
Arumi memeluk Rina tersedu sedu dalam tangisannya.
"Dokter." Panggil Andini diruang rawat inap itu.
Semuanya masuk ke dalam dengan diawali Rasya suaminya.
"Iya sayang. Kamu perlu apa?" Tanya Rasya.
"Sayang?" Tanya Andini lagi.
"Iya." Jawab Rasya singkat kemudian murung.
"Maaf karena rasanya sangatlah asing dipanggil dengan sebutan itu. Saya tidak mengenali kamu dan juga semua yang ada disini. Tidak satupun dan itu termasuk saya sendiri." Jelas Andini frustasi.
"Kamu mengalami amnesia atau gangguan pada ingatan. Memori di masa lalu hilang sementara waktu. Termasuk tentang pernikahan kita dan juga mengadopsi Arumi. Namamu itu Andini Purnama Sari." Jelas Rasya kemudian.
"Suamiku? Anak adopsi? Pernikahan? Apa semua itu. Kenapa aku bisa ada disini." Lanjut Andini.
"Kamu mengalami kecelakaan yang mengakibatkan cedera pada bagian otak." Jelas Rasya berdasarkan pengakuan Dokter padanya.
"Kenapa aku bisa kecelakaan. Lalu dengan siapa aku diwaktu kejadian." Lanjut Andini penasaran.
Belum saja dijawab namun Andini sudah meringis kesakitan.
"Sayang. Ada apa? Kamu merasakan sakit di bagian mana?" Tanya Rasya bertubi.
"Lepas." Ucap Andini merasa tidak nyaman karena ia merasakan bukan muhrim baginya. Asing ya itulah tepatnya.
"Maaf." Ucap Rasya pergi keluar dan lansung meninggalkan Andini.
Kecewa, tentu. Seorang istri menolak untuk di perhatikan suaminya.
"Ya Allah segera sembuhkan lah istri hamba. Ini benar benar berat ya Rabb." Ucap Rasya lirih dalam hatinya.
Rasya berusaha sekuat tenaga menahan air matanya yang hendak saja keluar.
Setelah beberapa saat menenangkan diri Rasya kembali kerumah sakit tempat dimana Andini sedang dirawat.
"Andini. Ini aku bawakan makanan kesukaan kamu." Jelas Rasya sambil menyodorkan sepiring nasi dengan lauk pete dicampur teri. Dan sayuran brokoli kesukaannya.
"Apa apa an ini?" Ucap Andini mendorong makanan itu dan hampir saja jatuh.
"Maaf." Ucapnya lagi kemudian.
"Dulu kamu suka sekali dengan ini. Kenapa sekarang jadi begini?" Rasya terlihat sedikit kacau saat itu.
"Aku tidak suka ini." Ucapnya.
__ADS_1
Rasya mengambil makanan itu dan membawa kepangkuan nya kemudian memasukkannya kembali ke dalam rantang yang semula ia gunakan untuk membawa makanan itu.
"Maafkan aku." Ucap Andini lagi.
"Tidak mengapa. Tapi alangkah lebih baiknya kamu sekarang segera makan. Agar kamu segera pulih." Jawab Rasya lalu meninggalkan Andini.
"Ya Allah ada apa denganku? Meskipun banyak bukti menyatakan mereka keluargaku, suamiku, anakku. Tapi kenapa batin ini terasa asing dan tidak mengenali semua ini. Bagaimana dengan perasaan mereka." Andini membatin.
Ia berusaha sekuat tenaga mengingat kembali memorinya tentang setiap percakapan dan bukti yang ada.
Namun usahanya sia sia, jangankan untuk mengingat kembali memorinya. Andini malah mengalami pusing berat yang mengakibatkan ia terbaring pingsan.
"Andini." Panggil Rasya yang mendapati tubuh istrinya itu yang terkulai.
Rasya syok melihatnya. Ditinggal sebentar saja malah kejadian seperti ini. Ia panik dan segera memanggil Dokter.
"Tenanglah Pak. Ibu Andini hanya pingsan. Ia berusaha keras mengingat memorinya yang hilang." Jelas Dokter.
"Apakah Andini akan segera siuman Dok?" Tanya Rasya.
"In Syaa Allah Pak. Tapi kami bermohon sekali agar pihak keluarga sangat memaksakan untuk Ibu Andini mengingat masa lalunya. Perlahan dan melalui tahapannya Ibu Andini akan kita kemo." Jelas Dokter itu lagi.
Rasya mengangguk lega karena kondisi istrinya tidak terlalu meresahkan.
Tangan Andini mulai bergerak perlahan.
Rasya tersentak kaget dan lansung memanggilnya.
"Andini."
"Kepalanya sakit ya?" Tanya Rasya ragu.
Andini hanya mengangguk kecil.
Dan Rasya lansung memijit sedikit kepalanya yang mana bagian tidak diperban.
"Terima kasih." Ucap Andini.
"Permisi. Saya akan periksa keadaan Ibu Andini sebentar Pak." Izin Dokter itu dengan ramahnya. Siapa lagi kalau bukan Dokter Wilona. Dokter muda berkarisma dengan wajah yang cantik berseri.
"Baik Dok." Ucap Rasya kemudian Wilona memeriksa kondisi Andini.
"Alhamdulillah. Keadaan Ibu Andini semakin hari semakin membaik. Tinggal menunggu ingatan dan memorinya yang hilang datang kembali Pak. Besok sudah bisa pulang. Dan dirawat jalan saja lagi. Seminggu sekali kemari lah untuk konsultasi." Jelas Wilona.
"Alhamdulillah. Terima kasih Dok." Ucap Rasya.
"Iya Pak." Jawabnya lagi.
__ADS_1
Keesokan harinya Andini sudah tiba dirumahnya dengan Rasya.
"Ini rumah siapa?" Tanya Andini.
"Rumah kita." Jawab Rasya singkat.
Andini hanya berdiri mematung di depan pintu rumah itu. Rumah yang terlihat biasa saja namun banyak kenangan hilang disini. Design pekarangan nya itu sungguh indah mempesona. Memperlihatkan kemewahan dibalik kesederhanaan itu. Baginya itu suatu yang asing lagi dan lagi.
Bunga yang bermekaran itu.
"Itu bunga yang sangat kamu sukai. Dan itu juga tumbuh berkat kamu yang menanamnya disana." Jelas Rasya.
Andini yang terus memandanginya dengan penuh pesona.
Seolah ia sangatlah merugi bisa melupakan moment itu.
"Ayo kita masuk. Sudah ada yang menunggu di dalam." Ajak Rasya lagi.
Rasya menggandeng tangan Andini.
Namun Andini menolaknya, melepaskan tangan Rasya yang hampir utuh menyatu dengan tangannya.
"Maaf. Aku akan berusaha menjadi istri yang baik untukmu. Meskipun rasanya masih terasa asing, tapi aku akan belajar mencintaimu lagi." Jelas Andini merasa bersalah atas sikapnya.
Rasya hanya diam dan mendahului Andini masuk ke dalam rumah itu. Kemudian perlahan Andini menyusul untuk masuk. Mencoba berdamai dengan takdir.
"Andini sayang. Kamu sudah pulang. Bagaimana kabarmu?" Tanya Rina.
"Sudah jauh lebih baik Buk." Ucap Andini.
Rina kaget dengan panggilan Buk Andini. Namun ia harus kuat karena saat ini ia tidak mengenali siapapun.
"Ibu." Panggil Arumi memeluk Andini lansung.
Andini melepaskan pelukannya.
Arumi meneteskan air matanya.
"Eh kamu siapa namanya? A a a arumi ya. Maafkan Ibu ya Nak." Ucapnya kemudian menghampiri Arumi kembali dan memeluknya.
Pelukan yang biasanya terasa penuh ketenangan kehangatan dan kebahagiaan kian berubah menjadi dingin bagaikan air di dalam kulkas. Tiada ketenangan disana, tiada bahagia seperti biasanya.
Arumi pergi meninggalkan ruangan itu dan lansung masuk ke kamarnya. Dan disusul dengan Rasya mengikuti Arumi.
"Arumi. Nak." Panggil Rasya mengetok pintu kamar Arumi.
"Iya Bapak. Arumi sedih Ibu tidak kenal Arumi. Ibu sudah tak sayang Arumi." Rengek nya dan meneteskan air matanya berkali kali.
__ADS_1
"Ibu masih belum sembuh Nak. Ibu lupa dengan semuanya. Bukan berarti itu tidak sayang Nak. Ibu sangat menyayangi kita semua. Terlebih itu kamu perempuan sholehah nya Ibu. Mana mungkin Ibu bisa tidak sayang denganmu Nak. Ibu perlu waktu untuk memulihkan ingatannya. Kita harus bersabar dan membantu Ibu agar ingatan itu kembali lagi pada Ibu." Ucap Rasya panjang lebar menguatkan Arumi, meskipun ia sendiri rasanya amat lah rapuh.
Kuat? Itu yang sedang ia usahakan. Menyembunyikan luka dan duka perasaannya pada semuanya apalagi itu pada Arumi. Anak kecil itu.