
Sesampainya di Rumah Sakit.
Dimana Dokter Wilona yang sedang dinas saat ini.
"Mbak Andini. Kenapa Ibu?" Tanya Wilona ketika melihat Andini terbujur di atas kasur dorongan pasien itu dan di sampingnya ada Rina, mertua Andini.
Yang Wilona amat mengenal mereka berdua.
"Ibu juga nggak tau Nak. Tadi ketika selesai belanja di pasar Andini pingsan Nak." Jawab Rina dengan sesenggukan karena sulit mengimbangi tangis dan nafasnya.
Wilona yang lansung ambil alih dan ambil tindakan untuk segera menangani Andini.
"Ibu tunggu di luar. Biar Dokter segera menangani pasien." Jelas Suster itu masuk dan menutup pintu ruangan ICU itu.
"Tolong ambilkan itu Sus. Dan persiapkan ruangan USG juga perlengkapannya." Ucap Wilona.
Suster yang diperintahkan pun lansung saja menuruti permintaan Wilona.
Bergegas mempersiapkan ruangan USG yang letaknya tak jauh dari tempat Andini saat ini terbujur lemas.
"Masya Allah." Ucap Wilona melihat hasil dari ronsen USG Andini yang menyatakan bahwa dia sedang menyimpan benih kehamilan.
Selesai memberikan obat melalui lajur infus yang sedari tadi menempel di tangan mulus Andini.
Sedangkan di luar ruangan Rasya yang kelihatan amat panik mendengar kabar dari Ibunya dan lansung pergi menuju Rumah Sakit.
Melihat keadaan Andini istrinya.
Setibanya di ruangan ICU Rasya di tahan Rina untuk masuk, sebab perintah dari Dokter dan Suster yang sedang menanganinya jika pasien tidak dapat di ganggu.
"Bagaimana keadaan Andini Bu?" Tanya Rasya gelagapan.
"Entah lah Nak. Semoga baik-baik saja. Andini tidak sadarkan diri bahkan sampai saat sudah di Ruangan ICU ini Nak." Jelas Rina membenarkan.
Tak lama kemudian Wilona keluar dari dalam ruangan yang sedang mengawali proses penarikan kasur dorong yang disana terbaring tubuh Andini yang masih tidak sadarkan diri.
"Andini, sayang." Panggil Rasya.
"Tenanglah Mas. Mbak Andini tidak kenapa. Sekarang akan di pindahkan ke ruangan rawat. Nanti sehabis ini lansung ke ruangan saya ya Mas." Ujar Wilona.
"Baik Dok." Balas Rasya.
Setelah itu Rasya mengekor Wilona selesai mengecup kening Andini yang masih terbujur lemas.
"Jadi bagaimana keadaan Andini Dok?" Tanya Rasya lansung ke intinya.
"Sebelumnya panggil Wilona saja Mas. Lagian kita sudah sangat kenal baik." Tutur Wilona.
Rasya hanya diam dan mengangguk pelan pertanda paham dengan maksud yang Wilona sampaikan.
"Begini Mas. Alhamdulillah Mbak Andini positif hamil. Jadi itu sebabnya tubuhnya mudah lelah. Dengan usia kehamilan yang masih sangat muda dan sangat rentan." Jelas Wilona.
__ADS_1
"Masya Allah. Benarkah Dok?" Tanya Rasya lagi meyakinkan.
"Iya benar Mas. Selamat sebentar lagi akan di panggil Ayah lagi." Jelas Wilona.
"Terima kasih banyak Dokter."
"Wilona Mas." Lanjut Wilona.
"Iya Wilona. Terima kasih banyak." Balas Rasya lagi kemudian berpamitan untuk lansung melihat kondisi Andini.
"Bagaimana Nak?" Tanya Rina penasaran karena melihat wajah putranya yang berseri sedangkan istrinya masih terbujur tak sadarkan diri.
"Masya Allah Bu. Andini hamil." Jelas Rasya memeluk Rina dan bergantian Andini terus terusan.
Rina yang sangat bahagia mendengar kabar berita ini.
Baru saja dapat telepon dari putranya Rafki akan menjadi seorang ayah karena Lina hamil, sekarang Andini juga mengandung cucunya dari Rasya.
Sungguh dua kabar bahagia sekaligus.
Kabar bahagia yang ganda untuk Rina.
Kabar ini sudah di nanti - nantikan sejak lama.
Bahkan Andini dan Rasya yang sangat mendambakan saat ini.
Tak lama kemudian Andini membuka matanya pelan.
"Sayang." Peluk Rasya lagi dan menciumi tangannya Andini dengan penuh kasih sayang.
"Aku dimana Mas?" Tanya Andini ragu dan masih sedikit terbata.
"Dirumah Sakit sayang. Jangan banyak gerak dulu. Kamu baru sadar dari pingsan sudah hampir 5 jam." Jelas Rasya.
"Kenapa Mas?" Tanyanya lagi.
"Kamu sedang mengandung anak kita sayang. Selamat sayang. Dan terima kasih sayang. Kita harus banyak-banyak bersyukur." Ucap Rasya panjang lebar dan berceloteh.
Andini meresapi setiap perkataan yang terlontar dari Rasya suaminya.
"Hamil?"
"Anak kita?"
"Benarkah Mas? Bangunkan aku dari mimpi ini Mas! Aku takut terlalu jauh terbang ke angkasa." Ucap Andini.
"Ini kenyataannya sayang. Mas akan jaga kamu baik-baik. Mulai sekarang kamu nggak boleh kecapekan dan ngerjain hal yang berat." Ucap Rasya lagi dan lansung memeluk Andini.
"Masya Allah." Ucap Andini benar sangat bahagianya.
Kebahagiaan yang sudah dari lama mereka nanti-nantikan.
__ADS_1
"Alhamdulillah ya Mas, Bu." Ucap Andini.
Dan akhirnya mereka bertiga sama-sama berpelukan setelah sebelumnya Andini sudah berhasil untuk duduk dengan sendirinya meskipun masih meringis pertanda kepalanya yang masih terasa sedikit sakit dan nyeri.
"Selamat ya Mbak. Selesai pengurusan administrasi, Mbak sudah di perbolehkan pulang. Tapi harus jaga kesehatan semaksimal mungkin. Di usia kehamilan yang sangat rentan, Mbak harus atur pola makan dan pola hidup sehat. Ini buku untuk di baca dan semoga bisa bermanfaat dan berguna untuk Mbak dan keluarga." Ucap Wilona dan memberikan satu buah buku yang bersampul warna merah muda.
"Terima kasih banyak Wilona." Ucap Andini menjabat tangannya Wilona.
"Ini juga resep obat dan beberapa vitamin untuk penguat kandungan Mbak. Bisa lansung ditebus di apotik Rumah Sakit." Jelas Wilona lagi.
Andini mengambilnya dan memberikannya kepada Rasya.
Rasya yang lansung menebus obatnya dan menyelesaikan administrasi pengobatan Andini.
Selesai itu Rafki yang sudah datang membawa mobil untuk menjemput iparnya Andini.
Memasukkan beberapa perlengkapan dan dibutuhkan selama di Rumah Sakit dan Rasya yang memapah Andini masuk ke dalam mobil tersebut.
"Bagaimana keadaan Mbak Andini Kak?" Tanya Rafki.
"Alhamdulillah Ki. Sebentar lagi ponakan mu akan lahir dari rahim Andini." Jelas Rasya.
"Masya Allah Kak. Benar kah itu. Sungguh kita mendapatkan kabar bahagia dalam waktu dekat. Ini adalah mukjizat dari Allah yang harus selalu kita syukuri." Jelas Rafki.
"Benar Ki. Ponakan Kakak dan ponakan kamu nantinya akan seumuran dan mereka pasti akan tumbuh dengan sholeh dan sholehah juga dengan keimutannya masing-masing." Ucap Rasya.
Dan seluruhnya mengaminkan doa singkat yang baru saja terlontar dari mulut Rasya.
Selama di perjalanan Andini yang merasakan perutnya mulas sekali.
"Ki berhenti sebentar." Ucap Andini dan Rafki yang menepikan mobilnya.
Andini yang meminta jalan keluar dan Rasya yang lansung membantu Andini.
"Kenapa sayang?" Tanya Rasya.
"Aku sangat mual Mas." Jawabnya dan membuka pintu.
Setelah berada diluar mobil akhirnya Andini memuntahkan isi di dalam perutnya. Makanan mie goreng yang tadinya ia makan.
Rasya menepuk pelan punggung Andini dan Rina yang mengambilkan air mineral di dalam mobil.
"Ini Nak! Diminumkan ke istrimu." Ucap Rina.
Rasya mengambilnya dan meminumkannya kepada Andini yang masih lemah karena muntah banyak.
"Makasih Mas, makasih Bu." Ucap Andini lemas.
"Iya sayang. Bagaimana sekarang? Sudah enakan? Kamu mau apa?" Tanya Rasya.
"Aku mau pulang aja Mas. Abis itu tidur." Ucap Andini dan mereka lansung melanjutkan perjalanannya menuju rumah kediamannya.
__ADS_1