Istriku ini.". Gerutu Rasya sambil
Berita di TV TV mulai beredar. Hingga tiba ke telinga Rasya yang tengah sedang menikmati makan siang
Terdengar jelas beritanya mengatakan.
Kecelakaan maut di jalan Merak. Salah satu penumpang bernama Andini dan xxxxxxx masih banyak lainnya.
Rasya tersentak kaget tanpa sadar memecahkan gelas di tangannya.
Langit serasa runtuh saat ini.
Bumi berguncang hebat.
Langkah kakinya gontai untuk melangkah menuju Rumah Sakit di dalam berita itu.
Sekencang mungkin Rasya menyusul pergi ke tempat dimana diberitakan disana terdapat Andini istrinya.
"Permisi Sus. Benar disini ada pasien bernama Andini. Korban kecelakaan barusan?" Tanya Rasya kepada Suster didepan meja pelayanan.
"Benar Pak. Ibu Andini sedang berada di dalam ruangan ICU. Ruangannya di ujung pojok kanan Pak. Silakan." Tutur Suster tersebut.
Rasya lansung pergi ke tempat yang diperintahkan Suster itu.
"Nak Rasya ya." Tanya salah seorang yang sedang menunggui Andini.
"Benar Pak. Dimana istri saja. Bagaimana keadaannya dan bagaimana ia bisa terjadi seperti ini?" Tanya Rasya bertubi.
"Begini Pak......." Ucap Bapak itu menjelaskan sepengetahuannya saja.
Rasya kaget, mendengar bahwa ia sedang bersama mertuanya itu.
"Lalu dimana Mama Sinta?" Tanyanya.
"Mohon maaf Pak. Ibu Sinta berada di kamar mayat. Nyawanya tidak tertolong lagi." Ucap Bapak itu lagi.
__ADS_1
Karena sedari tadi dialah yang mengawal Andini dan Sinta, karena dia juga termasuk salah satu di antara tetangga Sinta.