
...*Assalamualaikum buar reader setia Suami SHOLEH untuk ANDINI....
...Maaf ya sayangku, tidak update sudah dua hari. Ada acara keluarga yang ngebuat aku sulit untuk menulis kelanjutannya, karena ada kesibukan diluar kendali....
...Semoga dimengerti ya. Dan tetap setiap nungguin kelanjutan ceritanya....
...Salam sayang dari aku author Suami SHOLEH untuk ANDINI.*...
"Perkenalkan nama saya Rafki." Mengacungkan tangannya kepada Lina.
Sedikit lambat di balas Lina namun akhirnya disambut hangat oleh Lina.
"Saya Lina." Balasnya.
"Lina Margaretha." Rafki.
"Saya sudah mengetahuinya." Lanjut Rafki.
"Terima kasih." Ucap Lina kemudian.
"Tentang ucapan saya tadi. Kita akan kerumah saya dulu memperkenalkan kamu kepada Ibu juga Kakak saya. Tapi sekarang Kakak saya masih dalam keadaan sakit dirumah sakit." Jelas Rafki.
"Saya tidak yakin jika keluargamu mau menampung aku. Apalagi itu sebagai menantu dirumah mu." Jawab Lina.
"Tapi ini sudah menjadi keputusanku Lina." Jawabnya lagi.
"Baiklah Pak Dokter." Lanjut Lina.
"Panggil saya Rafki saja." Pinta Rafki.
"Baiklah Mas Rafki." Lina mengiyakan.
Sebuah perasaan yang sangat sulit untuk di artikan. Dokter adalah profesi terbaik namun disaat sekarang ini Rafki mengalami situasi tersulit.
Mengingat bahwasanya nyawa lebih penting dari apapun. Sebab disini ia bertugas untuk menyelamatkan nyawa orang lain sebisa dan semampu mungkin.
Juga barangkali ini adalah jalan takdir untuk Rafki. Membangun dan berusaha menerima takdir yang menuntunnya untuk Lina.
__ADS_1
**
"Dek. Mari makan dulu!" Ajak Jena.
"Aku sudah kenyang Kak. Kakak makan saja dulu." Jawab Wilona masih dengan keadaan yang membuatnya mabuk kepayang. Perasaan yang baru saat ini ia rasakan. Tertarik, kagum, bahkan ia memikirkan bahwa inilah yang namanya jatuh cinta. Jatuh cinta pada pandangan yang pertama.
"Kenapa Wilona nggak jadi kebawah Dek?" Tanya Kevin yang sudah menunggu di meja makan.
"Katanya sudah kenyang Mas." Jawab Jena.
"Tumbenan betah di dalam kamar tuh anak." Kevin menggerutu.
"Seperti ada yang aneh dengan Wilona Mas." Jena seolah membuka sebuah topik baru.
"Maksud kamu Dek?" Tanya Kevin penasaran.
"Sepertinya Wilona sedang jatuh cinta Mas." Jelas Jena.
"Dari mana kamu menilai seperti itu Dek?" Tanya Kevin lagi.
"Tapi Mas pikir kamu ada benarnya Dek. Wilona sedikit berbeda." Ucap Kevin kemudian.
Jena yang sudah selesai makan bersama Kevin kemudian kembali menemui adik iparnya itu.
"Wilona sayang. Bolehkah Kakak masuk?" Jena mengetok pintu kamar Wilona.
"Boleh Kak. Masuklah!" Ucap Wilona dari dalam kamar.
"Kakak lihat kamu sepertinya benar benar senang dan bahagia deh Dek. Ada apa gerangan. Cerita lah sama Kakak. Bahagia bagi bagi dong Dek." Jena mengawali dengan sedikit menggelitik bagian ketiak bawahnya Wilona.
"Auh Kakak geli. Apa an sih Kak. Tidak ada apa apanya Kak. Aku hanya senang." Ucap Wilona.
"Senang memikirkan si dia yang entah dimana ya kan Dek?" Goda Jena lagi.
"Kakak ini. Bisa saja." Jawab Wilona.
"Menurut Kakak bagaimana sih seseorang itu bisa dikatakan jatuh cinta?" Tanya Wilona kemudian setelah adanya jeda diam beberapa saat.
__ADS_1
"Tuh kan benar. Kakak udah firasat kalau Adik Kakak yang paling cantik ini sedang jatuh cinta." Jena senyum senyum sambil memeluk Wilona.
"Aku nggak tau juga Kak. Sikapnya yang terkadang membuat aku jadi memikirkannya." Wilona menimpali kemudian.
"Perasaan itu indah dan sesuatu yang semua orang mungkin bisa miliki Dek. Perasaan yang bisa membuat kita menggapai surganya Allah juga perasaan yang bisa melempar kita ke neraka Dek. Kita sebagai hamba muslimah jangan pernah membiarkan rasa itu melemparkan kita ke dalam api neraka Dek." Jelas Jena mengingatkan.
"Benar Kakak. Aku takut jika perasaan ini adalah salah. Namun selama ini aku hidup inilah saat pertamanya aku merasakan seperti ini Kak." Jawab Wilona.
"Tapi, jika insan manusia sedang jatuh cinta tentu saja tidak dilarang. Namun dipastikan ingat bahwa perasaan datang dari Allah. Dalam jatuh cinta dianjurkan untuk membaca doa ini Dek!
...*Allohumma innii as’aluka hubbaka wa hubba man yuhibbuka wal ‘amalal-ladzii yubbaligunii hubbaka. Allohummaj’al hubbaka ahabba ilayya min nafsii wa ahlii wa minal-maa’il-baarid.*...
Yang Artinya:
'Ya Allah, aku mohon pada-Mu cinta-Mu dan cinta orang yang mencintai-Mu, amalan yang mengantarkanku menggapai cinta-Mu. Ya Allah, jadikan kecintaanku kepada-Mu lebih aku cintai daripada cintaku pada diriku sendiri, keluargaku, dan air dingin.” (HR. Tirmizi)." Ucap Jena lagi dan lagi memperingatkan adik tersayang nya itu. Meskipun hanya sebagai adik ipar namun rasa sayangnya melebihi seperti adik kandung sendiri. Jena yang hanya sebagai anak tunggal sungguh merasakan senang mempunyai adik ipar yang bisa ia anggap seperti adik kandungnya sendiri.
"Terima kasih banyak Kak Jena. Aku semakin lega. Aku beruntung dan sungguh beruntung bisa mempunyai Kakak seperti Kak Jena ini." Balas Wilona dengan sebuah pelukan hangat penuh cinta dan kasih sayang yang sangat damai dan lembut.
"Sama sama sayang. Kamu jangan pernah salah dalam menganggap apa itu cinta Dek. Melangkah lah seperti apa yang sudah Nabi dan Ulil Amri kita ajarkan Dek. Jangan pernah mengambil jalan yang dilarang dan diharamkan oleh Allah sang pencipta kita sayang." Jena memperingati Wilona lagi dan lagi.
"Tentu Kakakku sayang. Terima kasih banyak Kak. Aku sayang Kakak." Ucap Wilona.
"Kakak juga lebih menyayangimu Dek." Ucap Jena kemudian.
Peluk hangat ini yang membuat hubungan erat didalam rumah tangga Jena dan Kevin. Akur dan akrab dengan adik iparnya seolah menjadi tameng hebat untuk semakin memperkuat tali kasih sayang bagi mereka.
***
"Ya Allah aku ingin bertaubat. Aku ingin menjadi wanita yang baik. Rafki datang membawa angin surga untukku Tuhan. Tapi surga tidak menerima wanita tidak berhijab" Lina berkata dalam hatinya sambil berdiri di depan cermin memandangi bentuk tubuhnya yang kini masih terbuka. Banyak bagian tubuhnya yang terlihat dan mengekspos bentuk lekuk tubuhnya. Kemudian mengambil sehelai gamis dan kerudung yang Rafki sudah belikan kemaren ketika Lina masih dirawat dirumah sakit.
Lina memakai gamis tersebut kemudian memakaikan kerudung yang telah ia pegang. Memasangnya penuh kebanggaan.
"Terima kasih ya Allah. Engkau telah hadirkan hidayah itu untuk hamba." Ucap Lina dalam hatinya lagi.
Kini tubuhnya sudah tertutup dengan baik. Dengan pakaian gamis yang menutupi tubuhnya. Gamis yang berwarna pink muda polos dengan sedikit bermotif polkadot dan juga setelan hijab instan berwarna pink muda membuatnya terlihat sangat anggun.
"Masya Allah. Sungguh benar benar indah. Ternyata memakai pakaian seperti ini tidak terlihat tua seperti apa yang aku pikir selama ini. Kepada mataku telah benar benar buta selama ini Tuhan." Lagi dan lagi ia menggerutu di dalam hatinya sambil terus memandangi dirinya di dalam cermin itu tempatnya berdiri di dalam kamarnya sendiri.
__ADS_1