Suami SHOLEH Untuk ANDINI

Suami SHOLEH Untuk ANDINI
Kabar Bahagia


__ADS_3

"Makasih ya Ki. Pijitan suami memang paling terbaik." Puji Lina.


"Tentulah." Balasnya yang tersenyum lebar kegirangan sambil tangannya masih memijit kaki Lina.


"Aku akan terus berusaha menjadi suami yang baik untuk kamu Lin. Jangankan buat pijitin lebih dari ini pun akan aku lakukan. Kamu adalah detik berharga dalam hidupku. Meskipun kita dipertemukan lewat takdir yang sama-sama tak di inginkan awalnya. Namun percayalah, saat ini hati ku ini telah bersemayam atas nama kamu Lin. Terima kasih sudah menjadi istri yang terbaik untuk aku." Ucap Rafki panjang lebar.


Namun tiada jawaban dari Lina.


Lina yang dengan posisi miring membelakangi Rafki.


Kemudian Rafki menoleh kepada Lina dan memberhentikan aktifitasnya memijit.


"Aduh Lina. Baru aja ungkapin isi hati aku. Nyatanya kamu udah tidur sebelum mendengar." Lanjut Rafki yang tengah menggeleng-gelengan kepalanya yang tidak sakit.


"Selamat tidur istriku." Ucap Rafki lagi dan mencium kening mulus Lina.


Rafki yang berniat pergi meninggalkan Lina sebentar untuk mencari angin segar.


Tiba-tiba tangannya di tarik kembali.


"Mau kemana?" Tanya Lina mengucek matanya yang mengantuk.


"Keluar sebentar cari udara seger. Kamu duluan aja tidurnya." Balas Rafki.


"Hugh nggak. Aku nggak mau tidur sendirian. Sini tidur." Ucap Lina lagi.


"Lina sayang jangan kek anak kecil lah. Aku akan tidur nanti disini seperti biasanya. Tapi aku mau keluar dulu sebentar." Balas Rafki lagi.


"Pokoknya tidur sama aku sekarang. Nggak boleh nolak, titik." Lanjut Lina dan merangkul Rafki hingga ia tidak bisa menahan tubuhnya untuk tidak ikut merebahkan tubuhnya di samping Lina.


"Aku rindu." Lanjut Lina.


Rafki yang hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah aneh Lina, hanya bisa menuruti keinginan Lina.


Keesokan harinya.


"Ki bau apa ini? Bau sekali. Aku nggak suka. Kamu ganti baju gih sana!" Perintah Lina.


"Bau apa sih sayang? Biasanya juga pakai parfum yang ini. Kamu bahkan suka bau yang ini. Biasanya selalu minta kalau aku harus pakai yang bau ini parfumnya. Sekarang kenapa tiba-tiba nggak suka aja." Jawab Rafki dan menanyakan keraguannya.


Lina meninggalkan Rafki tampa jawaban dan sepatah kata apapun juga.


Lina berusaha menjauhi Rafki, karena selalu ada hal ini yang tidak ia sukai mengenai Rafki suaminya.


"Ki." Teriak Lina yang hampir saja terpeleset di kamar mandi.


"Kenapa Lin?" Tanya Rafki yang mendekati Lina si asal suara.


"Kamu baik-baik aja kan?" Tanya Rafki.


"Aku takut Ki. Barusan hampir kepeleset. Dan kalau saja sampai terjatuh dan aki tidak bernyawa lagi bagaimana?" Tanya Lina dengan matanya yang sudah berlinangan.


"Ngomong apa sih Lin. Nggak baik dengan ucapan yang seperti itu. Nanti jika makbul gimana? Emang sengaja ya mau ninggalin aku gitu aja." Lanjut Rafki rada ngambek seperti Lina.

__ADS_1


Namun Lina tetap diam dan melangkah pergi meninggalkan Rafki yang masih berdiri di kamar mandi mereka.


***


"Sepertinya itu istrimu Lina dibawa ke Dokter Kandungan Rumah Sakit deh Nak! Kalian periksa gitu. Lagian Ibu liat tingkahnya aneh." Ucap Rina setelah semuanya selesai sarapan pagi dan Rafki masih duduk di kursinya.


Karena hari ini hari minggu, itu adalah harinya dengan keluarganya.


Tanpa memerlukan gelarnya sebagai Dokter.


"Iya Bu. Aku juga sedang memikirkan hal yang sama dengan yang Ibu bicarakan." Lanjut Rafki.


Kemudian dengan berbagai bujukan akhirnya Lina mengikuti saran suaminya dan ikut dengannya ke Rumah Sakit.


Karena Lina sendiri pun sudah tidak nyaman lagi dengan keadaannya yang tidak menentu ini.


Dengan perasaan perut yang tidak lagi stabil.


Terkadang mules dan perih.


"Ibu Lina." Panggil Suster dan men instruksikan kepada Lina sekarang tiba gilirannya untuk di periksa .


"Permisi Dokter Wilona." Ucap Lina mengetuk pintu dan dipersilakan untuk masuk.


"Apa keluhannya sekarang Mbak?" Tanya Wilona.


"Aku juga nggak tau. Sering mules dan pusing terus kelelahan gitu Dok." Balas Lina.


"Harusnya sih udah selesai dua hari yang lalu. Tapi belum juga datang." Jawab Lina.


"Silakan tes pack dulu Mbak. Tes urin." Ucap Wilona kemudian memberikan sebungkus plastik yang berisi satu buah tes pack terbaik di Rumah Sakit ini.


"Ini Dok." Rina memberikan kembali hasilnya.


Sebelumnya yang sudah ia lihat dan keluar dengan senyuman manis di wajahnya.


"Alhamdulillah. Kabar bahagianya Mbak Lina sedang hamil. Dan usia kehamilannya sudah memasuki usia 3 minggu."


"Alhamdulillah. Masya Allah." Jawab Lina.


"Lina hamil anaknya Rafki. Dan Lina sekarang sudah jauh berubah. Rumah tangga mereka terlihat begitu bahagia." Ucap Wilona di dalam hatinya.


"Benarkah sayang?" Tanya Rafki kemudian menggendong Lina kegirangan dan berputar-putar di ruang ruangan Wilona.


Wilona yang sedari tadi berdiri di samping pintu ruangannya dan memperhatikan tingkah manis antara Lina dan Rafki. Seseorang yang pernah ada di masa lalunya.


Rafki dan Lina meninggalkan tempat tersebut tanpa menyadari ada Wilona yang sedang memperhatikannya.


"Sudahlah! Lagian mereka kan juga suami istri. Kan nggak ada salahnya jika bermesraan dimana saja." Ucap Wilona kemudian di dalam hatinya.


Meskipun masih ada puing-puing perasaan antaranya dengan Rafki.


Namun selalu ia kubur dalam-dalam.

__ADS_1


Agar tidak ada yang tersakiti.


***


"Andini." Panggil Rina.


"Ibu mau ke pasar. Kamu mau tunggu dirumah atau ikut Nak?" Tanya Rina.


"Andini ikut aja Bu. Bentar mau siap-siap dulu Bu." Ucap Andini dan pergi ke kamarnya mengambil tas jinjing miliknya.


Sesampainya di pasar swalayan.


Tempat pusat pembelanjaan para ibu-ibu rumah tangga.


Cukup ramai pengunjungnya.


Semuanya saling bertukar sapa dan proses menjual dan membeli.


"Cabe nya satu kilo Buk. Terus bawang merahnya bolehnya setengah kilo campur dengan bawang putih ya 3 biji saja. Garamnya satu pack." Ucap Rina.


"Dagingnya 3 kilo ya Mas." Lanjut Andini.


Sehabis belanja yang lainnya juga keperluan dapur rumah tangga.


Andini dan Rina pergi ketempat parkir. Dimana mereka parkir mobil tadi.


Belum saja sampai di tempat parkir.


Bumi kian berputar-putar.


Seperti tubuh yang berdiri saat ini hanyalah selembaran kertas yang di terbangkan kesana sini.


Kepala yang terasa nyeri dan pusing.


Semakin membuat tubuh ini tidak lagi berdaya.


Andini pingsan di tengah jalan.


Rina yang mendapati Andini tergeletak di belakangnya.


"Andini, Nak. Kenapa sayang? Bangunlah!" Ucap Rina menggoyang-goyangkan tubuh Andini.


"Tolong." Teriak Rina dan banyak orang yang datang menghampiri mereka berdua.


"Anaknya kenapa Bu?" Tanya salah seorang disana.


"Menantu saja pingsan Pak. Tolong kami Pak." Ucap Rina.


"Sebaiknya sekarang lansung di bawa ke Rumah Sakit. Ibu dengan apa kesini?" Tanya lagi.


"Dengan mobil kami Pak. Mobilnya ter parkir di pojok sana." Balas Rina.


Kemudian seorang pekerja yang tadi datang ke tempat Andini pingsan memapahnya dan menggendongnya menuju ke dalam mobil milik Rina.

__ADS_1


__ADS_2