
"Ayo sayang. Mobilnya udah datang. Ayo semuanya!" Ajak Rasya.
"Oke Mas." Jawab Andini
Andini dan yang lainnya masuk ke dalam mobil dan sopirnya yang memasukkan koper mereka semuanya.
Tak lama di perjalanan berkisar 5-6 jam.
Mobil yang mereka naikin berhenti di tempat parkir yang sudah disediakan.
"Ayo Ibu." Ajak Arumi.
"Iya sayang. Kenapa harus buru-buru?" Jawab Andini.
"Ngikut aja lah Ibu. Bapak juga ya!" Ajak Arumi lagi.
Arumi menarik tangannya Andini yang bergandengan dengan Rasya.
Kini mereka tiba di kamar tempat hias / make up.
"Ngapain kita kesini Nak? Kamu mau dandan gitu?" Tanya Andini.
"Nggak aku Ibu. Tapi Ibu dan Bapak." Jawab Arumi.
"Apa apa an ini Nak?" Tanya Rasya.
"Bapak tenang aja. Nggak akan meninggal juga kok. Tunggu detik mainnya ya sayang sayang Arumi." Balasnya hingga mereka terkekeh.
"Seperti yang udah saya bilang ya Mbak." Ucap Arumi kepada pelayan atau tukang make up nya.
"Oke." Jawabnya sambil mengacungkan jempolnya.
Selesai memakai make up yang tidak terlalu tebal. Masih di bilang netral.
Kini Andini diminta memakaikan gaun berwarna putih yang sangat cantiknya.
Gaun dress putih dengan aksesoris yang menyangkut di leher dan kepala Andini.
Membuatnya seperti benar-benar pengantin sungguhan.
"Arumi. Ini kenapa Ibu dipakaikan penutup gini Nak. Kan nggak bisa melihat jadinya?" Tanya Andini penasaran.
Kemudian Rasya yang sudah di dandani dengan memakaikan kemeja putih menyamai Andini.
Namun sama-sama diberi kain penutup menutupi muka mereka.
"Iya Bapak juga. Seperti permainan anak-anak aja." Lanjut Rasya.
"Liat nanti aja Bu, Pak." Balas Arumi.
"Ya sudah Bu, Pak. Sekarang disini sudah selesai. Kita lanjut tempat berikutnya." Arumi berdiri di tengah dan menggandeng keduanya berjalan beriringan.
Seperti mengantarkan pengantin ke tempat duduknya.
Sesampainya di tempat yang dimaksud.
Semuanya hening, diam tanpa suara apapun.
Sesampai di tempat depan tempat duduk dan disana ada meja yang sudah terhias begitu sempurna.
__ADS_1
Arumi perlahan membuka penutup keduanya.
"Bismillah ya Bu, Pak." Ucap Arumi.
Andini dan Rasya sama-sama terperangah dengan apa yang ia lihat saat ini.
Benar acara pernikahan.
Keduanya sama-sama melihat dandanan mereka berdua.
Andini yang seperti pengantin perempuannya, dan Rasya seperti pengantin laki-lakinya.
Dekorasi yang bernuansa warna putih, dekorasi yang sangat mewah. Bunga melati bergantungan bertaburan menghiasi sudut-sudut tempat ini.
"Begini Bu, Pak. Bertepatan dengan 16 tahun hari pernikahan Ibu dan Bapak. Kita berniat melangsungkan pernikahan Ibu dan Bapak yang kedua. Yang pertama karena dijodohkan. Dan yang kedua karena rasa cinta yang ada. Kali ini tiada perjodohan. Pernikahan sungguhan yang tiada keterpaksaan." Ucap Arumi mengawali pembicaraan yang membuat mereka berdua masih terperangah.
"Masya Allah Nak." Balas Andini dan Rasya.
"Happy Anniversary Bu, Pak." Ucap Arumi sangat bahagia.
"Semoga kedepannya Ibu dan Bapak akan lebih bahagia lagi. Semua yang belum terwujud di pernikahan pertama akan terwujud di pernikahan kedua dan terakhir ini." Lanjut Arumi.
Semuanya menyalami Andini dan Rasya.
Semuanya ada disini.
Termasuk Wilona dan Galfin.
Selesai akad pernikahan semuanya mengambil moment.
"Sayang sekali, pernikahan yang pertama itu Papa yang menikahkan. Dan dihadiri oleh Mama." Ucap Andini meneteskan air matanya.
"Aku mencintaimu karena Allah istriku." Ucap Rasya membacakan doa harapan serta ucapan manis itu sembari mengecup kening milik Andini.
"Aku juga mencintaimu karena Allah suamiku. Terima kasih sudah berjuang sejauh ini. Mari kita bangun rumah tangga yang baru yang sakinah ma wadah wa rahmah." Balas Andini.
Keduanya berpelukan dan seluruh penonton yang ada semuanya bersorak kegirangan.
Merasakan kebahagiaan mereka berdua.
"Udah sayang foto-foto dan adegan mesranya. Lanjutin nanti. Sekarang kita makan dulu." Ucap Rina ibunya Rasya.
"Oke Bu." Jawab keduanya.
Andini yang masih merasakan terharu begitu besar, hingga dia lansung berjalan seperti biasanya mengenakkan gaun yang melantai itu.
Dan Andini pun hampir saja terjatuh, untung saja Rasya siap tangkap istrinya dengan maco sekali.
Sungguh lelaki idaman.
"Cie. Abis ini bulan madu pastinya." Goda Rafki.
Memecah lamunan Andini dan Rasya yang masih menikmati kejadian itu.
"Apa sih lo Ki." Balas Rasya menggandeng tangan Andini menuruti tempat itu dan makan bersama di tempat yang sudah disediakan.
"Kamu mau ini sayang?" Tanya Rasya mengambil lauk yang Andini sangat suka.
__ADS_1
Rendang padang.
"Mau Mas." Jawab Andini dan Rasya menyendokkannya ke dalam piring Andini.
"Coba yang ini." Ucap Rasya menyuapi Andini, supaya ia mencicipi makanan yang ada di piring Rasya.
Andini spontan membuka mulutnya dan melahapnya.
Semuanya benar-benar bahagia melihat pasangan ini.
"Waduh, ini kita disini bisa jadi nyamuk ya semuanya." Goda Rina lagi.
"Hehehe maaf Ibu." Jawab Andini.
"Sepertinya belum lengkap nih. Kalau pasangan pengantin kita belum menampilkan suara emasnya." Goda Lina.
"Iya bener tuh." Lanjut Rafki.
"Kami kan nggak pinter nyanyi." Ucap Rasya.
"Ayo ayo ayo." Disemangati semuanya.
Andini dan Rasya menuruti keinginan mereka dan membawakan lagu yang berjudul *Pernikahan Impian.*
Sungguh membawakan suasana yang haru dan bahagia tulus sekali.
Selesai makan dan seluruhnya meninggalkan tempat itu dan lansung memasuki kamar mereka masing-masing untuk bebersih diri.
Andini dan Rasya yang di beri perhatian di antar oleh seolah pelayan menuju kamar mereka.
"Ini kamar Ibu, dan Bapak. Seluruh pakaiannya udah ada di dalam. Nanti kalau perlu sesuatu bisa hubungi kami." Ucap pelayan itu dengan santunnya.
Rasya dan Andini membuka pintu yang tadi sudah diberi kartu kunci untuk membuka kamar itu.
Baru saja membuka pintu, sudah terdapat hiasan bunga mawar disekelilingnya.
Indah sangat indah. Mereka melangkah lebih dalam menikmati dekorasi yang sudah dipersiapkan itu.
Diatas kasur yang sudah diberi dekorasi bernuansa merah muda hingga balon berbentuk hati dan foto pernikahan mereka terpampang di dalamnya. Serasa di dalam kamar milik sendiri.
Kemudian Andini menarik sebuah kertas yang tergantung di dekat cermin lemari hiasnya.
"Semoga Ibu dan Bapak suka. Selamat bulan madu kesayangannya Arumi." Isi tulisan didalamnya.
Andini dan Rasya terkekeh membacanya.
"Tau apa anak kecil itu tentang bulan madu sih sayang?" Ucap Rasya.
"Benar-benar ini Arumi ngerjain kita Mas. Tapi ini beneran kejutan yang tidak kita sangka. Masya Allah. Aku senang sekali Mas." Balas Andini.
Kini mereka tengah duduk di kasur itu.
"Bulan madu." Ucap Rasya kemudian mendekati tubuhnya perlahan - lahan mendekati Andini.
"Sekarang yok sayang!" Goda Rasya lagi.
Andini menghindar dengan senyuman menggoda.
"Aku mau mandi dulu Mas." Ucap Andini dan lansung berdiri.
__ADS_1