Suami SHOLEH Untuk ANDINI

Suami SHOLEH Untuk ANDINI
Will You Marry Me


__ADS_3

Andini yang masih tidak enakan badan membuatnya masih terlihat pucat pasi dan lemas.


Namun beda hal nya dengan Lina yang meskipun usia kehamilannya masih rentan namun tidak menghalangi setiap aktifitasnya.


Mual pun hanya sekedarnya saja.


Andini yang makan tak enak tidur tak nyenyak, berlatar belakang dengan Lina yang makan semakin enak tidur semakin nyenyak.


Namun Lina sangat sulit untuk mengontrol emosional nya yang kadang turun naik tidak menentu.


"Sayang kamu mau makan apa?" Tanya Rasya.


"Nggak usah Mas. Aku belum lapar." Jawab Andini.


"Harus paksain buat makan sayang! Kasian calon baby nya butuh nutrisi dari asupan makanan ibunya." Jelas Rasya.


Andini hanya mengangguk pelan di tempat tidurnya.


Tak lama kemudian akhirnya Rasya datang lagi dan membawakan kantong kresek berupa makanan yang sehat di lengkapi dengan sayur-sayurannya.


"Makasih Mas." Ucap Andini.


Rasya mengangguk dan menghidangkan makanan kemudian menyuapi Andini sedikit dengan memaksa.


"Udah Mas." Ucap Andini menolak untuk suapan berikutnya.


"Satu lagi sayang." Ucap Rasya.


Baru saja akan minum Andini mual dan lansung mengambil tempat yang disediakan kalau mendesak untuk muntah.


Dan benar saja belum sampai ke dalam perut makanan tadi lansung di muntah kan Andini.


"Sabar ya sayang. Setiap penderitaan ini akan menjadi ladang ibadah buat kamu sayang." Ucap Rasya sambil mengelus punggung Andini.


"Iya Mas. In syaa Allah." Ucap Andini selesai mengeluarkan seluruh isi makanan yang baru saja ia makan.


"Sekarang kumur-kumur dan minumlah!" Rasya memberikannya segelas air putih.


"Ini vitamin dan penguat kamu sayang!" Perintah Rasya memberikan beberapa buah pil untuk di makan Andini.


Karena Andini termasuk golongan yang susah sekali minum obat-obatan Rasya kewalahan untuk memberikan obat kepadanya.


"Mas." Panggil Andini.


"Bismillah sayang!" Perintah Rasya.


"Jangan ngeliat Mas. Aku grogi jadinya." Ucap Andini akhirnya Rasya membalikkan pandangannya.


Dan Andini yang sudah menelan obat pil nya kemudian memanggil Rasya.


"Udah Mas. Boleh pijit kan aku Mas?" Tanya Andini sambil memijit pelan pergelangan tangannya yang lelah.


"Iya boleh dong sayang." Jawab Rasya mengambil tangan Andini dan memijitnya sesuai keinginan Andini.


Pijitan sayang yang selalu Andini inginkan saat ini.

__ADS_1


Perhatian dari Rasya sungguh sesuatu yang menenangkan perasaanya.


"Nak. Kapan kalian periksa lagi? Kapan USG nya?" Tanya Rina masuk ke kamar Andini.


"Tunggu dulu Bu. Andini aja kondisinya masih belum memungkinkan untuk di bawa-bawa." Jawab Rasya.


"Iya kan Ibu jadi penasaran cucu itu cewek apa cowok. Soalnya Lina kemarin USG anaknya cowok." Lanjut Rina lagi.


"Ibu jangan banding-bandingkan antara Andini dan Lina. Aku mohon Bu." Ucap Rasya.


Rina yang memonyongkan bibirnya lansung tidak enak hati.


"Ya kan Ibu cuman penasaran." Jawab Rina namun lansung pergi meninggalkan mereka berdua.


"Jangan ambil hati perkataan Ibu tadi ya sayang." Ucap Rasya mengawali.


"Nggak kok Mas." Jawab Andini.


Meskipun ada sedikit rasa yang mengganjal di hatinya namun berusaha ia hilangkan demi tetap terjaganya kenyamanan.


***


"Lina. Ini buah-buahan buat kamu. Makan ya!" Ucap Rina setiba dirumah kediaman Rafki dan Lina.


"Makasih banyak Bu." Ucap Lina.


"Iya sayang. Jaga kesehatan terutama untuk calon cucu Ibu." Ucap Rina mengelus perut Lina.


Lina yang hamil duluan di bandingkan dengan Andini, membuatnya relatif sangat over kepada Lina.


Namun secara tidak lansung Rina tengah membandingkan mereka tanpa ia sendiripun sadari.


"Mbak Andini gimana kabarnya Bu?" Tanya Lina mengawali pembicaraannya kembali.


"Andini itu nggak sama seperti kamu Nak. Hamilnya manja. Apa-apa harus ada Rasya. Kerjaannya hanya tiduran nggak jelas, semuanya susah di bilangin. Makan pun susah kalau nggak Rasya yang maksa dan suapan." Jawab Rina sedikit kesal.


"Iya wajar lah Bu. Lagian Mbak Andini baru hamil lagi setelah sekian tahun ia rindukan. Dan kehamilan itu pun berbeda-beda. Ada yang kuat seperti Lina dan ada yang seperti Mbak Andini. Dan itu keduanya wajar Bu." Tutur Lina memberikan motifasi yang pengarahan kepada Rina.


"Ibu aja dulu hamil Rasya dan suami kamu nggak seperti itu juga kok. Ibu mengandung bahkan sambil bekerja banting tulang bantuan mendiang ayah suami kamu Nak." Jawab Rina.


"Ya itu pun karena gen nya berbeda-beda Bu. Lagian kata orang-orang bawaan janin. Bisa berubah-rubah nggak menentu gitu Bu. Ibu harus maklumi aja. Lagian demi seorang cucu yang akan lahir dari rahim Mbak Andini.


Nantinya pasti akan lucu dan imut.


"Gimana cucu Ibu nanti jika Andini saja mengandung malas-malas seperti ini." Lanjutnya.


"Sabar Bu. Semua itu pasti akan ada ujiannya Bu." Lanjut Lina.


***


"Dokter Wilona." Panggil Suster.


"Iya Sus." Jawabnya.


"Di ruangan operasi ada pasien gawat darurat Dok. Butuh penangan segera." Ucapnya.

__ADS_1


"Oke Sus. Terima kasih dan siapkan keperluan yang dibutukan." Lanjutnya dan memasang blazer nya kemudian terburu-buru menuju ruangan operasi.


Wilona lansung membukakan pintu dan kaget melihat banyak orang disana.


"Selamat siang Dokter Wilona." Sapa seseorang dan diiringi musik dari Arvian Dwi yang lagunya berjudul Melepas Lajang.


Kemudian terjatuh sebuah kertas dengan hiasannya juga bertulisan *Will You Marry Me*.


Wilona yang berusaha mencerna setiap kejadian saat ini kemudian menoleh kepada seseorang yang sedang berdiri kemudian berlutut di depannya.


Wilona hanya pasrah ketika jemarinya menyentuh jemari Wilona.


Menyematkan cincin di jari manis Wilona.


Semua sorak bergemuruh di tengah ruangan operasi yang saat ini tidak lagi terlihat sedikitpun ada operasi atau pasien gawat darurat.


Yang ada hanya hiasan dan lampu-lampu yang membuat ruangan itu semakin mewah dan elegan.


Seorang pria itu bernama Galfin Anjasmana.


Lelaki yang berhasil menaklukkan hati Wilona, Dokter muda yang sedang jatuh cinta kemudian di patahkan lalu datanglah lelaki bernama Galfin sebagai malaikat penyelamat Wilona.


Membuka hati Wilona dan membuatnya kembali membuka hati untuk cinta.


Berharap perasaan ini tidak lagi semu, dan ini adalah jalan takdir yang terbaik untuknya.


"Selamat sayang." Peluk Jena iparnya Wilona.


Dan disambut lagi kata selamat dari Kevin kakaknya Wilona.


Ternyata ini semua memangnya ide dari mereka semua yang Wilona tidak mengetahuinya.


Galfin yang diam-diam meminta restu kepada Kevin dan Jena.


Kemudian mempersiapkan acara seperti ini, disaat kedekatan mereka belum terlalu jauh.


Namun keduanya sudah saling mengenal satu sama lain.


Meskipun sering bertengkar dan beradu argumen namun keduanya sama - sama saling terpaut di dalam kata yang bernama cinta.


Meskipun tidak saling mengutarakan namun sama - sama saling mendoakan dalam diam.


...Cinta,...


...Kadang ia datang sangat cepat,...


...namun terkadang ia datang sedikit lambat....


...Tapi cinta yang sesungguhnya itu,...


...tidak di nilai dari cepat dan lambatnya datang....


...Melainkan datang di waktu yang tepat....


...Sesuai takdir terbaik sang Illahi....

__ADS_1


__ADS_2