Suami SHOLEH Untuk ANDINI

Suami SHOLEH Untuk ANDINI
Tidak Ada yang Mustahil


__ADS_3

Hari hari Andini tidak lagi cerah, senyum di wajahnya sangatlah mahal untuk tercurah kembali. Tidak ada semangat untuk semua hal. Rasya suaminya yang tidak pernah bosan dan terus memberikan semangat kepada Andini. Menggenggam Andini ketika ia berada di masa masa sulitnya. Membuat Andini pun bisa perlahan bangkit dari keterpurukannya.


"Andini. Janganlah seperti ini. Allah tidak suka hambanya yang mengeluh tidak sabar akan ujian." Ucap Rasya mencoba dan terus mencoba agar Andini kembali ceria seperti sedia kala. Wajar saja hatinya sangat terpukul. Perasaannya hancur.


Kehilangan sosok seorang Ayah dan tidak akan bisa mempunyai anak dari rahimnya. Sungguh itu adalah pukulan hebat yang membuat Andini merasa hilang kekuatannya.


"Tapi kenapa Rasya? Kenapa Allah menguji di saat aku sudah benar siap menjadi seorang ibu? Kenapa Allah tidak mengizinkan aku menjadi ibu? Rasanya aku menjadi wanita sia-sia." Ucapnya kembali menangis.


"Istighfar sayang. Tidak ada yang sia sia. Allah menguji hambanya hanya karena ia sanggup menerimanya. Lagian kita jangan terlalu melirik ke atas. Cobalah lihat kebawah. Masih banyak orang di luar saja yang sepertimu bahkan lebih darimu Andini. Bertahun tahun pernikahan tidak mempunyai keturunan. Ada yang bahkan harus mengangkat rahimnya. Kamu kemungkinan masih bisa menjadi ibu. Tidak ada yang mustahil sayang. Percayalah Allah Maha Besar. Jika Allah berkehendak maka kita akan menjadi orang tua." Jelas Rasya.


"Allah yang sudah mengambil Ayah masih beberapa hari yang lalu. Kemudian Allah juga ambil harapan besar ku menjadi seorang ibu. Rasya kenapa ini terjadi?" Tangisnya.


"Sayang. Kita semua akan kembali kepada Nya. Cepat atau lambat hanya tentang rahasia waktu. Jangan seperti ini."


"Tapi...." Tanpa jawaban yang selesai Rasya lansung menarik tangan Andini dan memeluknya dengan erat membuat rasa nyaman untuk Andini.


"Berhentilah bersedih sayang. Masih banyak hal lain yang akan membuat kita bahagia. Percayalah Allah itu adil. Serahin semuanya kepada Allah. Biar Allah yang mengatur." Ucap Rasya lagi dan lagi membuat batin Andini terasa terketuk.


"Jangan menangis lagi. Kita Sholat berjamaah yok. Kamu ambil wudu dulu." Ajak Rasya.


Andini yang masih berada di dalam pelukan Rasya dalam kenyamanan yang selalu akan ia rindukan.


Tanpa menjawab Andini mengangguk kecil dan bangkit dari duduknya kemudian pergi menuju kamar mandi untuk mengambil wudu di susul oleh Rasya suaminya karena masih sedikit cemas melihat kondisi Andini saat ini.


Selesai mengambil wudu kemudian Rasya dan Andini lansung melaksanakan sholat magrib berjamaah.


***


"Mama." Panggil Andini di dalam teleponnya.


"Kenapa nak. Suaramu lesu sekali?" Tanya Sinta


"Tidak mengapa ma." Jawab Andini menyembunyikan. Andini yang tidak tega akan menceritakan deritanya kepada Mamanya itu. Takut mamanya akan syok atau bahkan melebihi dirinya sendiri jika saja mendengar kabar pahit itu. Dan itu semua juga sudah disetujui oleh Rasya sendiri.


"Apa kamu baik baik saja nak?" Tanya Sinta lagi.

__ADS_1


"Baik Ma. Mama bagaimana?" Tanya Andini mengalihkan pikiran Mamanya.


"Juga baik nak. Alhamdulillah." Jawab Sinta.


Namun dihatinya serasa ada yang aneh. Sinta merasa bahwa anak semata wayangnya itu sedang tidak baik baik saja. Setelah mengakhiri telepon Sinta kebawah memanggil Bi Jumi pembantu ART nya.


"Bi Jum."


"Ia Nyonya." Jawab Jumi yang sedikit berlari ke arah Sinta.


"Kamu jaga rumah. Saya akan kerumah Andini Jum." Ucap Sinta kemudian.


"Baik nyonya. Ada apa dengan Non Andini?"


"Entahlah Jum. Saya merasa sedikit aneh. Perasaan saya tidak tenang. Tadi ketika saya menelepon Andini suaranya lemas sekali. Makanya saya ingin bertemu dengannya."


"Baiklah Nya. Semoga Non Andini baik baik saja." Harapan Jumi sebelum Sinta keluar menuju parkiran mobilnya.


Sesampainya dirumah Andini.


"Waalaikumussalam. Eh Bu Sinta. Masuk Bu!" Perintah Lela pembantu baru Andini dan Rasya masih seminggu ini. Sebelumnya memang sudah berkenalan ketika Sinta dan Rina kesini untuk hari pertama Lela bekerja disini.


"Makasih Bi. Andini Kemana?" Tanya Sinta setelah duduk di meja tamu.


"Ada di atas bu. Saya panggilkan sebentar."


"Saya saja yang ke atas boleh kan Bi."


"Tentu Bu. Silakan!" Ucap Lela mempersilakan Sinta menuju ke atas ke kamarnya Andini.


"Assalamualaikum sayang." Salam Sinta kemudian masuk ke kamar Andini.


"Waalaikumussalam. Eh Mama. Duduklah ma." Ucap Andini duduk dari tidurnya.


"Kamu kenapa tidur nak. Kamu sakit?" Tanya Sinta.

__ADS_1


"Tidak Ma. Aku baik baik saja. Hanya saja sedikit lelah." Jawab Andini.


"Suamimu kemana nak. Tadi dibawah Mama tidak melihatnya."


"Rasya sedang keluar Ma. Tadi ada yang menelepon katanya ada urusan penting dan kebetulan mendadak." Ucap Andini.


Sinta mengangguk kecil memahaminya.


Andini yang sedang berpura pura kuat di depan Mama. Sampai akhirnya Mama pamit untuk kembali pulang karena sudah melihat kondisi anaknya yang terus berkata bahwa sedang baik baik saja.


***


Keesokan harinya ketika Andini berada di Pondok. Selesai bercengkerama dengan santriwati lainnya juga dengan ustazah disana. Membuat hari Andini sedikit cerah. Namun ketika dalam kesunyian salah seorang ustazah yang sekarang sudah dekat bahkan akbar dengan Andini, seolah mengetahui bahwa Andini tidak sedang baik baik saja.


"Kamu kenapa Andini? Ada masalah apa? Kalau mau cerita lah!" Ucap Bunga.


"Tidak Bunga. Aku baik baik saja." Andini mencoba meyakinkan dirinya untuk kuat.


"Sepertinya ada masalah serius? Maaf kalau aku menanyakan masalah pribadimu Andini. Namun setelah kita mengenal rasanya kamu sudah seperti saudara kandungku saja. Kesedihanmu seolah membuatku juga merasa sedih."


Bunga memeluk Andini yang membuatnya tak bisa menahan air matanya lagi dan lagi keluar. Saat ini ketika Andini hanya berdua saja dengan Bunga membuat Andini menceritakan keluh kesahnya yang membuatnya sangat terpukul.


"Aku tidak bisa mempunyai anak. Sedangkan Almarhum Ayah ingin cucu dariku sebelum ia menghembuskan nafas terakhirnya. Selain aku belum bisa mengandung waktu itu, namun sekarang aku tidak akan bisa mengandung selamanya. Rasanya nyawaku dipertaruhkan mendengar dokter memvonis aku menginap penyakit endometriosis. Apa yang akan aku katakan ke Mama sedangkan Mama sudah merindukan cucunya untuk hadir." Ucap Andini menjelaskan meskipun sedikit gagap karena ia berbicara dengan sambil menangis.


Mendengar cerita Andini, Bunga yang mengerti dengan kondisi hatinya. Betapa sedih perasaannya.


"Andini. Tenanglah. Itu hanya dokter yang memvonis. Masih ada kemungkinan. Yaitunya dari Allah SWT." Jawab Bunga.


"Percayalah setiap apa yang ditimpakan kepada hamba Nya itu dibatas kemampuannya Andini. Berdoa dan berharap lah hanya kepada Allah SWT."


"Terima Kasih Bunga sudah membuatku sedikit lega dan lebih baik."


"Jangan terima kasih segala Andini. Sudah menjadi kewajiban bagiku."


"Hatimu sungguh mulia Bunga. Semoga Allah senantiasa menjagamu."

__ADS_1


"Begitu juga denganmu Andini. Semoga Allah selalu menguatkan hatimu. Menjaga kebahagiaanmu."


__ADS_2