
"Mas." Panggil Andini.
"Iya sayang." Jawab Rasya.
"Aku rasanya udah jauh lebih baik Mas. Hari ini juga adiknya Kevin, Dokter Wilona kan mau nikahan. Kita kan di undang ke acaranya Mas. Kita pergi ya!" Ajak Andini.
"Yakin kamu udah jauh lebih sayang." Ucap Rasya.
"Iya Mas." Jawab Andini.
"Ya sudah kita pergi sekarang." Ajak Rasya kemudian.
Selesai berkemas, Andini dengan gamis syar'i nya dan Rasya dengan setelan koko nya.
"Sudah siap sayang?" Tanya Rasya.
"Udah Mas." Jawabnya kemudian berangkat menuju mobil yang terparkir.
"Andai ada Mama ya Mas. Pasti sekarang ada Mama juga berangkat sama kita barengan." Lanjut Andini sekilas teringat akan Sinta, mendiang Mamanya.
"Iya sayang. Doakan Mama selalu, semoga Mama selalu dalam lindungan Allah dan di tempatkan di tempat terbaik di sisi Allah." Jawab Rasya.
"Iya Mas. Bagaimana kalau kita ka makam Mama dulu!" Ajak Andini.
"Baiklah sayang." Rasya menuruti keinginan istrinya itu.
Sesampainya di tempat pemakaman Sinta.
Andini dan Rasya kemudian berlutut di dekat batu nisan bertulisan Sinta.
"Assalamualaikum Ma. Ini aku Andini anak Mama. Andini kangen Ma. Mama apa kabarnya sekarang? Semoga Mama selalu bahagia disana ya Ma. Andini sayang sekali dengan Mama. Ma, Andini dan Mas Rasya sekarang kesini Ma, karena Andini benar-benar rindu hadirnya Mama. Oh iya Ma, andai Mama ada disini pasti akan sangat lengkap kebahagiaan kita Ma. Mama pernah mendambakan cucu dari Andini kan Ma. Sekarang calon cucu Mama sudah berusia 4 bulan di kandungan Andini Ma. Andai Mama masih disini, Mama pasti juga akan sangat senang menunggu kelahirannya Ma."
Ucap Andini di dalam hatinya yang membuat matanya berlinangan.
Rasya yang menyadari istrinya kian terbawa suasana, kemudian merangkulnya dan memberikan kekuatan untuk Andini.
"Yang ikhlas sayang. Kuatkan hatimu. Kita semua juga akan kembali ke sisi Allah." Ucap Rasya.
"Iya Mas. Aku rindu sekali dengan Mama." Kini tangisnya pecah.
"Iya. Mama pasti juga akan merindukan kamu sayang. Tapi Mama juga nggak akan mau melihat putri kesayangannya ini menangis di pemakamannya." Ucap Rasya kemudian.
***
Ditempat lain Wilona yang sedang dihias oleh tukang hias yang sudah di booking untuk hari ini.
Jena yang selesai memastikan seluruh tempat dari sudut ke sudut ruangan apakah sudah selesai atau belum.
Setelah selesainya semua tempat dan persiapan termasuk hidangan juga tempat untuk tamu undangan.
Juga mempersilakan tamu yang sudah datang dan juga penghulu di acara akad.
__ADS_1
Jena masuk ke dalam kamar dimana disana adanya Wilona yang sedang bersiap-siap untuk acara akad pernikahannya dengan Galfin.
"Kamu cantik sekali Dek. Masya Allah." Ucap Jena masuk ke dalam kamar rias yang disana Wilona sedang dihiasi dengan penuh aksesoris juga gaun dress white nya.
"Makasih banyak Kak." Balas Wilona.
"Sudah selesai Mbak?" Tanya Jena.
"Ini udah mau selesai kok Mbak." Jawab tukang rias Wilona.
"Oh baiklah. Dibawah penghulunya sudah menunggu." Lanjut Jena.
"Udah selesai Mbak." Timpal tukang rias itu.
"Makasih ya Mbak." Ucap Wilona.
"Iya sama-sama. Semoga acaranya lancar saja ya Mbak." Doa tulus dari tukang rias.
"Aamiin." Wilona dan Jena sama-sama mengaminkan.
tok tok tok.
Pintu kemudian di buka Kevin.
"Iya Kak." Sapa Wilona.
"Udah Dek? Sekarang kita ke bawah ya. Bapak penghulunya dan calon udah di bawah." Ucap Kevin.
Wilona yang merasakan deg-degan hebat dan jantungnya terasa ingin rasa berhenti saat ini.
Wilona yang berada di tengah antara Kevin dan Jena.
Beriringan dan bergandengan tangan melangkah satu demi satu langkah.
Ke tempat dimana yang beberapa detik lagi statusnya akan berubah.
Dunianya pun akan berubah.
Banyak hal yang akan berubah setelah ini.
Status dan keluarga baru, beban baru yang akan ia pikul sudah nampak di depan mata.
"Sudah siap semuanya?" Tanya Bapak penghulu.
"In syaa Allah siap." Ucap Galfin yang memecah keheningan Wilona.
Melihatnya tepat di sampingnya duduk kini tengah ada Galfin yang sudah siap dengan setelan jaz nya seperti benar-benar pengantin prianya.
"Sah." Ucapan itu benar-benar terasa seperti gempa bumi di telinga Wilona.
Belum saja ia dapat menelaah setiap sudut wajah calon suaminya dan kini sudah menjadi suami sahnya.
__ADS_1
Tidak terdengar jelas namun saksi-saksi sudah mengucap sah antara Galfin dan Wilona.
Keduanya berhadapan, dan tangan Galfin yang mengarah ke hadapannya kemudian disambut hangat oleh Wilona dan mengecup punggung tangannya itu.
Dan setelah itu juga Galfin yang mendaratkan bibirnya di kening mulus milik Wilona.
Keningnya pun merasakan sentuhan yang berbeda saat ini.
Baru kali ini kali pertamanya di perlakukan kian manis.
Ternyata menikah itu lebih bahagia ketimbang kata bahagia itu sendirinya.
Menyematkan sepasang cincin pernikahan dan juga sekotak mahar pernikahan berupa seperangkat alat sholat lengkap dengan al qur'an nya.
Sehabis acara berfoto-foto keduanya duduk di tempat yang sudah disediakan seindah mungkin.
Menyambut salaman selamat dari setiap tamu undangan yang datang.
Bergemuruh suara keindahan di tempat ini.
Nuansa gambus menyambut dan menjadi sorot pandang suasana hati.
Kini Wilona, wanita karir seorang yang berprofesi menjadi Dokter muda yang menjadi sorotan di kalangannya.
Usia yang sudah amat sangat cukup untuk menyandang status istri hari ini telah resmi dijadikan istri oleh seorang pengusaha muda yang berhasil mengambil hati Wilona yang tidak ada seorang pun berani dan berhasil setelah sekian lama patah hatinya yang begitu dalam.
"Selamat Dokter." Ucap Rasya.
"Eh Kak Rasya. Makasih Kak. Panggil Wilona aja Kak." Ucap nya.
"Selamat ya Wilona." Ucap Andini lagi.
"Makasih Mbak. Makasih juga udah datang Mbak. Arumi nya nggak kesini Mbak?" Lanjut Wilona.
"Maaf Wilona. Arumi sedang tidak disini. Ia sekarang sedang dalam proses untuk masuk perguruan tinggi. Sekarang sedang ujian seleksinya." Lanjut Andini menjelaskan.
"Semoga lulus ya Mbak." Ucap Wilona lagi.
"Aamiin. Makasih banyak Wil." Lanjut Andini.
"Kehamilannya aman kan ya Mbak? Jaga kesehatan buat calon baby nya Mbak." Lanjut Wilona membahas karena terbawa suasana yang biasanya Andini konsultasi mengenai kehamilannya juga kepada Dokter Wilona.
Selesai mengucapkan selamat ke pengantin Andini dan Rasya mengambil makanan dan minuman dan hendak melahapnya.
Belum saja habis Andini merasakan mual dan ingin muntah.
Hingga akhirnya Andini pergi dari ruangan itu dan Rasya pun mengejar istrinya itu.
"Kenapa sayang?" Tanya Rasya.
"Aku mual lagi Mas." Jawab Andini selesai mengeluarkan isi perutnya di sudut pojok tempat yang lumayan tertutup dengan rumput dan perumahan.
__ADS_1
"Kita ke Rumah Sakit aja yok sayang!" Ajak Rasya.
"Nggak usah Mas. Kita pulang aja lagi." Lanjutnya.