
Setelah semua yang rasanya diperlukan sudah selesai di persiapkan.
Tibalah acaranya untuk acara pernikahannya.
Di tempat ini. Didalam ruangan rawat rumah sakit. Dimana seorang ayah sedang terbujur menahan sakit dengan sejuta harapan.
Sang ayah yang meminta agar pernikahan antara Andini dan Rasya dipercepat tidak menunggu untuk Zidan pulih dahulu karena ia yakin ia akan lama berada disini atau mungkin tidak akan lama lagi.
"Sudah siap nak?" Tanya Rina
"Bismillah Ibu. In syaa allah." Jawab Rasya yang sudah berada di depan penghulu dan di samping depannya ada wali dan saksi.
Entah berada dalam situasi yang mana. Andini yang tengah duduk di samping pojok ayahnya yang sedang berbaring memakai gaun pengantin memakai make up dengan linangan air mata. Perasaan yang begitu campur aduk.
Jujur saja Andini yang masih teringat akan Kevin pacarnya bahkan mereka tidak sempat bicara sebelum pernikahan ini.
Andini yang di kagetnya begitu terdengar jelas baginya ucapan dua orang bersamaan.
*SAH* itulah ucapan mereka. Disusul dengan doa selamat juga disertai dengan jabatan dan ucapan selamat dari yang hadir saat itu. Andini yang diminta duduk disamping Rasya kemudian saling bertukar cincin dan Andini menyalami tangan Rasya kemudian Rasya mengecup singkat kening Andini.
Rasanya bagai mimpi entah pahit atau manis.
Pernikahan yang bagi mereka di luar sana adalah harapan bahkan impian dan cita-cita. Namun tidak bagi Andini. Ia merasa jebakan bahkan kurungan. Tiada wajah senang darinya.
Namun iya mencoba memahami situasi hari ini. Mencoba kuat dalam segala hal. Mencoba tetap tersenyum demi sang ayah.
"Sekarang kalian sudah sah menjadi pasangan suami istri. Selamat anak-anakku." Ucap Sinta memeluk Andini
Andini yang tanpa jawaban bahkan tidak membalas pelukan sang mama.
Iya lansung menuju ayahnya yang terlihat jelas raut wajah kegembiraannya. Bahagia karena sekarang jika akan pergi di panggil Allah ia telah tenang meninggalkan anak semata wayangnya itu karena sekarang sudah sah menjadi istri pria yang sholeh dan baik akhlaknya.
"Selamat nak. Sekarang ayah sudah lega. Sudah ada suamimu yang akan menggantikan ayah menjagamu nak." Ucap Zidan penuh kegembiraan dan perasaan lega bagi putri semata wayangnya itu.
"Ayah cepatlah pulih." Ucap Andini di sela tangisannya yang terus saja keluar.
Setelah usai pernikahan mereka sudah sebagian ada yang pergi. Kini hanya tinggal Andini Mama Sinta dan Rasya yang menemani Zidan.
Keesokan harinya kesehatan Zidan naik drastis. Dan Dokter memutuskan untuk Zidan bisa kembali pulang dan melakukan rawat jalan. Istirahat total tapi sudah bisa dirumah.
__ADS_1
***
Pagi ini, pagi dimana semuanya terasa begitu gelap dan hampa. Tiada semangat di dalamnya.
Ketika Andini sedang menikmati suasana pagi menghirup udara segar pagi ini dan sambil sedikit berolah raga. Tiba tiba terdengar suara seseorang yang memanggilnya. Suara yang tidak asing di telinganya itu.
"Andini." Panggil Kevin setelah melihat Andini yang tengah berdiri di ruas taman rumahnya itu.
"Kevin." Andini lansung memeluk kekasihnya itu.
"Apa - apa an ini Andini." Jawab Kevin melepaskan pelukan Andini.
"Kamu bilang kamu menolaknya. Kenapa kamu menikah dengan nya." Lanjutnya kemudian.
"Maafkan aku. Aku terpaksa demi ayah yang saat ini sedang sakit parah."
"Tapi kenapa Andini. Kenapa harus begitu cepat tanpa memberi tahu aku."
"Maafkan aku Kev. Aku terpaksa tidak memberi tahu mu karena kamu pasti akan mencegahnya."
"Itu pasti. Kamu kekasihku Andini. Kenapa ini bisa terjadi. Kenapa." Ucap Kevin sangat sedih dan kecewa.
"Kamu siapa?" Tanya Sinta
"Aku Kevin tante. Pacar Andini."
"Maaf Andini sudah memiliki suami. Lupakan Andini!"
"Kenapa tante kejam sekali pada Andini. Tanpa mengetahui perasaan anak tante sendiri. Kami saling sayang dan mencintai tante." Ucap Kevin dan Andini hanya bisa menahan tangisannya namun gagal ia cegah air matanya keluar kembali. Ia merasa bersalah dengan Kevin tanpa kabar berita bahkan memutuskan hubungan ia lansung menikah dengan pria lain. Pasti sakit yang Kevin rasakan.
"Kurang ajar kamu. Berani sekali merebut kekasihku." Kevin lansung memukul Rasya yang berdiri di depan pintu.
Prak
Sinta menampar wajah Kevin
"Jangan kurang ajar kamu disini. Sekarang pergilah!"
"Aku tidak akan pernah ikhlas kalian merebut Andini dariku. Dia milikku dan akan menjadi milikku. Menikah atau tidak dia kekasihku. Kami akan menjadi seperti pasangan suami istri tanpa perlu menikah." Ucap Kevin membuat semuanya kaget dan membelalakkan matanya tak kalah dengan Andini yang juga merasa kaget kenapa Kevin bicara seperti itu.
__ADS_1
"Aku sayang padamu Andini. Aku akan menjemputmu. Tunggu aku sayang." Ucap Kevin lagi sebelum pergi meninggalkan rumah itu.
Andini yang berlari ke kamarnya dalam keadaan terus menangis.
Perasaannya hancur.
Pikirannya pun tidak stabil.
"Andini." Panggil Rasya mendekati Andini.
"Ada apa?" Jawabnya ketus.
"Pacarmu tidak tau tentang pernikahan kita?" Tanya Rasya menghampiri Andini.
"Tidak. Tapi saya mencintainya. Saya terpaksa menikah dengan anda karena ayah saya yang memohon akan itu. Saya tidak mau ayah saya semakin drop karena saya selalu menolak permintaannya." Ucap Andini terus membelakangi Rasya.
"Saya paham perasaan kamu Andini. Tapi sekarang kita sudah menikah. Cobalah untuk belajar membuka hati dan menerima semuanya dengan ikhlas karena Allah telah mempercayakan kita membina rumah tangga."
"Saya tidak sudi. Ketika ayah saya sudah benar pulih maka saya akan menggugat cerai anda."
"Pernikahan bukan se bercanda itu Andini. Pernikahan adalah penyatuan dua manusia untuk saling melengkapi bukan untuk saling bersenda gurau apalagi membenci dan memainkan yang namanya pernikahan."
"Tapi bukan pernikahan ini yang saya harapkan. Tidak sadarkah anda sudah hadir di antara saya dan pacar saya."
"Bukan saya yang hadir di antara kalian. Tapi Allah lah yang menghadirkan kamu untuk saya sebagai istri saya. Kamu sudah Allah jodohkan dengan saya. Dan yang namanya jodoh tidak pernah tertukar. Allah tidak tidur dan tidak buta. Allah tau segalanya dan yang tidak kita ketahui. Rencana Allah luar biasa. Meskipun hari ini kamu belum menerima saya sebagai suamimu tapi hargailah ikrar pernikahan. Berlakulah layaknya seorang istri."
"Jangan harap anda bisa memiliki saya."
"Ketika sepasang suami istri sudah sah dalam ikrar pernikahan maka seutuhnya telah halal baginya."
"Berhentilah dengan ceramah kosong anda." Ucap Andini dan meninggalkan suaminya itu.
'Astagfirullah. Kuatkan hamba ya Rabb.' Ucap Rasya dalam hatinya.
***
Pernikahan memang bukan selalu tentang cinta di awal, namun pernikahan tidak menutup kemungkinan engkau akan saling menyayangi. Pernikahan tidak selalu tentang seberapa kita mengenal. Namun pernikahan akan terjadi ketika Allah sudah berkehendak. Jodoh yang sudah Allah pilihkan tidak pernah salah. Meskipun hari ini kita tidak bisa menerimanya. Allah maha mem bolak balik hati manusia. Bertawakal lah hanya kepada Nya.
Allah tidak akan menimpakan sesuatu apapun melainkan atas kesanggupan hamba Nya.
__ADS_1